
Setelah menyanyikan beberapa lagu yang populer, Alin turun dari panggung untuk beristirahat. Dia hendak memakan jamuan yang terlihat menggiurkan di atas meja.
Sesampainya di dekat meja, Alin segera memakan kue kesukaannya. Mulutnya penuh dengan makanan, terlihat lucu dan menggemaskan.
Nenek Aulia yang sedang berbincang dengan para tamu melihat ke arah Alin lalu berpamitan pada mereka. Dia ingin menyapa wanita yang sangat ia rindukan itu.
"Alin?" Suara Nenek Aulia sedikit bergetar.
Alin mendengarnya dan segera menoleh. Mata dan mulutnya membulat ketika melihat sosok Nenek Aulia. Kini, setetes air mata meluncur begitu saja di pipi mulus Alin.
"Cucu nakal! Kenapa? Kenapa kau tidak menemui aku? Dasar cucu nakal!"
Nenek Aulia memeluk tubuh Alin dengan erat, seakan akan Alin adalah benda berharga yang harus ia jaga.
"Nek maaf, maafkan aku," ucap Alin. Suaranya tercekat.
"Bodoh! Meskipun kau dan Kenzi bercerai, kau tetap cucu kesayangan aku! Kenapa kau malah pergi," keluh Nenek Aulia.
Beruntung mereka berbicara di tempat yang cukup jauh dari para tamu. Sehingga, Alin cukup tenang dan yakin tidak ada yang mendengar obrolan mereka.
"Nenek, selamat ulang tahun. Maaf,aku … Aku nggak bawa hadiah," ucap Alin malu.
"Suaramu adalah hadiah terindah untuk Nenek. Sekarang, ceritakan ke mana saja kamu selama ini."
Alin memandang haru pada sosok wanita tua ini. Dia pun menceritakan tentang dirinya selama lima tahun ini, tapi dia sama sekali tidak menyebutkan soal Naufal.
Alin takut jika keluarga besar Kenzi tahu mengenai Naufal, mereka akan memisahkan dirinya dengan anaknya itu.
"Nenek!"
Seorang gadis cantik menghampiri Nenek Aulia. Dia begitu percaya diri mendekat dan merangkul lengan wanita tua itu.
"Nek, orang tuaku menunggumu di sana. Apakah Nenek lupa? Hari ini akan ada pengumuman soal pertunangan aku dan Kenzi?" ucap Laura dengan suara yang manis dan manja. Jika orang lain yang mendengar suaranya, tentu akan merasa gadis ini begitu lembut dan manis.
Namun, bagi Alin itu hanya sebuah topeng.
Nenek Aulia sedikit cemas mendengar ucapan Laura barusan. Dia menatap ekspresi wajah Alin yang tampak tenang bahkan masih tersenyum.
"Apakah Alin tidak cemburu? Apakah dia sudah benar-benar melupakan cucuku?" batin Nenek Aulia.
"Kalau gitu, Alin ke panggung lagi, ya, Nek." Alin segera beranjak dari tempat menuju panggung. Dia pun kembali bernyanyi, kali ini dia membawakan lagu promise ciptaan Melly Goeslaw.
~Kamu mau sembunyi di mana
Aku bisa mengendus baumu
__ADS_1
Jangan pernah lari dariku
Karena kita tlah berjanji
~Biar matahari bohong pada siang
Pura-pura tak mau panas
Tak perlu menyiksa diri sendiri
Sembunyikan cinta yang ada
~Aku tak perlu bahasa apa pun
Untuk mengungkap aku cinta kamu
Aku tak pernah beristirahat
Untuk mencintai kamu
Sesuai janjiku …
Promise!
Suara Alin mengalun merdu, matanya tertutup rapat bibirnya tersenyum. Namun, ternyata hatinya perih. Hatinya sakit. Hatinya sulit dikendalikan. Hatinya tak bisa menerima kenyataan bahwa Kenzi akan bertunangan.
Melihat wajah Alin yang tampak tenang seperti itu, Kenzi merasa tergelitik.
"Aku membenci wanita itu, tapi aku tak bisa berhenti menatap ke arahnya. Aku terus berjalan menujunya."
Kenzi mendesah, kemudian meninggalkan tempat itu. Mencari minuman karena tiba-tiba tenggorokannya kering dan kesulitan untuk menelan.
