
Angin malam berhembus, Alin mengelus elus rambut Naufal yang berkibar diterpa angin. Mereka berdua duduk di balkon rumah Nenek Aulia. Melihat lampu-lampu malam yang tampak berkilau indah.
"Mami, besok kita tinggal di sini atau pulang ke rumah?" tanya Naufal.
Alin menatap putranya lantas bertanya. "Nau nggak betah tinggal di rumah Nenek buyut?"
Naufal menggeleng. "Betah, Mami. Tapi ini bukan rumah kita, kan. Mami, Mami mau menikah lagi sama ayah?"
Mata Alin memelotot kaget. Kenapa anak zaman sekarang bisa bertanya sekritis ini? batinnya.
"Nau, Mami ngantuk. Ayok bobok!" ajak wanita itu–mengalihkan topik pembicaraan. Naufal juga menguap. Dia mengangguk lalu minta digendong ke dalam kamar.
Alin membuka pintu kamar, tetapi dia tak menyangka bahwa di dalam kamar ada Kenzi yang sudah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Kenzi bahkan sudah menyiapkan susu hangat untuk putranya.
"Ayah buatkan kamu susu, Nau. Ayo minum."
Di mata Alin, Kenzi tampak begitu perhatian. Alin berusaha melihat ke arah lain, ketika Naufal memeluk leher Kenzi sebelum minum susunya.
"Makasih ayah," ujar Naufal. Anak itu pun melompat ke kasur, menutupi tubuhnya dengan selimut, berdoa lalu memejamkan mata.
Alin merasa canggung. Dia pun hendak keluar dari kamar itu, tetapi kemudian suara Kenzi menghentikannya.
"Tidur di sini saja. Temani Nau," ucap Kenzi seraya memandang mata Alin. Alin mengangguk patuh. Dia pun menaiki kasur dan berbaring di sisi kanan putranya.
"Kau?" tanya Alin ragu-ragu.
"Tentu saja aku juga tidur di sini."
"Satu kasur tiga orang?" tanya Alin tak percaya.
Kenzi menyeringai. "Kenapa? Kau ingin cepat-cepat tidur berdua denganku? Sangat ingin menjadi simpanan yang baik?"
Kata-kata yang keluar dari mulut Kenzi sangat menohok dan tak tau malu. Alin menutupi kedua telinga Naufal dengan tangannya.
"Terserah," ucap Alin. Dia pun memiringkan badannya lalu menutup mata.
Sebenarnya Alin sulit untuk tertidur. Dia masih bisa mendengar suara Kenzi yang bergerak hendak membaringkan tubuh di sisi Naufal yang lainnya.
Kenzi memeluk tubuh Naufal, tangannya terkena lengan Alin yang juga memeluk tubuh sang putra. Kenzi memandang wajah Alin dengan tatapan yang dalam.
"Alin, aku tau kau belum tidur. Bagaimana? Jadi simpanan aku rasanya tak begitu buruk bukan?" tanya Kenzi.
__ADS_1
Alin merapatkan bibirnya. Dia enggan menjawab.
Kenzi menghela napas. Dia pun terpejam, hingga akhirnya napasnya berjalan teratur. Alin membuka mata, menatap Kenzi yang benar-benar sudah tertidur.
'Andai posisiku di sini bukan sebagai simpanan. Pasti aku sangat bahagia,' ucap Alin dalam hati.
***
Sinar matahari memasuki celah jendela. Membuat wanita yang tampak tenang dalam mimpinya itu mengerjap karena kesilauan.
Alin mengucek matanya dengan satu tangan. Sedangkan tangan yang lain mencari sosok anak di sampingnya. Namun, sosok itu tak ada.
Mata Alin langsung terbuka lebar. "Nau?? Nau?"
Alin beranjak dari kasur, buru-buru membuka pintu. Ternyata, di depan pintu sudah ada Naufal yang selesai berganti pakaian dengan Kenzi yang siap berangkat ke kantor.
"Mami? Mami udah bangun? Aku diantar ayah ke sekolah," ujar Naufal.
Alin tampak linglung. Dia pun melirik ke arah jam dinding.
Astaga, dia bangun jam delapan!
Melihat wajah kaget Alin, Kenzi langsung berucap. "Kau kelihatan sangat nyenyak. Kami tak tega membangunkanmu."
