
Polisi telah membawa pergi pria yang pingsan setelah dihajar bertubi-tubi oleh Erick Erlangga, beserta barang bukti yang ada, berupa beberapa camera berukuran kecil dan rekaman video wanita yang secara sembunyi-sembunyi ia nikmati selama ini. Tidak hanya Terana korbannya, melainkan juga beberapa wanita lain.
Terkecuali video yang menampakkan Terana, Erick tak bisa membiarkan bahkan pihak berwajib sekalipun menonton ketika istrinya tidak mengenakan sehelai pakaian pun. Erick juga telah menghapus sampai siapapun tidak akan bisa lagi memulihkannya.
Polisi pun mengakui bahwa pria ini memang baru bebas dari penjara pada beberapa bulan yang lalu terkait kasus yang sama.
Ezra, Erick dan Rana pun pergi dari sana. Sadar bahwa suaminya tak baik-baik saja, Rana mengambil inisiatif menyetir untuk suaminya. Ezra pun pergi dengan mobilnya sendiri.
Erick hanya diam. Pria itu terlihat masih menyimpan kekesalan. Bukankah amarahnya telah terlampiaskan? Dia seperti tak ingin berinteraksi dengan Rana.
.
Sementara di tempat lain.
David dan Livy memasuki sebuah pusat perbelanjaan. Ceritanya mereka sudah resmi jadian, walaupun hanya menjadi pasangan pura-pura. Di kencan perdana, David ingin menunjukkan loyalitasnya sebagai seorang pria.
Belajar dari Terana dan Kei, David menyimpulkan bahwa kaum Hawa menyukai belanja. Itu sebabnya, ia mengajak Livy memasuki dunia belanja ini.
"Pilihlah mana saja yang Kau inginkan. Sebelum aku kembali ke pekerjaanku, aku akan membawamu bertemu leluargaku. Jadi, pilihlah yang akan kau kenakan nanti."
Livy yang tiba-tiba diajak shopping pun nampaknya bingung harus membeli apa. Batinnya menilai betapa randomnya kekasih pura-puranya ini. Dari pemakaman ayah sahabatnya, lalu ke pusat perbelanjaan.
"David, sepertinya ... tidak ada yang aku inginkan." sumpah, pernyataan ini benar-benar membuat David terkesan pada seorang Livy. Bagaimana mungkin ada wanita yang tidak meginginkan apapun saat berada di tempat seperti ini? Sebab, tak jarang dulu David menemani Kei berbelanja dan sahabatnya itu dengan lincah memungut apa saja. Lalu tentang Terana, sepupu yang kini berstatus sebagai kakak iparnya itu pun pernah menghabiskan milyaran rupiah hanya dengan membeli beberapa tas. Namun, Rana memang keterlaluan. Berbada jauh dengan Kei yang masih mengenal batas kewajaran.
"Kalau begitu, aku akan memilih satu atau dua untukmu." David menyeret Livy menuju sebuah dress yang mungkin saja pas untuk Livy kenakan.
Melihat harga yang tertera, tanpa sadar David menajamkan penglihatannya, tak percaya.
Sebagai seseorang yang biasa berhemat, memang sangat jarang David menghamburkan uang untuk membeli pakaian.
Meski mengakui harga sepotong pakaian wanita ini cukup fantastis, David tetap dengan pendiriannya, tetap membelinya untuk Livy. Apa lagi setelah Livy mencoba dress berwarna navy itu, berhasil membuat David terpukau dan semakin terpesona.
"Seleraku memang tidak buruk. Baik itu kekasihku maupun pakaian ini, keduanya sama-sama cantik." David membatin singkat.
"David, cukup ini saja, ayo kita bayar!"
Berhadapan dengan meja kasir. Sang petugas kasir pun menyebutkan harga. Livy terlihat memeriksa dompetnya dengan raut wajah sedikit muram.
"Biar aku yang membayarnya, sayang." ujar David, sembari meraih jemari Livy dengan satu tangan menggenggamnya, sementara tangan satunya menyerahkan kartu kredit kepada si mbak Kasir.
Saat sang kasir meyambut kartu kredit dari tangannya, David menengok kanan kiri serta tak lupa melirik Livy yang ternyata sedang menerima panggilan di ponselnya. "Dua belas bulan." bisik David kemuadian, tanpa didengar Livy.
Sang kasir dengan senyumnya yang manis mengangguk beberapa kali, lalu memproses pembayaran David dan tak lupa dengan permintaan David yang menginginkan tagihan kredit selama 12 bulan.
__ADS_1
.
Di sebuah klinik. Sebelum pulang, Rana membawa suaminya untuk pemeriksaan luka yang bahkan belum sembuh tapi sudah dibawa beraksi menangkap penjahat dan membuat lukanya kembali berdarah.
Masih dalam keadaan pasif, kali ini Rana merasa bahwa pria ini terlalu pendiam. biasanya Erick akan selalu memulai pembicaraan karea selama ini Rana mengacuhkannya.
