
Alin mengerang dalam tidurnya, dia berusaha untuk bangun tapi kepalanya berdenyut sakit. Badannya demam. Naufal yang tidur di sampingnya pun ikut merasa tak nyaman karena tubuh Alin sangat panas.
Wanita itu masih memejamkan matanya. Dia terus bergumam lirih. "Nau, jangan tinggalkan Mami, Nak."
Naufal menepuk-nepuk pipi sang ibu pelan. Namun, Alin masih terpejam.
Akhirnya, Naufal beranjak dari kasur mencari sang nenek.
"Nenek! Mami sakit!" teriak Naufal sambil menggedor-gedor pintu kamar Santi.
Santi keluar dari kamar setelah mendengar teriakkan sang cucu beberapa kali. "Nau, ada apa? Mamimu sakit apa?" tanya Santi. Dia segera menuju kamar Naufal untuk mengecek tubuh putrinya.
"Mami panas, Nek. Ayok bawa ke dokter," usul anak usia empat tahun itu.
"Sebentar, kita bangunkan dulu."
Santi mendudukkan tubuh Alin yang lemas. Wanita itu setengah tidur setengah bangun, seperti sedang di alam mimpi. Namun dia sadar sang ibu saat ini sedang berusaha memapahnya.
"Nau cari ponsel Mami, telepon taksi!" pinta Santi. Dia sangat khawatir karena tubuh Alin benar-benar panas dan badannya tak mau digerakkan.
"Nak, sadar. Kamu kenapa?" tanya Santi sambil mengelus dahi Alin yang panas.
Wajah Alin sangat pucat. Santi mencoba memberikan minum air putih hangat, tetapi Alin malah memuntahkannya.
"Nek, Nau sudah telepon Om Rafa. Nek, Mami sakit apa?" Anak itu menangis. Dia sangat takut melihat tubuh ibunya yang lemas tak bertenaga.
Di mata Naufal selama ini, Alin adalah sosok ibu yang kuat. Alin jarang sekali jatuh sakit. Sekalipun sakit, Alin tidak pernah memperlihatkannya pada Naufal dan Santi. Semua derita memang sering kali ia tanggung sendiri.
"Iya, Nau. Kita tunggu dulu, ya. Nau bisa nggak ambilkan dompet dan tas Mami di kamar Mami. Nenek mau kasih minyak kayu putih dulu di badan Mami," ujar Santi.
Naufal anak yang cerdas dan sigap. Dia segera melakukan interupsi yang diberikan oleh Santi.
Setelah dua puluh menit menunggu, akhirnya sosok Rafa mengetuk pintu di luar. Naufal segera membukakan kunci.
"Om, Mami sakit. Om, antar Mami ke rumah sakit!" seru Naufal. Wajahnya terlihat begitu khawatir.
Tanpa ba bi bu, Rafa segera menolong Alin. Menggendong tubuh wanita itu dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Pukul 05.30, Rafa bahkan belum bangun, beruntung dia selalu menyimpan HP-NYA tak jauh dari tempat dia tidur, sehingga ketika Naufal menelpon dia langsung mendengar suara hapenya.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian, mobil Rafa sampai di UGD salah satu rumah sakit. Rasa menggendong tubuh Alin, kemudian membawanya ke dalam.
**
Alin terbaring lemah di bed, tangan kanannya diinfus. Dokter mengatakan, Alin kelelahan, telat makan dan kehujanan dalam waktu yang lama. Juga mengalami setres sehingga tubuhnya tak kuat menahan sakit dan akhirnya tumbang.
"Mami, Mami jangan sakit," ucap Naufal sambil memegangi tangan kanan Alin.
Santi menghela napas berat. Dia pun segera menghubungi guru Naufal di sekolah untuk meminta izin karena Naufal tidak masuk sekolah hari ini.
Pintu kamar terbuka, sosok Rafa muncul. Dia baru saja selesai mengurus administrasi. Dia datang membawakan beberapa bungkus makanan untuk dicerna oleh Naufal dan Santi.
"Maaf, ya, Nak. Jadi ngerepotin," ujar Santi tak enak hati.
"Nggak apa-apa, Bu. Saya ikhlas," ucap Rafa.
Naufal memandangi wajah sang ibu dengan hati yang kelam. Dia mengingat semalam sang ibu begitu ketakutan ditinggal oleh dirinya.
