Setelah Berpisah Lima Tahun

Setelah Berpisah Lima Tahun
Pagi-pagi Buta


__ADS_3

Alin tak mampu memberikan jawaban atas ucapan Kenzi. Kembali bersama? Setelah rasa sakit yang Kenzi berikan dulu? Alin rasa, dia tak mungkin sanggup kembali bersama pria ini. Meskipun sebenarnya hatinya ingin.


"Atau kamu memang punya kandidat yang baik untuk dijadikan ayahnya Nau?" Tanya Kenzi dengan tatapan tajam.


"Aku tidak. Tidak, Kenzi. Mungkin setelah ini aku hanya akan hidup bersama ibu dan Nau. Aku tak akan menikah lagi," ujar Alin dengan perasaan yang gamang.


Namun, tentu saja Kenzi tak mudah percaya. Terlebih, Alin adalah wanita yang cantik dan masih muda. Sudah pasti banyak pria yang mendambakan dirinya.


"Lalu, apa yang bisa kau berikan pada Nau? Ekonomi kalian tak begitu baik, lebih baik Nau ikut denganku," ucap Kenzi. Dia sama sekali tak berniat mengancam Alin, tetapi Alin berpikiran lain.


"Nau adalah anakku. Jangan berani-berani kamu memisahkan aku dan dia," ucap Alin dengan suara yang meninggi.


Kenzi tersentak. "Siapa yang akan memisahkan kalian? Kau pikir aku sekejam itu?" Nafas Kenzi memburu. Dia tak habis pikir dengan reaksi Alin barusan.


Alin menatap ke arah jam dinding, ternyata sudah pukul sembilan malam.


"Kenzi, sebaiknya kamu pulang. Tidak baik kamu lama-lama di sini," usir Alin secara halus.


Kenzi hanya tersenyum miring mendapatkan pengusiran seperti ini. Dia pun segera pergi dari tempat itu tanpa banyak drama. 


***


Alin menatap wajah Nau yang tertidur pulas. Wajahnya yang imut dan lucu terlihat tenang, ada senyum tipis terukir di bibirnya.


Ah, andai saja Kenzi tak hilang ingatan. Mungkin sampai saat ini identitas asli Naufal tak akan terbongkar. Perasaan Alin jadi semakin kacau.


'Bagaimana jika nanti Kenzi menikah dengan Laura? Lalu Laura menjadi ibu tiri Naufal?' 


Dada Alin terasa sesak saat bayangan Laura muncul. 


'Wanita itu terlalu keji. Aku takut dia berbuat buruk pada Nau,' batin Alin. 


Malam ini, Alin tak bisa tidur. Pikirannya kacau dan berkelana ke mana-mana. 


"Mami, Mami belum tidur?" Tanya Naufal. Anak itu terbangun karena suara Alin di sampingnya.


"Nau? Maafkan Mami, kamu terbangun karena Mami berisik ya?"


Naufal menggeleng. "Mami, tidurlah. Nau ngantuk." Anaknya memeluk pinggangnya. Perlahan-lahan Alin pun memejamkan matanya.


***

__ADS_1


Keesokan harinya, di saat Alin baru selesai memakaikan Naufal seragam TK, seseorang mengetuk pintu rumahnya.


"Aduh, siapa yang bertamu pagi-pagi buta seperti ini!" rutuk Alin sambil mengikat rambutnya yang tergerai berantakan. 


Wajah Alin masih sangat polos tak ber-make up. Bahkan dia baru selesai gosok gigi saja dan belum mencuci muka dengan benar. Dia juga masih menggunakan gaun malamnya.


Tangan Alin terulur untuk membuka pintu. "Ah, paling Bibi Aina yang datang," gumam wanita itu tak merasa risih membuka pintu dengan pakaian tipis.


Akan tetapi, sesaat kemudian Alin terpaku ketika melihat sosok pria yang sudah rapi menggunakan jas di depan rumahnya.


"Aaaa!"


 Alin berteriak lalu lari terbirit-birit ke dalam kamar. Dia meninggalkan Kenzi yang menatap tubuh putihnya dengan perasaan aneh dan sedikit tergoda.


Tenggorokan Kenzi tiba-tiba terasa berat. Sesuatu di bawah sana tiba-tiba bereaksi. Degup jantungnya berirama tak jelas.


"Ayah?"


Naufal keluar dari kamar dan mendapati sang ayah yang berdiri kaku di depan pintu.


