
Mama Gea tampak sedang mengolah masakan. Meskipun baru saja pulang dari rumah sakit, tidak menjadi alasan baginya untuk bermalasan ditempat tidur. Kini ia sedang membuat menu kesukaan putrinya, daging panggang dan spageti pedas manis.
Makanan yang dibuat dengan penuh rasa cinta telah siap.
Turun ke basement, mama Gea siap hendk ke rumah sakit untuk menemani Terana,
“Erick? kamu ...-“ Gea tidak mengerti mengapa Erick beradadi sini di siang bolong begini.
“Em... aku datang menjemput Mama.”
“Seharusnya kamu jangan repot-repot. Temani aja Rana, Rick.”
Gea merasa tidak enak harus terus merepotkan Erick yang sudah beberapa hari disibukkan dengan urusan rumah sakit karena dirinya dan Rana. Tapi lagi-lagi menantunya ini hanya mmenampilkan senyum ramahnya, menandakan
bahwa semua oke oke saja.
Perjalanan awalnya hanya ada keheningan, sampai akhirnya Erick bersuara.
“Ma, sikap Terana masih sama. Dia mengabaikanku. Kayaknya ... sulit untuk mengambil hatinya.” Sedikit curhat tentang hubungannya, Erick hanya ingin berbagi perasaannya.
__ADS_1
“Rick, tolong beri dia waktu. Rana mungkin sudah banyak berubah terhadapmu, tapi mama yakin, dia bisa kembali ke masa dimana dia sangat menyukaimu. Sebenarnya mama juga gak percaya dia sanggup bersikap sedingin ini
padamu. Padahal, Rana yang mama kenal adalah seorang perempuan yang punya mimp besar yaitu hidup bersamamu. Saat berhasil menikah denganmu dia sangat bahagia. Dia tidak berhenti tersenyum.” Mama Gea kembali menitikkan air mata kala mengingat kembali kebahagiaan singkat yang dilalui putrinya.
“Ma, ma-maafkan aku.” Erick sadar bahwa di bagian ini dirinya paling bersalah. Mendengar tentang Rana yang begitu antusias padanya
membuatnya merasa sedih karena terharu.
Nasi telah terlanjur menjadi bubur. Kesalahan yang dianggap sepele oleh Erick nyatanya sudah terlanjur menyakiti hati dan perasaan Rana. Semua tidak akan selesai hanya dengan permintaan maaf. Terus menyalahkan diri sendiri pun tidak akan mengubah sikap Rana.
Tiba di rumah sakit.
“Ran, kamu mau ke mana?” Erick maupun mama Gea baru saja tiba dan mendapati Rana sudah rapi dan siap membawa keluar tas berukuran sedang yang ia tenteng.
berlalu pergi setelah membiarkan mamanya terkejut dengan keputusan yang ia buat.
“Ran! Rana!” tidak ingin dengar, Rana terus melangkah. Erick terpaksa mengejarnya. Eh bukan, bukan terpaksa, tapi ia harus mengejarnya. Erick tak akan membiarkan Rana menghilang lagi. Apa lagi dalam kondisi saat ini
yang belum pulih benar.
__ADS_1
“Ran! Tolong jangan begini.” Menahan pundak Rana dan kini mereka berhadapan.
“Tolong jangan menahanku. Biarkan aku pergi.” Terus menurunkan pandangan, Rana terlihat sangat jelas tidak ingin terjadi kontak mata dengan Erick.
“Kamu gak bisa pergi lagi, Rana. Jangan tinggalkan aku, yah, hei ... lihat aku.”
“Aku mau kita pisah. Sorry, mungkin dulu aku terlalu egois menginginkanmu. Tapi sekarang aku sadar, kamu berhak memiliki pendamping yang jauh lebih baik dari pada aku. Kamu orang baik, kamu harus lebih beruntung.”
“Ran, stop nyiksa perasaanku dengan kata-kata merendah. Aku tahu aku salah dan sok sempurna. Tapi kamu harus tahu, aku gak pernah berencana ninggalin kamu. Percayalah, okey, hmm?”
Terana tak peduli. Ia tepis tangan itu, tangan yang setengah mati menggenggamnya erat. "Berhenti sentuh aku. aku terlalu menjijikan untuk disentuh." Melihat mama Gea masih disana, “Ma, minta keponakan mama ini untuk mengantar mama pulang. tolong jangan muncul lagi dihadapanku.” Rana pergi. Tak peduli betapa
menyakitkan kata-kata yang ia hujamkan untuk Erick.
..
.
.
__ADS_1
.
Astaga abis....