
Laura menatap tajam wajah Rendy–lelaki yang dulu begitu mencintai dirinya, sampai-sampai rela berpura-pura tidur dengan istri orang lain.
"Rendy, sebaiknya kamu pikir matang-matang sebelum bertindak. Pertama, kamu lupa? Tak ada bukti kalau wanita itu bukan Alin. Kedua, kalian keluar dari kamar itu, Kenzi pun melihat langsung dengan matanya. Ketiga, jangan berani-beraninya kamu membocorkan rahasia ini, karena aku tidak segan-segan memb*nuh Alin."
Laura berhati dingin dan kejam. Sejak kecil, dia selalu mendapatkan apa yang dia mau. Baginya, hal yang semakin tak bisa dia dapatkan, membuat dia semakin penasaran.
"Laura, aku nggak nyangka salah menilai kamu."
Laura hanya tertawa dingin. Dia tak peduli pendapat Rendy, dia tak peduli pandangan pria ini. Karena di matanya hanya ada Kenzi, Kenzi dan Kenzi.
Laura segera pergi meninggalkan restoran itu karena muak melihat Rendy yang sekarang. Dia yakin, Rendy tak akan berani membocorkan rahasia ini, karena Rendy tau bahwa Laura tak pernah main-main dengan ucapannya.
Sementara di tempat lain, Alin mengurung diri di kamar. Dengan mata yang sembab, dia memandang foto Naufal, Santi dan dirinya terus menerus.
Alin menyesal. Seharusnya sampai kapan pun, dia tidak pernah kembali ke kota ini. Andai saja dia mengikuti kata-kata mendiang ibunya dulu. Namun, sekarang sudah terlambat. Alin hanya bisa menerima takdir, dan menjalani sisa hidupnya dengan kesepian.
Di rumah sakit, Naufal siuman. Dia melihat ke penjuru kamar, namun tak ada Alin di sana. Anak berumur empat tahun itu mencari-cari ibunya, bertanya pada para perawat, tetapi tak ada satu pun yang menjawab. Sampai akhirnya, Naufal menyerah dan tak bertanya lagi. Dia memilih diam dan tidur, menunggu beberapa waktu, barangkali Alin akan segera datang.
Tiba-tiba, kamar Naufal terbuka. Sosok Kenzi berjalan pelan ke arahnya. Mata Naufal bersinar, memancarkan kelegaan.
"Ayah, Mami mana?" tanya Naufal. Suaranya terdengar serak. Sejak siuman anak itu tak mau minum.
Kenzi mengambil segelas air hangat di atas nakas, lalu menyerahkan pada Naufal. Naufal menurut, dia meminum air putih itu satu tegukan.
"Nau, kamu sudah pulih. Mulai besok dan seterusnya kamu akan tinggal bersama ayah," ucap Kenzi. Pria itu tak pandai berbadan basi. Dia juga tidak pernah memiliki anak sebelum-sebelumnya, jadi ketika bicara pada Naufal, dia tetap kaku dan sedikit gugup.
Naufal tersenyum bahagia. Anak itu berpikir sekarang dia memiliki keluarga lengkap. Ada mami, dia dan ayahnya.
"Nau tinggal di rumah Ayah?" tanya Naufal.
Kenzi mengangguk. "Kamu harus segera pulih, biar cepat pulang. Ayah sudah menyiapkan banyak mainan untuk kamu," ujar Kenzi.
Kenzi merasa sangat bahagia karena sang anak menurut dan mudah diajak tinggal bersama.
__ADS_1
Akan tetapi, kebahagiaan Kenzi tak bertahan lama. Sehari … dua hari, tiga hari, Naufal terus menanyakan sang ibu. Dia terus mencari cari sosok Alin.
"Ayah, Mami mana?"
"Ayah, Nau kangen Mami."
"Ayah, Mami pergi? Ayah, Nau salah apa? Kenapa Mami nggak datang jemput Nau?"
Di sore hari, ketika sudah waktunya Naufal pulang dari rumah sakit, anak itu malah demam tinggi. Di terpaksa menginap lagi di rumah sakit.
Kenzi yang sibuk bekerja hari itu, segera mendapatkan kabar dari Alex tentang Naufal yang demam. Dia langsung menuju rumah sakit dengan cepat.
