Setelah Berpisah Lima Tahun

Setelah Berpisah Lima Tahun
Paling Rendah Dalam Hidupnya


__ADS_3

"Alin, karena kamu sekarang sudah dijaga oleh Tuan Kenzi, aku pamit," ucap Rafa. Wajah Rafa terlihat murung.


Jelas, Rafa baru tahu bahwa Kenzi adalah ayah Naufal. Dia baru tahu hari ini karena mendengar Naufal memanggil pria itu dengan sebutan ayah.


Tentu saja hati Rafa hancur berantakan. Dia tak mungkin bisa bersaing dengan Kenzi yang kaya dan berbakat dalam hal bisnis itu. Rafa sudah pesimis duluan.


"Rafa, makasih, ya. Maaf aku selalu ngerepotin kamu," ujar Alin sedih. Biar bagaimanapun, dia tahu perasaan Rafa padanya sangat tulus.


Rafa hanya menanggapi dengan anggukan keci dan senyuman, lalu keluar dari ruangan itu.


Sementara Kenzi, sekarang dia beranjak ke sofa untuk menyuapi putranya sarapan.


"Lain kali segera telepon ayah, ya kalau ada hal yang mendesak. Jangan telepon pria lain," ucap Kenzi pada putranya. Dia tak ingin sang putra lebih mengandalkan pria lain dibandingkan dirinya.


Ketiganya diam di kamar, sedangkan Santi berpamitan untuk pulang karena dia akan mengambil pakaian Naufal dan Alin. Alin disarankan menginap di rumah sakit selama tiga hari sampai sembuh total.


***


Keluar dari rumah sakit, Santi hendak mencari taksi.


Sebenarnya dia ditawari oleh Rafa untuk pulang menggunakan mobil Rafa. Akan tetapi Santi terlalu sungkan. Dia pun beralasan sakit perut dan pura-pura ke kamar mandi terlebih dahulu.


"Bos, aku lihat wanita yang di foto keluar dari rumah sakit tapi cuma sendiri, anak laki-laki dan perempuan yang satunya tidak ada," ucap seorang pria memakai kaca mata hitam di dalam mobil. Dia membawa sebuah foto, dua orang wanita dengan seorang anak laki-laki.


Orang di ujung telepon sana berpikir bahwa perempuan yang keluar dari rumah sakit adalah Alin, karena setahunya yang selalu menemani Naufal di rumah sakit adalah neneknya.


"Jalankan rencana kita, buat dia mati!" seru seseorang dari ujung telepon. Orang itu menyeringai jahat. Dia berpikir bahwa rencananya akan segera berhasil. Wanita itu akan hilang selamanya dari dunia ini.


Pria berkacamata hitam itu segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ketika Santi hendak menyebrang saat melihat taksi, mobil pria itu dengan sengaja menabraknya.


BRAK!


Suara hentakan dan teriakan orang-orang di jalan bercampur jadi satu. Tubuh Santi terpelanting jauh. Kepalanya membentur batu dengan keras sehingga mengalami pendarahan yang sangat banyak.

__ADS_1


"Tabrak lari! Tabrak lari!" Semua orang berteriak dan mencoba mengejar mobil sedan itu. Sayangnya mobil sedan itu langsung pergi dengan kecepatan tinggi.


Tubuh Santi langsung dibawa ke rumah sakit. Sosok Santi cukup dikenali beberapa perawat di sana karena sering menemani Naufal kemoterapi. Mereka pun tau bahwa keluarga Santi baru dirawat di rumah sakit itu.


"Dia ibunya Nyonya Alin yang dirawat di kamar Melati," ujar salah satu petugas kesehatan.


"Cepat kasih tau! Kasihan sekali," sahut yang lain.


Salah satu perawat pun berlari ke ruangan Alin. Di dalam kamar, Alin sedang melamun. Perasaannya sejak tadi tak enak. Dia juga tak nafsu makan. Dia melihat kearah Naufal yang sedang tertawa lepas bersama sang ayah. Tiba-tiba Alin merasa insecure. Dia tak sedekat itu dengan Naufal karena selama ini Naufal diasuh oleh Santi, karena dia sibuk bekerja.


Seorang perawat masuk ke dalam kamar Alin dengan tergesa-gesa sampai-sampai napasnya ngos-ngosan.


"Ada apa, Sus?" tanya Kenzi heran melihat tingkah suster yang datang tiba-tiba.


