Setelah Berpisah Lima Tahun

Setelah Berpisah Lima Tahun
Terlalu Runyam


__ADS_3

Air mata Alin terus mengalir sejak telepon dari Kenzi dimatikan. Kakinya sudah lelah berjalan, napasnya sudah tak beraturan. Ditambah hujan deras, air mata dan air langit bercampur jadi satu membasahi wajah wanita cantik berusia 28 tahun itu.


Alin beberapa kali jatuh tersungkur di tanah karena kelelahan. Lelah jiwa dan raga, lahir dan batinnya. Andai saja Tuhan tak menguatkan dirinya sejak lima tahun yang lalu, mungkin dia sudah jadi orang gila sejak lama.


Alin beristirahat di halte bus karena kelelahan. Dia memijat-mijat betis dan pahanya yang pegal. Lantas, tiba-tiba kaki bersepatu kulit muncul di depan matanya.


Alin mengangkat kepala lalu melihat wajah pria yang baru datang itu.


"Kamu ?"


Suara kaget Alin teredam suara derasnya hujan.


Pria di depannya tersenyum lalu ikut duduk di dekat Alin.


"Apa kabar? Aku nggak nyangka bisa lihat kamu di sini," ucap pria itu. Wajahnya tampan, badannya juga bagus. Dia Rendy, rival Kenzi sejak kecil.


Alin memandangi wajah Rendy lama. Seharusnya dia membenci pria ini karena pria inilah yang membuat Kenzi salah paham pada dirinya. Namun, Alin entah kenapa Alin tak membencinya tapi justru kasihan padanya.


"Jangan menatapku seperti itu, Alin. Kalau itu orang lain, dia pasti akan menganggap kamu sedang sangat merindukan aku, hehe," ucap Rendy lalu terkekeh.


"Ke mana saja kamu? Setelah membuat hidupku hancur, kamu menghilang," ucap Alin sarkas. Tentu saja Rendy sedih mendengarnya. Memang benar kata-kata Alin barusan, dialah yang membuat hidup Alin hancur berantakan. Tapi herannya, Alin sama sekali tak membenci dirinya, itu yang membuat Rendy sangat menyesal.


***


Rendy dan Kenzi dulunya bersahabat. Sejak TK sampai SMP. Mereka tiga bersahabat dengan Hania. Persahabatan mereka sangat manis, hingga akhirnya Kenzi dan Rendy menyukai gadis yang sama, mereka bersaing mendapatkan hati Hania.


Sejak saat itu, Kenzi dan Rendy selalu bersaing dalam hal apa pun. Bersaing di bidang olahraga, pelajaran, kepopuleran dan lainnya. Hingga akhirnya mereka memasuki fase remaja yaitu SMA, Hania menjatuhkan hatinya pada sosok Rendy yang selalu lebih unggul dari Kenzi.


Beruntung di tahun-tahun berikutnya Kenzi mengenal sosok Laura yang ternyata juga temannya sejak kecil, dia sudah mengagumi Kenzi sejak lama. Kenzi memang tak menaruh hati pada Laura karena cintanya masih utuh untuk Hania, tetapi kehadiran Laura sedikit membuat hati Kenzi senang karena ternyata Rendy menyukainya.


Rendy meninggalkan sosok Hania demi Laura saat itu. Hania pindah ke kota lain karena patah hati. Itulah yang mendasari kebencian Kenzi terhadap Rendy.


***


Alin hendak berjalan pergi dari halte karena hujan telah reda. Baru beberapa langkah kakinya berjalan, tiba-tiba dia merasa keram. Sontak, Rendy segera menolong wanita itu, dia memapah Alin perlahan.

__ADS_1


"Biar kuantar," ujar Rendy. Alin tak menjawab, tetapi dia mengikuti langkah Rendy menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.


"Terima kasih," ucap Alin ketika bokongnya sudah duduk di jok mobil milik Rendy.


"Alin, katakan di mana rumahmu."


Alin mengucapkan nama alamat rumahnya, tiba-tiba matanya melihat sosok Kenzi yang melewatinya dengan mobil. Pria itu menatap Alin sekilas dengan tatapan kebencian dan dendam.


Alin terlonjat tetapi dia hanya bisa duduk tenang di dalam mobil.


"Alin. Barusan Kenzi kan yang lewat di depan kita," ujar Rendy pada wanita yang masih terdiam itu.


Alin mengangguk lemah.


