
Alin mematung di depan ruangan Kenzi dengan dada yang bertalu-talu kencang. Perasaannya kacau dan kalut. Dia berbalik badan menuju kamar Naufal. Langkah kakinya terasa berat.
'Kenapa? Kenapa aku begini? Bukankah seharusnya aku senang? Aku tak akan ada hubungan apa pun lagi dengan Kenz' bibir tipis Alin melengkung ke bawah, dia berusaha tersenyum di saat hatinya kacau balau.
Alin membuka pintu kamar Naufal, di sana sosok Naufal baru saja terlelap. Napasnya teratur, wajahnya tenang, membuat hati Alin juga ikut tenang.
'Aku masih memiliki Naufal. Ya, untuk apa aku takut? Aku masih memiliki Naufal,' gumamnya dalam hati.
Akan tetapi saat itu Aku tersentak oleh kenyataan. Putranya mengidap penyakit leukimia. Perasaan tenang tadi musnah berganti kekhawatiran.
Dia menggeleng-gelengkan kepala, meyakinkan diri bahwa anaknya akan baik-baik saja.
***
"Bos, apa benar Bos akan segera menikahi Nona Laura?" tanya Alex pada Kenzi yang duduk di atas kursi roda di depan jendela kamarnya.
"Entahlah, Alex. Mamaku bilang aku sangat mencintai Laura, dan kita memang akan segera menikah. Lalu, untuk apa aku menunda?" tanya Kenzi pada Alex.
Asisten setia Kenzi itu hanya bisa diam tak menjawab. Meski, sebenarnya dalam otak Kenzi banyak pertanyaan yang mengganggu, dia juga tak mau bertanya.
"Kau tau, Lex. Saat ini hatiku terasa kosong," ucap Kenzi pelan.
Tiba-tiba pandangan Kenzi terpusat pada seseorang yang tengah menyuapi anak kecil di taman rumah sakit. Kenzi dapat melihatnya dari jendela.
Anak laki-laki itu terlihat kurus dan rapuh. Bibirnya pucat. Dia terlihat begitu manja pada sosok wanita yang sangat dirindukan oleh Kenzi.
"Kenapa ada Alin di sini?" tanya Kenzi.
"Apa, Bos?"
"Kenapa ada Alin? Siapa anak yang dia suapi itu?"
Alex baru ingat bahwa bosnya lupa ingatan. Tentu saja bosnya itu lupa bahwa anak yang disuapi oleh Alin adalah anaknya Alin.
"Bos, beberapa waktu lalu pernah bertemu dengan anak itu. Dia teman non Melodi," jelas Alex.
Kenzi mengingat-ingat nama Melodi, tapi dia tak sedikit pun tahu siapa itu Melodi.
"Ya Tuhan, sembuhkan penyakit bosku. Dia bahkan lupa sama keponakannya sendiri!" Alex menggerutu sambil menatap ke arah Kenzi yang kebingungan.
__ADS_1
"Aku ingin ke sana! Tolong, antarkan aku," pinta Kenzi menggunakan kata tolong, sungguh membuat Alex merasa terharu.
"Tuhan, tapi Bos yang sekarang tak begitu kejam. Aku jadi bingung harus mendoakan dia tetap hilang ingatan atau lupa ingatan," gumam Alex pelan.
Dia pun mendorong kursi roda Kenzi keluar ruangan.
"Menurutmu, anak itu anaknya Alin?" tanya Kenzi pada Alex yang sejak tadi diam membisu.
"Iya, Bos. Dia memang anak Nona Alin," jawab Alex pendek.
"Apa Alin sudah memiliki suami lagi?" tanya Kenzi lagi, membuat Alex jengah. Bosnya kali ini menanyakan hal-hal yang tak begitu penting. Tapi, Alex tetap bersedia menjawab karena dia adalah orang yang setia.
"Seingat saya, Nona Alin tidak memiliki suami, Bos. Tapi kalau pacar, sepertinya ada."
Mendengar jawaban Alex, seketika membuat harapan dalam angan-angan Kenzi hilang.
"Pacar? Seperti apa pacarnya?" tanya Kenzi lagi.
Alex langsung membuka ponselnya dan memperlihatkan wajah Rafa yang sedang duduk di restoran bersama Alin.
"Ini foto Nona Alin beberapa waktu yang lalu. Bos yang menyuruh aku menyelidiki mereka, Bos sudah ingat?"
