
"Permisi, pasien meminta agar istrinya mendampingi selama operasi berlangsung." ya, Erick baru saja di bawa masuk ke ruang operasi. Namun tak lama kemudian seorang perawat keluar dan menyampaikan permintaan dari Erick. Cukup konyol, membuat Rana harus menatap kebingungan. Tentu saja dia tidak tahu harus cari diamana istrinya Erick.
Dia baru saja bertunangan. Ck, Apa dia sebucin itu menganggap wanita itu sebagai istri?
Menyadari kebingungan di wajah putrinya, "Rana, masuklah. Yang dia maksud pasti kamu."
"Ma, tapi ..."
"Masuklah. Atau kau akan berhadapan dengan mamanya yang sebentar lagi tiba." bisik Gea.
Mengingat tentang tante Megan, Rana dengan cepat merespon. "Ma, aku akan masuk. Tolong jangan katakan tentang apapun ke tante Megan, oke?"
Gea mengangguk cepat dan meyakinkan putrinya untuk tidak perlu mengkhawatirkan apapun.
Rana masuk dan mendekat sesuai arahan tim medis. Tidak disangka, ia disambut dengan senyum tampan Erick.
"Rick, maaf dia belum datang jadi mama minta aku yang ...-"
"Baguslah, kau tidak usah sungkan. Sini, mendekat." Erick seketika paham kata 'dia' yang dimaksud Terana. Rana pasti bermaksud tentang kekasih baru Erick. Tapi Terana tidak tahu bahwa dirinyalah yang dimaksud oleh Erick sebagai istrinya.
"Tinggal di dekatku selama operasi berlangsung." pesan Erick pada Rana yang berdiri kaku di sisi kepalanya.
"iya, aku tahu." Rana kemudian duduk di kursi yang tersedia.
.
"Siapa yang telah berani menikam putraku?" cukup kaget, Gea sontak membeku dengan hadirnya Megan yang menambah suasana semakin terasa dingin. Tidak sendirian, Megan tiba dengan seorang wanita muda.
Setelah Erick menghilang dari acara, Megan malah mendengar kabar bahwa kini si sulung sedang berada di rumah sakit untuk di operasi.
"Begini Megan, tidak ada yang menikamnya. Dia ...-"
"Katakan yang sebanarnya, atau aku yang cari tahu sendiri." seperti biasa, tidak mudah main rahasia-rahasiaan dari Megan. Wanita satu ini sangat ahli membuat orang merasa terancam.
Mau tak mau Gea mengajaknya menyingkir dan bicara empat mata. Awalnya Gea menceritakan semua tentang Terana, apa saja yang telah putrinya itu alami, Gea menceritakan semuanya pada Megan dengan harapan, Megan akan percaya dan tidak mempersulit putrinya.
Tentang mengapa penikaman itu sampai terjadi, Gea menyebut itu tidak sengaja dan itu memiliki alasan yang tepat menurutnya.
Gea bahkan sampai menangis saat bercerita tentang putrinya. Ia tak bisa tegar ketika mengingat trauma yang dirasakan oleh Terana kesayangannya.
__ADS_1
Gea tak tahu apa yang dirasakan Megan ketika mendengar hal ini. Tapi Gea tak peduli jika Megan merasa bersimpati pada Terana ataupun tidak.
Kedua tangan Megan mengepal. Gea tak tahu apa artinya itu. Mungkinkah Terana tetap akan menjadi sasaran kemarahannya kali ini?
"Apa aku bisa mempercayai semua yang kau katakan ini, kak Gea?"
Gea mengangguk sambil mengusap air mata di pipinya.
Megan kemudian berbalik dan kembali ke kursi tunggu ruang operasi.
Sementara di dalam ruangan, Erick telah menutup mata selama beberapa menit. Mungkin pengaruh obat bius yang disuntikkan ke dalam tubuhnya. Operasi sedang berlangsung.
Dalam keheningan, Rana memandang wajah itu yang berjarak cukup dekat dengannya.
Tanpa ia minta, matanya terasa memanas dan cairan bening mengalir dari sana. Rana menangis tanpa suara.
Apa yang sebebarnya ia tangisi? Apa yang membuatnya bersedih? Apa Rana baru sadar bahwa ia masih memiliki perasaan untuk pria ini? menyadari perasaannya setelah mereka sudah resmi berpisah?
Cinta dan khayalan indah yang ia punya untuk pria ini, sudah menjauh pergi dibawa oleh ombak di lautan. Meski masih tersisa, Rana tak punya keberanian atas perasaan itu.
Semua sudah berlalu, lalu apa yang ia sayangkan hingga harus menangis?
"Terana," tak terhindarkan, tante megan muncul tiba-tiba di hadapan Rana.
