
"Sudahlah, kalau kau tidak mau juga tak masalah. Tapi jangan harap kau bisa bertemu lagi dengan Naufal." Kenzi pergi begitu saja. Dia menuju ruang operasi meninggalkan Alin yang tengah frustasi.
"Kenzi, tak bisakah kamu melihat rasa cintaku yang dulu? Bahkan sampai saat ini kamu satu-satunya pria yang ada di hati," gumam Alin sedih.
Mungkin bagi Kenzi, dirinya hanyalah wanita murahan yang pantas dijadikan seorang simpanan saja. Air mata bercucuran di pipi putih milik Alin. Dia berjalan ke ruang operasi, menunggu di luar dengan hati kacau. Hati dan pikirannya sedang berperang.
"Apakah aku bisa hidup tanpa Naufal? Apakah aku bisa hidup bila tak bertemu Naufal? Tapi, jadi simpanan Kenzi, penderitaan seperti apa lagi yang akan aku rasakan?" Alin terus bergumam sendirian, mempertanyakan hidupnya setelah Naufal keluar dari ruangan operasi nanti.
***
Setelah menunggu sekian waktu, akhirnya pintu ruang operasi terbuka.
Dokter Adrian keluar dengan wajah yang terlihat kelelahan. Namun, ada senyum lega menghiasi bibirnya.
"Nyonya Alin, selamat. Operasi putra ananda Naufal berhasil. Dia akan segera dipindahkan ke kamar rawat inap. Setelah tiga hari baru bisa pulang," ujar Dokter Adrian.
Dokter muda itu meninggalkan Alin yang tersenyum penuh kebahagiaan. Dia sudah memilih.
Dia memilih mundur, dan membiarkan Naufal hidup dengan keluarga Kenzi dari pada dia harus menjadi simpanan pria itu.
Meski Alin tak percaya pada dirinya sendiri, akankah dia kuat menjalani hari-hari tanpa Naufal?
Alin melihat sosok Naufal yang tertidur di atas bed, anak itu dipindahkan ke kamar VVIP. Alin mengikuti langkah para suster menuju kamar Naufal.
Akan tetapi, langkah Alin terhenti ketika kamar itu ditutup, dan seorang perawat menghampiri dirinya.
"Maaf, Nyonya. Tuan Kenzi melarang Anda masuk. Katanya Anda baru bisa bertemu dengan tuan muda Naufal jika Anda sudah bertemu dengan Tuan Kenzi."
Ucapan perawat itu membuat sakit di hati Alin semakin menjadi-jadi. Dia mengangguk pasrah.
"Di mana Tuan Kenzi berada?" tanya Alin.
"Tuan Kenzi baru dipindahkan juga ke kamar lain, silakan," ucap perawat itu, dia menunjukkan jalan.
Mereka berjalan hingga akhirnya sampai di kamar yang khusus dipakai oleh Kenzi.
"Silakan, Nyonya."
Perawat itu membuka pintu. Sosok Kenzi terlihat sedang duduk bersandar di bed-nya. Dia baru saja mendonorkan sumsum tulang belakangnya, tapi terlihat masih sangat sehat, tak terlihat lesu atau lemas sedikit pun.
Alex sang asisten pun ada di sana. Dia berdiri di samping bed sebelah kanan. Wajahnya terlihat kaku tanpa senyuman. Sangat bertolak belakang dengan tuannya.
Alin berjalan menuju bed Kenzi, sedangkan perawat langsung menutup pintunya.
__ADS_1
Wajah Kenzi terlihat tersenyum menyambut kehadiran Alin, bahkan senyumnya sampai ke mata.
"Kenzi, kau tersenyum? Kau sangat senang menginjak-injak harga diriku?"
Alin sama sekali tak menyangka akan melihat ekspresi wajah Kenzi yang seperti itu.
Kenzi mengangguk, lalu menyuruh Alin mendekat dengan isyarat tangannya.
"Bagaimana? Sudah kau pikirkan matang-matang?" tanya Kenzi. Pria itu masih tersenyum.
Alin mengangguk. "Sudah, Kenzi. Aku sudah memikirkannya."
Kenzi tidak sadar semakin melebarkan senyumnya.
"Kemarilah, sebagai simpanan kau harus tau bagaimana caranya menyenangkan aku!" ucap Kenzi jumawa.
Alin menggelengkan kepalanya. "Kenzi, aku sudah memutuskan. Silakan hidup bahagia bersama Nau. Kau … kau pasti bisa membuat dia bahagia, lebih bahagia daripada bersamaku. Aku titip anak itu," ucap Alin kemudian berbalik meninggalkan kamar itu sambil menangis.
