
"Rana sayang!" Gea memeluk erat Terana saat mereka kembali bertemu.
Kepulangan ibunya kali ini bukan sekedar ingin bertemu Rana, tapi juga sekalian menghadiri acara keluarga yang katanya akan sekaligus menyelenggarakan pertunangan Erick dengan kekasih barunya.
"Ran, kamu masih punya kesmpatan untuk menggagalkan rencana pertunangan Erick."
Rana menggeleng dengan wajah kesal. ia kira mama telah berubah menjadi sangat baik, tapi sekarang malah memberinya usul yang tak masuk akal.
"Mama bawa apa? Wah, mama memang tahu aku suka makan ini." dari pada menanggapi mode jahat ibunya, Rana lebih tertarik membuka aneka kemasan makanan yang menggugah selera ngemilnya.
Gea memperhatikan kesekeliling. Tempat tinggal putrinya ini cukup terbilang layak untuk ditempati. Sebuah apartemen yang hanya memiliki satu kamar, namun ditata sebegitu rupa hingga mampu memberi rasa nyaman.
Sebuah benda persegi panjang yang tertutup kain mengundang rasa penasaran. Gea mendekat dan membukanya, karya tangan putrinya yang begitu indah, melukiskan seorang gadis kecil disana, sosok kecil yang duduk di pojokan sebuah ruangan dengan posisi menunduk memeluk kedua kakinya, seolah menggambarkan kesedihan yang dalam tengah dirasakan. Gea mematung dengan perasaan berselimut haru.
"Apa makna dari lukisan ini, Ran?"
"Itu adalah aku waktu kecil dulu. Aku selalu sendirian di kamar karena mama hanya menghabiskan waktu untuk bekerja dan berkelahi dengan tante Minda dan tante Lisa. Pernah Robian membalasku di sekolah karena mama membuat tante Lisa menangis. Bian memimpin satu kelas untuk mengejekku dan menertawaanku karena gak punya papa." Rana hanya mampu tersenyum kecil kala mengingat moment menyebalkan sepupunya, Robian.
.
Bicara soal Robian...
Achimm...
Bian memijat hidungnya yang tiba-tiba bersin tanpa sebab. "Siapa yang sedang membicarakan keburukanku?"
Makin kesini sang CEO Antami ini semakin fokus dan hanya giat bekerja. Setelah susah payah move on dari gadis yang sangat ia sukai (Keisya), akhirnya Bian tak lagi terjebak dalam cinta sepihaknya. Ia telah sembuh.
"Bian! Bian!" ini yang tidak Bian sukai dari mama. Selalu muncul kapan saja tanpa pemberitahuan lebih dulu. Entah informasi apa lagi yang dibawa mama kali ini.
"Apa lagi sih, Ma?"
"Bian, kamu sudah dengar ini? Erick dan Terana sudah bercerai. Dan paling gilanya adalah, Terana yang menceraikan suaminya itu."
"Dari semua hal memalukan yang ada, tidak mungkin ada perceraian antara mereka, Ma. Jangan percaya."
"makanya kamu itu hidup jangan monoton. Sampai-sampai berita tentang saudaramu sendiri kamu gak tahu, gimana sih?"
"Mama tahu dari mana? Bahkan ga ada gosip-gosipnya, jangan nyebar hoax ah,"
"Ini bukan berita palsu, Bian. Ayo kita buktikan besok. Kalau mereka ga datang bersama di acara keluarga kita, itu artinya berita ini benar. Dan kau tahu, berita ini bisa berefek bagi Megan, jika benar. Bukankah ini menarik?"
__ADS_1
"Cukup, Ma! Jangan berani-berani menyenggol tante Megan. Atau mama akan kehilangan aku." Bian berdiri lalu menyalakan rokoknya.
Menyebalkan, belakangan ini Bian selalu menentang rencana Lisa, ibunya.
"Kamu tu yah, sama aja kayak papamu, selalu membela tante Megan."
"Ma, apa mama ga capek? Coba aja mama pikir, kalau tante Megan benar-benar ingin serakah, dia akan dengan mudah mengambil alih perusahaan ini serta semua isinya. Sudah bagus dia mundur dan membiarkan mama merebut posisi ini untukku. Ingatlah pesan nenek buyut, jadilah kakak yang baik buat tante Megan." Robian benar-benar dibuat gerah memghadapi sikap ibunya yang kadang kumat-kumatan. Tapi ia selalu berhasil menyikapinya dengan tenang.
Terkadang baik, tapi yang namanya iri hati, kesombongan dan sikap tamak, selalu mempengaruhi tindakan seseorang. Inilah yang dinamakan manusiawi. Seperti hubungan antara Lisa dan ketiga saudari sepupunya yang terkadang diwarnai ketegangan ketika menyangkut tentang harta dan takhta. Tapi meski begitu, suasana akan mencair bahkan menghangat di situasi yang berbeda.
