
Erick, dengan tatapan yang sulit diartikan, mengantar kepergian istrinya sampai menghilang di balik pintu kamarnya.
Oke, Erick memang melepas Rana berpergian tanpa dirinya, tapi sepersekian detik berikutnya, ia segera menghubungi seseorang yang ia utus untuk memantau sekaligus menjaga istrinya di luar sana. Tak perlu tawar menawar orang itu segera mengiyakan.
[Informasikan tentang keberadaan istriku, kemana pun dia pergi kau harus menjaganya dan jangan sampai ketahuan.]
[Baik pak Erick,] jawab seseorang itu dengan nada pasti.
Erick yang sejak tadi tinggal sendirian di dalam kamar, mulai merasa bosan. Ia pun berusaha berjalan tanpa penyanggah dan ternyata ia mampu melakukannya walaupun masih timpang.
"Rick, kamu butuh sesuatu?" tak sengaja berpapasan dengan ibunya yang baru saja menutup pintu kamar sebelah yang biasanya tak berpenghuni. Melihat Erick keluar dari kamarnya, Megan pun mengira bahwa Erick mungkin membutuhkan bantuan atau semacamnya.
"Bunda disini?" Erick sepertinya butuh penjelasan.
"Oh ini ... istrimu akan pakai kamar ini. Apa kau belum tahu?"
Erick yang penasaran pun tertarik untuk melihat isi kamar itu. Ia pun langsung mengerti, sepertinya kamar ini akan difungsikan oleh Terana sebagai tempat aktivitas melukis. Masih dengan rasa ingin tahunya, Erick mendekati beberapa papan lukis yang tertutup kain.
Bunda Megan mengikuti di sampingnya.
Erick terpaku ketika kini ia berhadapan dengan sebuah lukisan yang dimana sosok seorang bayi mungil tengah tersenyum.
Tanpa sadar sudut bibirnya ikut terangkat, seolah membalas senyum dari wajah itu.
"Bunda tidak menyangka istrimu bisa melukis seindah ini." Megan memberi pujian dan Erick mengangguk beberapa kali tanda setuju. Ia terus menatap potret bayi dalam lukisan di depannya.
Megan menyadari akan tatapan putranya. Naluri keibuan yang ia miliki membuatnya mengulurkan tangan dan mengusap pundak Erick. Ia tahu putranya sedang menahan perasaan.
"Bunda, kalau saja aku menjaga Terana sejak awal, bayi kami akan lahir dan sehat." benarlah yang dipikirkan Megan, Erick masih menyimpan perasaan duka dan bersalah atas kepergian bakal bayinya bersama Terana.
__ADS_1
"Ya, benar. Kau adalah suami yang buruk saat itu. Tapi, sekarang kondisi sudah berbeda. Lembaran baru sedang dimulai. Bahagiakan dirimu dan juga istrimu. Jangan terlalu sibuk bekerja, kamu harus memberi perhatian yang besar kepada Terana, dia teman hidupmu." terkadang Megan masih sedikit ragu akan perasaan Erick, masih ada rasa khawatir akan pernikahan putranya.
Erick mengangguk, "iya, aku pasti akan membahagiakan istriku, Bunda."
.
.
Di pemakaman pak Surya ayahnya Kei, tidak banyak yang hadir, hanya segelintir orang termasuk Robian, David beserta Livy dan ada Terana tentunya.
Prosesi pemakan telah berakhir. Satu persatu mulai bergerak pergi. "Kei, ayo kita pulang." ajak sang mama. Kei pun berdiri.
"Kei, kamu yang kuat ya," David menghampiri Kei, tak lupa ada Livy disampingnya, saling betaut jemari pula, menunjukkan kemesraan.
Bian berdecah dalam hati. Ia pun yahu bahwa Kei begitu menggilai David dan tidak seharusnya David menunjukkan kemesraan disaat Kei sedang berduka. Rasanya ingin protes, tapi Bian pun tidak tahu harus mengatakan apa. Bahkan dirinya belum mengungkapkan ucapan belasungkawa.
"makasih David," ucap Kei, memberi senyum tipis membalas tatapan David.
"Kei, kamu yang kuat, ya..." ucap Bian dengan tulus.
Kei hanya mengangguk, ia tersenyum kecil, hampir tak terlihat. "makasih Bian." balasnya kemudian sambil berlalu ke dalam mobil. Tak tahan rasanya harus lama-lama berbasa-basi dengan pria yang pernah ia ajak berkencan bahkan terang-terangan meminta dinikahi.
Dalam perjalanan Kei hanya terhanyut dalam kebisuan.
"Sepertinya cintamu si David itu sudah punya wanita baru." dengan nada mengejek sang mama memecah keheningan.