Sementara Kenzi. Setelah mendengar ucapan Alin, tubuhnya menegang kaku.
"Brengsek! Sialan!"
Kenzi tak menyangka wanita itu Malah menolaknya, dan memilih berpisah dengan Naufal.
"Dia memilih berpisah dengan Naufal daripada jadi simpanan aku! Wanita ******!"
Prang!
Gelas dan piring makanan di atas nakas dihempaskan oleh Kenzi sampai pecah di lantai.
Alex tak habis pikir dengan tingkah bosnya.
"Kenapa bos tidak jujur saja kalau masih mencintai Nyonya Alin," ucap Alex. Kenzi langsung memandang wajah Alex dengan tatapan tajam.
"Aku tidak mencintai dia."
"Kalau nggak cinta kenapa dia nggak boleh nikah sama cowok lain?"
"Aku cuma nggak mau Naufal memanggil laki-laki lain dengan sebutan papa atau ayah."
"Ck, lalu Bos bes bersedia mendengar Naufal memanggil wanita lain dengan panggilan ibu atau mama?"
Kenzi mengeram. "Tidak juga, ibunya hanya Alin. Tak ada ibu lain!"
__ADS_1
Alex tertawa mendengar jawaban jujur dari sang atasan.
"Itu berarti bos tidak akan menikah lagi dengan wanita lain."
Apa yang dikatakan Alex seratus persen benar. Namun, Kenzi masih menyangkalnya. Ingatannya belum pulih semua, dia hanya ingat bahwa beberapa waktu yang lalu Laura berusaha menyingkirkan Alin, berkali-kali menyuruh orang untuk memerkosa Alin. Itu sebabnya dia langsung membatalkan rencana pernikahan dengan Laura.
Sedangkan tentang lima tahun yang lalu, Kenzi sama sekali tak ingat. Dia hanya ingat, di suatu sore Alin keluar dari hotel bersama dengan Rendy.
"Bos, kalau aku boleh memberi saran. Kejarlah Nyonya Alin, sebelum kau benar-benar kehilangan dia untuk selamanya."
Mendengar ucapan Alex, Kenzi kembali mematung. Pikirannya penuh. Dia tak bisa berpikir jernih.
**
Alin berlari ke luar rumah sakit dengan mata yang tak henti-henti menangis. Dadanya naik turun menahan sesak.
Dia segera menyetop taksi lalu memasuki taksi tersebut dengan tergesa-gesa.
"Nona, kenapa menangis?" tanya sopir taksi yang ternyata adalah seorang perempuan.
Alin terkejut melihat sopir itu, lalu menggeleng.
"Maaf, Nona. Saya keceplosan. Mau diantar ke mana?" tanya sopir itu lagi.
Alin pun menyebutkan alamat rumahnya. Selama di dalam taksi, dia melihat ponselnya. Dia menatap isi galeri yang penuh oleh potret Naufal dari bayi sampai usia empat tahun.
Alin kembali menangis. Dia benar-benar tidak punya siapa siapa lagi saat ini.
'Naufal, maafkan Mami. Mami nggak bisa hidup menjadi seorang simpanan. Maaf,' lirih Alin dalam hati.
***
Di sebuah restoran yang cukup mewah. Dua sejoli tampak saling memandang satu sama lain. Udara di sekitar mereka terasa dingin. Namun, tatapan mata merah sama-sama panas. Seolah-olah menyimpan rasa dendam yang membara.
"Untuk apa kau kembali ke kota ini?" tanya Laura.
"Tentu saja untuk menagih janjimu. Bukankah lima tahun waktu yang sangat cukup?"
Laura mendesah, dia meremas jemari tangannya dengan kuat.
"Rendy, maaf. Aku nggak cinta sama kamu. Aku hanya cinta sama Kenzi," ucap Laura. Kemudian ditanggapi tawa kecil oleh Rendy.
"Ha ha ha, Laura. Kau tidak mau menyerah? Apakah aku tak lebih baik dari pria itu? Laura, apakah aku kurang kaya? Kurang pesona?" tanya Rendy.
__ADS_1
Laura menggeleng. "Bukan, kau tentu saja kaya dan mempesona. Tapi cinta tak bisa dipaksakan!" seru Laura.
Lagi-lagi Rendy tertawa. "Lalu, kalau kau tau cinta tak bisa dipaksakan, kenapa kau berusaha memisahkan Kenzi dan Alin, ha! Kenapa? Laura. Sebaiknya kau bersiap, aku akan memberi tahu Kenzi bahwa lima tahun yang lalu, bukan Alin yang tidur bersamaku!" ucap Rendy mantap. Membuat Laura terlonjat dari tempat duduknya.