
Sebagai seorang pria tangguh, Erick berjalan dengan langkah mantap tinggalkan ruang rawatnya. Hanya luka sekecil ini tidak akan bisa mencegah dia untuk menyusul Terana. Dari pada terus ladeni ibunya yang masih dengan mulut pedas tak berhenti berkata-kata seperti istri kurang setoran. Kalau bunda Megan sudah bicara, ia tak akan berhenti sampai lawannya mengalah.
"Rick, mau kemana Kau?"
"Ma, Rana, kalian berdua?"
Hampir saja menabrak dua wanita ini, Terana dan mama Gea. Ajaib, wajah kesal Erick berubah sumringah saat bertatapan dengan mata tajam Terana.
Tunggu! Untuk siapa sorot tajam ini? Erick hampir saja memeluk Rana saking bahagianya bahwa wanita itu hadir tepat di hadapannya. Tapi ia tersadar sedang ada yang salah ketika tatapan Terana seolah sedang melayangkan silet tajam.
Braaak!
Sebuah amplop coklat melayang dan menghantam tepat di dada Erick. Pelakunya tak lain adalah Terana.
"Apa aku ini lelucon? Hah? Apa aku terlihat seperti lelucon?"
Erick hanya mampu membisu saat pertanyaan dengan 'intonasi sedang' itu diluapkan padanya. Ia raih amplop coklat yang baru saja mendarat di lantai lalu membuka dan melihat isinya.
Erick baru saja teringat, amplop ini seharusnya berisi sebuah akta cerai, namun karena perceraian itu tidak pernah terjadi ia sengaja mengirim amplop dokumen dan malah menyelipkan foto pernikahan dirinya dengan Rana, yang mana disana mereka tersenyum sangat manis seperti layaknya pasangan bahagia.
Seingatnya, saat itu ia mengirimnya dan menginformasikan pada Rana bahwa itu adalah surat cerai yang Rana minta.
Pertama, Ia sudah membayangkan bahwa saat Rana membukanya nanti, ia akan terharu. Itulah harapan Erick atas hal itu.
Kedua, kemungkinan Rana tidak akan segera membukanya karena Erick yakin bahwa Rana pun tidak mengharapkan perceraian mereka.
Dan benarlah, Rana tidak langsung membukanya saat surat itu tiba di tangannya.
Erick tak pernah mengira akan mendapatkan reaksi marah dari wanita ini, istri yang masih ia harapkan.
Melirik Terana sekilas, rasanya Jantung Erick hendak copot ketika sadar bahwa Rana masih menatapnya dengan tajam. Lihatlah dagunya yang jelas bergetar menahan amarah.
Baiklah, ayo hadapi. Jangan berhenti berjuang.
"Kau sebegitu inginnya bercerai?"
"Iya!"
__ADS_1
"Tapi aku tidak mau."
"Tapi aku mau."
"Kenapa? Kenapa aku tidak berhak dapatkan kesempatan kedua?"
"Bukankah memperistri seseorang sepertiku ini adalah kemalangan? Kau belum puas melihat betapa banyaknya kurangku sebagai seorang istri? Kau sudah mengetahui sebagian sisi burukku sampai kau memutuskan untuk pergi dari aku. Aku mau bilang, sudah benar keputusanmu waktu itu. Kau mungkin merasa bersalah sehingga kembali mencariku lagi. Ya, aku sempat merasa berbangga hati saat tau kau masih ingat mencariku. Tapi Erick, aku ... bukan tempat yang indah dimana Kau bisa menemukan kebahagiaan. Aku ini tidak layak menjadi istrimu. Jadi lebih baik menceraikan aku sebelum penyesalan mengikutimu." tegas, lugas tanpa ragu. Rana benar-benar serius atas kalimat panjangnya yang terdengar perlahan terdengar bergetar.
Puas mendengar kalimat mengecewakan ini, Erick mendekat membawa senyum kecilnya. Ia bukannya tidak memahami maksud perkataan Terana. Erick memahami perasaan Terana, wanita ini sedang merendahkan dirinya dan merasa tidak pantas. Apa lagi alasannya kalau bukan karena kejahatan manusia keji di masa lalu yang telah menodainya.
Oke, Rana, istrinya ini telah mengalami hal buruk di masa lalu. Tapi itu bukan berarti Rana tidak pantas bahagia. Erick tak peduli masa lalu. Yang ia pedulikan adalah saat ini dan masa yang akan datang bersama Terana.
Erick sudah mengambil waktu untuk merenunginya, kisah Terana ini sama sekali tidak melunturkan perasaannya. Yang ia rasakan dan sadari adalah rasa cintanya yang terus bertambah terhadap Terana.
"Tidak ada yang menganggapmu lelucon." perlahan meraih lengan Rana dengan hati-hati. Susah payah ia menelan saliva saat jantungnya pun berdetak kencang, gugup kalau-kalau Rana menepisnya. "Aku, hanya ingin kau melihatku lagi. Aku ingin membawamu pulang. Rana, aku tidak sedang mempermainkanmu. Oke, aku pernah membuat kesalahan. Aku menghilang. Aku akui itu kekanakan." Erick menatap sendu wajah Rana yang setengah berpling, tidak lagi menyorotnya dengan berani. Ada raut kesedihan yang menghiasi wajah cantik itu. "Rana, aku mengerti kau merasa minder atas apa yang pernah kau alami di masa kecilmu. Tapi terlepas dari semuanya itu, aku tidak pernah berpikir Kau tidak pantas untuk kumiliki. Tapi sebaliknya, aku mau terus ada disampingmu."