Kei sama sekali tidak terpancing untuk merespon.
"Yah, mau bilang apa, cinta memang tidak penting untuk dipaksakan. kasihan sekali kamu, Kei. kamu mengabaikan perjodohan dengan Om--" kembali terdengar nada merendah yang langsung disambar oleh Kei.
__ADS_1
"Mah! Tolong jangan membahas hal lain. Aku tidak tertarik." pungkas Keisya setengah membentak.
"Owh, sepertinya kamu marah. Lalu siapa laki-laki tadi?" tanya sang mama tanpa melepas fokus dari jalanan di depannya. tentu yang ia maksud tak lain dari Robian, yang ia rasa pernah ia lihat beberapa kali namun tidak tahu siapa namanya
"Dia Robian." singkat, padat dan jelas.
"kelihatannya dia boleh juga." si mama mulai menebak bahwa Robian tidak buruk untuk dijadikan ATM berjalan. Ia pun mulai merasa tenang, memikirkan ada satu lagi laki-laki mapan yang berminat dengan Kei.
"Dari yang mama lihat, sepertinya dia menyukaimu dan mama mendukung karena kelihatannya dia bisa diandalkan." dengan gencarnya menyemangati Keisya.
"Ma, kita lagi berduka. Bisakah jangan membahas kesenangan dulu?"
"Munafik kamu, kamu pikir hidup kita akan sama? kita sudah bangkrut. Perusahaan sudah pindah tangan, rumah kita pun akan disita dua hari lagi. kamu harus pintar, Kei, manfaatkan lelaki itu!" perkataan mamanya sontak membuat Kei menoleh, menatap wenita disampingnya ini, heran.
"Ma, Robian tidak menyukai aku sama seperti David. Dia juga punya kekasih. Lagian kita tetap akan hidup, Ma. Aku tetap akan bekerja di perusahaan itu."
"oh, putriku yang malang, mama turut berduka karena ketidakberuntunganmu mendapatkan pria muda tampan." terdengar tawa kecil di ujung kalimat dari wanita itu. "Heh, Kau pikir masih bisa bekerja disana setelah berhasil mengambil kembali perusahaan itu dari ayahmu? ya, kecuali kau mau menjadi istri simpanannya. Gimana? kau bersedia menolong kondisi ini kan?" seolah tak puas menertawai kesialan Kei, ibunya lanjut dengan ide busuk yang ia punya.
"Wanita simpanan?" Kei benar-benar tidak menyangka ide gila ini datang dari mulut wanita yang pernah dinikahi ayahnya. "Mah, begini saja, ayo kita berpisah. Masing-masing mencari hidup, tidak boleh saling menyusahkan." dengan tegas Kei menuturkan keinginannya. Kei teringat akan pesan sang ayah bahwa ketika ayah tidak ada Kei harus pergi dari wanita ini.
"Apa katamu? Tidak sopan kamu, ya, aku sudah bantu papahmu merawat kamu selama ini, bukannya terima kasih kamu malah membuangku!" sang mama terdengar geram.
Kei tak habis pikir. Dihari yang sama sehabis menguburkan ayahnya, wanita serakah ini dengan tak sabaran memikirkan banyak hal mengerikan, menyusun rencana masa depan yang indah dan tak masuk akal untuk Keisya. Keisya menangis memikirkan bagaimana sedihnya sang ayah menyaksikan betapa istrinya ini tidak menghormati kepergiannya.
Keisya sudah tahu mendiang ayahnya telah banyak melakukan kecurangan di masa lalu. Untuk itu kei tidak ingin mengikuti jejak buruk ayahnya itu yang serakah akan uang dan kekuasaan. Kei hanya mampu berdamai dan memaafkan sang ayah yang sudah tenang di alam sana.
"Jangan menangis! Berhenti menagis!" bentak si mama dengan nada tegas. Mobil menepi dan sang mama memberi perintah kepada Kei untuk keluar. "keluar kamu," meminta kei keluar dan turun dari mobil, persis seperti yang pernah dilakukannya dahulu ketika baru menikah dengan Surya, ayahnya Kei.
Kei pun keluar dengan perasaan kecewa bercampur kesal. Tega-teganya ia diturunkan di pertengahan jalan.
__ADS_1
Sementara sang ibu tiri tampak menghubungi seseorang. "Aku sudah mengirimkan alamat beserta nomor rekeningku. Silakan jemput gadis itu. Dan ingat, jangan katakan padanya kalau aku mengatur ini untuknya. Kirim dia pulang setelah habis pakai." Wanita itu tersenyum miring sambil membatin. "baiklah anakku sayang, mulai hari ini kamu akan menjadi dompet kesayanganku."