Setelah Tiga Hari Pernikahan

Setelah Tiga Hari Pernikahan
Apa Kabarmu?


__ADS_3

"Rana, coba ulang kalimat itu sekali lagi." Erick ingin mendengar pertanyaan menarik yang baru saja menyerangnya. Ia senang melihat Rana marah karena cemburu.


"Jangan bercanda denganku ya, Erick Erlangga."


"Rana, Kau serius sedang cemburu? Wanita mana yang kau maksud? Yang ada di luar itu adalah sekertarisku." lihatlah barisan gigi pria itu yang tersenyum dengan tampannya, tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Hanya sekertarismu? Lalu kenapa dia memiliki banyak fotomu di ponselnya? Jujur saja, Kau pasti ada apa-apa dengan dia kan?"


Tuduhan Rana sepertinya tak main-main. Erick segera memanggil masuk sang sekertaris.


perempuan itu masuk dengan kepala setengah menunduk. Ia tampak gugup.


"Apa benar kau diam-diam menyimpan fotoku di ponselmu?" cecar Erick, langsung tanpa basa-basi.


Degh...


Rana terkesiap, menyaksikan cara Erick berbicara dengan sekertarisnya. Menurut Rana, ini terlalu santai, seperti sedang menginterogasi teman atau orang dekat.


Perempuan itu mengangguk, "Maaf Rick, aku salah."


Rick? Rana tak kalah kaget atas jawaban perempuan itu.


"Hapus itu semua. Kemasi barang-barangmu, mulai beaok kau akan pindah ke devisi pemasaran." tegas Erick. Sang sekertaris lalu menghapus semua gambar Erick dari penyimpanan ponselnya,dengan disaksikan langsung oleh Rana dan Erick. Pipinya memerah menahan malu. Perempuan itu keluar. Tinggallah Erick dan Rana.


"Semuanya aman sekarang. Aku tidak ada hubungan gelap dengannya."


"Bagaimana dengan ponselmu? Mana aku tahu jika kamu menyimpan foto dia juga? Boleh aku memeriksa ponselmu?"


Erick tampak sedikit panik. Bukannya apa, galeri ponsel miliknya hanya ada wajah Terana yang diam-diam iseng ia potret saat istrinya itu tidur. Ia tidak ingin ketahuan kalau selama ini sudah diam-diam mencuri pose istrinya. Bisa saja Rana akan bereaksi berlebihan dan marah. "Rana, Kau tidak perlu curiga padaku. Ayolah, kita baru bertemu setelah Kau puas tinggal di Panama. Oia, bagaimana kabar mama?"


"Kau tidak berani perlihatkan ponselmu padaku? Baiklah, lupakan." Rana pun bangkit dari duduknya, hendak pergi.


"Terana, jangan begini. Oke, kau boleh memeriksa ponselku, ya ..." memberi ponselnya pada Terana. Jauh dalam lubuk hatinya Erik penasaran mengapa Terana tiba-tiba bersikap seperti ini. "Apa pun yang kau lihat disana, tolong jangan marah." Erick berpamitan pada Rana untuk hadir di ruang rapat. Kemudian ia pun pergi.


.


.


Beralih ke posisi lain.


"Apa? Pecat? Bapak tidak bisa pecat saya semaunya. Ini masalah pribadi saya dan harus saya selesaikan!" Keisya menjawab setiap perkataan sang manejer dengan suara lantang.


Robian serta wanita yang bersamanya masuk ke restauran dengan langkah besar ke arah Keisya yang sedang terlibat perdebatan di ujung sana, tanpa menghiraukan tatapan orang lain.

__ADS_1


"Nak Robian?" mamanya Kei yang menyadari kedatangan Bian, se menghampiri pria itu. Tentu ia sedang mencegah agar Bian tidak segera mendapatkan Kei. Ia belum mempersiapkan jawaban untuk semua yang akan Kei tuduhkan padanya.


