
"Aku menunggumu di rumah. Pulangnya jangan kemalaman ya," pesan singkat itu datang dari Terana, kepada suaminya.
Melihat waktu sudah pukul lima sore, Erick segera beranjak. Pesan yang di baca barusan adalah kata-kata terbaik yang ia dapatkan dari istri dinginnya.
Tiba di kediamannya, Erick melangkah pasti. Entah apa yang merasuki Rana, sampai ia mengirimkan pesan yang berhasil membuat Erick panas dingin. Rupanya, tinggal di Panama selama beberapa waktu, membawa dampak yang lebih positif bagi kepribadian Rana.
Gelap sudah. Matahari baru saja tenggelam.
Masuk ke kamar, Erick bertemu dengan suasana remang, seperti tak berpenghuni. Bukankah Terana bilang dia sedang menunggu?
"Rana," Erick memanggil. Tak ada sahutan.
Erick membawa langkahnya menuju kamar mandi yang tidak tertutup. Pikirnya, Rana pasti di sana.
Ternyata benar, sesuai perkiraan, Terana berada di sana. Dibawah pencahayaan remang, wanita itu sedang menikmati rendaman air yang bertabur kembang aroma therapi. Wangi khasnya menusuk ke dalam hidung.
"Hai, ayo kemarilah," seraya menggerakkan jari, Rana meminta Erick mendekat untuk bergabung dengannya.
Pria itu menanggalkan pakaiannya kemudian, tanpa banyak protes. Mungkin inilah saatnya, hari bahagia itu telah tiba.
Erick dibuat sedikit menegang. Terana naik ke atasnya saat ia baru saja masuk bathup. Istrinya bahkan tidak mengenakan sehelai benang pun.
"Kak Erick, apa kau merindukan aku?" bisik Rana.
"Tentu saja rindu. Sudah sangat lama aku menahannya." jawaban Erick, membuatnya mendapat kecupan singkat, tepat di dekat bibirnya. Mungkin Rana sangat puas mendengar jawaban jujur suaminya.
"Apa Kau juga merindukan aku?" Erick balas bertanya hal yang sama.
Rana tersenyum seraya mengangguk, "selama di Panama, aku tidak behenti merindukanmu. Kak Erick, terima kasih karena tidak meninggalkanku." Rana memeluk pria tercintanya itu. Entah berapa besar sudah rindunya yang ia tahan walau tak terucap. Cinta pertama yang kini sungguh-sungguh menjadi sosok teman hidupnya.
Erick membalas pelukan yang ia terima. Perasaannya begitu bahagia. "Akulah yang harus berterima kasih padamu, Rana."
Keduanya berpelukan, saling meminta maaf dan memaafkan kesalahan satu sama lain.
Air mata keduanya tidak ketinggalan, ikut mewarnai suasana haru yang sedang berlangsung. Disana ada penyesalan, kekecewaan naamun tak lebih besar dari rasa bahagia ketika bersama.
.
.
Di tempat lain. Tepatnya di lobi ANTAMI. Robian tampak keluar dari sana dengan langkah cepat. Kantor sudah sepi dan sunyi, tidak ada orang lain selain dirinya yang baru mentelesaikan pekerjaan.
__ADS_1
Di perjalanan, Bian menepi di depan sebuah restoran, lalu masuk ke dalamnya. Hanya sebentar, pria itu keluar lagi dengan menenteng sesuatu di tangannya. Tentu saja itu makanan yang sudah ia pesan sebelumnya.
Robian melaju di jalan. Tempat tinggal Keisya adalah tujuannya.
Tiba di depan gang sempit itu, Robian masih bersemangat untuk menempuh perjalanan dengan jalan kaki.
Pacar bukan, saudara bukan, apalah ini namanya Bian? Hanya Robian yang bisa menjawab kepedulian sebagai apa yang dirinya lakukan pada Keisya.
"Robian?" dalam keremangan jalan sempit ini, seseorang tiba-tiba menyapanya.
"David?" raut muka Robian sontak berubah tawar. Mengapa David dan kekasihnya berada di lingkungan ini?
"Aku sama Livy habis menemui Kei. Kami bertiga baru saja menyelesaikan makan malam bersama."
"O, begitu rupanya," Bian terdengar menyahut dengan datar. "aku ada urusan lain dengannya." ucap Bian, sambil berlalu. David pun meneruskan langkahnya bersama Livy.
Rumah tempat tinggal Kei semakin terlihat. Keisya juga tampak sedang menyapu.
"Kei, aku datang." sontak saja gadis itu terjungkit. "Kau menyapu malam-malam begini?"
"Iya, ada apa Kau kemari, Bian?"
"Jangan begitu Bian, aku tidak masalah untuk makan lagi. Ayo masuklah."
"Terima kasih, Kei. Aku tidak sangka Kau dengan mudahnya memintaku masuk." Bian menyusul Kei masuk.
"memangnya Kau akan pergi kalau aku usir?"
Keisya mengeluarkan makanan yang dibawa Bian. Keduanya pun menikmatinya bersama.
