Setelah Berpisah Lima Tahun

Setelah Berpisah Lima Tahun
mengunjungi nenek


__ADS_3

Mendengar ucapan sang ayah, Naufal pun senang, dia langsung minta makan.


"Ayah, aku mau bubur itu!" pintanya. Kenzi mengambil mangkuk yang berisikan bubur. Isinya masih penuh, belum dimakan satu sendok pun.


"Aaa!" Naufal membuka mulutnya lebar - lebar. Dia makan dengan lahap. Hati Kenzi merasakan kehangatan. 


Sepertinya inikah rasanya menjadi ayah? Batin Kenzi.


Andai dulu dia dan Alin tak berpisah, mungkin sejak lama mereka bersama. Mungkin sejak lama Naufal bisa merasakan kasih sayangnya.


"Kalau kau makan banyak, ayah akan mengajakmu secepatnya ke kamar mami-mu. Ok?"


"Ok, Ayah!"


Naufal pun menghabiskan buburnya. Dia tersenyum manis lalu meminta Kenzi untuk menepati janji.


"Baiklah, ayo kita ke kamar rawat mami-mu." 


Kenzi meletakkan tubuh Naufal di atas kursi roda. Tangan anak itu masih diinfus. Kenzi berusaha bergerak dengan perlahan agar Naufal tidak kesakitan.


Mereka berjalan menuju kamar Alin hah letaknya tak jauh dari ruang rawat anak-anak. Kenzi merasa sedikit gugup. 


Rasanya seperti keluarga yang lengkap. Ada dia, Alin dan anak mereka. 


Kenzi menggeleng gelengkan kepala, berusaha menepis pikiran itu. 


Mereka pun sampai di depan kamar Alin. Kenzi membuka pintu. Terlihat, Alin sedang berusaha mengambil air putih di atas nakas. Kenzi segera berjalan ke arahnya dan mengambilkan segelas air putih untuk wanita itu.


"Minumlah," ujar Kenzi. Dia kembali ke arah Naufal. 


Alin menengok ke arah pintu, di sana Naufal berkaca kaca karena bisa bertemu lagi dengan Alin setelah sekian hari tak berjumpa.


"Mami!" Panggil Naufal. Wajah anak itu memerah. Matanya menangis. Naufal ingin sekali memeluk ibunya, tetapi sayang dia masih terhalang infus begitu juga ibunya.

__ADS_1


"Anak Mami jangan nangis. Mami sudah ada di sini." Alin mengelus elus rambut Naufal yang mulai lebar karena belum sempat dipangkas. 


"Mami, Nau kangen. Kenapa Mami nggak ke sini? Mami jahat!" rengek Naufal. 


"Maafkan Mami, sayang. Mami kemarin sakit. Jadi nggak bisa jenguk kamu. Sekarang Mami sudah membaik. Mami janji nggak akan tinggalkan kamu lagi, Nak " Alin mengeluarkan suaranya dengan susah payah karena tenggorokannya tercekat.


Rasa rindunya membuncah. Andai dia sedang tak lemas terbaring di atas bed. Pasti dia sudah memeluk erat putranya. Menggendongnya dengan penuh kasih sayang.


Kenzi melihat percakapan pasangan anak dan ibu itu hanya bisa berdiri kaku.


Dia baru sadar, ternyata dia sangat egois karena memisahkan Alin dari Naufal. Memisahkan anak dari ibunya. 


"Setelah kalian sembuh, kalian tinggal bersamaku," ucap Kenzi. Perkataan Kenzi sontak membuat Alin dan Naufal kaget.


"Yeee! Aku tinggal sama Mami dan ayah?" Anak itu sangat senang karena bisa merasakan kehidupan dengan orang tua yang lengkap yang selama ini ia mimpikan.


"Iya, Nau. Kalian tinggal di rumah ayah. Mulai sekarang ayah akan jaga kalian." 


Alin memandang wajah Kenzi dengan pikiran yang rumit. Sebenarnya dia merasa sangat bahagia melihat Naufal bahagia bisa berkumpul dengan Kenzi. Namun … Posisi Alin di mata Kenzi adalah simpanan.


'Simpanan. Aku hanya sebatas simpanan yang akan dia permainkan. Kebahagiaan seperti ini, apakah akan selamanya?' batin Alin.


***


Tiga hari berlalu, tubuh Alin dan Naufal sama-sama sudah pulih. Mereka sudah diperbolehkan pulang ke rumah.