Mendengar nama yang sangat diingatnya, Kei memalingkan muka marahnya. "Robian?" wajah penuh amaraah itu berubah datar. Kei tak pernah berharap akan bertemu pria ini di saat yang tidak tepat seperti sekarang. Apalagi, Bian datang bersama Vena, wanita yang pernah bian kenalkan sebagai kekasihnya. Bagaimana perasaan Kei? Tentu saja tidak baik.


"Kei," Bian belum tahu harus bilang apa. Perasaannya campur aduk.


"Keisya, ayo kita bicara." sang manejer pergi setelah mengatakan akan menunggu Kei di ruangannya.


"Robian, jadi ini ... pacar kamu, ya?"


Kei tidak tahu kenapa mama tirinya terlihat begitu akrab dengan Robian. Bahkan Kei bisa melihat raut tak suka wanita itu pada kekasih Bian.


Robian terlihat kikuk saat ditanya tentang Vena. Gadis itu juga tidak mengiyakan pertanyaan mama Kei.


Kei berbalik tanpa permisi.


"Kei Kei Kei!" Bian menyusulnya. Akan tetapi, tangan wanita yang biasa ia panggil 'tante' itu menahannya. "Bian, makanan kita sudah siap." bagaimana mungkin Bian bisa menikmati makanannya jika keinginan untuk bicara dengan orang yang ia cari selama ini sangatlah tak terkendalikan.


"Tapi tante, itu Kei. Kita mencarinya selama ini."


"Sudah, dia pasti sedang terkejut karena kita menemukan keberadaannya. Biarkan dia bekerja dulu saja."


Sementara di ruang sang manejer.


"Tunggu apa lagi? Tinggalkan tempat ini!" Kei diusir dari ruang kerja menejer setelah panjang lebar diomeli dengan berbagai permasalahan. Pria di depannya ini pun mengingatkan Kei supaya jangan lupa menanggalkan seragam kerja yang masih ia kenakan.


"Tempat ini bukan tempat belajar. Kami membutuhkan pekerja yang handal."


"Kalau begitu bapak harus membayar waktu dua hari saya." Kei tak malu menuntut haknya. Ya, untuk apa malu? Bukankah setiap orang yang bekerja harus mendapat bayaran?


Sang manejer membuka laci dan mengambil tiga lembar uang dari sana. "Ini upahmu. Ambillah, silakan keluar." Kei meraih itu kemudian berbalik pergi.


"Jangan lupa untuk tinggalkan seragammu." si manejer menyebalkan itu tak lupa mengingatkan Kei tentang seragam kerja yang masih ia kenakan.


Dengan perasaan terluka, Kei keluar dari ruangan sang manejer. Air matanya bahkan turun tanpa diminta.


Masuk ke ruang istirahat restoran, Kei menutup pintu rapat-rapat. Sambil mengganti seragam kerjanya dengan pakaian yang ia kenakan saat turun bekerja, Kei menumpahkan tangisannya. Ia menangisi dirinya yang begitu sial.


Tidak, ia tidak boleh menangis. Kei tersadar bahwa di depan mata sudah ada ibu tirinya, yang kemungkinan menyimpan semua surat-surat berharga miliknya, yang ia butuhkan untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.


Kendatipun dengan mata yang sembab sehabis menangis, Kei tetap harus keluar dari ruangan ini, tepatnya dari restoran ini, yang mana belum ada satu orang pun yang sempat akrab denganya.


Tanpa berpamitan, Kei pergi melewati pintu samping, tak ingin mengganggu pelanggan yabg sedang makan jika dirinya muncul lagi setelah menciptakan keributan.

__ADS_1


Memastikan bahwa ibu tirinya masih disana, Kei memutuskan untuk sabar menunggu wanita itu keluar. "Kenapa tadi aku melabraknya dengan liar? Seharusnya aku lebih sabar supaya tidak sampai dipecat." Kei sedikit menyesali perlakuannya yang salah. "Uang segini cukup untuk berapa hari? Apa besok aku sudah mendapat pekerjaan yang baru?" Kei menatap lirih upah harian yang baru saja ia terima.


Sementara itu, Robian yang melihat Kei berada di luar Restoran, seketika menyudahi makannya lalu keluar. "Aku duluan." pamitnya, meninggalkan Vena dan mamanya Kei yang masih makan.