"Kei, suasana hatimu tampak lebih baik malam ini. Apa karena baru bertemu David Erlangga?" Robian merasa kesal menanyakan topik ini, akan tetapi dirinya sungguh ingin tahu bagaimana perasaan Kei terhadap David.
"Aku sudah berdamai dan melupakan perasaanku terhadap David. Kami kembali berteman seperti sebelumnya."
"jadi, artinya Kau tidak cemburu melihatnya dekat dengan Livy?"
"Kenapa aku harus cemburu? Pertanyaanmu sungguh lucu."
"Baguslah, aku senang kalau hatimu tidak terluka."
Makan sambil bicara, topik pembahasanpun cukup seru kelihatannya.
__ADS_1
"Bian, bagaimana denganmu? Kau sadar yang kau lakukan ini? Kepedulianmu berlebihan padaku. Aku tahu, hidupku memang memprihatinkan, tapi, tidak sepantasnya kau memberi perhatian pada perempuan lain dibelakang kekasihmu. Setidaknya, Kau ajak Vena. Contohi David, dia ajak serta pacarnya saat mendatangiku."
"Makanlah Kei, jangan menceramahiku." Bian merasa dongkol saat Kei bandingkan dirinya dengan David Erlangga. "Habiskan makananmu, setelah itu kita berdua pergi ke suatu tempat."
Kei menggeleng pasrah, melanjutkan makan tanpa berkata-kata lagi. "Robian, andai waktu bisa diulang, aku ingin kembali ke masa itu, masa dimana Kau terus mengirimkan sinyal cinta padaku. Aku ingin menikmati cinta itu." Kei kembali berandai-andai dalam hati, menyayangkan cinta yang sudah ia abaikan di masa lalu. Memikirkan semua itu, rasanya air mata hampir saja menetes.
Robian mengatakan akan mengajak Kei ke suatu tempat. Kei bertanya dengan ragu, kemana tujuan Bian hendak membawanya.
Bian beralasan bahwa ia memiliki sesuatu yang sangat penting untuk Kei datangi.
"Berjanjilah bahwa hal ini tidak mendatangkan masalah untukku, Robian." Kei hanya berharap bahwa kedekatan dirinya dengan Robian tidak membuatnya mendapat amukkan atau semacamnya dari pacar Bian.
"Aku berjanji tidak akan menempatkanmu dalam masalah, melainkan -" pria itu sengaja menggantung ucapannya, membuat Kei penasaran. Sebab, perasaannya sendiri pun mengatakan bahwa hal baik sedang menunggunya di depan. Lihatlah wajah manis Bian yang terus tersenyum tenang, memikirkan kejutan yang sudah ia siapkan.
Perjalanan mereka tempuh lewat dari menit ke tiga puluh.
"Pakai ini." Bian memberi Kei kain penutup mata.
"Bian, apa rencanamu? Kau jangan gila meniru cara seorang pacar saat memberi kejutan romantis untuk kekasihnya. Aku tidak mau." Kei menyilang kedua tangan, menolak. Ia merasa ini sangat aneh dan tidak seharusnya dilakukan oleh seorang Robian untuknya. "Kau mau memberi kejutan lalu menyatakan cinta padaku? Jangan gila Bian! Aku tidak tertarik!"
"Jangan buru-buru protes. Ikuti saja alurnya. Ketika tiba di akhir, kau boleh protes atau marah sesukamu kalau tidak suka." Robian masih dengan sikap tenangnya. Mendengar ocehan Kei, rasanya menggemaskan.
Mau tak mau, Kei mengikuti permintaan Bian dengan setengah hati. "Bian, jangan mencoba permainkan perasaanku. Kau tahu kondisiku saat ini. Jangan buat aku mensalahartikan sikapmu. Soalnya, aku gampang terbawa perasaan sekarang ini. Jangan sampai aku marah dan memusuhimu selamanya." ujar Kei, dengan mata tertutup kain ia bicara dengan hati.
"Tenang saja, Kei. Aku tidak akan mempermainkanmu." jawab Bian, tak kalah tenang. "Aku ingin bilang bahwa perasaanku masih sama. Aku sangat mencintaimu bahkan kali ini lebih parah rasanya. Tapi, aku tidak akan memanfaatkan keadaanmu saat ini untuk mengungkapkan perasaanku. Hanya berada di dekatmu seperti ini pun aku merasa sangat senang." sambung Bian, dalam hati.
Keduanya tiba di tempat tujuan, berbelok ke sebuah rumah megah. Ya, ini adalah kediaman keluarga Keisya, dimana Kei menghabiskan masa kecilnya hingga dewasa.
Benar, rumah ini Robian dapatkan dari hasil pelelangan Bank. Ia berharap, Kei akan bahagia bisa kembali ke tempat ini.
"Bian, kita dimana ini? Apa sudah boleh membuka mata?"
"Belum. Ayo, pegang tanganku dengan benar. Sedikit lagi Kei."
.
.
Thanks...
Semangat bestie...
__ADS_1