Setelah Tiga Hari Pernikahan

Setelah Tiga Hari Pernikahan
Tarik Ulur?


__ADS_3

Aku takut. Jangan menggangguku. Tolong jangan menggnggu!


Sambil meneteskan air mata, Rana terlihat berjongkok di samping dispenser air di huniannya. Tangannya yang gemetaran terus bergerak menyuapi mulutnya dengan segelas mie instan. Kebiasaan yang ia lakukan saat sedang tak baik-baik saja. Ah tidak juga. Belakangan ini ia memang bersahabat dengan makanan cepat saji satu ini.


Jangan abaikan sebuah pisau dapur yang juga sedari tadi gagangnya ia pegang erat. Siap siaga jika kemungkinan terburuk memaksanya melawan.


Semakin lahap menyantap, air matanya pun turun semakin bersemagat. Saat ini, kecemasan dan kesedihan bercampur menyerangnya. Rana sangat marah, juga takut.


Kalau papa ada, dia akan melindungi aku dari pria jahat. Papa, dimana kamu?


Berhasil selamat dari kejaran pria bejat barusan, Rana tak lantas merasa tenang ketika sudah berada di kediamannya ini. Pria itu, mungkin saja masih ada di luar dan berusaha masuk.


(Jangan laporkan aku ke polisi. Kalau lakukan itu, semua video telanj*ang-mu akan aku sebarkan ke media sosial)


Kalimat ancaman itu terus menekan Rana. Pesan teks yang barusan diterimanya mampu menguasai bagian besar hati dan pikiran, memberinya rasa takut teramat sangat hingga tanpa sadar membuang ponselnya ke sembarang tempat.


Papah, seharusnya aku langsung mencarimu waktu itu. Saat menemukan bahwa kau masih tinggal di dunia yang sama denganku. Papah, aku sangat merindukanmu. Aku merindukanmu bahkan sampai aku sudah bukan lagi anak-anak. Pah, aku ingin mengadukan semua hal yang sudah menimpaku, sambil bersandar di bahumu.


Terana terisak, mengasihani dirinya sendiri. Begitu banyak lika-liku jalan berduri yang harus ia


tempuh, tanpa berani menggandeng tangan seseorang untuk berjalan bersamanya.


Ketika hidup diperhadapkan dengan berbagai ujian, dapatkah manusia menjadikannya sebagai pelajaran?


Pernikahan bahagianya yang hanya bertahan tiga hari, masa kecil yang begitu kelam, melepaskan pria yang sangat ia cintai, hari ini diperhadapkan dengan kekejian lainnya. Apakah kesedihan akan terus mengintai Terana?


Untuk kali ini, Terana tak ingin terlihat sebagai wanita yang kuat, ia biarkan sisi lemahnya mengambil peran besar sesaat. Ia terus menangis sambil melahap mie instan dan telah menghabiskan beberapa cup mie hanya dalam hitungan menit.


"Terana" bahkan sebuah panggilan tidak lagi mampu didengar oleh telinganya.


Erick dan mama Gea baru saja tiba dan mendapati Terana yang terlihat seperti sedang bersembunyi. Pemandangan ini sungguh asing bagi Erick. Baginya, Terana terlihat aneh.


Dia terlihat frustasi. Apa karena ... Kabar pertunanganku? Erick tersenyum kecil lalu melangkah pelan mendekati Terana.


"Ran," menyentuh bahu Rana.


Zep...


Erick terkejut dengan tencapan mata pisau tajam yang menembus otot pahanya. Spontan saja ia meringis.


Hening...


Terana terdiam dan menatap tak percaya. Tatapan terkejut untuk apa yang baru saja terjadi. Ia berdiri lalu menjauh.


"Rana!" Gea yang menyaksikan semuanya dengan jelas, panik dan langsung meneriaki Rana.


"Ma-mama?" masih dengan tatapan yang sama, Rana semakin terlihat ketakutan.


"Ran, Kau ini kenapa? Erick, Kau tak apa?" Gea masih syok berat.


Sudah jelas kenapa-napa, tapi Erick menggeleng. Ia pun sama kagetnya dan tentu tidak siap dengan aksi mengejutkan ini.

__ADS_1


"Erick, aaaku, tid-tidak sengaja." Rana masih bingung akan situasi. Ia terus menatap kedua tangannya, masih tak percaya telah melukai Erick.


"Tidak sengaja bagaimana? Kau ... Ran! Telpon ambulance sekarang!"


Terana mencari-cari dimana letak ponselnya yang ia buang beberapa menit lalu. Ia sampai merangkak di bawah meja makan untuk menemukannya.


Ia berusaha untuk fokus menghubungi nomor darurat ambulance. Tapi nyatanya ia tak mengatakan apapun saat teleponnya mulai terhubung.


Mama Gea kembali merasa geram geregetan.


Erick yang mengalami luka yang cukup serius tak bisa banyak bergerak. Bahkan pisau tajam ini masih menancap di bagian pahanya. Beruntung pisau itu tidak meleset merusak aset berharganya.


Sudah jelas ada sesuatu yang terjadi pada istriku. Dia tampak seperti orang yang sedang trauma. Aneh sekali. Erick dan batinnya bergumam.


