Setelah Tiga Hari Pernikahan

Setelah Tiga Hari Pernikahan
Jadilah Kekasihku


__ADS_3

Masih di malam yg sama.


Terlihat David Erlangga, ia seperti sedang menunggu, sudah 30 menit ia memantau dari dalam mobil.


Bukan kekasih, istri bukan, tapi David sedang menunggu tutupnya toko kembang yang beberapa kali sudah ia kunjungi namun belum berhasil membuatnya dekat dengan si Livy. Terus terang saja, pria ini ingin melihat Livy dari dekat sebab besok David akan kembali melanglang buana.


Pengen liat dia aja sampai nahan laper, mending sambil makan aja. David meraba sebuag kantong berisi beberapa roti, tatapannya tak lepas dari Bouquet Livy sambil menyantap.


Drrrrt drrrrt drrrt.


My MOM Memanggil. David pun menhawabnya.


[Iya, bunda...]


[Nak, ayo temani bunda makan malam di-]


[Bunda, aku memang sedang lapar, tapi bolehkah kalau aku menolak? Aku sedang mengurus masa depanku.] David tidak tahu bagaimana ia menjelaskan apa ya ng sedang ia lakukan.


[Jangan banyak alasan sayang, bunda tunggu, jangan lama ya,]


Berakhirnya panggilan dari  bunda Megan, David tercengang saat menyadari objek yang ia pantau telah berubah gelap, tak ada lagi aktifitas disana.


Sedikit kesal tak kesampaian meliha


t Livy, David terpaksa menyalakan mesin untuk pergi memenuhi permintaan  ibunya.


Bunda memang pengacau suasana. gara-gara panggilannya aku kehilangan jejak Livy. David terus menggerutu sendirian.


"Tunggu! bukankah bunda sedikit dekat dengan dia? Kemungkinan bunda pasti menyimpan nomor ponselnya. Tapi bagaimana aku bisa mendapatkannya? Ah, ya..." David menyunggingkan senyum ketika mendapatkan ide. ia berencana akan diam-diam mencuri kontak Livy dari ponsel ibunya. Memang terdengar kekanakan tapi ya sudahlah.


Tak memakan banyak waktu, David tiba di restoran Jepang andalan ibunya.


Sementara itu, tepatnya di salah satu ruang istimewa, dua orang wanita beda usia tengah duduk berhadapan. wanita yang lebih muda terlihat canggung, baru kali ini memasuki restoran high class.


"Livy, santai saja, kalau berdua saja dengan saya kamu tidak perlu tegang begitu."


Gadis muda bernama Livy itu mengangguk sembari tersenyum tipis.


"Jadi gimana? Apa kamu siap dengan tawaran dari saya? Saya harap kamu tidak membawa kabar yang mengecewakan, Livy."


"Emmm, saya sudah memikirkannya, Bu' saya menerima tawaran ibu."


"Hei, jangan panggil ibu, panggil tante Megan ajah saat kita hanya berdua."


Untuk sesaat Livy, tertegun. Tidak menyangka seorang Megan Berlian bersikap sehangat ini pada dirinya. Belum lama ini, yang Livy tahu tentang Megan Berlian adalah seorang wanita yang memiliki aura tegas dengan segala wibawa tinggi yang dimilikinya, dan belum pernah Livy membayangkan bahwa Megan akan seramah ini.


"Baik, Tante.." Livy mengiyakan. Senyum Megan merekah.


"baguslah, Oia, ayo kita makan biar makanannya tidak keburu dingin. Nungguin putra tante kelamaan, ayo livy kita makan saja."


Sreeeet.. pintu bergeser pertanda ada seseorang yang membukanya.

__ADS_1


Ya Tuhan, siapa ini?  Livy menjerit dalam hati, tanpa sadar menutup wajahnya memggunakan kedua tangan.


"Sorry, Bunda, aku terlambat." suara pria yang baru saja masuk kembali menyadarkan Livy.


Bunda? Mereka adalah ibu dan anak? Kenapa aku begitu apes.


"Duduklah, Nak. oia, kenalin, bestie barunya bunda, Ly-" Megan  terhenti. Ada apa dengan Livy, pikirnya. "Livy?"


Mendengar nama 'Livy' yang dengan santai diucapkan oleh ibunya, David berubah tegang.


Uhuk, uhuk uhuk..


Livy mengubah mode tegang menjadi candaan tipis dengan cara terbatuk beberapa kali. Tak mampu lagi sembunyikan wajahnya.


"Livy kamu tak apa?" tentu Megan serius kuatir. Ia takut jika mungkin saja Livy alergi makanan.


Sedangkan David turut kepada fokus ibunya.


"Livy?" David bener-benar terkejut tak menyangka.


Livy menyeringai hampa sembari meminum air mineral yang tersedia di depannya.


"Livy, dia David, putra tante."


