Setelah Tiga Hari Pernikahan

Setelah Tiga Hari Pernikahan
Bian Kei


__ADS_3

"Robiaaaaan!"


Baru saja pintu ruang kerjanya terbuka, Bian langsung terkejut berdiri. Kebiasaan mamanya saat berkunjung memang kurang menyenangkan.


"Siapa ini? Bukankah dia putrinya pak Surya yang sedang sekarat karena terancam bangkrut?" mama Lisa melayangkan beberapa lembar foto ke hadapan muka Bian. Dengan rasa takut-takut Bian meliriknya. Disana jelas terpampang wajahnya baru bangun tidur yang terlihat lumayan tampan, sedang bersama seorang perempuan, seperti sedang berdebat di pinggir jalan.


"Ma, kenapa malam-malam kesini? Sana pulang, ditungguin papa tu..." Bian mengusir secara halus, dengan muka tanpa minat, sambil mengalihkan pembicaraan.


"jawab mama dulu! Kau sudah tiduri perempuan ini? Kau ini, mau bikin malu ANTAMI ya?"


"Tenang aja, Ma... kami berdua hanya tidur bersama. Bukan bikin anak." jelas Bian, tenang.


"Apa mama harus percaya?"


"Apa aku pernah berbohong?"


"Baguslah kalau kau bisa jaga diri. Sayang, mama akan mempercayaimu, ya, mama tunggu kamu di rumah dan jangan pulang kemalaman ya sayang," puas sudah mendengar langsung jawaban putra tercinta, Lisa pun pergi.


Lima menit berlalu.


"Hai, Bian... malam..."


“Kei?” Bian baru saja merasa lega setelah kepergian mamanya yang cukup mengganggu, muncul pula wajah Kei dengan senyum manis, berdiri di ambang pintu sambil memeluk sebuah bucket mawar yang dibawanya.


"Hehehe...kamu kaget, ya?" gaya tersipu yang dibuat-buat, Bian menangkap sinyal berbahaya dari gestur tubuh Keisya. Belum lagi cara berpakaiannya yang begitu menantang.


Dengan perasaan geram Bian menggapai gagang telepon yang ada di mejanya untuk menghubungi bagaian keamanan. Bagaimana mungkin orang asing bisa lolos sampai ke ruang CEO saat kantor sudah tutup? Keisya begitu lancang.


[Siap pak Robian,] sahut seseorang.


Malas berbasa basi, Bian bertanya langsung pada topik. [kenapa biarkan tamu masuk saat kantor sudah tutup?] 


[Maaf, pak Bian, tapi nona itu mengatakan bahwa sudah ada janji dengan bapak. Karna dia pacar bapak jadi saya percaya.]


Bian sejenak tercenung, menghembus napas kasar. Ia baru ingat, pernah memajang foto Keisya di meja kerjanya dan kepada siapapun yang melihat dan bertanya, ia dengan penuh percaya diri mengakui bahwa Keisya adalah calon istrinya. Kebodohan yang begitu kekanakkan saat itu. Bian hanya bisa menyesali kelakuannya yang tidak masuk akal saat gencar-gencarnya memburu Keisya kala itu.


"Kau pikir tempat ini pemakaman?" Bian bertanya dengan santai, menyinggung tentang bucket kembang yang di sodorkan Kei padanya.


"Aku menunggumu keluar dari gedung ini. Tapi Kau lama sekali jadi aku berinisiatif untuk masuk. Oh, tentang bunga ini, aku sengaja membawanya untukmu. Bian, bagaimanapun juga kita sudah tidur bersama jadi aku rasa tidak buruk untuk memulai kisah cinta."


"Keluar dari sini." bukan terharu saat tawaran cinta dari bibir Kei yang datang cuma-cuma, Bian malah menunjuk pintu agar Keisya keluar.


Kei menggeleng seperti bocah yang menolak saat diminta menjauh dari ayahnya. Bibirnya mengerucut berusaha bertingkah imut. "Aku maunya di dekat kamu, Bian."


Sepertinya Kei tidak mempan dengan cara Bian mengusirnya.

__ADS_1


"Jadi begitu ya, baiklah," Bian melepas kancing kemejanya sambil berjalan kearah Keisya. Bukan sengaja menggoda Kei, tapi entah kenapa ia merasa begitu kegerahan. Bian semakin mendekat, Kei pun berjalan mundur.


"Kenapa? Jangan mundur. Katamu mau di dekatku."


Gugup, Kei rupanya tidak punya nyali yang cukup. "Bian, maksudku adalah-"


"Apa? Jangan banyak alasan. Dari caramu, Kau sedang berusaha menggodaku. Aku mungkin tergoda sekarang."


Bian semakin menghimpit tubuh Kei yang sudah menempel ke tembok. Ia angkat dagu gadis itu seakan hendak melahap bibirnya.


Kei menahan rasa yang membuncah dengan menutup mata.