"Nau? Hai!" sapa Kenzi. Suaranya serak. Ahhh, ini semua gara-gara dia sudah menduda selama lima tahun. Dia jadi mudah tergoda ketika melihat tubuh halus seorang wanita.


Kenzi mengangguk lalu masuk ke dalam, dia langsung duduk di ruang tamu. 


Alin di dalam kamar bersungut-sungut. Dia tak habis pikir, bisa-bisanya pria itu muncul sepagi ini. Alin bahkan belum sempat membuat sarapan!


Ah, ini gara-gara semalaman dia susah tidur.


"Nak Kenzi?" Santi yang baru saja pulang dari warung sarapan sangat kaget ketika melihat sosok Kenzi yang sudah duduk di ruang tamu mereka.


"Selamat pagi, Tante. Saya ke sini untuk mengantarkan Nau berangkat sekolah," ujar Kenzi.


Alis Santi terangkat. Dia takjub bukan main.


"Tapi ini masih terlalu pagi, Nak. TK itu masuknya jam setengah delapan," ucap Santi, membuat Kenzi merasa malu.


"Maafkan saya, Tan. Tapi saya benar-benar ingin mengantar Nau ke sekolah. Saya takut terlambat jadi datang lebih awal."


Santi menggelengkan kepalanya. Tetapi, hatinya bersyukur sekali karena sikap Kenzi terhadap cucunya begitu sayang dan perhatian.


"Kalau gitu, sarapan di sini saja. Untung aku beli lebih," ujar Santi. Dia pun berlalu ke dalam dapur untuk menyiapkan sarapan pagi sekeluarga.

__ADS_1


***


Alin keluar dari kamar setelah selesai mandi dan berdandan. Tubuhnya sudah fresh dan pikirannya sudah agak tenang. Dia keluar lalu melihat Kenzi, ibunya dan anaknya sedang menikmati hidangan pagi.


Bibir Alin seketika mengerucut.


"Alin, sarapan dulu. Ah, iya, Alin. Hari ini kalian diantar Kenzi saja." Santi memberi tahu putrinya.


Alin mengangguk lalu duduk di samping Naufal. Dia pun mulai memasukkan nasi dan kuning telur ke dalam mulutnya.


Kenzi memperhatikan wajah Alin yang sedang makan, dia begitu terlihat cantik dan imut. Membuat Kenzi tiba-tiba tersedak.


"Nak Kenzi? Hati-hati!" tegur Santi sambil menyerahkan segelas air.


"Ekhm!" Kenzi berusaha melonggarkan dasinya yang tiba-tiba menyesakkan leher. Ternyata pesona Alin begitu memikat Kenzi.


Selesai sarapan, Alin dan Naufal pun berpamitan pada Santi. Mereka berjalan menuju mobil Kenzi yang tampak mewah. 


"Lain kali jangan bawa mobil ke sini. Tetangga akan menggunjing kami," ujar Alin sembari naik ke dalam mobil. Namun, Kenzi sepertinya tidak peduli.


"Ayah? Terima kasih mau antar aku ke sekolah," ujar Naufal. 


Kenzi mengelus rambut kepala Naufal sebentar. "Nau benar-benar anak yang baik. Kamu sangat hebat mendidiknya," puji Kenzi pada Alin.


Tiba-tiba saja Alin merasakan ada banyak kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.


Di dalam mobil, hanya Naufal yang banyak bicara. Sedangkan Alin dan Kenzi hanya mendengar dan menanggapi sesekali. 


Ketika telah sampai di sekolah, Naufal pun berpamitan dan menciumi kedua orang tuanya. Dia berlari ke arah gerbang sekolah dengan riang.


"Alin, dia sangat senang jika kita menikah lagi. Apakah kau tidak menginginkan dia bahagia?" tanya Kenzi to the point.


"Kenzi, kebahagiaan Nau nomer satu bagiku. Tapi, sebaiknya kau ingat bahwa kau sudah memiliki calon istri. Jadi berhentilah bersikap seperti ini. Aku tak mau jadi perusak hubungan kamu dan Laura!" 


Kenzi menatap wajah Alin ragu-ragu.


"Da-dari mana kau tau aku akan menikahi Laura?" tanya Kenzi. Pasalnya, dia hanya mengatakan itu di depan ibunya, Alex dan Laura.


"A … Aku, aku anu. Aku," Alin tiba-tiba sulit untuk bicara.


"Kau menguping? Jadi, kau tak mau kembali bersama karena ada Laura? Tenang saja, aku akan membatalkan rencana pernikahan dengannya," ucap Kenzi serius. 

__ADS_1


__ADS_2