
Alin terbangun dengan tubuh yang sangat sakit karena tertidur dengan duduk di lantai. Wajah Alin memucat karena terlalu banyak pikiran, asam lambungnya naik. Perutnya perih, tapi dia tak tahu harus meminta obat pada siapa.
Tiba-tiba, Alin dipanggil oleh salah satu polisi untuk keluar dari sel. Alin berdiri dengan lemas, kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya.
"Jangan berpura-pura! Cepat sedikit!" hardik polisi itu tak suka.
Alin hanya bisa berjalan perlahan-lahan mengikuti langkah polisi tersebut.
Akhirnya, Alin sampai di ruangan khusus menjenguk tahanan. Rupanya, Rafa yang datang.
Melihat kedatangan Rafa, perlahan-lahan hati Alin merasa tenang.
"Alin. Rekan-rekan band yang menghubungi aku. Kau, tidak mungkin melakukan hal itu."
Rafa percaya sepenuhnya pada Alin. Meskipun belum sampai bertahun-tahun dekat dengan Alin, pria itu sudah memahami karakter Alin yang jujur.
Mendengar ucapan Rafa, air mata Ali meleleh keluar. Hati yang ditindih batu itu kini terasa lega.
"Terima kasih sudah percaya!" ucap Alin. Wanita itu memeluk tubuh Rafa. Dia lemah dia lelah, dia butuh pelukan Rafa kali ini
Tangan Rafa mengelus punggung Alin yang bergetar hebat ketika menangis. Hati Rafa juga ikut sakit saat melihat kondisi wanita yang dia cintai itu.
"Aku akan mencari pengacara yang terbaik untuk membebaskan kamu dari tempat ini. Jadi, tenanglah," ujar Rafa memberikan ketenangan pada Alin.
Alin sangat-sangat beruntung bisa bertemu dengan pria sebaik Rafa. Wanita itu berjanji akan berusaha membuka hati untuk Rafa, ya … Alin berjanji.
Mereka berpelukan lama sampai Alin berhenti menangis. Barulah, Alin menjauhkan tubuhnya dari dekapan hangat Rafa.
Mereka pun berbincang mengenai kasus yang menimpa Alin. Kedekatan mereka benar-benar terlihat sangat alami. Sampai-sampai membuat seseorang dari arah pintu masuk berdiri kaku. Orang itu melihat semuanya dari awal hingga akhir. Dia melihat betapa rapuhnya Alin di dalam pelukan pria lain.
"Sial!" umpatnya dalam hati.
Kenzi berjalan keluar dari sana menuju ruang kerja kepolisian yang tak lain adalah merupakan temannya sendiri.
"Gimana, kau sudah bertemu dengan wanita itu?" tanya Dalvin pada Kenzi. Wajah Kenzi tampak tak bersahabat ketika datang, membuat Dalvin keheranan.
"Kau sudah menyelidiki kasus ini?" tanya Kenzi.
Dalvin mengangguk. "Sepertinya wanita itu memang tak bersalah. Tak ada sidik jari wanita itu pada gelang yang hilang. Sepertinya si pencuri hendak memfitnahnya tapi dia belum begitu berpengalaman," jelas Dalvin.
Kenzi merasa menyesal karena tak menyelidiki terlebih dahulu kejadian semalam. Dia justru malah menghina Alin di depan semua tamu yang hadir.
"Aku sudah menyiapkan uang tebusan. Kau urus, agar dia bisa keluar hari ini," ucap Kenzi.
__ADS_1
Bibir Dalvin tersenyum tipis. "Sepertinya, kau sangat peduli pada wanita ini. Benar kan pendapatku?"
Kenzi mengedikkan bahunya. "Aku membencinya." Suara Kenzi berat dan dalam. Seketika membuat Dalvin merinding.
Tapi, di sudut hati Kenzi yang paling dalam, kebencian itu mulai terkikis. Entah oleh apa, Kenzi pun belum menyadarinya.
***
"Saudari Alin!"
Panggil seorang sipir penjara pada Alin. Alin yang sedang memikirkan Naufal pun mengangkat kepalanya, melihat ke luar sel.
"Ada apa, Pak?"
"Silakan keluar, Anda sudah bebas hari ini," ucap sipir tersebut. Sontak Alin terkejut. Namun keterkejutan dia langsung sirna berganti kebahagiaan.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih!" seru Alin. Dia segera keluar dari tempat itu.