Kembali ke mobil, masih dalam posisi yang sama, Erick duduk pada kursi penumpang di samping kemudi yang ditempati istrinya.
Rana merasa semakin canggung, entah bagaimana dengan Erick.
"Apa ... ada yang ingin Kau katakan?" dengan hati-hati Rana memulai pembicaraan.
Erick menoleh, sementara Rana pun sedang menatapnya.
Keduanya saling adu pandang dalam keheningan.
Erick menarik napas pelan lalu kembali menggeser pandangannya lari dari tatapan Rana, kemudian ia menggeleng berat dengan muka datar.
Adapun Terana, kembali fokus pada setir dan menjalankan mobil. "baiklah, kita akan pulang."
"Antar aku ke rumah lama saja." pinta Erick, singkat. Akhirnya ia bersuara setelah sekian lama.
"baiklah, tapi ... dimana itu? Aku tidak tahu."
Mobil membawa keduanya berbelok ke sebuah perumahan yang cukup elit, yang dihuni oleh mereka yang memiliki tingkatekonomi menengah - keatas.
"Terima kasih," ucap Erick lalu turun dari mobil tanpa berbasa-basi mengajak Rana masuk.
Terana yang ditinggal begitu saja, tak tinggal diam. Ia pun menyusul suaminya.
"Erick," Rana pun tak tahu apa yang ingin ia katakan, membuat panggilannya menggantung.
"Kau pulanglah, kalau bunda bertanya tentangku, kau bilang saja besok pagi aku akan pulang." Erick pun masuk ke dalam rumah masa kecilnya dulu.
Termangu-mangu tidak jelas, Rana pun kembali ke mobil lalu pergi.
"Dia seperti sedang marah. Apa dia marah padaku? Apa salahku? Ah, mungkin saja dia ... perlu istirahat dan butuh privasi." Rana bergumam sendirian. "tapi kenapa aku merasa sedih? Tatapannya tadi membuatku merasa bersalah dan ... aku ... Bagaimana ini?" Rana menepikan mobil. Ia tiba-tiba dilanda rasa rindu yang sangat berat terhadap suaminya itu.
.
Hari mulai gelap.
Terlihat seorang gadis berlarian tak tentu arah, berlari dari kejaran beberapa orang lelaki yang mungkin saja berniat jahat padanya. Namun, bukannya terbebas dari masalah, gadis itu malah tersesat di tempat yang sangat asing baginya. Dia adalah Keisya.
__ADS_1
Keisya tak lagi sadar sedang berada dimana. Ia dikelilingi pepohonan dan tak tahu jalan keluar dari sana. ia menangis sambil membekap mulutnya, ia sangat ketakutan.
Tak hanya gelap yang menakukan, hujan deras pun turun disertai kilatan dahsyat dan suara guntur yang mengerikan.
Menghubungi seseorang mungkin? Kei pun tak dapat melakukannya. Ia telah kehilangan ponselnya.
Lama meratap, Kei akhirnya lunglai danĀ jatuh.
.
.
Terlalu bahagia pacaran seharian, David pulang dengan membawa perasaan lega, tenang dan gembira. Ia masuk ke kediaman keluarganya sambil bersiul ria tanpa beban. Tanpa tahu bahwa sahabatnya, Keisya sedang menghadapi bahaya sendirian.
"Seharian dari mana saja," suara Morgan menyambut kedatangannya.
"Oh, ayah sudah pulang, ayah, aku baru pulang berkencan seharian."
"Oh, jadi kau punya pacar?"
"tentulah, Karena aku manusia normal. Oia, dimana bunda?" mencari-cari keberadaan ibunya.
"Di atas." singkat Morgan sebelum menyerup teh manisnya.
Tak lama muncul pula seseorang, yang tak lain adalah menantu satu-satunya keluarga ini.
"malam, Ayah," sapanya, pelan.
"Malam, Rana, Kau pulang sendirian? Dimana Erick? Apa Kalian tidak bersama?"
"Oh, kak Erick ... dia ... sedang berada di rumah lama." jawab Rana, kaku.
Morgan mengangguk-angguk dengan gaya santainya.
Rana pun permisi menuju kamarnya.
Tiba di muka pintu kamarnya, ia menahan langkah dan melangkah masuk ke kamar sebelah, dimana semua perkakas lukis miliknya berada. Rasa lega setelah mengirim penjahat yang mengganggunya ke penjara, Rana juga ingin menceritakan bahwa hari ini Erick membuatnya terkesima saat menjatuhkan pria jahat itu. Rana membuka kain penutup salah satu lukisan itu, bertemu dengan potret bayi yang memiliki senyum indah. Ia ingin bercerita banyak hal pada sosok kecil ini.
"Hai," sapanya, dengan suara serak. "Mama merindukanmu." air matanya tumpah seketika. "mama juga merindukan papa-mu." sambungnya lagi, mencurahkan rasa yang tertahan di dadanya. Tak bisa lagi banyak berkata, Rana tak sanggup menggerakkan bibirnya untuk bicara.
.
.
__ADS_1
bersambung....