Akan tetapi, ketika Kenzi hendak menaiki mobil untuk pergi ke rumah sakit, Laura menunggunya di kantor lantai bawah. Dia sengaja menunggu di bawah, agar bisa menahan pria itu.
"Kenzi! Aku ingin bicara, sebentar saja!" ucap Laura.
"Nggak bisa sekarang, Ra. Anakku demam, aku harus segera pergi ke rumah sakit."
Kenzi yang terburu buru pun tak banyak bicara. Dia langsung mengizinkan Laura ikut bersamanya ke rumah sakit.
Selama di mobil, Laura hanya diam. Namun, matanya terus memperhatikan sikap Kenzi yang begitu perhatian pada sang putra.
'Aku bisa mengambil hatinya kalau aku bisa dekat dengan putranya,' batin Laura.
Gadis itu tak pernah menyerah untuk mendapatkan hati Kenzi. Justru keinginannya memiliki pria itu semakin bertambah, meski telah ditolak berkali-kali.
Sesampainya di rumah sakit, Kenzi berlari ke kamar rawat Naufal. Sedangkan, Laura menyusul dengan sama tergesa-gesanya. Keduanya sampai di kamar itu dengan napas ngos-ngosan.
"Apa yang terjadi?" tanya Kenzi pada Alex yang berjaga di sana.
"Tuan muda Naufal demam. Sejak tadi memanggil-manggil nama Nyonya Alin, Bos."
Alex memandang wajah Kenzi tak respect. Dia sudah pernah mengatakan bahwa tindakan Kenzi kali ini sangat keterlaluan. Memisahkan anak sekecil ini dari ibu kandungnya.
__ADS_1
"Memang ibunya ke mana? Kenapa tidak merawat Naufal dengan baik?" Laura merasa mendapatkan kesempatan sekali lagi.
Ya, dia akan mudah mendapatkan hati Kenzi bila dia bisa menjadi ibu yang baik untuk Naufal.
Laura berjalan menuju bed Naufal, lalu mengelus kepala Naufal lembut.
Di dalam alam bawah sadar Naufal saat ini, orang yang mengelus kepalanya adalah Alin. Anak itu tersenyum lalu merespon sentuhan tangan Laura.
"Alin benar-benar ibu yang tega dan kejam." Laura berusaha mengompori.
Sementara Alex sangat muak melihat acting Laura seperti ini. Tapi sayangnya, Kenzi begitu mudah dihasut. Dia merasa ucapan Laura benar. Padahal dia sendiri yang melarang Alin bertemu anaknya.
"Bos, sebaiknya Anda mengabari Nyonya Alin bahwa Tuan muda Naufal sedang sakit," ujar Alex, berusaha menyadarkan atasannya.
Kenzi segera menelepon nomor Alin, namun telepon tidak dijawab terus menerus sampai tiga kali. Kenzi jadi geram.
"Tidak perlu. Ada Laura di sini. Dia juga bisa merawat seorang anak." Kenzi duduk di sisi bed Naufal yang lain.
"Laura, belakang ini aku sangat sibuk. Bisakah kau menjaga Naufal sampai dia benar-benar sehat?" tanya Kenzi. Tentu saja Laura langsung menyanggupi.
"Kau tenang saja. Aku sangat menyukai dia, aku akan menjaga Naufal dengan baik. Tidak seperti ibunya yang acuh itu," ucap Laura. Matanya menyiratkan kelicikan.
"Terima kasih, Laura. Kau sangat membantu," puji Kenzi. Laura tersenyum senang.
"Tidak masalah, Kenzi. Aku sangat suka anak-anak. Agar aku lebih mudah menjaganya, bolehkah aku tidur di sini? Lagi pula, Alin sudah tidak peduli pada anaknya. Kalau dia peduli seharusnya dia di sini."
Kenzi mengangguk setuju. Padahal yang sebenarnya terjadi, Alin juga sedang demam di rumahnya.
Tiga hari Alin tidak mau makan. Dia hanya minum susu dan air putih untuk mengisi perutnya. Setiap malam menangis. Tak berangkat bekerja. Hidupnya seperti telah berhenti di sana. Tak ada semangat, tak ada gairah.
"Nau … Mami rindu, Nak. Mami sangat rindu," ujar Alin di sela isakannya.
Mata Alin terpejam, bayang-bayang Naufal yang sedang tersenyum di pangkuannya mulai memudar. Kesadaran Alin hilang, dia jatuh pingsan.
__ADS_1