Setelah Tiga Hari Pernikahan

Setelah Tiga Hari Pernikahan
mencari Keisya


__ADS_3

Perlahan terlihat beberapa dari jari tangan dan kaki mulai bergerak. Kelima orang itu serentak menjauh dari tubuh gadis itu.


Pantauan mata anggota keluarga ini tak lepas sedikitpun dari semua pergerakan dari tubuh gadis yang tadi mereka temukan di hutan.


Matanya terbuka, mulai menyisir seluruh atap tempat ia berada saat ini. Begitu menyadari dirinya sedang berada di tempat asing, "dimana aku?"


"Nak, kamu ada di rumah kami." begitu terkejutnya Kei saat ada suara yang menyapanya. "kamu," baru sadar, rupanya ada empat orang lainnya. "Siapa Kalian?"


"Kami yang harusnya bertanya. siapa kamu, Nona?" celutuk seorang remaja laki-laki. sepertinya ia adalah anak pertama dari pasangan ini.


"Aku Keisya. Katakan, bagaimana aku bisa ada di tempat semacam ini?" Kei sangat takut. tiba-tiba saja ia berada ditengah-tengah orang asing.


"Kamu pingsan di hutan tempat kami biasa mengambil kayu bakar." timpal pria yang lebih tua.


Mendengar pernyataan itu, Kei menggulir ingatannya pada peristiwa pengejaran terhadap dirinya yang dilakukan oleh beberapa orang pria yang tidak ia kenal.


"Istirahat saja dulu. kalau sudah baikan, besok pagi kau bisa kembali pulang." sambung wanita yang merupakan ibu dari ketiga anak laki-laki ini.


Pulang?...


Kei terdiam. Ia menangis kemudian. Bukankah tidak ada tempat baginya untuk pulang? Ia baru saja kehilangan segalanya, termasuk sang ayah, satu-satunya orang yang tulus terhadapnya.


"Jangan takut, kakak. Kami tidak akan memakanmu." si anak paling muda menghampiri Kei, ingin menghiburnya.


.


Sementara di tempat lain, ada Robian yang tidak bisa tidur. Kepalanya terus memikirkan Keisya, Keisya dan Keisya.


Memikirkan  Kei yang sedang berduka, terlebih lagi sikap gadis itu yang berubah kaku, semua itu membuat Bian merasa bahwa Kei mungkin butuh seseorang.

__ADS_1


Dari tadi Bian memainkan ponselnya, ingin menghubungi Kei, tapi urung dia lakukan. "kenapa kau mengganggu istirahatku, Keisya! Stop berkeliaran di kepalaku!" Bian dibuat pusing sendiri dengan pikirannya.


.


Di kediaman lama Erlangga. Sudah pukul tiga dini hari. Pasutri muda sedang larut dalam mimpi indah di dalam balutan selimut yang sama. Rana menggeliat,terbangun. Senyum indah mekar di wajahnya saat ini, kala menyadari bahwa hatinya begitu bahagia.


Erick masih terlelap. Melihat wajah tampan suaminya, Rana mendekatkan tubuhnya dan perlahan membawa tangannya untuk memberi pria ini pelukan. Pelukan dengan satu tangan tentunya, sangat pelan, biar sosok tenang ini tidak terganggu. Tanpa disadari oleh Rana, Erick menikmati momen yang berhasil membuat perasaannya berdesir hangat. *"Kau sangat berani saat aku tidur? Saat aku bangun, hanya melihat muka datar mirip burung hantu. Dasar Terana." *


.


Beberapa hari ini pikiran Bian terus terganggu. Seharian ini, ia terus menghubungi Kei, tapi ponsel Kei tidak kunjung aktif. Seketika dirinya menyesal tidak menghubungi Kei lebih awal.


Menghubungi David, Bian tidak mendapatkan berita apapun, sebab sepupunya itu sudah kembali mengangkasa.


Karena tak puas dengan hanya menerka-nerka, Bian pun nekat mendatangi kediaman Kei pada hari ini.


Karena rasa ingin tahunya yang besar, Bian berlari kearahnya. "Tante, ada apa ini?" Meski tak begitu mengenal wanita ini, tapi bian cukup tahu bahwa dia adalah ibunda Kei.


