
Dua bulan berlalu...
Seorang gadis terlihat menaiki bus yang baru saja singgah di halte.
Dia adalah Keisya, yang berhasil keluar dari sarang sampah, untuk kembali menata hidup yang lebih berwarna.
Hanya beralas sandal jepit dan pakaian yang sungguh jauh dari kata modis dan layak, Kei sebenarnya sangat malu untuk muncul, tapi apa boleh buat.
Dari hasil mulung yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit, yang dilakukan Kei pertama kali adalah mengunjugi pasar serba ada untuk membeli beberapa lembar pakaian guna mendukung penampilannya yang hendak mulai mencari pekerjaan. Mengingat, pakaian yang ia miliki hanya yang melekat ditubuhnya saat ini.
KEISYA POV
Dibawah panas yang terasa sangat terik, aku berkeliling di pasar, mencari berbagai keperluan. Ya, ini pertama kali bagiku masuk ke pasar untuk berbelanja. Tapi tak apa, selagi aku mendapatkan apapun yang aku butuhkan, tidak masalah.
Lihatlah kantong yang kutenteng ini, hampir penuh dengan berbagai barang. Satu yang tidak bisa aku beli, yaitu ponsel. Padahal ada banyak dijual ponsel bekas dari berbagai merek tertata rapi di dalam etalasi yang seolah memanggil-manggilku. Sayang sekali aku tidak bisa membelinya.
Uang yang kumiliki tersisa sedikit. Mungkin hanya cukup untuk membayar rumah yang akan kusewa dan mebeli makan untuk beberapa hari ke depan.
Dengan menaiki ojek, aku tiba di sebuah kawasan yang baru pertama kali aku datangi. Kabarnya sih, daerah ini banyak kos-kosan murah.
"Permisi, Bu, apa ada kamar kosong?" tanyaku pada seorang pemilik kamar sewa. Ia mencermati penampilanku dari atas sampai bawah kemudian menanyakan kartu identitasku. "maaf Bu, KTP saya ketinggalan, jujurku. Memang benar bahwa semua surat berhargaku berada di tangan mama tiriku. Saat terakhir aku bersamanya, aku hanya membawa ponsel, yang sialnya aku pun kehilangan ponselku yang harganya mencapai puluhan juta itu.
"Kalau begitu cari kosan lain aja Neng. Saya tidak menerima penyewa tanpa identitas." ketus ibu tua ini. Mungkin saja pengalamannya sebagai ibu kos selama ini membuatnya harus tegas pada setiap tamu tak jelas sepertiku.
Aku berusaha keras meyakinkannya, tapi tidak berhasil.
Akhirnya, karena kesabaranku mencari dan terus mencari kamar sewa, aku mendapatkannya. Ya, sebenarnya aku tidak begitu klik dengan kamar ini, tapi mau tidak mau aku harus menempatinya. Hari sudah malam dan aku tidak punya waktu lagi mencari yang lebih baik.
Kamar yang kutempati ini begitu sempit, dindingnya penuh coretan bahkan lantainya tidak dilapisi keramik. Belum lagi ada aroma-aroma tak sedap yang tercium entah berasal dari mana. Tapi tak apalah, ini lebih mendingan dari pada tinggal ditengah-tengah gunungan sampah.
Hari baru kembali menyapaku. Aku bersiap diri untuk mandi lalu mengenakan pakaian yang baru aku beli kemarin.
Sebelum mencari pekerjaan, aku akan pergi menemui mama untuk mendapatkan semua dokumen berharga milik pribadiku yang tertinggal di rumah lamaku.
Tidak, aku tertegun menatap bangunan istanaku yang tertutup rapat, tak ada sekuriti membukakan pagar
untukku. Ternyata benar, rumahku telah disita. Entah kemana mama pergi. Lalu bagaimana dengan semua dokumen berhargaku? Aku sangat membutuhkan semua itu untuk bisa melamar pekerjaan. Ijazah, KTP, semua tertinggal di rumah itu. Kemana aku harus mencari mama? Apa wanita itu bahkan mengamankannya untukku? Aku rasa tidak mungkin.
__ADS_1
.
Kei tidak putus harapan. Ia mencoba peruntungannya dalam mencari pekerjaan. Kerjaan apa saja yang penting halal.
Saat ini, di depannya berdiri sebuah restoran yang cukup ramai. Restoran ini adalah tempat ke tujuh yang ia datangi. Semoga kali ini tidak ditolak mentah-mentah lagi, mohonnya, dalam hati ia berdoa.
Masalah kartu identitas dan ijzah yang tidak ia miliki membuatnya susah diterima untuk bekerja. Padahal, ia adalah lulusan dari salah satu universitas ternama. Namun sayang, ia tidak memiliki bukti fisik atas pengakuannya itu.
Beruntung salah satu staf restoran ini sedang cuti melahirkan mulai hari ini, jadi terpaksa pihaknya menerima Keisya untuk bekerja sementara.
Pekerjaan Kei hanya dua, yaitu membersihkan meja dan mencuci piring. Kei sama sekali tidak diperbolehkan untuk melayani pelanggan secara langsung dan yang harus ia ingat, jangan sekali-kali mendekat ke meja kassir.
"Ya ampun, Keisya, kamu tuh bisa nyuci piring gak sih? Lemot banget deh!"
Tak hanya tatapan sinis, beberapa kali mental Keisya harus diuji dengan bentakan demi bentakan dari manejer restoran karena pekerjaannya yang tidak maksimal.
