Setelah Berpisah Lima Tahun

Setelah Berpisah Lima Tahun
Ikatan batin Anak Dan Ibu


__ADS_3

"Ayok, Naufal sayang. Makan dulu, yuk. Nanti biar cepet sembuh. Cepet bisa main ke luar. Naufal mau main di luar kan? Di sini bosen, kan," bujuk Laura.


Tangan kiri wanita itu membawa mangkuk berisi bubur, sedangkan tangan kanannya memegang sendok, berusaha menerobos mulut Naufal yang sejak tadi bungkam tak mau makan.


Naufal menggeleng. Hari-harinya terasa sepi dan sunyi. Dia merindukan sosok Alin.


"Tante, tolong teleponkan ayah," pinta Naufal. Anak itu masih murung dengan wajah pucat.


Laura langsung cemberut. Ternyata mengambil hati Naufal tak semudah yang dia pikirkan.


Dia pun pada akhirnya menelepon Kenzi dan memberi tahu bahwa Naufal tak mau makan sejak pagi. Tentu saja Kenzi heran.


"Coba berikan hpnya pada Naufal," ujar Kenzi. Laura pun memberikan hp nya pada Naufal.


"Ayah, aku mau bertemu Mami," ucap Naufal setelah diberi HP oleh Laura. Laura semakin cemberut mendengar ucapan anak itu.


"Kan ada Tante Laura di sana, Sayang. Tante Laura bisa jaga dan rawat Nau," ucap Kenzi sabar.


"Tante ya Tante, Ayah. Bukan Mami. Aku maunya Mami."


Kenzi mendengar putranya yang keras kepala seperti itu langsung tersenyum kecut. Ya, putranya sangat mirip dengannya. Akhirnya, Kenzi pun menyerah.


"Baiklah, setelah ini ayah akan membawa mami-mu ke rumah sakit," ucap Kenzi kemudian mengakhiri telepon.


Naufal tersenyum puas. Akhirnya dia bisa bertemu sang ibu.


**


Kenzi mengemudikan mobilnya menuju rumah Alin. Sebelum ini, dia sudah pergi ke toko tempat Alin bekerja, tetapi kata atasan Alin, Alin sudah beberapa hari izin tak masuk bekerja.


Selama di perjalanan, Kenzi tidak tenang. Sesampainya di depan rumah Alin, Kenzi segera berlari lalu mengetuk pintu rumah Alin kencang-kencang. Namun, sampai tangan Kenzi merah, tak ada jawaban dari dalam. Perasaan Kenzi semakin kacau.


Dia pun langsung mendobrak pintu rumah itu. Satu … dua … tiga!


Pintu terbuka. Kenzi tergesa mencari kamar Alin. Begitu dia melihat kamar Alin terbuka, dia segera melihat ke dalamnya. Ternyata Alin tergeletak di lantai dengan wajah yang sangat pucat.

__ADS_1


"Alin!" teriak Kenzi.


Dia membaringkan tubuh Alin di atas kasur, kemudian menepuk-nepuk pipi gadis itu. Alin pingsan sejak kemarin. Tubuhnya lemas, dia sempat siuman tapi kemudian terpejam lagi.


"Ya Tuhan!" Kenzi merasakan tubuh Alin yang sangat panas.


Dia segera menelepon Dokter Adrian, menyuruh dokter pribadinya untuk segera datang ke rumah Alin. Dokter Adrian yang baru saja istirahat setelah melakukan operasi langsung bergegas ke tempat yang Kenzi sebutkan.


Selagi menunggu Dokter Adrian datang, Kenzi mengganti pakaian Alin dengan pakaian yang lebih pantas. Hati Kenzi berdenyut denyut tak nyaman. Tak dia sadari, dia menangis.


"Si*l. Kenapa ? Kenapa kau selalu membuat aku merasa bersalah, Alin?"


Kenzi memeluk Alin dengan erat, seakan tak ada lagi hari esok.


Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, akhirnya Dokter Adrian sampai di rumah Alin. Dokter muda itu berdecak kecil melihat Alin tak sadarkan diri di sana.


"Cepat periksa!" seru Kenzi.


Dokter Adrian memeriksa denyut nadi Alin, suhu tubuhnya, lalu tensinya.


"Oke," ucap Kenzi. Namun, di saat Kenzi akan menggendong Alin. Mata Alin terbuka. Wajahnya yang kecil dan pucat terlihat sangat menyedihkan. Siapa pun yang melihatnya, seharusnya merasa kasihan.