"Alin maafkan aku. Aku akan menjelaskan semuanya pada Kenzi, semua yang terjadi lima tahun yang lalu," ucap Rendy dengan raut wajah penuh penyesalan.


Alin tersenyum samar kemudian menggeleng.


"Sudah lama, tak perlu diungkit. Orang yang membenci bertahun-tahun tak akan mudah berubah hanya dengan mendengar satu penjelasan dari mulut seseorang."


"Tapi, kamu tak bersalah lima tahun yang lalu. Dia harus tau kalau itu semua aku dan Laura yang merencanakannya."


Alin mendesah. Dia malas mendengar nama Laura saat ini. Laura … Laura. Gadis itu berhasil merebut Kenzi, apakah sekarang dia ingin merebut Naufa dari hidup Alin juga?


"Ren. Kalau kamu menjelaskan saat ini, percuma saja. Kenzi hilang ingatan," lapor Alin.


"Apa? Hilang ingatan?" Rendy tidak bisa menyembunyikan kekagetannya.


"Iya, dia hilang ingatan. Sebentar lagi dia juga akan menikah dengan Laura. Semuanya tidak masuk akal, terlalu runyam."


Alin kembali merasakan kesakitan dalam hatinya.


'Kenapa harus begini? Kenapa Tuhan tak mengizinkan aku hidup bahagia. Jika tak bisa bahagia bersama Kenzi, setidaknya dengan Naufal-putraku.' Alin mengeluh dalam hati.


"Menikah?"

__ADS_1


Rendy sudah salah menilai Laura. Dia pikir Laura akan benar-benar menepati janjinya.


Sekarang Laura justru akan menikah dengan Kenzi. Wanita kejam itu…. Rendy merasa sangat bodoh karena dimanfaatkan olehnya.


"Sudahlah, ayo antar aku pulang. Aku sangat lelah," ucap Alin yang langsung diangguki oleh Rendy.


***


Mobil Rendy berhenti di depan rumah sederhana milik Alin. Wanita itu berpamitan tanpa menawari Rendy mampir. Rendy juga tidak merasa tersinggung, dia segera pergi dari tempat itu setelah melihat Alin masuk ke dalam rumah.


Alin berjalan gontai menuju kamarnya. Sedangkan Santi baru saja keluar dari kamar mandi.


"Alin? Kamu sudah pulang, Nak?"


Alin mengangguk, bibirnya terkunci rapat. Meskipun dia melihat sang ibu yang berharap mendapatkan penjelasan. Dia benar-benar lelah untuk sekadar menjawab pertanyaan sang ibu.


Santi merasa sedih melihat sosok putrinya itu. Sejak Alin bercerai dengan Kenzi, Santi jarang sekali melihat senyum manis di wajah Alin.


Alin hanya bisa tersenyum lepas di hadapan Naufal.


Santi hanya seorang wanita tua yang tidak memahami apa-apa. Yang dia tahu hanyalah putrinya bercerai karena sudah tak cocok dengan Kenzi. Alin juga tidak bercerita tentang masalah dirinya lima tahun yang lalu. Alin benar-benar memikul beban itu sendirian.


Alin berganti pakaian dengan cepat lalu pergi makan karena perutnya terasa sakit. Sebelumnya dia meminum obat sakit lambung terlebih dahulu.


Setelah selesai, wanita itu pun menuju kamar Naufal. Dia mendesah lega.


Syukurlah Kenzi mengembalikan Naufal ke rumah ini. Dia takut… takut Naufal dibawa pergi.


Alin merebahkan diri di dekat tubuh putranya. Wajah Naufal yang begitu tampan, sangat tenang ketika tidur.


Alin tersenyum manis, dia mengelus-elus pipi putranya.


"Nau, apa pun yang terjadi, tolong jangan pergi dari hidup Mami ya, Nak. Kalau Nau pergi, Mami bisa gila, Nak. Mami bisa gila," ucap Alin pelan sebelum matanya terpejam.


Naufal membuka matanya perlahan. Anak itu terbangun beberapa menit yang lalu saat Alin membuka pintu. Dia berpura-pura tidur dan berniat akan mengagetkan maminya. Tapi, dia malah mendengar maminya berkata begitu.

__ADS_1


'Barusan … Mami bilang Mami bisa gila kalau Naufal pergi? Mami, Naufal pasti sembuh, Ayah bilang sama Nau kalau Nau bakalan sembuh. Nau nggak akan pernah ninggalin Mami.' ucap Naufal dalam hati.


__ADS_2