Setelah Tiga Hari Pernikahan

Setelah Tiga Hari Pernikahan
Jangan Buru-buru


__ADS_3

Robian menuntun Keisya masuk ke dalam rumah itu.


Perasaan Kei mulai terasa aneh, "Bian,"


"Hmmm."


Sepertinya feeling Kei begitu kuat. Saat menaiki tangga menuju lantai atas, Kei menghentikan langkah "Jangan bercanda, Bian. Aku rasanya kenal tempat ini."


"Oh ya? Baiklah," Bian melepas ikatan kepala yang menutup mata Kei.


"Robian, bagaimana kita bisa masuk ke sini?" pandangan Kei mengudara. Ternyata benar dugaan Kei, bahwa dirinya sedang berada di kediaman ini, tempat yang menyimpan banyak kenangan untuknya. Kei bahagia. "Ya, ini rumahmu. Aku mengajakmu pulang."


"Apa maksudmu? Ini bukan lagi rumahku, Bian."


"Aku sudah mengurusnya untukmu. Aku ingin Kau tinggal lagi di sini."


Kei terharu, air matanya meluncur. Tak ada yang bisa ia katakan lagi selain pergi memeluk pria dihadapannya ini. Erat sekali. Kei menangis sampai terisak. Robian merasa lega karena Kei begitu bahagia dengan kejutan ini.


Kei bisa merasakan, Robian membalas pelukannya. Ini membuat Kei semakin menangis. Ia sangat sadar tentang satu fakta bahwa, tak sepantasnya mereka berdua saling menempel. "tak apalah, sebentar lagi saja." Kei menguatkan hatinya.


Tag tag tag tag...


Terdengar suara, seperti langkah sepasang high heels. Langkah kaki itu berhenti kemudian.


Tampak Vena disana, memegang sesuatu di tangannya.


Kei terkejut bukan main. Spontan ia melepas pelukannya. Baru saja memikirkan tentang Vena, orangnya muncul sedetik kemudian. Kei takut. Vena telah menangkap basah situasi yang tak seharusnya terjadi. Kei tak tahu harus mulai dari mana untuk menjelaskan semua ini.


"Selamat malam," sapa Vena. Robian terlihat tenang saja.


"Berikan itu padaku." sahut Robian, Vena kemudian memberikan sesuatu yang ia bawa itu kepada Robian. "Kamu boleh pulang, Ven." sambung Bian lagi. Vena hanya mengangguk, kemudian berbalik pergi.


"Bian," Kei mulai memeriksa.


"Iya?"


"Kenapa ... Vena disuruh pergi sementara kamu tetap disini?"


"Memangnya kenapa? Dia sudah melakukan tugas yang aku minta." jawaban Bian sungguh mengundang rasa penasaran.


Kei kembali bertanya dengan hati-hati, "Apa ... dia tidak cemburu melihat kita?"


"Tentu tidak. Oh ya, maaf karena aku membual selama ini. Dia itu bukan kekasihku. Dia keponakannya Papa, berarti sepupuku."


Kei menatap Bian dengan mata lirih, berusaha menampilkan senyum kecil. "Robian, kau sampai sebegitunya demi menolakku. Kuakui Kau berhasil Bian."


Hati siapa yang tidak kecewa? Robian sadar, Keisya merasakan hal itu detik ini. Tentu perasaan gadis itu tidak baik-baik saja ketika mengingat kembali saat Robian menolaknya malam itu.

__ADS_1


"Kei, masa lalu tidak penting. Yang terpenting sekadang adalah masa depan." Bian menadah tangannya ke arah Kei.


Tak disangka, Keisya menyilang kedua tangan, "jangan lagi bersikap manis padaku." membuang pandangan ke lain arah. Tingkahnya ini menggemaskan, sungguh.


"Ayolah, tidak ada waktu untuk merajuk." Bian menarik Kei sampai ke lantai atas, tepatnya di muka pintu kamar Keisya. Gadis itu sudah tidak mampu berkata apa-apa.


"Kau boleh masuk dan melepas rindu dengan kamarmu." Robian membuka pintu dan mendorong Kei agar melangkah masuk.


Keisya terperanga, seperti mimpi rasanya berada di kamar ini lagi. Pandangannya mengitari seluruh kamar. Semua masih tampak sama. Tidak ada yang berubah. Keisya berlari ke arah slingbag yang biasa ia bawa kemana-mana. Benar, dompet dan semua isinya ada di sana, lengkap tak kekurangan suatu apapun.


"Robian, aku sedang tidak bermimpi, kan?" Kei berlari ke arah lemari pakaiannya, semua juga sama. Pakaiannya lengkap berada pada posisinya masing-masing.


Tak hanya itu, Kei memeriksa laci - laci yang ada. Keisya menemukan semua dokumen penting miliknya berada disana. Spontan ia meraih dan mendekap semuanya itu. Kei sangat bersyukur.


"Bagaimana? Kau puas dengan hadiah dariku?" Bian mendekat ke arah Kei yang terduduk kaku sambil memeluk semua yang berharga baginya. Air matanya tak terbendung. Terharu.


Bian mengulurkan amplop dokumen yang tadi ia dapatkan dari Vena. "Bukalah ini. Tidak kalah penting untukmu."


Kei menerimanya tanpa kata, segera melihat isinya. Tangis Kei pecah kemudian. Ponselnya ada di sana, beserta dokumen kepemilikan rumah. "Bian, ponselku kembali. Terima kasih."


"Ya, sama-sama Kei."


"Bian, barusan Kau bilang ini hadiah untukku?"


"Ya, semua ini adalah hadiah untukmu."


Kei berdiri, setelah meletakkan dokumen kembali ke tempatnya, seraya merapikan penampilannya yang sepertinya sedikit berantakan. "Robian, kau sangat baik padaku. Terima kasih."