Rana kembali meggeser pandangannya, merespon apa yang baru ia dengar. Tapi tak sampai menatap mata Erick. Rana tidak sanggup melakukannya. "Masa lalu-ku yang seperti apa yang suda kau tahu? Siapa yang memberitahumu? Oh, itu tidak penting. Aku tahu, mama kan yang bocor mulut?" melepas genggaman tangan Erick dan beralih menatap Gea yang dari tadi hanya jadi penonton.
"Mama, kau sengaja mempermalukan aku? Aku sudah bilang jangan pernah ceritakan ke orang lain. ah, apa mama bermaksud agar dia bersimpati padaku? Itu kan yang mama harapkan?" Gea tertunduk.
"Rana sayang," Megan mendekat. Diambilnya tangan Rana, seperti yang dilakukan Erick beberapa saat lalu. "apapun itu, jangan menjauh lagi, oke, jangan mengasingkan diri lagi. Bunda ingin kamu pulang dan hidup dengan kita. Dengan suami kamu. Rana, kita akan mulai lagi dari awal, saling menerima antara satu dengan yang lain dan saling melindungi." entah bagian mana yang membuatnya tersentuh, Rana tertunduk dan terlihat air matanya turun. Megan memberinya pelukan. Rana pun membalasnya.
Erick menahan sakit saat luka di pahanya berdenyut nyeri.
"Ayo, mama bantu kamu balik ke ranjang." Gea yang sadar kalau Erick sedang kesakutan, ia pun inisiatif membantu. keduanya menjauh dari Megan dan Rana yang masih saling dan menerima memberi ketenangan.
.
.
Keesokan harinya ...
David yang mendengar kabar tentang sang kakak, berpikir untuk sebaiknya menjenguk. Sebelum ke rumah sakit, David berbelok ke toko bunga yang pernah ia datangi beberapa kali. Terlebih lagi, salah satu penghuni toko bunga itu berhasil meresahkan hati akhir-akhir ini.
Baru saja hendak masuk. Terdengar samar suara ricuh yang berasal dari dalam. Kebetulan toko bunga terlihat sepi.
"Ma, please! Jangan ribut di toko Ma ...! Mama sabar dulu, ya ... Livy bakal cari cara buat atasin masalah ini."
__ADS_1
"Pokoknya mama kasih kamu waktu tiga hari. Awas aja kalau kamu dusta."
Terdengar jelas perdebatan antara Livy dengan seorang wanita yang ia panggil mama. Ya ampun, dia pasti sangat malu pada rekannya. Ini masih pagi tapi dia sudah dimarahi ibunya.
Wanita setengah baya dengan dandanan menor itu sudah pergi. Dia adalah mamanya Livy yang barusan membentak-bentak di dalam. David sengaja memberi jedah untuk Livy tarik napas dengan tenang sebelum ia masuk.
bip.
[ David, tolong aku. Please! ] lagi-lagi Keisya memohon melalui pesan teks.
[ Sorry, Kei! Aku gak bisa bantu kamu dalam hal ini. hubungi Robian.] David kembali mengirim jawaban yang sama.
David jelas sadar, permintaan Keisya ini bukanlah sekedar sandiwara sambil lari dari masalah yang selalu keisya katakan. Keisya ingin David menjadi kekasihnya supaya perjodohannya dengan seorang pria tua terhentikan.
Masalah yang sedang dihadapi keluarga Key bukanlah sesuatu yang bisa di selesaikan oleh David. Perusahaan Keluarga Keisya sedang terancam bangkrut dan pria tua yang hendak dijodohkan dengan Keisya sudah fix menjanjikan keselamatan perusahaan itu.
Sebagai teman baik, David memang tidak tega. Tapi, memangnya apa yang bisa ia lakukan? Ia tidak memiliki uang dan kekuatan sebanyak itu untuk mengatasi kesulitan keuangan sebuah perusahaan. Mau ngandalin kekayaannya di Antami? Mohon maaf, ia rasa itu tidak mungkin ia lakukan. Ia tidak mau salah mengambil langkah dan mengecewakan mendiang nenek buyut.
Oke, Keisya memang memohon untuk hubungan yang pura-pura. tapi David tidak sepolos itu sampai tidak menyadari perasaan Keisya yang sesungguhnya pada dirinya. Sekali lagi, David sama sekali tidak menaruh rasa pada Keisya sejak awal.
Dan entah bagaimana, gadis penjual bunga ini berhasil membuat jantungnya berdetak tidak normal bahkan saat memandangnya dari jauh seperti saat ini. Aku, pasti menyukai perempuan ini. batinnya.
.
.
Malam datang lagi.
Seorang pria muda tengah asik menikmati tarian seorang wanita yang hanya mengenakan pakaian dalam. Dia dengan menggoda berpose dan mengayunkan tubuhnya mengikuti musik upbeat dalam upaya nyata untuk memikat para pria yang hadir di 'klub malam' saat ini.
"Aku ingin wanita itu menemaniku malam ini." ucap pria itu dengan tatapan nakalnya, pada seorang pelayan yang sedang melakukan tugasnya. Sang pelayan pun mengiyakan dengan anggukan patuh.
Drrrt drrrt drrrt.
KEISYA memanggil.
Gadis itu terus menghubunginya, disaat ia sudah merelakan dan menghapus rasa inginnya terhadap cinta pertamanya itu. Gadis yang tak pernah menghargai perasaannya selama ini, yang tak pernah menanggapi cintanya yang begitu buta. ya, pria muda ini ialah Robian, sang CEO ANTAMI GROUP.
__ADS_1
Entah apa pemicunya, Keisya selalu menghubungi nomor Bian akhir-akhir ini, tapi tidak satu kali pun Bian meresponnya.