Bian menatapnya lekat, bibir yang cukup memikat yang pasrah diserahkan untuknya.


Belum lama ini Bian mengakhiri sendiri perasaannya pada Keisya. Tapi kenapa saat ini Keisya datang dengan sukarela? Setelah tidak berhasil meraih perasaan David, lalu Kei datang melempar diri padanya? Memangnya Bian adalah tempat pelarian?


Memikirkan tentang itu berhasil membuat badmood Bian terhadap Kei semakin memanas.


"Hah, Kau pikir aku akan menciummu?"


Kei membuka mata. Rasanya barusan ia mendengar nada remeh untuknya.


Bian menarik tangannya dari dagu Kei. "Sorry, aku punya someone special.


Entah siapa yang dimaksud Bian sebagai seseorang yang spesial, Kei mengikuti pria itu yang melangkah keluar ruangan.


Bian tak merespon dan terus saja melangkah sampai sebuah suara menyapa. "Selamat malam,"


Seorang gadis dengan postur padat berisi, bibirnya merah merona.


Bian menghentikan langkah. Dia adalah Vena. Salah satu staf di kantor ini yang mungkin saja juga bekerja lembur.


"Hai, kamu juga mau pulang? Ayo, ikut dengan saya." Bian menawarkan bantuan kepada perempuan itu, Kei merasa sedikit kecewa. Tidak, Kei kecewa berat. Tapi Kei berusaha berpikir positif saja, menganggap bahwa mereka hanya terhubung sebagai pekerja dan boss.


"Oia, Keisya, kenalkan dia adalah Vena. Dia kekasihku."


Perempuan itu mengangguk ramah ke arah Kei yang berdiri mematung, berusaha menolak pengakuan yang baru ia dengar langsung dari mulut Bian.


"Jadi Kei, maaf tidak bisa memberimu tumpangan."


Keduanya pergi, sedangkan Kei hanya mampu mengangguk angguk ditempat. Ia berusaha menyadarkan dirinya dari mimpi konyol untuk menjerat hati Bian.


Malam sudah sangat larut. Kei berjalan sendirian.


Bian cukup tega membiarkan aku pulang sendirian. Setidaknya dia bermurah hati untuk mengantarku. Ya ampun Kei, hidupmu begitu membingungkan belakangan ini.

__ADS_1


Baru saja hendak berjuang untuk mendapatkan Bian, ternyata Kei sudah kalah dan sudah pasti dirinya tidak lagi melekat di hati Bian yang dulu sengaja ia abaikan.


Situasi dan kondisi sudah tak tertolong, sementara sang mama tiri selalu berusaha menjodohkan Kei dengan seorang pengusaha tajir yang sudah bau tanah.


Sambil berjalan kaki Kei memikirkan semuanya, tentang cintanya yang gagal, tentang kondisi perusahaan papa yang sudah tak tertolong, tentang sang ayah yang kini terbaring lemah di rumah sakit.


Jadi aku harus apa? Bisakah waktu diulang? Andai saja waktu bisa kembali ...


Keisya menempuh perjalanan kurang dari 1 jam untuk sampai di sebuah rumah sakit, dimana papahnya sedang dirawat.


"Pah, Kei datang."


"Akhirnya Kau muncul juga. Kemana aja? Sibuk kelayapan nyari laki yang gak guna, padahal papahmu sedang terbaring."


"Maaf, Mah. Aku ..."


"Ah sudah sudah! Besok pokoknya aku gak mau dengar alasan. Besok kamu harus ketemu sama calon suami kamu."


"Ma-"


Percuma saja memohon, wanita yang dipanggilnya 'mama' itu mengabaikannya lalu pergi. Tinggalah Kei berdua saja dengan papanya yang tak berdaya.


"Kei,"


"Iya, Pah," Kei meraih tangan sang ayah. Air matanya tak terbendung lagi.


"Panggil ... Da...vid. Papah, mau... Titip ka...mu,"


"Suuuttt! Jangan bicara Pah, Papah istirahat saja."


"Sayang... Maafkan papa, menen...tang ka...mu dengan David." susah payah sang ayah bicara sambil meminta maaf karena tidak merestui Kei dengan David selama ini.


Ini membuat kesedihan Kei tambah menjadi. Pasalnya ayah tidak tahu keadaan yang sebenarnya. "Pah, Kei sama David itu hanya cinta sepihak. David tidak cinta Kei. Papa gak harus minta maaf."


Perasaan sedih keduanya pecah bersama. Keduanya pun menangis.


"Pah, Kei hanya akan fokus rawat Papa."


Si papa menggeleng lemah.


"Pergilah jauh-jauh dan tinggalkan mama jika papa tidak bertahan. Dia... bisa menjerumus kamu dalam bahaya. Kei, ingat ini baik-baik, pergi dari hidup mama karena papa tidak punya apapun yang tersisa untukmu."


.


.

__ADS_1


Abis...


__ADS_2