Megan mendekat perlahan menghampiri Rana yang mematung. Rana hanya mampu menunduk. Berusaha menampilkan sedikit senyum, tapi ia tak mampu melakukannya.
"kau tak apa kan, sayang? Kau baik-baik saja, kan?" tanpa diduga oleh Rana, Megan memeluknya tiba-tiba dengan tangan yang sangat erat. Pelukan seperti ini belum pernah dilakukan Megan padanya.
Perlahan terdengar isakan tangis. Rana sedikit terkejut, mengapa tante Megan bersikap berlebihan seperti ini. Wanita ini bahkan menangis sambil terus memeluknya erat. Rana tak mampu mengatakan apapun. Ia membiarkan perlakuan ini meskipun hatinya merasa bimbang.
"Rana, bunda menyayangimu. Sebagai keponakan, sebagai menantu, kamu sangat berharga."
Rana tidak mengerti pengakuan macam apa ini. Bukan mendapatkan cercaan tapi ini namanya sebuah kehangatan tanpa alasan. Tante Megan sama sekali tidak meluapkan api amarah atas apa yang terjadi pada putranya. Sungguh diluar dugaan Rana.
"Rana, setiap orang yang lahir, memiliki kisah dan cerita yang berbeda-beda. Setiap orang pasti pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Tapi, itu bukan alasan untuk membatasi diri. Jangan jadikan itu sebagai penghalang untuk melangkah. Bunda mengerti perasaanmu, sayang."
Dari kata-kata yang ia dengar ini, Rana menyadari satu hal bahwa tante Megan sedang menunjukkan rasa peduli dan simpati yang besar padanya. Kenapa lagi kalau bukan karena mengetahui hal besar yang ia rahasiakan itu.
"Apa mama menceritakan tentangku? Tante, mamaku sedang menarik simpatimu agar tidak memarahiku. Jangan terperdaya olehnya. Aku memang salah, aku mencelakai putramu. Aku minta maaf." Terana menangis dan mengakui kesalahannya. Tak ada lagi rasa takut dimarahi Megan untuk saat ini.
__ADS_1
Megan sedang menunjukkan rasa kasihan pada Rana. Menurut Rana, ini lebih menakutkan. Ia tidak mau jika siapapun mengasihaninya karena kejadian pahit yang pernah ia alami. Lebih tepatnya, Rana tak suka jika ada orang lain lagi yang tahu tentang kejadian itu.
Megan terus memeluk Rana dan mengatakan berbagai hal. Ia berusaha memberi ketenangan dan dengan tulus menyerahkan semua rasa pedulinya.
"Tante pasti mengasihani aku, kan?" dan akhirnya Rana tersentuh dan membalas pelukan Megan Berlian. Keduanya menangis bersama, saling memberi dan menerima kehangatan.
.
Erick baru saja sadar dari pengaruh obat yang membiusnya.
*Dimana aku? Mana Rana? Rana...! Rana ...! *
Pintu terbuka. Erick tersenyum pasti menyambut siapa yang datang. Namun senyum itu seketika pudar.
Megan melipat kedua tangan di atas perut dan berjalan anggun mendekati Erick. "Kau merasa kecewa karena Bunda yang muncul?"
"Bu-bukan begitu, Bunda. Aku ... sedang bersemangat menunggu Terana. Sorry."
"Kau ini, Rana Rana Rana. Bosan dengarnya."
"oh, jadi Bunda tidak berpihak padaku lagi? Apa Bunda baik-baik saja?"
"kamu tuh ya, sudah jelas si Rana menikammu. Kau masih cinta buta? Otakmu sehat? Lupakan dia. Bunda sudah kirim dia kembali ke Panama." Megan menjelaskan dengan muka angkuh yang menyebalkan.
Erick mengangguk-angguk kepala dengan perasaan kesal dan wajah marahnya. Sambil menahan amarah yang rasanya akan meledak, "Bunda, aku bukan anak SMA lagi. Aku bisa melawan kalau bunda sudah kelewatan seperti ini. Cepat suruh kembali istriku, atau ...-"
"Atau? Apa? kau sedang menyusun kalimat untuk mengancam Bunda sekarang?"
"Ya sudah, aku sendiri yang akan menyusulnya." buru-buru Erick mencopot selang infush yang menempel di lengannya. Turun dari pembaringannya dan berjalan dengan susah payah.
"Rick, jangan gila. Kau itu masih pincang dan baru saja di jahit. Sabar dulu, Okey,"
"Bunda tahu sendiri kan, pagi siang malam aku tidak berhenti sebut nama dia. tapi Bunda, ah sudahlah, dalam urusan Terana, aku tidak akan jadi anak yang berbakti." Erick menepis tangan Megan yang menahanya.
.
.
SELAMAT TAHUN BARU GUYS...
__ADS_1