"Nau, Mami mandi dulu. Kamu kalau mau berangkat sama ayah, silahkan. Mami juga buru-buru harus bekerja," ujar Alin.
Dia pun segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, berganti pakaian, dan sarapan. Alin pun mencari taksi untuk pergi berangkat ke mall tempat dia bekerja.
Alin melihat arlojinya. Ternyata sudah hampir jam sembilan pagi. Alin was-was. Pasti bosnya akan marah, karena Alin terlambat berangkat kerja. Belum lagi dia sudah izin tak masuk kerja selama beberapa hari.
Alin mendapatkan taksi online. Dia sampai di mall sekitar pukul 09 lebih sepuluh menit. Alin berjalan dengan terburu buru.
Sesampainya Alin di toko tempat dia bekerja. Alin segera mengganti pakaiannya dengan seragam pegawai toko. Namun, di saat dia hendak berganti pakaian, pelayan lain datang dan memberi tahu padanya bahwa bos memanggil Alin
Alin mau tidak mau belum sempat mengganti pakaiannya. Dia berjalan ke arah ruang sang bos.
Tok tok!
"Masuk!" Seseorang dari dalam terdengar memerintah.
__ADS_1
Alin masuk dengan hati was-was. Dia melihat sang atasan duduk di kursi kerja nya. Alin pun bertanya.
"Bos, apa yang bisa saya bantu?" tanya Alin kaku.
"Ini, ambillah. Kau dipecat!" ujar bos Alin sembari mengeluarkan uang.
"Dipecat, Pak? Salah saya apa?"
"Alin, kamu harus sedikit tau diri. Sudah berapa lama kamu tak masuk kerja? Jadi, lebih baik kamu berhenti. Cari pekerjaan yang lebih cocok untuk kamu. Sekarang kamu keluar dari mall ini."
Alin berjalan gontai. Dia tak menyangka akan berhenti dari pekerjaan secepat ini.
Sekarang, Alin semakin dibuat frustasi karena jadi pengangguran. Dia pun membenahi pakaian dan alat tempur selama bekerja di sana. Setelah itu, Alin keluar dari toko dengan hati yang patah.
Alin mencari taksi kembali. Kali ini tujuannya adalah rumah. Meskipun Alin sedih dan kecewa. Hidupnya harus tetap berjalan. Dia akan membuat lamaran pekerjaan yang baru dan mencari tempat yang tepat untuk dirinya bekerja.
Sesampainya di rumah, Alin segera membuka laptop. Mencari lowongan pekerjaan di beberapa media sosial. Dia tak ingin mengulur waktu. Jika Kenzi mengetahui dirinya sudah tak bekerja, pasti Kenzi akan semakin memandang dirinya sebelah mata.
'Rendy Food Production'
Perusahaan makanan siap saji yang baru berdiri sedang membutuhkan banyak karyawan di perusahaannya.
Alin bergerak cepat. Dia segera membuat lamaran pekerjaan, dan syarat-syarat yang harus dibawa ke perusahaan itu.
Alin sama sekali tidak menyadari, bahwa perusahaan tersebut adalah perusahaan milik Rendy.
***
Sementara di tempat lain, Kenzi baru saja memeriksa saham yang turun. Beberapa pemilik saham memindahkan saham mereka ke perusahaan baru yang muncul beberapa waktu ini.
Katanya, perusahaan baru ini memiliki pandangan yang sangat menguntungkan bagi para penyumbang saham.
Kenzi memerintah pada Alex untuk memeriksa perusahaan baru tersebut. Dia sangat penasaran.
Alex segera mencari tau, perusahaan yang banyak diincar oleh pemegang saham tersebut. Dahi Alex mengernyit pertanda kurang baik.
"Bagaimana? Perusahaan mana dan siapa CEO-nya?" tanya Kenzi tak sabar.
"Ini, Bos. Silakan Bos cek sendiri."
Alex memberikan data pemilik perusahaan tersebut pada Kenzi. Mata Kenzi pun semakin membulat, saat mengetahui bahwasanya perusahaan itu milik rivalnya.
__ADS_1
"Ternyata dia membuka perusahaan baru. Bukankah dia tak pernah tertarik pada produk makanan?" Kenzi bertanya-tanya dalam hati.