"Oh, ehm. Iya, bu Megan." Livy megulurkan tangannya, semata untuk mengusir keterkejutan. "Hai, David."


David menyambut uluran tangan itu yang terasa seperti mimpi baginya.


Ketiganya menikmati sajian dalam keadaan hening.


Livy merasa bahwa David yang duduk berseberangan dengannya sedang sengaja terus mengirimnya sinyal aneh.


Aku sadar belum bayar hutang, tapi dia tidak harus terus menatapku. Tidak sopan sekali. Livy merutuk diam-diam.


Megan awalnya tidak begitu fokus pada Livy maupun David. Netranya tak sengaja menangkap gelagat aneh. Livy tampak gelisah dan salah tingkah. Megan memjadi curiga, apa mungkin gadis ini ...


Menoleh ke arah David disampingnya, Megan menemukan jawabannya. David tengah menikmati makanannya dengan lahap sambil sesekali memandang Livy. Tatapannya sangat berterus terang bahwa David sedang terpesona.


Ya Tuhan, anak ini. Megan merasa malu sendiri melihat tingkah putranya yang berlebihan.


"Sayang, sepertinya kamu sangat lahap." Megan sengaja mengganggu fokus David. Dan lihatlah betapa kagetnya dia. Tidak salah lagi dugaan Megan, David pasti menyukai Livy sejak pertama melihat Livy pada malam ajang busana itu.


"Ehm. Iya aku sangat lapar, bunda."


Drrrt drrrt drrrtt. Panggilan pada ponsel Megan cukup mengganggu. Tapi begitu melihat nama kontak yang memanggilnya, ia menjawabnya dengan segera. Megan pun menjauh dari ruangan itu.


[Halo sayang, apa sudah landing?]


[Iya. Baru saja.] Jawab Morgan.


[Kalau begitu aku akan menjemputmu.]

__ADS_1


[Tidak perlu Megan. Kau bersiap saja di rumah. Aku sudah tidak tahan merindukanmu.]


[Justru itu sayang, aku ingin segera bertemu dengamu. Tenang saja, aku punya tenaga ekstra untuk melayanimu malam ini]


[Baik, mana-mana Kau saja.]


Panggilan berakhir.


Satu pekan dipisahkan oleh jarak membuat Megan dan Morgan terpaksa menahan rindu. Itu semua karena Morgan harus melaksanakan tugas sebagai pemimpin tim relawan ke suatu daerah yang sedang tertimpa bencana gempa dan berdampak banyak korban luka-luka.


Akhirnya belahan jiwaku pulang. Hmmm, pak Dokter, tunggulah, aku akan menjemputmu.


Megan melangkah untuk berpamitan pada David dan Livy.


"Jadi kapan kau akan mencicil hutangmu?"


Megan terkesiap. Jelas barusan ia mendengar David menanyakan perihal hutang kepada Livy. Megan menahan langkah untuk tidak membuka pintu itu yang memang tidak tertutup rapat.


"Em.. Aku ... Aku akan segera membayarnya. terus terang saja, akhir-akhir ini keuanganku sedang bermasalah. Aku mohon kamu bersabar dulu." Livy terdengar setengah takut dan sangat berhati-hati.


"Emmm... Bagaimana kalau begini, kau bisa membayarnya dengan cara lain."


"Cara lain? Misalnya?"


Megan memasang pendengarannya baik-baik.


Kukira dia menyukai gadis itu. Rupanya ada hutang piutang yang menjebak mereka berdua.


"Kau hanya cukup menjadi kekasihku."


"Apa?" Livy tak sadar meninggikan nada.


"Sssuuut! Santai saja. Jangan ribut. Jadi kekasihku, maka hutangmu lunas."


"Apa tidak ada tawaran lain? Misalnya membangunkanmu setiap pagi, atau hal lainnya mungkin?"


"Livy, aku tidak butuh alarm. Yang aku butuhkan adalah kekasih. Oke, kau mungkin masih terkejut. Akan aku perjelas, maksudku adalah kekasih pura-pura."


"Pura-pura?"


"Kenapa? Kau keberatan jika hanya berpura-pura?"


"Buk-bukan. Apa alasanmu untuk berpura-pura?"


"Kau tahu, ibu dan ayahku selalu memaksaku untuk menikah dengan seseorang yang tidak aku sukai. Menolak perjodohan ini hanya ada satu cara, aku harus punya kekasih yang bisa aku kenalkan ke mereka."


David Erlangga! Dasar akal bulus. Kalau suka ya terus terang saja! Siapa yang pernah menjodohkan dia? Awas saja ya, tunggu di rumah bunda akan jewer telingamu. Megan berhasil dibuat sedikit geram oleh pengakuan David yang kekanakan.


Megan memilih untuk pergi dan melewatkan obrolan manis keduanya. Ia pun mengirim teks ke David agar mengantar Livy pulang.


.

__ADS_1


.


__ADS_2