Akhirnya kursi roda yang dia naiki sampai di taman rumah sakit. Mereka mendekat ke arah Alin yang sedang membujuk Naufal makan.
"Baiklah, baiklah. Besok Mami akan ajak Om Rafa ke sini. Kamu puas? Sekarang cepat makan!" pinta Alin pada sang putra.
"Yeeey terima kasih, Mami. Aku mau makan yang banyak!" seru Naufal senang.
Kenzi memperhatikan wajah Naufal yang begitu mirip dengan Alin. Dia seketika teringat akan mimpinya.
"Mam, lihat di belakang kamu!" ucap Naufal. Naufal menunjuk ke arah Kenzi yang datang menggunakan kursi roda.
Anak laki-laki itu masih ingat dengan sosok Kenzi yang menghina ibunya. Tentu saja sekarang dia tak menyukai Kenzi. Meskipun Kenzi memakai kursi roda, Naufal tak merasa iba sedikitpun.
Alin menoleh, matanya membulat saat melihat sosok Kenzi yang mendekat.
'Mau apa dia ke sini?' batin Alin.
"Mami yok masuk. Nau nggak mau mendengar ucapan orang itu lagi. Ayo, Mam!" pinta Naufal tak sabar. Aura permusuhan diperlihatkan oleh Naufal secara terang-terangan pada Kenzi.
__ADS_1
"Alin, apa kabar?" tanya Kenzi pada wanita cantik di depannya.
Alis mata Alin terangkat satu. Bibir ranumnya pun tersenyum pahit.
"Untuk apa kau menanyakan kabarku? Ah, kau berharap aku kenapa - kenapa?" tanya Alin sinis.
Mata Kenzi membelalak mendengar ucapan Alin yang terdengar penuh kebencian terhadap dirinya.
"Ak.. Ku. Aku hanya ingin tau," ujar Kenzi.
"Apakah dia anakmu?" tanya Kenzi membuat Alin heran sekali.
"Nona, kemarin Bos Kenzi kecelakaan. Dia hilang ingatan," ucap Alex menjelaskan. Kali ini, Alin sangat terkejut sampai-sampai mangkuk tempat makanan yang dia bawa terjatuh ke tanah.
Melihat reaksi ibunya, Naufal pun ikut kaget.
"Hilang ingatan?" tanya Alin tak sadar. Kenzi mengangguk lantas semakin mendekat ke arah Alin.
"Alin, apa benar … Apa benar kita telah bercerai?" tanya Kenzi dengan suara berat. Matanya menatap Alin dalam, membuat Alin kesulitan bernapas.
Dalam hitungan detik, keduanya saling menatap satu sama lain. Kemudian, Kenzi mengalihkan pandangannya pada sosok anak laki-laki yang sangat mirip dengan Alin itu.
"Alin, jawab aku dengan jujur. Siapa ayah anak ini? Kenapa hatiku mengatakan bahwa dia adalah darah dagingku," ujar Kenzi sambil menatap mata Naufal.
Tangan kanannya menyentuh pipi Kenzi yang kemerahan. "Dia … sangat mirip denganmu. Sesuai keinginanku dulu, ingatkah kamu, Alin?" Suara Kenzi begitu lembut. Seperti Kenzi yang dulu, Kenzi yang sangat mencintai Alin tanpa syarat.
"Om … kenapa Om bilang om dan Mami bercerai? Apakah Om?" Tiba-tiba, Naufal mengalami mimisan. Darah segar mengalir dari kedua lubang hidungnya. Alin dengan cepat sadar dan segera menggendong Naufal menuju kamar rawat.
Sementara Kenzi, untuk beberapa saat dia merasa linglung.
"Antar aku ke kamar anak itu! Cepat!" perintah Kenzi pada Alex yang sejak tadi ikut tertegun melihat drama rumah tangga bosnya.
Alex segera mendorong kursi roda milik Kenzi dengan cepat sampai ke kamar Naufal. Di dalam kamar yang tak cukup luas itu,Naufal kembali diperiksa oleh dokter yang merawatnya.
Kenzi masuk dengan tiba-tiba. "Apa yang terjadi? Sakit apa dia?" tanya Kenzi langsung, tanpa sadar masuk ke kamar orang lain tanpa izin.
Dokter yang mengenal Kenzi terhenyak sesaat lantas menjawab dengan gugup.
"Untuk apa kau masuk? Pergi! Keluar dari kamar anakku!" seru Alin. Dia tak mau Kenzi mengetahui keadaan anaknya saat ini.
__ADS_1