
Alin pulang ke rumah dengan perasaan yang tak menentu. Entah kenapa hatinya terasa begitu cemas. Dia pun segera berganti pakaian lalu menuju ke rumah sakit untuk menemui Naufal.
Di perjalanan menuju rumah sakit, Alin melihat jalan raya dipenuhi mobil polisi dan ada ambulans juga.
"Ada apa itu, Pak? Kecelakaan, kah?" tanya Alin pada supir taksi.
"Iya, Non. Baru beberapa waktu yang lalu. Katanya yang kecelakaan itu pembisnis yang lagi viral. Yang ganteng itu, loh, Non," ucap supir menjelaskan.
Alin menatap ke arah jalan, melihat betapa banyak wartawan yang ikut meliput kejadian.
Dia tak tahu, bahwa yang kecelakaan adalah Kenzi.
**
Kenzi dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kepalanya mengalami luka, dia pun segera mendapatkan penanganan di rumah sakit. Sementara Alex, dia sibuk menghubungi keluarga Kenzi dan Nenek Aulia.
Mendengar sang cucu kecelakaan, Nenek Aulia langsung pingsan. Dia syok dan kesehatannya langsung menurun. Sementara kedua orang tua Kenzi langsung menuju rumah sakit.
Alex menunggu Kenzi dari ruang operasi. Dia benar-benar tak habis pikir, baru beberapa belas menit yang lalu bosnya itu pergi meninggalkan dirinya. Beruntung saat itu Alex menyusul dengan taksi dan melewati jalan yang sama. Dia langsung keluar dari taksi saat melihat mobil Kenzi yang berhenti dan mengeluarkan asap.
"Alex, bagaimana keadaan Kenzi?"
Audi datang dengan terengah-engah bersama Narendra. Keduanya tampak begitu was-was dan khawatir. Bahkan, Audi tidak berdandan sama sekali saat keluar dari rumah menuju rumah sakit. Padahal biasanya dia selalu mementingkan penampilan.
"Bos Kenzi sedang dioperasi. Kepalanya terbentur keras dan mengalami pendarahan yang cukup banyak," jelas Alex yang sudah mendapatkan penjelasan dari dokter di bagian IGD.
Audi menangis histeris. Dia sangat takut terjadi sesuatu pada Kenzi.
"Tenang, Ma. Jangan seperti ini. Anak kita kuat. Dia pasti bisa bertahan." Narendra berusaha menenangkan Audi yang selalu panik jika Kenzi sakit.
Mungkin karena Kenzi hanya anak satu-satunya, dia jadi sangat super menjaga. Bahkan, ketika dulu Kenzi menikah dengan Alin, Audi sebenarnya tidak menyetujui. Dia ingin pasangan Kenzi itu lebih baik dari pada seorang Alin.
Dari dalam ruang operasi dokter keluar. Dia pun melepas pakaian operasinya lalu menghampiri keluarga yang Kenzi. Sejujurnya, wajah dokter tersebut terlihat sedikit khawatir.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Audi. Dia buru-buru menghampiri dokter yang masih terlihat kelelahan itu.
"Tuan Kenzi baik-baik saja, tapi sepertinya otaknya mengalami trauma. Kita tunggu dulu sampai dia sadar, kalau begitu saya permisi dulu." Dokter itu segera kembali ke ruangannya lalu menghubungi Dokter Adrian, karena dia tahu Dokter Adrian adalah dokter pribadi keluarga Kenzi.
Dari ruangan operasi, Kenzi dipindahkan ke ruang VVIP rumah sakit. Dia dijaga semalaman oleh Audi dan Narendra. Dalam tidurnya, Kenzi bermimpi.
'Alin, maukah kau jadi istriku?'
Kenzi menatap dalam mata Alin yang mulai mengembun. Wanita itu pun mengangguk pelan sambil tersenyum manis.
'Mulai hari ini, aku akan selalu membahagiakanmu, Alin.' Janji Kenzi saat itu membuat Alin tenang, mereka berpelukan lama sampai akhirnya Kenzi pamit pulang untuk memberi tahu kedua orang tuanya.
'Alin, kau sangat cantik. Aku sangat mencintaimu,' ucap Kenzi di hari yang bahagia itu.
Wajah Alin memerah malu. Malam ini, Alin pun memberikan kesuciannya pada sang suami. Sejak saat itu, Kenzi semakin besar rasa cintanya pada Alin.