Kei nampak salah tingkah. Ia menghapus air mata bahagia yang sempat membasahi pipinya, sambil menyembunyikan senyum malu. Tingkahnya itu membangkitkan keinginan Bian untuk usil, ia pun menghampirinya.


"karena aku baik, bukankah bisa mendapat pelukanmu lagi? Yang tadi terlalu singkat."


"Hiiiiis, Bian, sana jauh-jauh." Kei mendorong Bian menjauh darinya, sadar sedang di goda.


"Ayolah Kei, sebentar saja." dengan senyum usilnya kembali mendekat.


"Bian, bagaimana kalau begini saja, aku akan membuatkan makanan enak untukmu?"


"Tidak perlu. Cukup memberiku pelukan sudah membuatku kenyang."


"Bian, jangan gila. Nanti ada yang melihat kita."


"Jangan takut. Tidak ada orang lain disini."


Tak tahan melihat wajah Bian yang puas menggodanya, Kei berubah pikiran, ia sudah menemukan ide untuk menguji seberapa berani Robian.


"Baik, kau sudah baik padaku." Kei mulai meraba kancing kemejanya, membuka kancing paling atas seraya berjalan ke arah pria itu. "Tidak hanya pelukan, Bian, Kau pantas mendapatkan lebih dari itu." melepas kancing berikutnya.

__ADS_1


Wajah Bian yang berubah panik membuat Kei ingin memecah gelak tawa. Setengah mati ia menahannya.


Robian terjerat di tempatnya. Kei semakin berjalan kearahnya. "Maksudmu, Kau ingin memberikan lebih dari pelukan?" Bian mencoba menakuti Kei. Padahala jelas, dirinyalah yang ketkutan saat ini.


"Ya, aku rasa begitu." tiga kancing sudah terlepas.


Jarak yang tersisa tinggal sejengkal. Kegugupan sudah tak bisa terbendung. Semua tergambar di wajah Robian. Kei merasa sedang menonton pertunjukan lucu, tapi juga kasihan.


"Kita pernah ... tidur bersama, tapi tidak melakukan apa-apa." Kei menanggalkan kemeja lusuhnya, benda itu terjatuh di lantai. Tersisa dalaman tanktop yang memiliki tali setipis spagetti melapisi bagian tubuh atasnya.


Bian menelan saliva ketika pikiran kotornya datang mendominasi. "Kau serius?" Bian bertanya dengan suara rendah, terdengar bergetar.


"Waduh, jangan bilang setelah ini dia mau ..." Kei terjebak dalam permainannya. Ingin melanjutkan aksi menantangnya, tapi takut kalau Robian akan benar-benar menagihnya. "Kenapa Bian? Wajahmu terlihat ketakutan."


"Aku tidak ketakutan. Aku hanya ... kasihan padamu. Percaya diri sekali kau memamerkan tubuh tipis padaku. Ayo makan yang banyak biar sedikit berisi. Terlalu tipis tidak ada rasanya."


"Biaaan! Tega sekali Kau menghinaku!" Kei mengejar Bian yang kabur setelah mengejeknya.


"Jangan mengejarku. Pakai dulu bajumu atau tubuh tipis itu akan masuk angin."


"Anak ini! Berhenti disana. Aku ingin menghajarmu!"


Bian tiba di lantai dasar. Dengan santai ia menaruh bokongnya, bersandar di atas sofa.


"Bian, kau menyebalkan." Kei memukul - mukul dada Bian memggunakan bantal sofa.


"Ais Kei, cukup!" dengan mudahnya Bian menangkap tangan Kei, menarik gadis itu ke atas pangkuannya. "Dari pada buang tenaga memukulku, lebih baik begini saja." Bian kembali ke mode serius, meski jantungnya bergetar hebat. Kedua tangannya melingkar di pinggang Kei.


"Bian, kenapa Kau melakukan ini? Kenapa Kau mencari saat aku menghilang? Perasaan seperti apa yang Kau simpan untuk aku? Apa aku masih di hatimu seperti dulu?" Kei sungguh tak sanggup menahan pertanyaan ini.


"Ya... perasaanku sama seperti apa yang Kau pikirkan. Kau benar, bahkan perasaan itu tidak pernah pergi. Aku memang pernah membuang rasa itu, tapi nyatanya tidak berhasil."


Keisya terpaku, menatap wajah Robian. Tidak ada dusta. Ia hanya menemukan keseriuasan disana. "Bian, aku ingin terus berada di hatimu. Aku tidak mau kehilangan kamu, Bian."


Bian tersenyum kecil. Bohong kalau ia tidak bahagia mendengar hal ini dari Keisya yang sangat ia cintai. Ia hanya tidak ingin senang dulu. Bisa saja pengakuan Kei ini didasari oleh kebahagiaan karena kebaikan Bian semata. "Jangan buru-buru mengungkapkan perasaanmu Kei. Aku tidak ingin Kau menyesalinya saat rasamu sudah berubah. Aku membantumu dengan tulus. Kau tidak harus membayarku kembali dengan cara apapun."


"Lalu apa yang harus kulakukan biar Kau percaya dengan perasaanku?"


Memang, belum ada kata 'aku cinta kamu' yang secara sadar keduanya ungkapkan. Bukankah tindakan dan perasaan sudah cukup jelas?


"Saat aku mendatangimu dan saat aku pergi, kau hanya perlu memberiku pelukan dan tidak menolak pelukanku. Kau harus menyambut kedatanganku dengan wajah bahagia dan tanpa paksaan. Maka aku akan percaya kalau perasaanmu padaku adalah benar."


"Hanya itu Bian?"


"Iya, hanya itu."


.

__ADS_1


.


Thanksss


__ADS_2