Setelah Tiga Hari Pernikahan

Setelah Tiga Hari Pernikahan
Dilema


__ADS_3

"Ayo ke tempat yang lebih aman, cantik." Bian yang sudah mabuk, tak sabar mewujudkan hayalan gila-nya, ingin segera memangsa sang penari yang kini berada di atas pangkuannya.


Wanita penggoda seperti ini tak akan menolak pesona dari ketampanan Robian. Bian merasa senang mendapat respon baik dari perempuan ini.


Masuk ke dalam salah satu ruang privat, Bian semakin bersemangat. ia tak tahu apa yang akan terjadi antara mereka setelah ini, yang jelas, Bian ingin segera melepas keperjakaannya malam ini juga. Ia tak peduli apapun lagi dan ia tak mau tanggung-tanggung sebab telah merencanakan hal ini sejak dua hari lalu.


Wanita ini dengan gesit menunjukkan permainannya, berusaha membawa Bian tenggelam dalam gejolak yang bergelora. Bian masih tampak kaku. Wanita ini menggerayanginya dengan lincah, seolah telah terbiasa.


Bruak!!!


Pintu yang tak terkunci tiba tiba terbuka, membuat dua orang yang sedang bercumbu spontan saling menjauh.


"Robian?!"


Terbelalak. Bian sangat terkejut saat orang yang tiba-tiba saja muncul meneriaki namanya. Sama sepertinya, orang itu juga nampak terkejut.


"Kei?" Bian tak percaya, orang ini benar-benar Keisya yang entah bagaimana bisa kebetulan muncul seperti penggegerebek dan mengganggu malamnya.


Bukan minta maaf telah mengganggu, Keisya malah menutup pintu. Wajah terkejutnya telah berubah panik.


"Ma-ma-maafkan aku, Bian. Ak-aku, butuh pertolongan. Biarkan aku bersembunyi di sini, boleh kah?"


Dari ekspresi panik campur takut di wajah Keisya, Bian mungkin merasa kasihan sehingga memberi kode pada wanita sexy yang masih bersamanya itu untuk keluar.


"Ambil sesukamu." Bian melempar dompet tebal miliknya ke arah wanita muda itu.


"Tak usah sayang, telpon aku jika mau kita melanjutkan yang tadi." Wanita itu pergi setelah memberi kecupan di bibir Robian. Hal itu sukses membuat Keisya terperanga, merasa tak suka.


"Kenapa Kau mengganggu kesenanganku?"


"Oh, em... Bian," Keisya berlari kecil memghampiri Bian yang sedang menatap marah.


"Bian, kau mabuk? Aku senang, kau mengenaliku dalam keadaan mabuk. Kau mau istirahat kan? Ayo tidur, akan kujelas besok pagi."


"Kata siapa aku mau tidur? Aku mau bersenang-senang. Kau harus bermain denganku."


Dalam sekejap melemparkan tubuh Kei ke atas sofa. Bian menindihnya.


"Bi-Bian, mau apa Kau? Hei, jangan begini. Aku ini temanmu. Kau lupa?" Kei ingin Bian mengingat siapa dirinya. Bian tidak mungkin tega pada teman sendiri.


"Teman? Kata siapa aku mau berteman denganmu?" tidak mengindahkan permohonan Kei, Bian menjaranya tanpa bisa bergerak sedikitpun.

__ADS_1


"Keterlaluan! Bian! Kenapa kau ini?" dengan kurang ajaarrnya menodai bibir Kei yang belum pernah tersentuh oleh pria manapun, termasuk David yang sangat ia sukai.


"Kei, I love you." ucapnya tanpa terbata, setelah memakan bibir Kei. Bian mengungkapkan tiga kata manis yang ia simpan di dalam lubuk hatinya, yang jujur hanya ingin selalu ia ucapkan pada Keisya yang dia cintai sejak dulu.


Dug dug, dug dug,.


Merasakan detak jantung masing-masing. Keduanya saling adu tatap, masih pada posisi yang sama, satu diatas dan satu di bawah.


Kei seolah sedang terhipnotis dengan cara pengakuan Bian barusan. Oke, Bian tidak jarang mengirimnya sinyal cinta selama ini, namun selalu Kei abaikan, tidak pernah satu kalipun tertarik pada makhluk ini. Tapi entah ada apa dengan dirinya saat ini? Kenapa pengakuan Bian yang kondisinya dalam pengaruh alkohol malah membuatnya deg-degan tak karuan?


