Setelah Berpisah Lima Tahun

Setelah Berpisah Lima Tahun
Anak Laki-laki yang baik


__ADS_3

Kenzi berjalan ke kamar rawat Alin dengan langkah kaki yang sangat berat. Dia berjalan sambil berpikir bagaimana caranya menyampaikan berita duka ini pada wanita itu?


Kenzi menghela napas pelan. Ah, bukankah seharusnya dia tega pada wanita itu? Langsung saja katakan kalau ibunya mati. Untuk apa takut wanita itu sedih? Untuk apa?


Otak dan hati Kenzi saling bertentangan. 


Ketika tangan kanannya membuka pintu kamar, dia mendengar tangisan pilu dari dalam.


"Katakan sekali lagi, Sus? Suster pasti bohong! Ibu saya nggak mungkin meninggal dunia!" teriak Alin histeris.


Naufal juga ikut menangis. 


"Nenek masih ada, kan, Mam? Nau mau ketemu Nenek." Naufal, anak itu selalu mendapatkan kasih sayang dari neneknya sejak lahir. Bagaimana mungkin sekarang dia bisa kehilangan sosok nenek sebaik Santi?


Alin menarik paksa infus yang masih menempel di tangannya. Sontak, keluar darah dari sana. Tubuh Alin tersungkur ke lantai. Suster kesulitan untuk menahan amukan Alin.


"Nyonya tenang! Nyonya, harap tenang!" pinta Suster tapi diabaikan oleh Alin. Kenzi segera membuka pintu lalu melihat keadaan Alin yang begitu mengenaskan.


Darah dari tangannya berceceran di lantai. Rambut Alin yang biasanya tergerai indah tampak berantakan. Wajah Alin pucat, matanya merah dan membengkak. Ingus bercampur air mata menempel di pipinya.


Sangat terlihat begitu kasihan. 


Sangat terluka. Sangat depresi.


Alin memandang ke arah Kenzi lalu berteriak. "Katakan, ibuku masih hidup, kan?" 


Hati Kenzi berdenyut sakit. Suaranya sulit sekali untuk dikeluarkan. Bahkan, tangannya mengepal, menahan diri untuk tidak memeluk wanita di depannya itu.


Naufal berlari ke arah Kenzi lalu memeluk sang ayah.


"Ayah, Nenek di mana? Suster bilang Nenek meninggal! Ayah, bilang sama Nau kalau Nenek masih hidup!" pinta anak itu. Sama dengan Alin, Naufal juga tampak begitu kasihan. 


"Maafkan ayah, Nak. Nenek Santi sudah tidak ada. Maaf," ucap Kenzi dengan suara serak dan pelan.


Alin ambruk di lantai dengan mata tertutup. Wanita itu pingsan.


***


"Seharusnya kau tidak gegabah memberi kabar pada pasien," ucap Kenzi pada Suster. 


Suster itu merasa bersalah. Dia meminta maaf berulang kali karena telah lancang memberi tahu Alin soal ibunya yang meninggal dunia.

__ADS_1


Saat ini Alin mendapatkan penanganan. Badan Alin yang sudah lemah sejak masuk ke rumah sakit, sekarang bertambah parah.


Alin tak mau membuka mata. Dia bahkan mengabaikan Naufal yang terus terisak di sampingnya.


Kenzi berduka melihat keadaan Alin saat ini, tapi dia juga marah karena Alin mengabaikan Naufal.


"Alin, sadarlah. Maut itu sudah menjadi suratan takdir Tuhan. Sekarang ayo bangkit, kita urus pemakaman ibumu," ucap Kenzi.


Alin benar-benar tak mau membuka matanya meski telinganya mendengar ucapan Kenzi.


Alin tak ingin bangun. Dia ingin tertidur terus lalu keesokan harinya dia bangun, dan masih ada ibunya di sampingnya. 


"Alin! Ayo bangun, mau sampai kapan kau begini, hah!" bentak Kenzi tak sabar.


"Ayah!" Kepala Naufal menggeleng.


"Jangan bentak Mami. Please. Ayah, bisakah ayah yang mengurus pemakaman nenek? Mami … Mami sakit." Anak empat tahun itu berkata sambil terisak. 


Kenzi memeluk sang anak, berusaha mentransfer ketegaran pada diri Naufal.


"Nak, kamu harus kuat. Kamu bantu kuantan mami-mu," ucap Kenzi, kemudian dia pun keluar dari kamar untuk mengurus pemakaman Santi.