Beberapa kali Laura hendak menjenguk Naufal, dia ingin mengambil hati anak itu. Namun, Naufal Selalu menolak bertemu dengan Laura. Hingga akhirnya, di saat Naufal akan pulang hari ini, Laura kembali ke rumah sakit dengan tujuan untuk mengantar Naufal pulang.


Laura begitu terkejut karena melihat Alin yang sedang menggendong Naufal. Sedangkan Kenzi membawakan tas mereka.


Laura berjalan ke arah Kenzi lalu bertanya to the point.


"Kenzi? Untuk apa wanita ini datang menjemput Naufal? Kan, aku sudah mengirim pesan padamu. Aku siap membantumu mengurus Naufal."

__ADS_1


Wajah Laura tampak menahan amarah di depan Kenzi dan Naufal. Sebenarnya dia ingin sekali memaki Alin dengan kejam.


"Tidak perlu. Alin ibunya, biarkan dia yang urus," jawab Kenzi acuh. Namun, Laura tak menyerah sampai di sini. Dia sudah membuat rencana ini sejak beberapa hari yang lalu.


"Kenzi, kuharap kamu jangan marah, ya. Aku sudah memberi tau Nenek tentang Naufal. Jadi, sekarang nenek menunggu kamu dan Naufal di rumah," ucap Laura.


Wanita itu memang penuh muslihat. Dia sengaja memberitahu Nenek Aulia soal Naufal. Tentu saja untuk menarik hati wanita tua itu. Dia ingin terlihat sangat peduli pada Kenzi dan Naufal.


"Apa kau bilang?" tanya Kenzi. 


"Iya, Nenek pasti senang bukan? Selama ini, dia sangat ingin menggendong cicit, lagi pula cepat atau lambat keluarga kamu pasti akan mengenal Naufal kan," ucap Laura. Wajahnya dihiasi senyum kemenangan.


Sementara Alin hanya bisa menunduk ketika mendengar obrolan dua orang itu. Dia juga berpikir demikian, cepat atau lambat keluarga Kenzi akan mengetahui kehadiran Naufal.


"Ah, baiklah. Terima kasih, Laura. Kau boleh pergi. Aku, Naufal dan Alin akan berkunjung ke rumah Nenek kalau begitu." Kenzi menarik tangan Alin, meninggalkan Laura yang memelotot tidak percaya.


Dia berlari mengejar Kenzi. "Ken, untuk apa kamu membawa wanita itu? Aku … Aku saja yang menemani kalian!" teriak Laura. Namun, Kenzi tak menggubris ucapan Laura. 


Kenzi tetap berjalan menuju mobilnya. Sedangkan Laura berhenti tak menyusul karena merasa harga dirinya terinjak-injak. Dia tak sudi satu mobil dengan Alin. Dia pun memilih naik mobilnya sendiri menuju ke rumah Nenek Aulia.


Selama di perjalanan, di dalam mobil Naufal tertidur pulas. Sedangkan Alin hanya diam tak berbicara sedikit pun. 


Kenzi merasakan kesunyian di dalam mobil akhirnya memutar lagu dari radio. Alangkah kagetnya mereka ketika suara Alin terdengar dari radio tersebut. Ternyata banyak pendengar radio yang request lagu yang dicover oleh Alin.


"Sejak kapan kau memposting suaramu ke media sosial?" tanya Kenzi penasaran.


Alin yang sejak tadi menunduk pun mengangkat wajahnya. Dia melihat ke arah kaca spion.


"Sejak ibuku meninggal dunia," jawab Alin. Mata mereka bertemu beberapa detik. Membuat Kenzi hampir kehilangan konsentrasi dalam menyetir. Dia langsung memalingkan wajahnya untuk kembali fokus melihat ke jalan.


"Kau berbakat dalam bidang suara. Apakah kau tidak ingin masuk dunia entertainment?" tanya Kenzi basa-basi. Pria itu kebingungan mencari topik pembicaraan. Sedang hatinya sangat rindu ingin mengobrol dengan Alin.


"Aku hanya seorang simpanan. Apakah pantas terjun ke dunia seperti itu?" tanya Alin sarkas. Ya, dia hanya berharap dengan memposting suaranya di media sosial dia akan mendapatkan uang dari endo*s. Dia sama sekali tak berpikir untuk masuk ke dalam dunia hiburan, karena dia tahu, jika dia masuk ke dunia itu, suatu saat statusnya akan terbongkar dan akan menjadi makanan publik.

__ADS_1


__ADS_2