
Alin dan Naufal bersimpuh di sisi makam Santi. Keduanya mengunjungi makam sepulang dari rumah sakit.
"Ibu, maafkan Alin yang selama ini belum bisa membahagiakan Ibu. Justru sering membuat Ibu capek," ucap Alin pelan.
Wanita itu merasa sangat menyesal karena semasa hidupnya belum sempat membuat Santi bangga padanya.
Sejujurnya, andai waktu bisa diputar kembali, Alin akan memilih hidup berdua saja dengan Santi, dan tak menerima lamaran dari Kenzi.
Akan tetapi saat itu, cinta membutakan matanya. Cinta Alin terhadap Kenzi dulu mengalahkan logika. Padahal, Santi sudah mewanti-wanti untuk tidak berhubungan dengan Kenzi karena Kenzi adalah anak orang kaya sedangkan dia hanya anak seorang janda.
Saat itu Alin terlena dengan janji-janji Kenzi yang akan menjaganya. Menjadikan wanita paling bahagia. Nyatanya, pernikahan mereka tak lebih dari enam bulan lamanya.
***
Flashback
Alin berlari menerobos orang-orang yang mengerumuni tempat kecelakaan. Gadis berusia dua puluh tahun dua tahun itu mendapat kabar bahwa sahabatnya mengalami kecelakaan ketika mengantarkan pesanan.
Saat itu Alin bekerja sambilan sebagai tukang antar pizza.
"Tolong menyingkir! Temanku, temanku yang tertabrak. Tolong menyingkir!"
Alin merasa marah karena sikap orang-orang yang sibuk merekam kejadian, bukannya menolong korban terlebih dahulu.
Orang-orang itu pun menyingkir lalu pergi dari tempat tersebut. Ternyata tak ada korban jiwa, hanya ada korban luka-luka saja, kata salah satu dari mereka.
Alin berteriak histeris ketika melihat Dinda duduk di tanah dengan pesanan yang berserakan. Di sisinya, seorang pemuda tampan tampak lebih mengenaskan. Tangan dan kakinya terluka, bahkan dahinya berdarah.
Alin segera menghampiri Dinda dan memeluk gadis itu.
"Ya ampun, Din. Siapa yang nabrak kamu? Pokoknya dia harus tanggung jawab! Ya ampun, pizza-nya hancur semua!" teriak Alin.
Dinda meringis mendengar suara Alin.
"Lin, lo tenang. Gue gapapa. Tapi orang yang gue tabrak tuh luka-luka. Motornya juga rusak parah," bisik Dinda pada Alin. Seketika Alin mematung sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Waduh, terus? Yang nabrak kamu? Bukan kamu yang ditabrak?" tanya Alin.
Dinda mengangguk lesu. "Noh, cowok yang aku tabrak," ucap Dinda sembari menunjuk ke arah pemuda tampan yang tak lain adalah Kenzi.
__ADS_1
Mata Alin memelotot melihat sosok Kenzi. Dia kenal dengan pria ini, pria ini adalah mahasiswa popular di kampusnya.
"Itu kan … itu," ucap Alin gagap. Dia pun menghampiri Kenzi lalu meminta maaf pada pemuda itu mewakili Dinda. Kenzi saat itu tak begitu tertarik pada Alin. Dia tak menggubris Alin, dia juga tidak meminta ganti rugi apa pun karena dia anak orang kaya.
Akan tetapi, setelah kejadian itu. Mereka jadi sering bertemu di kampus. Sering tidak sengaja berpapasan di kantin. Bahkan Kenzi tidak sengaja memesan pizza yang ternyata diantar oleh Alin.
Kenzi yang saat itu merasa kehilangan Hania merasa sedikit kagum pada sosok Alin yang sederhana dan manis. Hingga akhirnya, di bulan-bulan berikutnya Kenzi merasakan ketertarikan yang berlebih pada gadis itu.
Menurutnya, Alin adalah sosok sederhana yang mungkin bisa mencintai dirinya dengan tulus. Bukan karena kepopuleran dan juga bukan karena harta kekayaan.
Mereka berpacaran tidak begitu lama karena Kenzi tak ingin merusak gadis sepolos Alin. Dia segera melamar Alin di saat mereka baru lulus dari perguruan tinggi.
Alin dan Kenzi benar-benar menikah. Keduanya hidup tenang dan bahagia hingga akhirnya hadir sosok Rendy yang mengacau.