"Ken …Kenzi?" Alin bersuara kecil. Kenzi segera mengambilkan air putih. Sedangkan Dokter Adrian segera mengecek ulang keadaan Alin.


"Kau pingsan sejak kemarin, Nyonya," ucap Dokter Adrian. Alin mengangguk lemah. Dia teringat, kemarin dia sudah tak bertenaga karena seharian menangisi Naufal.


"Di rumah sakit, anakmu juga sedang demam. Dia juga mengalami dehidrasi karena tak mau makan minum," jelas Dokter Adrian. Sontak membuat Alin menatapnya tak percaya.


"Ikatan anak dan Ibu, tak ada yang bisa menandingi. Cepatlah pulih, anakmu membutuhkan kehadiranmu," ujar Dokter Adrian.


Kenzi masuk, dan melihat Alin berbicara dengan Dokter Adrian dengan jarak yang cukup dekat. Dia merasa tak nyaman.


"Ekm. Dokter, Alin sudah sadar. Kau sudah bisa kembali ke rumah sakit. Sisanya biar aku yang urus," ujar Kenzi.


Dokter Adrian yang paham betul dengan karakter Kenzi hanya bisa mengangguk lalu beranjak dari sana. Sebelumnya, dia sudah memberikan resep obat dan vit untuk Alin.

__ADS_1


"Alin, Naufal ingin bertemu denganmu. Tapi kalau keadaan kamu seperti ini, aku tak bisa membawamu ke sana," ucap Kenzi. Pria itu menatap mata Alin dalam-dalam.


"Tolong, izinkan aku bertemu dengan Naufal." Kepala Alin menunduk, dia rela merendahkan harga dirinya demi sang anak.


"Aku … aku bersedia menjadi mainanmu," ujar Alin pelan. Sontak membuat mata Kenzi membelalak tak percaya. Awalnya, dia ke sini untuk memperbolehkan Alin menjenguk Naufal dan tak akan membahas soal ini. Tapi … Alin berpikiran lain.


"Kau yakin?" tanya Kenzi pada akhirnya. Egonya kembali naik.


Alin mengangguk pelan. Wanita itu menatap Kenzi dengan putus asa.


'Semua akan aku lakukan, demi bisa hidup bersama Naufal. Meski harga diriku harus diinjak-injak sampai rusak.' Alin membatin.


Kenzi melihat tatapan putus asa Alin, sebagian hatinya mengatakan untuk meminta maaf pada Alin. Katakan, bahwa kau tidak perlu menjadi seorang simpanan. Kau akan tetap bisa hidup bersama Naufal. Namun, ego Kenzi terlalu tinggi.


"Baiklah, sekarang kita ke rumah sakit. Sekalian kau berobat." Kenzi menggendong tubuh Alin dari kamar menuju mobil.


Alin menunduk, dia tak pernah sedekat ini lagi dengan Kenzi. Selama lima tahun ke belakang, tak sedetikpun dia berkhayal akan digendong oleh pria ini lagi.


Kenzi merasakan tubuh Alin yang panas dan lemas di dalam pelukannya. Bibirnya perlahan lahan melengkung sempurna. Hatinya berteriak senang, namun logikanya menahannya untuk tetap tenang.


Cinta memang seaneh itu. Dan Kenzi tak pernah menyadari, bahwa wanita yang sering dia sakiti adalah wanita yang dia cintai.


***


Sesampainya di rumah sakit, Alin segera dirawat. Lagi-lagi badannya harus di-infus. Setelah memastikan perawatan tubuh Alin, Kenzi berjalan menuju kamar Naufal. Rupanya, Laura masih setia menunggu di sana.


"Laura, kau sudah bisa pulang. Terima kasih sudah menjaga Naufal sejak kemarin," ucap Kenzi pada wanita itu. Laura tersenyum lantas mendekat ke arah Kenzi.


"Kenzi, kau terlihat sedikit kelelahan. Mau aku pesankan makanan?"


Kenzi menggeleng. "Tidak perlu. Aku ingin bicara dengan Naufal, kau bisa keluar sekarang," usir Kenzi secara halus. Mau tak mau, akhirnya Laura keluar dari kamar itu.


Kenzi mendekat ke sisi kanan bed Naufal lalu mengelus rambut hitam anaknya. Naufal yang sejak tadi tidak tidur pulas pun membuka mata.


"Ayah? Ayah sudah bawa Mami?" tanya Naufal penuh harap.

__ADS_1


Kenzi mengangguk lantas mencubit pipi cabi anaknya. "Mami sedang sakit, kau harus cepat pulih agar bisa bertemu dengannya, ok!"


__ADS_2