"Apa? Cinta? Dasar orang mabuk. Buang jauh-jauh leluconmu!" sekuat tenaga ingin menyingkirkan tubuh Bian tapi tidak berhasil. Kei tak bisa membiarkan dirinya dilahap habis dalam keadaan Bian yang sedang tidak normal. Bi


"Kenapa Kau selalu menolakku? Apa aku terlalu jelek? Apa aku ini miskin di matamu? Kei, aku ini Robian. Kau tahu ANTAMI kan? Apa kurangku dari pada David? dia hanya bisa menerbangkan pesawat. Tapi aku, bahkan penanak nasi di rumahmu akulah yang merancangnya. Aku ini lebih keren, bukan?" Bian mulai ngelantur ke segala arah.


.


Rumah sakit.


Rana sedang membasuh wajahnya. Tentu saja ia harus bermalam di rumah sakit untuk merawat suaminya. Meskipun mengantuk, tapi Rana tidak bisa memejamkan mata. pikirannya terus membayangkan hal-hal yang membuatnya terganggu.


Bagaimana tidak, pria itu terus mengirimnya pesan mengancam. Terana begitu dilema antara


Kalau aku tidak melaporkannya, itu artinya aku memberi dia kesempatan untuk menikmati setiap inci tubuhku melalui video yang dia punya. lalu aku harus apa? Bagaimana caranya supaya dia tertangkap tanpa ada kesempatan untuknya merugikan aku?


.


.


Pagi datang ...


Robian terbangun oleh suara dering ponsel. Badannya terasa pegal. Untuk sesaat, ia kumpulkan kesadarannya. Ia kemudian menyadari bahwa ia tidur di lantai dingin tanpa alas. Lalu apa ini? Seseorang tertidur pulas di dalam pelukannya.


Apa yang sudah aku lakukan? Apa aku benar telah ...- Bian teringat akan si penari sexy yang berhasil menggodanya tadi malam. Ia pun tersenyum lalu mengecup punggung orang yang membelakanginya. Ia kemudian mengeratkan pelukannya.


Perempuan itu kemudian menggeliat dan berbalik. Bian yang tadinya terpejam, kembali membuka mata.


Apa-apaan ini? Keisya? Sontak menjauh, sampai kepala Bian terhantuk kaki meja.


"Bian, kamu gak apa-apa?" Kei mengatur posisi, duduk.


Bian masih menatap heran tak percaya sekaligus kesal.

__ADS_1


*Apa ini? Dia terlihat menyesal sudah bermalam denganku. *


Kei merasa kesal melihat reaksi Bian yang tidak senang dengan keberadaannya.


Bian memungut pakaiannya yang menggeletak sembarangan lalu memakainya.


"Bian, kenapa kau diam?" Kei lalu beranjak dan merapikan penampilannya yang sedikit kacau.


Bian memastikan rupa dan penampilannya sudah aman lalu berbalik pergi.


"Bian tunggu!" Kei menyusulnya. Rupanya hari sudah pagi. Tempat ini sudah sepi tentunya. Keduanya keluar tempat terkutuk itu, seperti beberapa  pasang orang lainnya.


Bian memasuki mobilnya tanpa menghiraukan keberadaan Kei yang terus membuntutinya dari belakang dan tanpa permisi masuk ke dalam mobil Bian.


"keluar ... Aku mau pulang."


"Aku juga. kau harus tanggung jawab mengantarku."


"Apa? tanggungjawab?"


"Iya, karna Kau sudah tiduri aku. Tanggungjawablah, antar aku ke rumahku dan temui papaku!" Kei memasang selbelt dengan muka tenangnya, sementara alis Bian berkerut kesal.


"Mana bisa tanggungjawab hanya karena tidur bersama?"


"Bian, semalam Kau mabuk berat dan menjamah badan aku seenaknya. Apa kau kira semua itu gratis?"


"Ya? jadi Kau menginginkan bayaran? Oke, anggap saja aku memang salah, jadi berapa hargamu?"


"Emmm" Kei terlihat seolah sedang berpikir. "Nikahi aku saja, bagaimana?'


"menikah? Apa kau kurang waras? Aku tidak sudi menikahimu!"


Kei tersinggung. "Tidak sudi? Semalam katamu cinta aku. Bian, aku tahu kamu serius menyukai aku sejak dulu. kali ini akan terwujud, ayo kita menikah dan setelahnya kita berkencan."


"Bisakah kau berhenti menyebalkan? Aku tidak mau."


Bian tak ingin menanggapi candaan receh dari Kei yang tak ada angin hujan tiba-tiba mengajaknya ke pelaminan.


Bian, Entah dari mana rasa ini datang, kau sudah terlanjur menggeser posisi David di hatiku hanya dalam satu malam. tapi sekarang kau terlihat acuh dan bahkan tidak mau menatapku. Bolehkah aku memperjuangkanmu? Bukan pura-pura, atau karena alasan apapun, aku jatuh cinta padamu, Robian.


.

__ADS_1


__ADS_2