***
Malam semakin larut. Alin selesai dengan pekerjaannya, dia pun berpamitan dengan teman-teman sepanggung lalu menuju tempat parkir untuk menunggu taksi yang sudah dipesan.
Alin merasa tubuhnya tiba-tiba panas. Perasaan seperti ini membuat dia teringat dengan Samuel. Benar, dia lagi-lagi merasa tubuhnya bermasalah.
"Ya Tuhan kali ini siapa lagi yang menjebak aku?" Alin frustasi ketika seluruh tubuhnya mendambakan sentuhan. Dia mengerang.
Tiba-tiba muncul empat pria yang entah datang dari mana. Keempat pria itu tersenyum pongah pada Alin.
"Hai wanita cantik, mau kami temani?" tanya seorang pria yang tampak bengis. Wajahnya hitam, kumisnya tebal.
"Ka-kalian siapa?" teriak Alin.
__ADS_1
"Ha ha ha, percuma kau berteriak, manis. Ayolah kita main-main dulu sebelum pulang."
Tanpa aba-aba, ketiga pria yang lain segera menangkap tubuh Alin dan membawa tubuh Alin ke dalam mobil. Alin berteriak kencang, berharap kali ini ada orang yang menolong dirinya.
"Kenzi … Kenzi tolong aku."
Tiba-tiba Alin teringat sosok pria yang telah menolongnya dari Samuel.
Tuhan, tolong kirim surat seseorang untuk menolong aku. pinta Alin dalam hati.
Tubuhnya berkeringat dan sudah tidak tahan. Terlebih ketiga pria bengis itu mulai menyentuh tubuhnya.
Hati Alin menjerit, dia tidak rela tubuhnya dijamah oleh mereka. Tapi tubuhnya dalam pengaruh obat.
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba Alin sudah berada di dalam kamar. Tubuh Alin sudah tidak ditutupi oleh sehelai kain pun. Sedangkan keempat pria itu tertawa jahat dan terus menyentuh kulit Alin dengan beringas.
Alin setengah sadar. Dia tidak ingin diperkosa seperti ini, lebih baik dia mati. Dengan sisa-sisa kekuatannya, dia bangkit memukul pria-pria itu. Lalu mengambil ponselnya dan memecahkan kaca di kamar itu. Dia langsung mengiris urat nadinya dengan pecahan kaca.
"Brengsek!"
"Ha ha ha, wanita yang sangat liar. Kamu membuat kami semakin bersemangat."
Alin menjerit, menangis dan mengamuk. Namun, nihil. Tak ada orang yang bisa menolong dirinya.
Brak!
Pintu kamar terbuka. Sosok Kenzi dengan mata hitam yang menggelap datang dengan tubuh yang terengah-engah. Matanya melihat ke arah Alin. Kemarahan muncul begitu besar di dalam hatinya.
"Siapa kau, bajingan!"
Keempat pria itu berusaha mengeroyok Kenzi. Namun, ternyata Kenzi bisa menghabisi mereka.
Kaki Kenzi menendang pria yang berkumis tebal. Tangannya menonjok pria yang lain. Dia mengeluarkan segenap kekuatan. Lalu munculah Alex dengan para pengawal lain.
Kenzi segera mengambil selimut lalu menutupi tubuh Alin agar tidak dilihat oleh yang lain.
"Tenang, aku sudah berada di sini."
Keempat pria itu dihajar habis-habisan oleh Alex dan teman-temannya. Kenzi segera membawa tubuh Alin ke luar dari kamar dan membawanya ke mobilnya. Kali ini, Kenzi sendiri yang membawa mobil tanpa Alex. Dia mengemudi dengan kencang menuju rumah neneknya. Dia juga segera menelepon Dokter Adrian untuk datang ke rumah Nenek Aulia.
Kenzi melihat darah dari tangan Alin yang tergores kaca.
"Bagaimana bisa kau selalu terjebak oleh orang lain, Alin. Apa kau benar-benar bodoh?" Kenzi memandang wajah Alin yang sedang pingsan.
Andai saja Kenzi tidak datang, mungkin keesokan harinya Alin sudah tiada.
__ADS_1
Kenzi kemudian menelepon Alex. "Periksa, siapa yang telah melakukan hal gila ini pada Alin. Segera! Jangan ada yang terlewat," perintah Kenzi.
"Siapa pun yang berbuat keji seperti ini harus mendapatkan balasan yang setimpal," ujar Kenzi dengan wajah kejamnya.