
Waktunya Erick diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit. Rana meyelesaikan semua urusan rumah sakit dan menemui dokter.
Keluar dari rumah sakit, artinya Erick akan pulang dan bagaimana dengan Rana? Apa dia benar-benar siap untuk kembali tinggal di bawah atap yang sama dengan pria yang nyata masih berstatus sebagai suaminya?
Aku hanya perlu melanjutkan hidup dengan baik, denganmu ataupun tanpamu.
Sementara itu, Terlihat Megan ditemani putrinya, Mervi. Mereka memasuki ruang diaman Erick durawat.
“Hai, bang E, dimana kakak Rana?”Mervi memeriksa seluruh ruangan untuk mencari keberadaan Rana.
"istriku lagi nemuin dokter. Kau ini, ga kuatir dengan abang? kok ga nanya kabar abang sih?"
"Huh, dah tahu kabar bang E."jawab Mervi, singkat. Meskipun terlihat mengabaikannya, tapi lihatlah sekarang, dia sudah memeluk kakak pertamanya dengan manja. "Bang E, jangan sakit. Aku mencintaimu, Bang E."
Megan yang sudah tak asing dengan pemandangan ini, hanya tersenyum manis dengan perasaan bahagia. Karna sama dengan seorang ibu pada umumnya, sangat suka melihat kedekatan anak-anak mereka yang saling sayang seperti sahabat.
“Nak, jadi gimana? Apa Rana setuju pulang ke rumah kita?” tanya Megan.
"Ya... apa boleh buat, Bunda, dia terpaksa mengiyakan karena harus merawatku."
"terus kalau kamu sudah sembuh, gimana?"
"kupastikan aku gak akan segera sembuh."
Terdengar celetuk tawa Mervi yang menertawai jawaban konyol sang kakak.
"Gini Rick, bunda, ayah sama Mervi akan pindah ke Jerman."
"Apa?" tanya Erick, menyambar dengan nada tak terima. "Nggak perlu, Bunda. Aku pengen berduaan aja sama Rana." tambahnya dengan raut wajah serius.
Megan mengangkat bahu dengan kedua tangan terbuka.
"Ya gimana ya, kamu terlalu banyak bolos akhir-akhir ini. Bunda sudah pecat kamu."
"ya?"Erick menatap bunda dan Mervi secara bergantian. Mervi mengangguk ringan pertanda setuju dengan apa yang baru saja yan dikatakan bunda.
"Kok bunda gitu sih? terus gimana aku menafkahi istriku kalau aku jadi pengangguran?"
"hmm. Sampai kapan kamu merahasiakan kegiatanmu selama tiga bulan terakhir?"
Erick nampak kaget dengan muka polos. "Apa maksud bunda? Aku tidak paham."
"Kau diam-diam memiliki perusahaan produksi '****** ***** pria'. Bunda penasaran sampai kapan kau akan merahasiakannya?" tanya bunda, tegas. "tapi bunda perhatikan bisnismu ini cukup laris di semua kalangan para lelaki negeri ini."
__ADS_1
Erick tak berkutik. Dalam hati ia mengakui betapa saktinya ibunya ini sampai mengetahui apa yang telah dikerjakan secara diam-diam. Susah payah ia memulai usahanya dengan membangun kepercayaan beberapa investor. Tanpa bantuan dan tanpa sepengetahuan keluarganya. Tapi bunda Megan dengan mudahnya tahu.
"aku masih belajar, Bunda."
“Itulah kenapa Bunda mau fokus saja dulu dengan bisnis barumu. Semoga semua usaha dan mimpimu ke depan terasa lancar dan sukses. ”Megan bersyukur, Erick Erlangga sudah semakin dewasa dan tahu cara mengumpulkan uang.
"Bunda tidak kecewa aku melepaskan tanggung jawabku di perusahaan Bunda?"
"kenapa harus kecewa? Bunda bangga karena kamu semakin mirip dengan bunda."
"Bunda terlalu sering mengatakan itu."
"Ada apa ini? Kenapa kalian berdua terlihat tegang?" David muncul tiba-tiba. "Apa menantu bunda yang menyebalkan itu kembali berulah?"
"kau ini, siapa yang kau maksud maksud menyebalkan?"Erick tak terima singgungan atas istrinya.
"Siapa lagi kalau bukan si Terajana. oh ya, tadi aku melihat dia memasuki ruang dokter psikiater. Bunda, aku tahu dia bukan menantu idaman bunda. Tapi Apa Bunda harus membuat tekanan batin?"
Bunda menahan napas, pertanyaan konyol ini terdengar menyebalkan. Tapi Megan sedikit memahami kondisi Rana, mungkin saja menantunya itu membutuhkan jasa seorang Psikiater untuk membantunya.
