
Duduk bersebelahan, keduanya memilih meja paling pojok rumah makan kelas menengah itu.
Karena masih terganggu dan merasa harus menjelaskan tentang 'ayu' yang tadi menelponnya, "Rana, sorry ya, aku harus pastikan bahwa kamu tidak kecewa renntang orang yang tadi menghubungiku." lihatlah, Rana meboleh ke arahnya, tanpa kata. "Aku tidak pernah bermain wanita, apalagi setelah kita menikah." Erick mengangkat dua jari, bersumpah.
Sungguh diluar dugaan, Terana menyungging senyum samar, "santai saja Rick."
"Oke, hal itu memang bukan masalah. Aku hanya takut kau memikirkan yang aneh-aneh tentangku Rana, jadi aku menjelaskannya."
Rana mengangguk, "Lakulan apapun yang membuatmu senang."
Drrrt drrrt drrrt
Ponsel milik Erick berdering, panggilan dari nomor tanpa nama. Cukup lama ponsel yang berada di atas meja itu dibiarkan. Erick tidak berminat untuk menjawabnya. Ia takut panggilan ini akan berdampak kurang menyenangkan bagi ia dan Rana.
"Siapa lagi ini?" batin Erick.
Sama seperti Erick, Rana pun ikut menatap ponsel itu. "Kenapa tidak dijawab?" pertanyaan istrinya sungguh terasa seperti sebuah terror menakutkan.
Ponsel itu berhenti berbunyi. tepat saat makanan sudah siap di meja, ponsel itu kembali berdering.
"Aku akan menjauh. Silakan Kau terima telponmu." Rana berusaha memahami, mungkin saja Erick merasa canggung menjawab telepon asing didepannya.
Erick menahan tangan Rana saat wanita itu hendak berdiri. "Tetap disini. Aku akan menjawabnya." Erick tidak akan membiarkan situasi menjadi rumit. Ia pun memberanikan diri untuk menjawabnya. Memangnya apa yang harus ia takutkan?
Menjawab telpon, tak lupa mengaktifkan loadspeaker.
"Iya, hallo."
["Kak Erick, bagaimana? Apa kau bisa membantuku mencari Keisya?"] Rana mengenal ini suara milik sepupunya, Robian.
"Ah, pria gila ini rupanya." umpat Erick dalam hati.
__ADS_1
"Aku sudah bilang, tidak punya keahlian mencari orang hilang."
["Jangan pura-pura pikun, kak, aku minta kau minta tolong mamamu."] Bian terdengar seperti bocah.
"Kau bisa bicara langsung ke bunda Megan, Bian. Aku banyak urusan dan sekarang aku sedang makan malam dengan istriku. Jangan ganggu."
["Kalau aku yang minta, tante Megan akan melapor ke mama kalau aku sedang mencari keberadaan Keisya. Kakak tahu bagaimana mamaku kalau marah kan?"]
"Bian, Kei kenapa? Kenapa dia menghilang?" Rana ikut menimpali.
Akhirnya Terana jadi tahu kalau Kei, yang juga temannya itu sedang menghilang dan tidak ada yang tahu keberadaannya. "Bian, kau tenang saja, kita akan mencarinya." Rana mengatakan bahwa ia akan lakukan segala cara untuk menemukan Keisya, termasuk jika harus minta tolong tante Megan yang biasanya memiliki orang-orang andalan dalam hal itu.
[Terana, kau memang sepupu yang baik dan murah hati. Tidak seperti si sulung keluarga kita yang tidak berperasaan.] dengan Entengnya Bian sengaja menyinggung Erick. Ia yakin bahwa bang Erick sedang mendelik tajam menatap ponselnya.
"Kak Erick pasti Ingin mengumpatku tapi tak bisa." batin Bian di kejauhan sana.
Rana dan Erick tiba di kamar mereka. Rana segera masuk ke kamar mandi. Tanpa basa-basi menawarkan suaminya untuk mandi bersama, mungkin?