'Aku ingin memiliki banyak anak yang lucu. Dan mereka semua harus mirip denganmu,' ucap Kenzi.
'Kenapa begitu?' tanya Alin heran.
'Kenzi, kau tahu. Sepertinya mama tak menyukai aku,' ucap Alin sedih. Dia sering mendapatkan sindiran dari Audi karena tak pandai memasak.
'Mungkin itu hanya perasaan kamu saja, Sayang. Mana mungkin mama nggak suka sama kamu, orang anaknya aja suka,' hibur Kenzi.
Alin selalu mendampingi Kenzi di saat Kenzi kelelahan bekerja. Saat itu Kenzi baru merintis usahanya.
'Semangat, Sayang!' seru Alin saat Kenzi berangkat bekerja ke luar kota. Semuanya tampak sesuai dengan harapan Kenzi. Hidup bahagia bersama dengan Alin selamanya.
"Ma, lihat, tangan Kenzi bergerak!" seru Narendra pada istrinya. Mereka berdua sudah menunggu Kenzi satu hari, tapi Kenzi belum juga bangun. Kali ini, mereka melihat tangan Kenzi bergerak, mereka langsung memanggil Dokter Adrian.
Dokter Adrian pun bergegas menuju ruangan Kenzi. Dia segera memeriksa tubuh Kenzi.
"Tuan, Kenzi adalah orang yang kuat. Dia berhasil melewati masa kritis. Kita tunggu beberapa jam lagi," jelas Dokter Adrian.
__ADS_1
"Syukurlah," ujar Narendra.
Benar saja, tak lama kemudian Kenzi sadar. Pria itu membuka matanya perlahan lahan lalu memandang ke arah kedua orang tuanya. Dia menghela napas sejenak.
"Ma … Pa? Aku kenapa?" tanya Kenzi linglung. Wajahnya pucat, matanya mencari-cari sesuatu di dalam kamar.
"Kenzi, akhirnya kamu sadar, Nak!" Audi segera memeluk tubuh Kenzi dengan pelan karena takut melukai tubuh Kenzi yang baru saja pulih.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, ternyata Nenek Aulia yang datang.
"Nenek? Kenapa semuanya datang ke sini? Ah, kepalaku sakit sekali," ujar Kenzi kesakitan.
Nenek Aulia baru saja memulihkan keadaannya karena kemarin sempat pingsan. Dia buru-buru ke rumah sakit untuk menjenguk Kenzi.
"Dasar cucu durhaka! Kenapa kau suka sekali membuat aku jantungan! Kenapa?" Meski mulutnya memarahi Kenzi, tapi hatinya sangat lega melihat sang cucu bangun.
"Bu, Kenzi baru sadar. Jangan marah-marah, dong," sahut Aulia pada ibunya.
"Pah, sebenarnya aku kenapa?" tanya Kenzi pada ayahnya yang sejak tadi hanya diam.
"Kamu kecelakaan dua hari yang lalu. Sekarang gimana perasaanmu? Biar Papa panggil Dokter Adrian."
Alis mata Kenzi bertaut. "Aku kecelakaan? Lalu bagaimana dengan Alin, Pa? Di mana dia sekarang?" tanya Kenzi khawatir.
Ekspresi semua orang yang ada di ruangan itu pun menjadi aneh. Terutama Audi.
"Kenapa kamu malah mengkhawatirkan dia, Kenzi? Apa hubungannya?" tanya Audi tak suka.
"Tentu saja ada hubungannya, Ma. Dia istriku. Apakah dia juga ikut celaka? Nek, Alin dirawat di ruangan mana?" tanya Kenzi pada neneknya yang sedang tertegun.
"Kenzi, kamu ingat kemarin kamu kecelakaan karena apa?" tanya Aulia.
Kenzi menggeleng, dia juga tak ingat apa pun. Yang dia ingat hanya Alin yang mengantarkan dirinya saat akan pergi bekerja.
__ADS_1
"Alin baik-baik saja, Kenzi. Dia tidak celaka, tapi kalian—" Nenek Aulia hendak mengatakan bahwa kalian sudah bercerai, tapi kemudian Kenzi mengerang. Kepalanya terasa sakit.
"Cepat panggil dokter!" seru Nenek Aulia. Dia yakin, ada yang tidak beres dengan kesehatan cucunya itu.