Banyak caci maki yang Kei dapatkan.
"Udah miskin, belagu! Kerjaan ga ada yang beres." ia bahkan dikatai 'beban' oleh beberapa dari mereka.
Kebiasaanya yang hidup bak tuan puteri yang memiliki pelayan di rumahnya membuat Kei tidak terampil dalam melakukan pekerjaan rumah ataupun dapur. Bukannya Kei tak bisa, hanya saja ia belum bisa sempurna dalam urusan ini.
Kei termenung. Tiba-tiba hatinya merasa sedih lagi. Mengingat bagaimana orang-orang tidak mempercayainya hanya karena tidak memiliki identitas yang jelas, begitu mengiris hatinya. Lelahnya ia berjalan kaki sepanjang ratusan meter dari halte bis, pun membuatnya menangis sekarang.
Kei ingin bercerita. Kei ingin meminta tolong. Tapi siapa? bagaimana ia harus menghubungi orang lain kalau ponselnya saja tidak ada?
David Erlangga. Kei masih menyimpan dengan jelas dalam otaknya, nomor kontak cinta pertamanya itu. Tapi sudahlah, Kei masih punya malu untuk menghubungi orang yang telah menolak cintanya. Meski perasaan itu sudah tidak ada, tapi tetap saja itu tidak mudah.
"David, kau pasti sedang sibuk berkencan. Sedangkan aku, aku sedang bergerak sambil merayap. Hidupmu mengalami kemajuan, tapi aku baru saja mulai setelah hidupku mundur ribuan kali ke belakang."
Robian? Bagaimana dengan pria yang sempat ingin Kei perjuangkan? Kei masih ingat jelas pernah mendatangi perusahaan Antami dan menawarkan cinta ke pria itu, karena tahu kalau pria itu sangat menyukainya. Tapi, rupanya ia sudah sangat terlambat. Tapi bukan itu. Bukan cinta yang Kei inginkan saat ini. Ia hanya akan fokus berusaha untuk sukses agar bisa mendapatkan kembali rumah masa kecilnya yang sudah disita oleh bank. Meskipun hal itu terdengar mustahil, tapi Kei yakin dengan penuh bahwa ia akan mendapatkan rumah itu kembali, serta memgembalikan kestabilan hidupnya. "Jika aku tidak kenal malu, aku akan mendatangimu lagi untuk meminta pertolongan, Bian."
Sendirian dan tidak memiliki seseorang yang bisa diajak bicara, benar-benar membuat Kei memahami apa itu 'kesepian'.
Pagi kembali datang. Keisya bergegas karena tidak ingin dimarahi karena terlambat.
Di jam istirahat siang, semakin banyak yang mengunjungi restoran. Tentu saja lebih padat cucian piring serta meja yang harus dibersihkan. Kei melakukan semuanya dengan senang hati.
__ADS_1
Sedang membersihkan meja, tiba-tiba terdengar sebuah suara. "Keisya?" membuat aktifitas tangan Kei terhenti sejenak. Ia menoleh ke arah sumber suara.
"Mama?"
Benar. Wanita inilah yang membuatnya menemui bahaya. Bertemu lagi dengan wajah ini, seketika membuat Kei lupa untuk menanyakan keberadaan surat-surat pentingnya. Ia ingin memarahi istri mending ayahnya itu.
Dengan tangan memgepal kain pengelap, ia dekati wanita yang berdiri dengan wajah gugup itu.
"Kenapa mama disini?"
"Kei? Da-dari mana saja, Kamu?"
"Kenapa? Apa aku terlihat seperti hantu? Jangan takut. Ayo kita bicara." Kei mencengkeram paksa tangan wanita itu dengan tangan kotor berminyak karena sisa-sisa makanan dari kain pengelap.
"Keisya, ada apa ini?" sang manejer mendekat dengan muka selidik.
"Pak, pegawai anda ini tidak sopan. Dia menyentuh saya dengan tangan kotornya." sigap wanita ini menyalahkan Kei.
"Maaf Pak, ini urusan pribadi saya dengan orang ini."
Sementara disisi lain. Robian baru turun dari mobilnya setelah tiba di sebuah reatoran tempat mama Kei memgajaknya bertemu sambil makan siang. Bian tidak datang sendiri. Dia ditemani oleh seorang gadis.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Rupanya itu dari anak buah tante Megan yang membantunya mencari keberadaan Kei.
Ketika memyadari ia berada di tempat yang tepat, Bian melangkah kencang masuk ke restoran.
Benar sekali informasi yang ia dapatkan. Gadis yang ia cari-cari selama beberapa bulan terakhir, sudah ada di depan matanya.
Keisya. Meski ia terlihat lebih kurus dan mengenakan celemek, tapi Bian yakin dia adalah Keisya.
Tapi apa itu? Sepertinya Kei sedang berdebat dengan dua orang.
"Aku bilang, ikut aku, kita bicara di di tempat lain." kembali ia paksa ibunya itu untuk menyingkr.
"Keisya, kalau kamu perlakukan pelanggan seperti ini, kamu akan dipecat sekarang juga!" tegas sang manejer.
Semua mata tertuju pada mereka. Termasuk Robian yang baru saja tiba. Kei baru menyadari jika dirinya sedang menjadi objek perhatian. Pandangannya kemuadian bertemu dengan Robian dan seseorang yang berada disebelah pria itu. Seketika Kei tidak bisa berkutik.
__ADS_1
.
.