"Kamu, Nak," mamanya Kei semakin terisak. "Rumah tante di sita. Semua diambil dan tidak punya apa-apa lagi."


Bian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tidak ada orang lain, selain wanita ini. "Lalu dimana Kei, tante?" sumpah, Bian sangat ingin tahu keberadaan gadis itu.


Sambil mengusap air mata, wanita itu berkata, "Kei pergi. Kei meninggalkan tante, padahal tante sudah merawat dia seperti anak sendiri. Dia meninggalkan tante seorang diri setelah papanya meninggal."


Bian pun baru tahu jika wanita ini bukan mama kandung Keisya. "Kei, apa benar dia seperti itu?" tidak, ini bukan saatnya Bian memikirkan tentang kebenaran itu. Tapi, ada dimana gadis itu sekarang adalah poin utama yang ia pikirkan.


.


Dua hari sudah, Bian melakukan pencarian, keseluruh area dimana ponsel Kei ditemukan.

__ADS_1


Ya, setelah melakukan pencarian ke titik dimana ponsel Kei terakhir aktif, tim pencari hanya menemukan ponsel gadis itu dalam keadaan mati.


Tentang mama dari Kei, sebagai bentuk tindakan kemanusiaan, Bian telah mengungsikan wanita itu ke sebuah apartemen yang ia rahasiakan, tanpa sepengetahuan mamanya sendiri, Lisa. Karena jika Lisa tahu, jangan mimpi semuanya bisa berjalan dengan lancar.


Sementara Bian sibuk berharap bisa menemukan Kei segera, mama tiri Kei itu malah terlihat gelisah, takut kalau-kalau Bian mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu.


Sebut saja dia mama Nia, dia mama tiri dari Kei. Nia dan orang-orangnya telah melakukan pencarian sebelumnya, tapi mereka tidak menemukan keberadaan Kei. Hanya saja, Nia menemukan alas kaki Kei yang tersangkut di tepi jurang. Kuat dugaan bahwa Kei telah jatuh ke dalam jurang dan mungkin saja raga putri tirinya itu sudah mulai membusuk disana.


"Jangan, jangan, jangan! Jangan sampai Bian menemukannya. Kalau itu terjadi, masalah ini akan berbuntut." Nia benar-benar merasa takut jika tim yang sudah bergerak akan menemukan Keisya.


Bian hampir putus asa. Ia bekerja dalam keadaan tidak fokus. Banyak hal telah ia korbankan untuk menemukan Keisya, tapi hasilnya tetap nihil.


"Apa yang sudah aku lakukan ini, Kei? Demi apa aku lakukan semua ini?"


"BIAN!" seseorang tiba-tiba muncul tanpa permisi, membuat Robian tersentak kaget dari kursi kebesarannya.


"Mama?" beginilah ibu yang telah melahirkannya ini. Terlalu kejam seperti mama tiri. Berbanding terbalik dengan mama tiri Kei yang hatinya begitu lembut dan tidak putus menanyakan perkembangan dalam pencarian Kei, putrinya.


"Kamu itu, ya, berani-beraninya kamu mengabaikan perintah mama, bebera hari ini kamu sibuk tak karuan di luar kantor. Apa ada urusan yang lebih penting dari pada perusahaan ini?" bentak Lisa berapi-api.


"Ma, maaf, tap-"


"tidak ada maaf-maaf. Kamu keterlaluan Bian, berani kamu tidak menhadiri rapat penting ya, kenapa kamu jadi seperti ini? Apa karena wanita?" Lisa menuntut jawaban.


"Pokoknya kamu jangan mengulangi kebodohanmu lagi. Kalau sampai ANTAMI kacau karenamu, maka itu artinya posisimu akan digantikan oleh putranya tante Megan, David Erlangga! Mengerti?" Lisa tak segan mengancam Robian.


Bian mengangguk-angguk agar mamanya puas. Meski suara Lisa hanya terdengar seperti lalat yang terbang mengitari telinga, tapi Bian tak ingin menghabiskan energi untuk berdebat. Lagi pula, ancaman barusan sama sekali tidak mempengaruhinya. Bian tahu betul, David Erlangga tidak punya minat memiliki kedudukan di ANTAMI.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2