"Mami, jangan sedih lagi, Mam. Mami …." Naufal memeluk Alin hingga akhirnya tangis Alin kembali pecah.


"Nau … jangan tinggalin Mami sayang. Sekarang mami nggak punya siapa-siapa lagi selain Nau." Alin memeluk tubuh Naufal dengan sangat erat sampai Naufal merasa sesak. Namun, Naufal tetap berada di posisinya, tetap memeluk ibunya.


"Nau nggak akan pernah ninggalin Mami. Nau janji," ucap anak itu.


***


Kenzi sudah selesai mengurus pemakaman yang layak untuk Santi lewat Alex–Asistennya. Dia juga sudah melacak orang yang menabrak Santi. 


Tentu saja Kenzi tidak akan membiarkan orang itu kabur. Walau bagaimanapun, sejak dia hilang ingatan, dia tidak bisa mempercayai satu orang pun. Baik itu ibu dan ayahnya, Alin, Laura bahkan Alex sekali pun. 


Dia tetap berusaha menggali informasi tanpa membuat orang di sekitarnya curiga.


"Bos, mobil yang menabrak Ibu Santi sudah ditemukan. Tapi …" Suara Alex berhenti di ujung sana.


"Tapi apa?" tanya Kenzi tak sabar .


"Sudah hancur, Bos. Mobil sepertinya sengaja diterjunkan ke jurang,"lapor Alex.

__ADS_1


Kenzi terdiam cukup lama kemudian menutup teleponnya. Dia yakin, orang yang membunuh Santi suatu saat nanti akan beraksi lagi. 


Satu hal yang dia takutkan. Orang itu bisa saja hendak mencelakai anaknya. 


***


Setelah tiga hari berlalu, kondisi Alin sedikit membaik dan dia pun sudah mulai menerima kenyataan tentang berpulangnya sang ibu ke hadapan Tuhan. Alin tentu saja bisa bangkit dari keterpurukannya karena ditemani sosok Naufal. 


Anak yang sabar dan pintar. Selama tiga hari dia menemani Alin, menyuapi Alin, bahkan membantu sang ibu membersihkan badan dengan lap kain. 


Di mana kebanyakan anak seusia Naufal hanya bisa bermain saja, Naufal bisa merawat sang ibu sampai sembuh total.


"Mami, kalau sudah sehat betul kita ke makam nenek, ya," ajak Naufal. Dia sebenarnya sangat sedih, tetapi kesedihannya dia sembunyikan. 


Kenzi selalu berkata padanya. "Laki-laki harus tegar. Laki-laki harus kuat."


Ya, Kenzi juga sering ke rumah sakit untuk menjenguk Alin. Namun, dia beralasan ingin bertemu Naufal. Padahal kenyataannya, dia memang mengkhawatirkan mantan istrinya itu.


Kenzi bahkan selalu membawakan bunga ketika berkunjung ke rumah sakit. Namun, Alin tidak mengetahui itu.


"Iya, Nak. Besok kita ke makam nenek ya. Kita doakan agar nenek selalu bahagia di sana," ujar Alin seraya memeluk Naufal.


Alin bertekad dalam hatinya. Mulai sekarang dia harus lebih kuat dari sebelumnya.


Mulai sekarang tak ada lagi Santi. Alin harus bisa membagi waktu antara kerja dan memberi perhatian pada Naufal. 


Dia akan berjuang sekuat tenaga agar bisa hidup lebih baik lagi ke depannya.


**


Sementara di tempat lain, seorang wanita membanting gelas hingga hancur berkeping-keping. Dia marah, dia sangat marah.


"Dasar bodoh! Bukan wanita ini yang seharusnya kau tabrak, Bodoh!" teriaknya pada sosok pria yang menabrak Santi tempo lalu.


"Ma-maaf Nona. Saya pikir wanita yang tua itu," ujar pria itu.


"Percuma aku bayar kau mahal-mahal tapi kau tak becus bekerja! Sialan!" 


Dia membanting seluruh isi meja. Melampiaskan kekesalannya. 


"Alin, kali ini kau lolos. Tapi, tunggu saja. Tak akan lama lagi, kau juga akan menyusul ibumu ke neraka!" lirih wanita itu. Matanya memandang foto Alin dengan tatapan benci yang sangat mendalam.

__ADS_1


__ADS_2