
Kenzi duduk di kursi kerjanya sambil memikirkan kata-kata Alex. Dia berpikir, apakah sekarang perlakuannya terhadap Alin sangat keterlaluan?
Namun, bagi Kenzi dia tak salah. Ini adalah kesempatan baginya untuk lebih dekat dengan Naufal. Dia tak akan pernah rela Naufal memanggil pria lain dengan sebutan ayah. Oleh sebab itu, dia meminta Naufal hidup bersamanya, bukan bersama Alin.
Tok tok tok
Pintu ruang kerja Kenzi diketuk. "Masuk!"
Sosok Laura memasuki ruangan Kenzi dengan pakaian yang indah. Bagi sebagian besar laki-laki, jika melihat penampilan Laura saat pasti mereka langsung terpesona. Namun, bagi Kenzi Laura terlihat biasa saja.
"Ada apa?" tanya Kenzi to the point.
"Loh, Kenzi. Kamu gimana sih? Kita ini akan menikah, tapi kamu sama sekali nggak ada niatan mempersiapkan pernikahan kita," ucap Laura merajuk.
Kenzi menatap lurus wajah ayu Laura.
"Laura, aku hilang ingatan tapi aku tidak bodoh," ucap Kenzi.
Mata Laura membelalak mendengar ucapan Kenzi. Dia tiba-tiba menjadi gugup.
"Maksudmu apa? Kamu mau mengundur pernikahan kita lagi?" tanya Laura. Matanya mulai berkaca-kaca.
Kenzi menjawab melalui anggukan tegas.
"Bukan mengundur, lebih tepatnya membatalkan," ucap Kenzi sontak membuat Laura melongo tak percaya.
"Kenzi, kamu keterlaluan banget! Kamu mempermainkan aku?" Laura berteriak histeris.
Kenzi menggelengkan kepalanya. "Kamu yang mempermainkan aku! Laura, yang hilang bukan perasaanku, tapi ingatanku. Sampai detik ini aku nggak punya perasaan apa pun sama kamu!"
Pengakuan Kenzi benar-benar membuat Laura terluka. Laura menangis di depan pria itu, berharap Kenzi mau mengasihani dirinya.
"Aku tulus cinta sama kamu, Kenzi! Aku sangat cinta sama kamu! Kenapa kamu nggak pernah lihat ke arah aku! Kenzi kamu jahat banget, kamu benar-benar pria paling kejam!"
"Apa lagi-lagi karena wanita itu? Hah? Katakan Kenzi! Apa gara-gara Alin kamu campakkan aku? Kamu gila, Kenzi! Gila! Alin itu wanita kotor! Mungkin sudah banyak pria yang meniduri dia! Menjamah tubuhnya! Ha ha ha! Kamu mau menerima kembali dia dalam hidupmu? Ayolah, Kenzi. Bisa jadi anak itu bukan anakmu, bisa saja Alin sabotase hasil DNA, dia wanita kotor! Kamu tertipu oleh muka polosnya!"
Laura terus-menerus mengatakan keburukan Alin sampai kepala Kenzi terasa nyeri. Begitu pun hatinya. Setiap kata-kata hinaan tentang Alin yang keluar dari mulut Laura, membuat hatinya sesak.
Laura melempar berkas-berkas yang ada di atas meja ke wajah Kenzi. Dia mengamuk dan memaki Kenzi. Namun, pria itu bergeming tak menghentikan Laura.
Setelah beberapa menit, akhirnya Laura puas mengeluarkan emosinya.
Kenzi menelepon Alex, memerintahkan kepada asisten setianya itu untuk membawa sekuriti ke ruangannya.
__ADS_1
"Laura, apa pun yang kamu katakan tadi, tak akan mengubah keputusan aku. Maaf, sekali lagi maaf. Aku tak bisa menikahi orang yang tidak aku cintai," ucap Kenzi. Tak lama kemudian dua sekuriti datang, mereka langsung membawa paksa tubuh Laura keluar dari ruangan itu.
Kenzi menghela nafas lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi. Dia sangat lelah, lelah berpikir, lelah mencari informasi, lelah memilih. Kehidupan tanpa ingatan yang jelas rasanya membuat dia frustasi. Ingatan yang abu-abu membuat Kenzi selalu ragu dalam bertindak.
***
Sementara di tempat lain, Alin libur bekerja karena masih lemah. Begitu juga dengan Naufal.
Naufal sudah lebih dari seminggu tidak masuk sekolah. Alin merasa bersalah pada anak itu karena belum bisa memperhatikan anak itu dengan baik.
Alin berpikir keras. Uang tabungannya sudah terkuras habis. Dia hanya bekerja sebagai penjaga toko. Dia pun pesimis dan insecure.