Drrrt drrrt drrrt.
Bian tertegun menatap layar ponselnya yang menyala. Sialnya, ia masih mengingat dengan jelas nomor ini, nomor kontak yang selalu ia hantui saat gencar-gencarnya melakukan pendekatan dengan pemiliknya.
Keisya menelponnya? Untuk apa? Bian tak tertarik untuk mendengar suara gadis itu lagi.
.
.
Terana dan mama Gea menikmati makan siang bersama. Suasana hening, larut dalam pikiran masing-masing.
Gea memgangguk.
“Ran ... kamu yakin, melepaskan Erick untuk orang lain?” mama kembali mengganggu, dengan setengah nada. Terus diingatkan tentang Erick, Rana merasa bosan.
Kedatangan mama ini cukup mengganggu dengan lontaran pertanyaan yang itu-itu saja.
“Ma, kami sudah berpisah. Bisakah tolong jangan meminta aku untuk menoleh terus ke belakang? Dari pada membahas tentang aku, bagaimana kalau kita bahas hal lain saja? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mama.”
“Ap-apa, itu? Silakan bicara.”
“Dimana papa? Aku sangat penasaran dengannya dan adik kembarku. Apa mama tahu dimana mereka?”
“Bisakah kamu gak bahas tentang mereka, Rana? Lagi pula mama gak tahu mereka berdua dimana. Papa kamu mungkin sudah menikah.”
“kenapa dulu kalian berpisah? Apa papa punya banyak kekurangan?”
Mama Gea tak bersuara. Rana menoleh kesamping dan mendapati mamanya sedang diam-diam menangis.
"Jadi benar mama usir mereka?" bukannya menghibur ibunya yang terlihat bersedih, Rana dengan gampangnya asal menuduh. Ya, tempramen ibunya yang buruk, kuat membuat Rana berpikir bahwa bisa saja ibunya melakukan hal itu.
__ADS_1
"Mama tidak mengusir mereka, Rana. Kami berpisah baik-baik. Kita berpisah karena berbeda prinsip." dengan wajah sedih, Gea kembali teringat masa lalu.
"Begitu juga dengan aku, Ma. Pernikahanku digelar secara tergesa. Pernikahan yang aku kira sedang menjemputku pada kehidupan yang bahagia. Ternyata aku hanya terjebak dalam kebingungan setelah tercampakkan setelah tiga hari pernikahan."
"Kau masih marah akan hal itu? Pasti karena masih cinta kan?" Gea menyapu sisa air matanya, lagi-lagi ia ambil kesempatan untuk memeriksa hati Rana.
"Ma, entah itu cinta atau hal lain, mama sendiri tahu kenapa aku tidak bisa kembali ke dia. Sebesar apapun perasaanku pada dia, aku gak berani memberikannya. Apakah untuk Erick atau pria manapun, aku gak akan lagi terlibat perasaan. Jadi Ma, berhentilah menghayal tingkat tinggi tentang menantu idaman. Mama ga akan lagi punya menantu."
Ini bahaya. Gea tidak akan bisa tidur nyenyak di sisa hidupnya kalau Rana menutup hatinya untuk pria. Ia tidak mau kelak putrinya menua seorang diri tanpa pendamping.
Tidak bisa. Erick harus berhasil mendapatkan Rana kembali. Mana bisa aku biarkan Rana membuat keputusan gila ini.
.
.
Malam harinya...
Erick baru saja tiba di kediaman keluarganya setelah menempuh penerbangan yang terbilang jauh.
Suasana yang biasanya hangat saat kumpul bersama, rasanya sedikit berbeda kali ini. Keluarga ini masih digantung oleh status pernikhan Erick yang telah berakhir namun terasa begitu menutut untuk dipulihkan.
Erick terlihat muram dan hampir tidak sempat tersenyum saat berhadapan dengan kedua orangtuanya.
Sudah berada di Tanah Air tapi Erick masih harus menahan dirinya dari gejolak rasa ingin melihat Terana.
Erick terpaksa harus menahan rasa rindu beratnya hingga dua hari ke depan.
[Aku akan percaya kau benar-benar tidak menginginkanku jika kau hadir saat acara pertunanganku dua hari lagi.] pesan itu ia kirimkan kepada Rana, seperti saran dari mama Gea dan bunda Megan.
Harapannya adalah ketika nanti Rana muncul maka saat itu pula Rana tidak akan pergi lagi darinya bagaimana pun caranya.
Erick bisa saja mendatangi Terana di tempat tinggalnya tapi ia tahu kedatangannya tidak akan bersambut baik. Syukur-syukur kalau langsung di usir dengan kata-kata. Kalau ditambah hujanan air panas kan pasti IGD urusannya.
[Jadi kau ingat untuk mengundangku, baiklah aku pasti datang.] Rana.
.
,
Abis...
__ADS_1