"Mami, bangun ya. Nau janji nggak akan tinggalkan Mami," ujar Naufal.
"Sayang, makan sarapan dulu, ya." Rafa yang melihat Naufal sedih, langsung inisiatif untuk menggendong anak itu dan memberikannya maka .
"Nek, siapa yang telepon?" tanya Naufa.
Santi melirik wajah Rafa sekilas lalu mengucap, "ayahmu." Wajah Naufal yang sejak tadi mendung pun berganti cerah.
Anak itu segera menerima telepon dari Kenzi.
"Ayah, Mami sakit, Yah!" lapor Naufal begitu mendengar suara ayahnya di ujung telepon.
Kenzi yang sedang menikmati sarapan pagi pun tersedak mendengar ucapan sang anak.
"Ibumu sakit? Sakit apa?" tanya Kenzi dengan nada suara yang meremehkan. Dia tak percaya Alin sakit, sebab kemarin dia melihat Alin pergi bersama Rendy.
"Ayah, Mami sakit. Aku ngga sekolah hari ini karena harus jaga Mami," Naufal menjelaskan.
"Katakan kamu di mana sekarang?"
__ADS_1
"Di rumah sakit tempat Nau dirawat Ayah," jawab Naufal.
"Baik, anak pintar tunggu di sana. Aku akan menjenguk mami-mu," ucap Kenzi.
Dia pun segera bergegas ke rumah sakit tanpa menghabiskan sisa sarapannya.
**
Dalam waktu setengah jam, Kenzi sampai di rumah sakit. Dia segera bertanya ke pihak administrasi tentang pasien bernama Alin. Kenzi pun segera menuju kamar Alin begitu diberi tahu oleh perawat.
Kenzi melangkah dengan langkah besar. Dia hendak membuka pintu kamar Alin, kemudian muncul sosok pria yang cukup dia kenal di dalam kamar.
"Tuan Kenzi?" Suara Rafa terdengar heran dan membutuhkan penjelasan.
"Ayah!" teriak Naufal, Kenzi dan Rafa pun sontak melihat ke arah anak berusia empat tahun itu.
Kenzi menghampiri Naufal yang duduk di sisi bed ibunya. Kenzi memandang wajah Alin yang pucat, senyum sinis pun tercipta di wajahnya yang tampan.
'Wanita ini tak pernah kekurangan pria. Kemarin dia jalan dengan Rendy, pagi ini dia dianter ke RS oleh Rafa,' gerutu Kenzi dalam hati.
"Nau kan masih kecil, Nau ikut Ayah saja ke kantor. Gimana? Biar Mami istirahat dulu, lagian udah ada Om Rafa yang menemani Mami," ucap Kenzi setenang marah, setengahnya lagi khawatir.
Naufal menggeleng kuat. "Nggak, Ayah. Om Rafa itu cuma teman Mami, aku anak Mami. Nanti kalau mami bangun cari aku, gimana?"
Kenzi menatap ke arah Rafa yang masih setia memandang wajah Alin. Ternyata, tak lama setelah itu Alin terbangun. Dia mengerjapkan matanya perlahan-lahan.
Mata Alin kini sudah terbuka sempurna.
"Nau …," ucap Alin pelan. Tenggorokan dirinya kering dan sakit.
"Mami …, ye akhirnya Mami bangun." Naufal menciumi wajah Alin dengan penuh kasih sayang. Dia memeluk tubuh Alin dengan erat.
Kenzi menatap kedua orang itu dengan perasaan aneh. Rasa sesak bercampur marah, sedih bercampur lelah, semuanya jadi satu. Terlebih ketika melihat Sorot mata Alin yang begitu ketakutan.
"Alin …
Sebenarnya, aku tak ingin membencimu. Tapi, kau yang lebih dulu membuatku membencimu." Kenzi bergumam dalam hati. Dia bersumpah, tak akan mengalah dengan Alin, di masa depan Naufal harus ikut dengannya.
__ADS_1
Setelah berpelukan lama dengan Naufal, Alin memandang ke arah Kenzi. Wajahnya langsung terkejut, detak jantungnya meningkat.
Dia juga melirik ke arah Rafa, pria tampan itu memandang wajahnya dengan pandangan yang sulit diartikan.