"Pasti Nau lebih memilih tinggal bersama Kenzi." Wanita itu menggumam.
Tiba-tiba, ide itu terlintas. Dia segera berganti pakaian, berdandan lalu menyalakan musik dari ponselnya yang lain.
Alin bernyanyi dengan lembut, kemudian mempostingnya di lama ** (Media sosial yang sedang populer) Dalam waktu satu menit, video yang Alin unggah pun ditonton banyak orang.
[Kak suaranya bagus banget. Cover lagi dong, lagi ini]
Komentar pertama.
[Merinding gue dengar suaranya]
[Udah cantik, suaranya merdu lagi. Fiks bidadari turun dari langit]
Bibir Alin terangkat tersenyum melihat komentar-komentar positif itu.
Nah, dia pun mendaftar akunnya menjadi akun profesional. Dia berharap bisa berpenghasilan dari media sosial.
***
Dua hari berlalu, sekarang waktunya Naufal dioperasi.
Naufal dan Kenzi sedang bersiap-siap di kamar rawat jalan. Pasangan anak-ayah itu tampak sedang mengobrol seru. Alin mengintip dari kejauhan.
Seketika Alin merasakan cemburu. Dia tak suka Naufal terlalu dekat dengan Kenzi. Dia takut Naufal pergi dan memilih tinggal dengan pria itu.
Kepala Alin tertunduk lesu.
"Nyonya, dalam waktu setengah jam lagi, Nak Naufal akan operasi. Tuan Kenzi memanggil Anda di kamarnya," ucap Alex.
Alin mengangguk. Dia memasuki kamar rawat Kenzi dan Naufal. Naufal tersenyum lembut pada sang ibu. Dia merentangkan tangannya, minta dipeluk.
__ADS_1
Mata Alin berkaca-kaca. Dia segera memeluk anaknya dengan erat.
"Mami, jangan sedih lagi. Sebentar lagi Nau sembuh." Naufal membisiki Alin.
Alin tersenyum manis mendengar ucapan anaknya. Namun, senyum manis itu segera luntur ketika dia melihat wajah Kenzi yang menyeringai.
Tak lama kemudian, datang dokter dan suster yang akan membawa Naufal ke ruang operasi. Sedangkan Kenzi masih di kamar itu.
"Saya akan menyusul. Ada yang harus saya. Bicarakan dengan Alin," ucap Kenzi pada Dokter Adrian. Dokter muda itu mengangguk lalu membawa Naufal menuju ruang operasi.
"Alin. Aku sudah bilang, tak ada yang gratis di dunia ini. Setelah operasi selesai, Nau akan aku kenalkan pada seluruh keluargaku. Dia akan hidup bersamaku," ujar Kenzi. Matanya memandang wajah Alin lekat-lekat.
Alin terkejut bukan main. Ternyata Kenzi masih berkehendak seperti itu. Alin langsung terpaku. Dia langsung bersimpuh di hadapan Kenzi. Matanya menangis.
"Kenzi, dalam hidupku, aku nggak pernah memohon sama orang lain. Tapi untuk kali ini, aku mohon. Aku mohon jangan pisahkan aku dari anakku!"
Suara Alin bergetar. Namun, Kenzi sama sekali tidak merasa kasihan.
"Ha ha ha! Alin, Alin. Memohon lah seperti itu, aku suka!"
Kenzi merasa harga dirinya berada di atas. Selama ini, dia merasa Alin sulit dikendalikan. Sulit dijangkau. Sekarang, melihat Alin yang memohon seperti ini, egonya merasa terpenuhi.
"Baiklah, Alin. Berdiri!" perintah Kenzi.
Alin sudah muak. Kali ini, kali ini dia harus mengalah demi bisa hidup dengan Naufal seperti dulu.
"Kenzi, aku akan melakukan apa pun, asal kamu jangan membawa Naufal. Dia anakku. Tinggal dia keluarga aku satu-satunya!"
Kenzi mengangguk seolah-olah dia mengerti.
"Ya… aku paham. Baiklah, karena kamu memohon. Aku akan memberi kesempatan denganmu. jadilah simpananku."
Alin memandang wajah pria di depannya dengan tatapan tak habis pikir.
'Simpanan?' Simpanannya katanya.
Wajah Kenzi tersenyum mengejek. Sedangkan Alin menangis dalam diam.
Hati Alin sakit teriris-iris. 'Kenzi, apakah di matamu aku serendah itu? Tuhan, kenapa sesakit ini mencintai seseorang. Tuhan, mengapa sesulit ini mempertahankan anakku?'
Hening sejenak.
"Jadilah simpananku, maka Naufal akan tetap tinggal bersamamu," ujar Kenzi.
__ADS_1