Setelah Tiga Hari Pernikahan

Setelah Tiga Hari Pernikahan
Robian!!


__ADS_3

Pagi hari kembali menyapa.


Terana terbangunkan oleh silau pagi yang berhasil masuk melalui sela kecil.


Rana menggeliat. Apa ini? Ada sesuatu yang menahan tubuhnya. Tangan suaminya, Erik Erlangga, melinggkar manis di pinggangnya.


Rana tersenyum, hampir saja lupa kalau ia dan suaminya sepanjang malam telah mengisi waktu dengan gairah yang menggelora. Bahkan, efak dari malam panas itu kini terasa. Entah bagaimana dengan Erick, apa miliknya merasakan pedih, Rana tak tahu.


"Sayang, kamu mau kemana sih," suara Erick terdengar serak, bahkan tidak sanggup membuka mata. Ia tidak menyudahi pelukannya, padahal Rana ingin beranjak karena sudah pagi.


Bahagia, itu yang dirasakan Rana ketika kata 'sayang' dengan lembut diucapkan untuknya.


"Kak, ini sudah pagi. Ayo sarapan lalu bersiap, atau kita akan terlambat ke kantor."


"Aku masih capek Rana. Berpelukan saja beberapa menit." bukannya melepaskan, pelukan menjadi semakin erat.


"Baiklah, sebentar saja tidak masalah."


Keduanya bertingkah seperti pengantin baru yang tidak bosan untuk menempel sepanjang malam.


Ya, kalau mengingat kembali masa awal pernikahan, keduanya belum sempat mengukir malam - malam indah sebagai pengantin.


Sudahlah, jangan lagi mengingat masa itu. Kedua insan ini sudah sepakat untuk fokus menata masa depan yang bahagia layaknya pasangan lain. Usir semua ketegangan. Saling menerima satu sama lain, menjadikan semua kekuranga dan kelemahan sebagai pelajaran yang menguatkan.


.


.


Di posisi lain.


"Duuuh, aku lapar." seorang gadis baru saja terbangun. Dengan mata hanya terbuka sebelah, ia mencari-cari kesadaran.


Sontak saja kedua matanya terbuka lebar, saat menyadari dirinya terbangun di dalam kamar yang ia rindukan.


Ya, dia Keisya, yang masih takut jika semua ini hanyalah mimpi. "Aku benar-benar ada di kamarku." tubuhnya terjungkit kaget saat mengingat seseorang, Robian. Pria yang sudah menyelamatkan setengah dari hidup Keisya.


Gadis itu berlari keluar kamar, menghampiri kamar tamu. Seingatnya, ia meminta Robian untuk bermalam disana.


Tanpa mengetuk Kei langsung saja masuk.


Senyumnya merekah saat netranya menemukn sosok yang ia cari. Robian ada di sana, tidur tanpa memakai baju. Sangat sexy. "Ah, sial, kenapa aku terlambat menyadari kalau pria ini sangat menarik?"


Kei menggeleng. Betapa lelet otaknya yang dulu, hanya tenggelam dalam lautan pesona ketampanan sahabatnya, David, sampai tidak menghargai sosok lain yang begitu mendambakan dirinya. "Sedikit lagi Robian, hati dan pikiranmu akan kembali ke setelan awal, hanya menginginkan aku." Kei berbalik setelah menyelimuti tubuh Robian.


Gadis itu berlari kecil menuju pantri. membuka lemari pendingin, menemukan berbagai macam bahan makanan dan minuman di dalamnya. "Waw, Robian luar biasa." Kei lagi-lagi harus memuji betapa totalitasnya Robian dalam bertindak. Kei benar-benar harus membuatkan masakan spesial untuk pria itu. Anggap saja simulasi sebelum menjadi istri.

__ADS_1


Tangan Kei dengan lincah mengolah semua bahan. Jangan mempertanyakan apa dia sungguh melakukannya. Kei cukup mampu soal memasak. Sebab ia tumbuh cukup mandiri, tidak seperti putri yang hanya dimanjakan oleh orang tua mereka.


Dalam satu jam, semua makanan sudah tersedia. Nasi, lauk, sayur, buah dan puding zebra yang tinggal di dinginkan.


Setelah menata semuanya, Kei kembali menaiki tangga dengan bersemangat. Mungkin saja Robian sudah bangun, pikirnya.


Pria itu rupanya belum juga bangun. "Bian, selamat pagi," Kei duduk di sisi ranjang, membangunkan pria itu dengan cara mengusap kepalanya. "Robian," panggilnya lagi, dengan lembut. Kei merebahkan tubuh, menghadap ke Bian yang tidur menyamping. Lagi pula tidak ada yang melihat, pikirnya. Senang rasanya menatap pria itu lama-lama.


Tanpa paksaan, tangan Kei bergerak menyentuh sisi wajah manis itu, memainkan tangannya sisana.


Perlahan, mata itu bergerak, terbuka.


"Kei," suara parau itu begitu malas, menyebut nama Kei.


"Hemm? Selamat pagi Robian."