Flashback off
***
"Mami, ada Ayah," ucap Naufal ketika melihat Kenzi berjalan ke arah mereka.
Kenzi diberi tahu oleh pihak rumah sakit bahwa Alin sudah pulang. Dia pergi ke rumah Alin, tetapi wanita itu tidak ada di sana. Dan benar saja feeling-nya, Alin pergi ke makam.
Sejujurnya, Alin ingin sekali menolak ajakan pria itu. Namun, Naufal terlihat sangat kelelahan. Dia sudah tertidur dalam pelukan Kenzi saat ini.
"Kamu duduk di belakang," ucap Kenzi. Dia menggendong Naufal di belakang, sedangkan di depan Alex yang mengemudi.
Alin merasa tak enak hati duduk bersisian dengan Kenzi.
"Aku di depan saja," ucap Alin hendak membuka pintu depan.
"Kalau kau duduk di depan, anak ini akan kubawa pulang ke apartemen milikku," ucap Kenzi mengancam.
Alin memelotot lantas berdecak sebal. "Dasar tukang ngancam!" serunya. Namun, akhirnya dia duduk juga di jok belakang bersama Kenzi dan anaknya.
Mobil pun melaju membelah jalanan.
"Alin, weekend Naufal akan operasi. Tolong jaga kesehatan dia, agar operasi berjalan baik," ucap Kenzi memecahkan keheningan di dalam mobil.
Alin mengangguk. "Terima kasih," ujar Alin.
__ADS_1
"Alin, tidak ada yang gratis di dunia ini." Kenzi mulai mengutarakan keinginannya.
"Ma-maksudmu apa?" tanya Alin tak habis pikir.
Akan tetapi, Kenzi malah diam tak mau menjawab, sampai akhirnya mobil berhenti di depan rumahnya. Dia menggendong Naufal sampai ke dalam rumah Alin dan membaringkan tubuh sang anak di kasur.
"Katakan apa maksudmu barusan?" tanya Alin yang sudah tak sabar. Kini, keduanya berbicara di depan rumah Alin.
"Alin, kamu tidak sadar? Sekarang ibumu sudah meninggal. Jadi tak ada yang bisa menjaga Nau. Kau sibuk bekerja. Jadi, aku mau mendonorkan sumsum tulang belakang ini asal … Asal Naufal tinggal bersamaku."
Plak!
Alin langsung menampar pipi Kenzi dengan kencang. Dadanya naik turun karena emosi, matanya memerah lalu tak lama kemudian menangis dengan keras.
Wajah Kenzi kini terlihat sangat marah. Dia mengelus pipinya yang panas karena menerima tamparan Alin.
"Dasar wanita brengsek!" umpat Kenzi.
"Kau yang brengsek, Kenzi! Nau anakku, jangan harap kau mampu memisahkan aku darinya!" teriak Alin.
Kenzi mendekat ke arah wanita itu, tangan kanannya memegang dagu Alin dan mencubitnya keras.
"Kau pikir kau bisa memberikan kebahagiaan untuk Naufal? Kau tidak layak!"
Kata-kata Kenzi sangat menusuk perasaan Alin.
"Kenzi, dasar kau bajingan! Aku benci, aku benci kamu!" Alin berteriak semakin histeris, tetapi Kenzi tidak peduli. Dia pergi meninggalkan rumah itu tanpa menoleh ke belakang.
Dia berjalan ke arah mobil. Sedangkan Alex yang sejak tadi mendengar obrolan bosnya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Kita mau ke mana lagi, Bos?" tanya Alex.
"Ke rumah kedua orang tuaku," ucap Kenzi. Dia sudah memutuskan akan memberi tahu ayah dan ibunya perihal Naufal.
"Bos, boleh aku memberikan saran sedikit?" tanya Alex ragu-ragu. Sebenarnya dia tidak pernah berani berdebat dan memberikan saran pada Kenzi. Namun, kali ini dia rasa … Keputusan Kenzi sangat kejam.
"Soal?" tanya Kenzi sambil mengerutkan kening.
"Soal Nona Alin. Bos, dia baru kehilangan ibunya. Apakah Bos tega memisahkan dia dari anaknya juga?" tanya Alex. Pria itu berharap atasnya mau berubah pikiran.
__ADS_1