"Kei," sapa Robian, ia bisa melihat sedikit keterkejutan Keisya. Gadis itu tampak salah tingkah. Melihat mata Kei yang tampak sembab, mampu memberi rasa sakit di dasar hati Bian.


"Hai," balas Kei, ragu. Jujur, ia merasa sedikit tidak percaya diri dengan penampilannya, berhadapan dengan Bian yang tampak rapi dengan setelan cassual dari merek ternama. Sedangkan dirinya, hanya mengenakan pakaian yang ia beli di pasar, tanpa brand, yang bahkan belum sempat bersentuhan dengan setrika.


"Kau dari mana saja?" tanya Bian, tenang, pelan. Sangat hati-hati. Ia berharap tidak ada yang datang merusak suasana.


"Aku ..." Kei tak kuasa menceritakan semuanya. Ia takut tangisnya akan tumpah.


"Kei, apa ada masalah? Kenapa tidak datang mencariku? Aku akan senang hati membantumu. Kau tidak perlu menghilang, okey?" tutur Bian. Masih dalam mode hati-hati.


Kei masih terdiam.


"Mamamu begitu terpukul kehilangan kamu. Dia terus menunggumu pulang, Kei."


Sempat diam dan tidak ingin banyak bicara dengan Bian, Kei tertantang oleh pernyataan pria itu tentang ibu tiri yang katanya terus menunggunya. "Dia menungguku? Apa dia menangis histeris sambil mendekapmu? Aku lihat kalian cukup akrab. Kau harus hati-hati Bian, dia terlihat tidak senang pada kekasihmu."


"Kei, Kau sedang bicara apa? Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku sedang menolongmu untuk pulang ke ibumu!"


"Kenapa? Kau peduli padaku? Memangnya kita ini apa? Teman? Aku tidak ingat pernah akrab denganmu. Jangan sok jadi pahlawan. Aku tidak butuh bantuan siapapun untuk pulang ke wanita jahat itu!"


"Kei! Seburuk apapun ibu tiri, Kau harus menghormatinya sebagai orang tuamu!" Bian tak terima jika ada anak yang begitu durhaka pada orang tua. Apa lagi orang itu adalah Keisya. Sangat tidak masuk akal seorang Keisya melontarkan perkataan seperti itu tentang orangtuanya. "Ceritakan padaku, apa yang membuatmu marah pada mamamu? Aku akan mengerti kalau kamu bicara." lanjut Bian. Keisya lalu membalas tatapannya.


"Wanita itu sedang menuju kesini bersama kekasihmu, Bian. Jangan berlebihan atau pacarmu akan salah sangka dengan kita." Bian dan Kei saling menatap dengan tatapan sendu.


Sebuah mobil tiba dan berhenti di area parkir restoran. Tidak jauh dari tempat Kei berada.


Sepasang pria dan wanita muda turun dari mobil itu.


"Keisya?" dan dia adalah David Erlangga yang datang denvan Livy, kekasihnya. Sapaan David membuyarkan aksi adu tatap Kei dan Bian.


Lama tak bertemu, David hampir tidak mengenal Keisya. Penampilan sahabatnya itu berubah tiga ratus enam puluh derajat.


Lihatlah David yang menghampiri Kei tapi tak lupa menggenggam jemari Livy. Seolah sedang mempertegas bahwa Livy adalah gadis yang ia cintai, sedangkan posisi Kei hanya sebatas sahabat di hatinya, tidak lebih dari itu.


"Iya, ini aku, David. Bagaimana kabarmu? Apa ... penerbanganmu lancar?" Kei menampilkan seulas senyum dari bibirnya.


Bian yang paling tahu bagaimana perasaan Kei pada David, merasa tidak tega melihat Kei yang harus terluka menatap genggaman tangan David dan Livy yang begitu erat. Bian ingin melakukan hal yang sama pada Kei, akan tetapi kondisi mereka sedang tidak tepat.


.

__ADS_1


.


Thanks....


__ADS_2