"Nyonya, Nyonya, ibu Anda baru saja mengalami kecelakaan di depan rumah sakit!" ucap perawat itu. Sontak Naufal menjatuhkan gelas yang sedang dia pegang.


"A… apa kamu bilang?" tanya Alin tidak percaya.


"Katakan, di mana Bu Santi sekarang?" seru Kenzi. Pria itu lebih condong logika daripada perasaan. Dia segera menanyakan keadaan Santi.


"Bu Santi sedang ditangani di ICU, Nyonya Alin bisa segera mengurus administrasi," ucap perawat itu. Sebenarnya dia tidak tega pada Alin yang terlihat sangat lemas itu, tapi dia harus seperti itu agar Santi bisa segera mendapatkan tindakan lanjutan.


"Baik, tolong antar saya ke sana," ucap Kenzi. Pria itu segera mengikuti langkah si perawat.


"Ayah, Nau ikut!" pinta Naufal dengan mata yang memerah.


"Kamu tetap di sini, ya. Jaga ibumu, biar ayah yang melihat nenek," ucap Kenzi. Naufal mengangguk pasrah lalu memeluk Alin yang sedang linglung.


"Mami, nenek ketabrak, Mami. Huhuhu," Naufal menangis semakin kencang.


Dunia Alin seperti hendak runtuh. Bagaimana mungkin ibunya kecelakaan? Bukannya barusan dia hanya pergi sebentar?


"Mami!" Naufal memanggil manggil ibunya yang melamun dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Kondisi tubuh Alin saja belum pulih seutuhnya, sekarang dia malah mendapat kabar ibunya kecelakaan. Alin benar-benar berada di posisi paling rendah dalam hidupnya.


Air mata Alin mengalir deras. Dia bingung, khawatir, takut, sesak, lelah, semua bersatu jadi satu dalam dirinya.


"Nau, Nau. Nenek pasti sembuh kan, Nak. Nau, Mami ingin lihat Nenek," ucap Alin dengan wajah yang berlinang air mata.


Begitu juga Naufal. Anak itu menangis tak henti-henti.


***


"Maaf, Tuan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Ibu Santi. Namun, kecelakaan itu terlalu kencang. Ibu Santi terbentur di bagian kepalanya yang rentan, seandainya dia hidup juga dia akan mengalami kelumpuhan. Anda bisa melihat SCTV jalan dan akan tahu bagaimana mobil itu menabrak Ibu Santi. Jaraknya terlalu dekat dan kecepatannya maksimal," jelas Dokter Adrian.


"Jaraknya dekat? Kau sudah melihatnya?" tanya Kenzi.


Dokter Adrian mengangguk. "Ya, beberapa menit yang lalu, setelah Ibu Santi menghembuskan napas terakhirnya, kami para dokter melihat rekaman cctv. Banyak orang beranggapan ini adalah kecelakaan yang disengaja. Soalnya mobil itu sudah terparkir cukup lama di sana."


Kenzi mendengar ucapan Dokter Adrian dengan seksama. Sekarang dia kebingungan, bagaimana caranya menyampaikan pada Naufal dan Alin bahwa Santi sudah meninggal dunia?


Kenzi segera menelepon Alex dan menceritakan kejadian hari ini. Dia pun meminta Alex untuk memeriksa plat nomor mobil yang telah tertangkap kamera cctv.


Tiba-tiba kepala Kenzi terasa sakit. Bayangan - bayangan abu-abu muncul di ingatannya.


"Kenzi dengar! Aku tidak melakukan itu! Ken, percaya sama aku!" teriak Alin. Alin berusaha memeluk betis Kenzi, tetapi Kenzi malah menendang wanita itu sampai tersungkur ke tanah.


"Aaawh!" Kenzi memegang kepalanya yang terasa semakin berdenyut sakit.


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Dokter Adrian.


Kenzi mengangguk. "Sepertinya aku mengingat sedikit kenangan pahit di masa lalu," ucap Kenzi sembari memijat dahinya.


"Kalau begitu lebih baik kau istirahat, Tuan. Lalu, bagaimana dengan Nyonya Alin? Kapan Anda akan memberi tahu soal ibunya yang baru saja meninggal?" tanya Dokter Adrian. Dokter muda itu merasa sangat simpati pada Alin.


"Kasian sekali wanita itu. Putranya sakit leukimia, sekarang ibunya meninggalkannya. Sangat malang," ujar Dokter Adrian.

__ADS_1


__ADS_2