'Apakah Rafa berhasil mencari pencuri yang sebenarnya? Secepat ini?' batin Alin. Matanya mencari-cari sosok Rafa setelah keluar dari sel. Tapi pria itu tak terlihat batang hidungnya.
"Siapa yang kau cari?" tanya seorang pria. Suaranya begitu dekat di telinga Alin.
Alin tersentak kaget ketika dia menoleh. Sosok Kenzi sudah ada tepat di belakangnya.
"Kau? Untuk apa kau ke sini?" tanya Alin. Suaranya terdengar tak bersahabat. Matanya menyiratkan kebencian yang mendalam.
"Kau?" tanya Alin tak percaya.
'Mana mungkin dia yang membebaskan aku!'
Tiba-tiba Kenzi memegang lengan Alin dan menariknya menuju mobil. Di dalam mobil Alex setia menunggu.
"Kita mau ke mana? Aku tak ingin ikut denganmu!" teriak Alin. Namun, Kenzi dengan cepatnya memasukkan tubuh Alin ke mobil bagian depan.
Bruk!
Kenzi menutup pintu mobil dengan kencang, membuat Alex tercengang kaget.
"Alex, pulang dengan taksi!" perintah Kenzi. Alex segera keluar dari mobil tersebut, dan digantikan oleh Kenzi.
1… 2… 3
Mobil pun melaju dengan kencang membelah jalanan meninggalkan Alex yang kebingungan.
__ADS_1
"Loh, Bos!" Alex baru sadar, dompet dan HP-nya tertinggal di dalam mobil.
**
"Kita mau ke mana? Aku nggak mau ikut denganmu. Kenzi, turunkan aku di sini!"
Alin berteriak kencang, memaki dan mengatakan bahwa dia sangat membenci Kenzi yang selalu memaksanya.
Mobil pun menepi. Kenzi langsung memegang lengan Alin dengan kencang. Matanya membelalak ketika melihat pipi Alin sedikit bengkak dan merah, bahkan sudut bibir wanita itu sobek sedikit.
"Katakan, siapa yang menamparmu?" tanya Kenzi. Alin terkejut, tetapi dia tak ingin menjawab pertanyaan Kenzi.
"Turunkan aku di sini. Kau tak perlu peduli dengan urusan aku."
Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Alin, Kenzi begitu marah. Dia segera menarik kepala Alin lalu menjatuhkan ciuman di bibir Alin.
Alin sangat terkejut tiba-tiba dicium oleh Kenzi. Dia berusaha melepaskan ciuman Kenzi, namun Kenzi semakin memperdalam ciumannya sampai Alin kesulitan bernafas.
Ha … hah … hah
Dada Alin sesak dan berdebar kencang.
Setelah Alin berhenti memberontak, Kenzi langsung melepaskan ciumannya. Kemudian dia menatap mata Alin yang kini sudah sangat merah.
Plak!
Alin menampar pipi Kenzi dengan sekuat tenaga. Hingga kuping Kenzi berdengung kencang.
"Kau! Kenzi, aku sangat membencimu!"
Mendengar itu Kenzi malah tertawa terbahak-bahak. "Kenapa? Aku hanya mencium saja. Anggap saja itu adalah bentuk terima kasihmu kepadaku karena aku telah membebaskan kamu dari penjara," ujar Kenzi kejam.
Alin tak mampu lagi mendengar kata-kata kejam dari mulut Kenzi. Dia segera keluar dari mobil itu. Kenzi juga tak ingin berniat membujuk Alin, dengan hati yang tega, dia meninggalkan Alin di pinggir jalan.
"Sial! Siaaal. Kenzi sialan!" teriak Alin.
***
Kenzi mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat. Kata-kata Alin barusan terus terngiang di telinganya.
'Aku sangat membencimu'
Dada Kenzi berdenyut sakit ketika suara Alin terdengar mengatakan membencinya.
__ADS_1
Pikiran Kenzi tak bisa berhenti memikirkan Alin. Dia mencengkram erat kemudi, dari arah berlawanan mobil Toyota tampak kehilangan kendali. Kenzi tersentak kaget, dia berusaha menghindar dari kecelakaan. Namun, nahas semua berjalan begitu cepat.
Suara tabrakan terdengar kencang. Mobil milik Kenzi mengalami kerusakan yang parah karena membentur tiang. Di dalam, Kenzi sudah kehilangan kesadaran.