"Kenapa Kau disini, Kei?"


"Untuk membangunkanmu." Kei tersenyum tipis.


Jantung Bian lagi-lagi harus jedag jedug. Kei sungguh hebat mempengaruhinya. Belum lagi daster polos tanpa lengan yang dikenakan Kei, Bian harus menganggap ini adalah godaan besar untuknya.


Bian kembali terhipnotis saat Kei tiba-tiba memberi kecupan di pipinya. "Apa yang Kau lakukan ini, Kei?" menahan tubuh Kei yang hendak menyambarnya.


"Tapi bukan begini juga, Kei, kau harus melihat situasinya. Aku tidak berpakaian, diatas tempat tidur, lalu lihat pakaianmu sangat pendek dan ..."


Lagi, Robian tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Terbungkam oleh kecupan yang mendarat di keningnya. "Apa hemm? Kau takut tidak bisa mengendalikan diri atasku? Hmmm ... Bian, ini langka. Aku tidak pernah seperti ini kepada siapapun. Kau adalah pria pertama yang mendapatkan kecupan dariku, selain papaku."


"Benarkah itu?"


Kei mengangguk cepat.


"Baguslah, aku peringatkan Kau, jangan pernah lakukan itu pada pria selain aku. Kau bisa?"


Kei tersenyum lebar. "Tentu, jadi bolehkah berpelukan sekarang?"


"Baiklah kalau itu yang Kau tunggu." Bian menarik Kei mendekat, saling bertatapan sejenak sebelum akhirnya membiarkan kepala gadis itu menempel di dadanya.


"Bian,"


"Hmmm?"


"Terima kasih untuk semuanya."


"Jangan mngucapkan itu terlalu sering. Aku melakukannya karena harus."

__ADS_1


"Bian, itu karena kamu masih cinta aku kan?" Kei ngangkat kepalanya agar bisa menatap kedua mata Bian. Terjadilah adu tatap penuh arti. Yakinlah bahwa yang terlihat adalah tatapan cinta yang dalam.


"Ya, itu sudah pasti, Kei. Sudah aku bilang, aku tidak berhasil menghilangkan kamu dari hatiku."


"Bian, aku senang mendengarnya." Kei kembali mendarat ke dalam dekapan Bian. Andai saja keduanya adalah pasangan yang sah, sudah pasti mereka melakukan lebih dari sekedar berpelukan. Kurang apa lagi? Situasi dan kondisi sudah sangat mendukung. Akan tetapi, sebagai pria dewasa yang tidak ingin mempermalukan keluarga, Robian sangat pandai mengontrol batas kegilaan.


"APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN DISINI, ROBIAAN!" suara tegas nan nyaring memekik telinga.


Siapa yang tidak kaget jika seseorang tiba-tiba muncul di saat yang tidak diharapkan seperti ini?


"Ma-mama?"


Ya, orang itu Lisa, sudah berdiri dengan napas naik turun. Menakutkan.


Tak hanya Robian, Keisya mungkin orang yang paling terkejut saat ini.


Melihat Robian, putranya, hanya bertelanjang dada, pikiran Lisa sudah pasti menjurus ke satu arah.


"Kenapa? Apa Kau sangat terganggu?"


Lihatlah bagaimana Robian menutup dadanya dan menlindungi seorang gadis di balik punggungnya.


"Bagaimana Mama bisa ke sini?" sungguh pertanyaan yang tidak penting.


"Siapapun bisa masuk lewat pintu yang tidak terkunci!" sahut Lisa dengan emosi penuh.


Sungguh mengerikan rasanya memikirkan betapa asiknya malam yang sudah dilalui putranya, sampai lupa mengunci pintu.


"Ha-halo Tante," Kei memberanikan diri keluar, ingin menjelaskan yang sebenarnya.


Bian menahan Kei. Pria itu menggeleng. Pikirnya, percuma Keisya bicara, tidak akan bisa melawan tatapan tajam mamanya itu. Robian kenal siapa mamanya. Ia tidak ingin terjadi jambak-jambakan.


"Tidak pulang semalaman, rupanya kamu bermalam dengan wanita ini disini." Lisa masih menatap tajam. Wanita paruh baya itu tak berani mendekat lagi. Padahal sangat mungkin bagi seorang Lisa untuk menyeret Robian dari sana. Akan tetapi, kondisi Bian yang menurutnya tidak mengenakan pakaian, mana mungkin Lisa tega mempermalukan putranya itu.


Mendengar kata 'wanita ini' yang disematkan untuknya, Kei tertunduk.


"Aku akan berpakaian. Silakan mama tunggu di luar." usir Bian, halus.


Dengar? Robian terang-terangan mengakui bahwa dirinya sedang bugil. Lisa merasa sedih, kemudian berbalik. Wanita itu pergi membawa air matanya yang jatuh begitu saja. Lisa tak kuasa lagi untuk berteriak memarahi Robian. Kesedihan begitu mendominasi tanpa paksaan.


.


.


Thanks...

__ADS_1


__ADS_2