"Lebih baik aku mandi di kamar baby M, atau di kamar David." Erick pun pergi dengan hanya menggunakan handuk, menuju kamar adiknya untuk mandi.
Keluar dari kamar mandi, Rana tidak mendapati Erick. "Erick," jantungnya terasa berdebar sambil menyisir seluruh ruangan. "Rick, dimana Kau?" tak ada sahutan.
Masih mengenakan bathrobe, Rana keluar dari kamar.
Ia menuruni tangga dengan kaki telanjangnya.
"Nona, ada apa? Apa nona butuh sesuatu?" seorang pelayan bertanya melihat raut kebingungan di wajah Rana.
Rana mengabaikannya. Ia tetap berlari kecil menuju pintu utama. Pelayan saling melempar tatapan.
Tak lama Rana kembali. Raut wajahnya lebih serius dari sebelumnya. "Apa kalian melihatnya pergi?"
__ADS_1
"Siapa Nona?" tanya mereka, kebingungan.
"Suamiku. Mungkin dia mulai muak denganku dan pergi meninggalkanku lagi. Tadi kami baru saja pulang bersama tapi dia menghilang." wajahnya sungguh memprihatinkan. Seperti ingin menangis tapi ia tahan.
Benarlah yang dikatakan oleh Nyonya Megan, bahwa majikan mereka satu ini sedang dalam masalah mental yang cukup serius, jadi mereka harus memberinya perhatian, bahkan jika ia tidak meminta ini dan itu.
Pelayan merasa prihatin. Rana sudah menjadi orang yang berbeda. Jika mengingat saat awal Rana bergabung di rumah ini, saat itu dia adalah nona muda yang sedikit menjengkelkan karena kebiasaannya yang menyuruh dan meminta semua hal kepada pelayan, bahkan hal mudah sekali pun. Tapi malam ini, kedua pelayan merasa bersimpati pada Rana yang mereka nilai sedang 'kumat'.
"Terana, apa yang kau lakukan disana dengan berpakaian seperti itu?" Erick memang baru keluar dari kamar David. Melihat Rana dengan setelan mandi berada di lantai dasar tepatnya ruang keluarga, ia pun langsung menegurnya, padahal dirinya sendiri pun hanya mengenakan handuk.
"Non, itu dia, suami Nona." dengan setengah suara sang pelayan menyadarkan Rana bahwa orang yang dicari sudah berada di depan mata.
Kenapa perasaan takut itu selalu menghantuiku? Ketakutanku tak beralasan. Aku seperti orang kurang waras. Aku mengacuhkannya, tapi aku takut dia kehilangan dia. Aku sangat tersiksa dengan perasaan ini. Sampai kapan? Sampai kapan?
Rana kembali menaiki tangga. Ketakutan diwajahnya berangsur menghilang, terganti dengan wujud datar.
Sementara di tempat lain.
Kei masih bersama keluarga yang menampungnya. Ia duduk sendiri dalam balutan sarung, sementara yang lain sudah tertidur.
Rintik-rintik hujan mulai terdengar. Suara guntur terdengar begitu jelas. Kei menatap langit-langit rumah tenda ynng penuh dengan tambalan. Siap menantikan hujan menetes dari sana.
Saat tinggal di rumah mewah, Keii bahkan butuh pendingin di kamarnya saat hujan. Tapi di tempat ini, hujan memberinya rasa takut akan kedinginan.
Jika di kamarnya ia memiliki badcover untuk menyelimutinya, ditempat ini ia hanya memiliki sebuah sarung tipis yang usang penuh jahitan tangan. Itupun pinjaman dari pemulung sebelah.
Satu per satu ia tatap wajah - wajah penghuni tenda ini. Mereka begitu pulas dalam tidur, entah mimpi seperti apa yang sedang mereka nikmati.
"Aku akan segera pergi dari sini. Saat aku sukses nanti, aku akan kembali dan membangun tempat tinggal yang layak untuk kalian, memberi fasilitas dan makanan yang cukup untuk kalian." janji Keisya dalam hati.
.
__ADS_1
.