"Aku ingin menemani istriku."berpikir bahwa istrinya sedang dalam fase tak baik-baik saja, Erick merasa perlu menemani sang istri. ia memegang tongkat penyangganya hendak melangkah keluar, namun ditahan oleh sang bunda.
"jangan dulu, sayang."Megan menahan tongkat itu. "Terana kita bukan lagi seperti Rana yang dulu. Dia banyak berubah dan lebih tertutup. Pelan-pelan saja, buat dia nyaman dulu."
"Kakak Rana! "hanya Mervi yang menyadari kemunculan Rana yang datang tanpa mengetuk pintu.
Mervi memberikan pelukan yang sangat erat. Rana tersenyum menyapanya, "hai,"
"Apa kakak Rana habis menangis? "Rana menggeleng. Bibirnya memang tersenyum namun pancaran matanya tidak bekerja sama.
David diam-diam mengamati Terana. dia memang benar-benar telah berubah.Sepertinya dia sudah lupa dengan tingkah manja dan sok imutnya itu.
Erick menangkap gelagat David yang dan dia merasa tidak suka. Namun, masih bisa ia kendalikan karena pria ini adalah adiknya sendiri.
Mereka pun meninggalkan ruangan. Erick sudah mengatur banyak rencana di dalam otaknya, kiat-kiat yang akan ia lakukan untuk menghidupkan kembali kedekatannya dengan Terana. Rasanya tidak sabar ingin beraksi.
Tiba di rumah. Sebagai pasangan sah, tentu saja Rana dan Erick akan tinggal di kamar yang sama, meski sebenarnya Rana masih merasa ragu kembali lagi ke kamar ini. Mereka berdua bahkan sangat jarang berbicara sejak Rana setuju untuk pulang dengan Erick.
"Rana,"
Rana yang sedang mengeluarkan isi kopernya hanya merespon dengan menoleh tanpa kata.
“Em… Kau istirahatlah dulu. Biarkan mbak Ona membereskannya nanti.” mbak Ona adalah nama ART yang biasa merapikan kamar ini.
__ADS_1
"Tak apa, aku saja."
Erick tertegun setengah syok. Rana yang dia ingat adalah seseorang yang akan memanggil pembantu untuk menyelesaikan pekerjaan kecil sekali pun.
Masih ingat dengan jelas di hari-hari pertama mereka berdua menempati kamar ini sebagai suami istri. Tidak jarang Rana mengagetkan Erick karena teriakannya memanggil pelayan hanya untuk mengantarkan air putih ke kamar, mengambil ini dan itu sampai urusan memungut pakaian kotor milik mereka berdua. Segala tingkah istrinya kala itu sebenarnya memuakkan bagi Erick karena dirinya tidak pernah bertindak demikian. Mengingat saat itu, Erick hanya mampu tersenyum dalam hati. Mungkin, ini sepotong hikmah yang bisa di ambil dari perpisahan mereka berdua sebelum ini. Terana menjadi lebih mandiri.
Malam datang.
Erick hanya bermalas-malasan di tempat tidur, sementara Terana sibuk melakukan ini dan itu untuknya. Erick tak habisnya menyibukkan Terana dengan berbagai permintaan. Mulai dari ambilkan air minum, menyuapi makan sampai memapahnya ke kamar mandi. Dari lagaknya sih, dia sengaja membuat Terana terus-terusan berada di sekitarnya.
*Kenapa makannya lama sekali?*Erick mendumel saat sendirian, menunggu Rana yang sedang makan malam bersama keluarga.
Tak lama kemudian Rana pun terlihat lagi.
"Rana,"
"Ya?" seperti biasa, singkat.
"kakiku rasanya kesemutan. Tolong pijatkan."
Lagi-lagi Rana menurutinya tanpa kata.
Kenapa dia terlalu tahan membisu? Rasanya aku sedang bicara dengan benda mati.
Pijatan tangan Rana pastilah tidak terasa seperti sedang dipijat.Tapi Erick cukup menikmatinya, kapan lagi bisa dielus, pikirnya.
"Naik," pintanya dengan mata terpejam, yang lagi-lagi tidak dibantah oleh Rana. Sungguh patuh.
"Naik lagi."Niatnya adalah untuk merayu Rana. "jangan kesenggol luka itu ya, Ran."
Rana yang malas berdebat tidak mengatakan apapun, karena saat ini dia memilih untuk tidak banyak bicara dengan Erick.
"Cukup, Rana, kau bisa tanggung jawab kalau dia bangun?"
"kau sendiri yang minta."
"Tapi kamu bisa menolak. Ran, kamu memang tidak bisa menolak aku, kan? Sejujurnya, kamu juga merindukan aku, iya kan? Hmm?"tatapan menggoda yang begitu bersemangat, seketika dipatahkan dengan satu kalimat.
"Maaf, Kau tidak menarik dimataku."
.
.
__ADS_1
.Abis.....