Gea mengambil alih ponsel dari tangan Rana lalu menempelkaannya ke telinga. Sayangnya, sambungan telepon telah teputus.


"ayo cepat kita pergi ke klinik atau rumah sakit terdekat."


"Tunggu Mama," Rana kemudian menghampiri Erick.


"Kau ... tak apa kan?" wajah cantiknya tampak khawatir, terlihat sangat tegang.


Erick mengartikan sikap ini sebagai perhatian yang tulus. Ia tak ingin banyak bicara, takut mengacaukan suasana hati Terana. Akhirnya ia tersenyum kecil dan terus menikmati pemandangan indah yang sangat ia rindukan, wajah Terana.


Drrrt, drrrt, drrrt...


'Bunda Kesayangan' memanggil.


Menyadari Megan sedang menelpon Erick, Terana dengan spontan merampas ponsel saat Erick hendak menjawabnya.


"Rick,"


Rick? Mengerut alis, Erick merasa tak suka jika Terana memanggilnya dengan sepotong nama ini.


"Tolong aku kali ini saja. Tolong jangan mengadukan tentang aku ke bunda-mu."


Akhirnya Erick mengerti dan terbangun dari mimpi indahnya. Rana lebih menghawatirkan dirinya sendiri dari pada khawatir akan luka tusuk ini.


Gea sendiri tak menyangka putrinya masih menyimpan kecemasan terhadap Megan Berlian.


Terlihat Erick mengangguk datar. Ia tampak kecewa, tapi ya sudahlah. Namun jangan harap Terana bisa lari dari masalah ini. Ia akan memanfaatkan kejadian ini untuk membangun kedekatan dengan Rana kesayangannya. "Oke, tapi ada syaratnya."


"Syarat?"


"Hei! Kalian berdua! Masa bodoh dengan syarat dan apapun itu. Kita harus segera cari pertolongan sebelum luka itu infeksi." mama Gea bersuara. Bisa-bisanya mereka masih sempat tawar menawar di sutuasi ini. Gea tak habis pikir betapa lambannya anak muda sekarang mengambil tindakan.


Sebelum keluar, Erick mencopot benda tajam itu dari kakinya. Tindakan ini cukup menguji nyali, tapi ia tidak ingin banyak pertanyaan yang timbul dan akan membuat Rana khawatir.


Luka itu terus mengeluarkan banyak darah. Rana yang melihatnya, merasa makin tidak tenang dan ia pun mengambil tindakan. Diambilnya sebuah dasi berwarna navi untuk mengikatnya pada sisi luka itu agar darah berhenti mengalir.


Erick terlihat ingin mempertanyakan tentang keberadaan dasi itu, kenapa Rana menyimpan dasi pria, tapi matanya tak sengaja membaca dua kata 'happy engagement' yang tertulis pada kotak dimana Rana mengambil dasi itu. Ia pun sejenak tertegun,

__ADS_1


"Tadinya ini adalah hadiah dari aku untuk pertunanganmu. Tapi ... Aku berubah pikiran dan berpikir tidak memberikannya."


"Sudahlah, jangan banyak bicara dulu, Rana. Erick harus segera mendapat pengobatan." Gea kembali menyela. "Ayo kita pergi. Sayang, ayo bantu mama bawa dia."


Rana kembali harus melawan rasa takutnya saat berpikir untuk melangkah kaki keluar.


Tak apa, ada mama. Orang itu akan berpikir dua kali untuk mendatangiku saat aku bersama orang lain.


Ketiganya keluar bersamaan. Diam-diam Erick memberi kode agar mama Gea mendahului. Gea yang paham akan maksud Erick segera berpamitan lalu buru-buru pergi.


Ya ampun anak ini, dalam kondisi kesakitan pun dia gunakan untuk bisa berduaan dengan Rana. Gea pergi membawa senyum simpulnya. Ada-ada saja kelakuan anak muda jaman ini.


"Rana, kau ... ada masalah apa?" Erick bertanya sambil berjalan keluar, Rana terpaksa harus memapahnya berjalan dan ini merupakan kesempatan besar bagi Eric. Akhirnya bisa sedekat ini dengan Terana, bahkan wanita ini ada dalam rangkulannya.


Terana tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan Erick. Buatnya, sekarang pria ini hanya sebatas orang asing yang tidak pantas berbagi cerita dengannya.


Masuk ke dalam lift.


Rana tampak gelisah. Ini membuat Erick merasa khawatir.


"Rana,"


"Sudahlah, jangan banyak bicara. Masalahku, bukan urusanmu."


"Bukan urusanku? Kau lupa kalau kita berdua-"


"Apa? Pasangan? Kau lupa? Kita sudah bercerai. Oh, ya ... Kita adalah sepupu. karena Kau adalah putra kesayangan tante Megan."


"Ran, maafkan aku."


"Maaf untuk apa?"


Saling menatap.


"Maaf karena kau menemukan kebahagiaan dengan orang lain? Katahuilah satu hal, aku sama sekali tidak apa-apa. Oh, selamat ya atas pertunanganmu."


Pertunangan apaan? Dasar perempuan ini sangat keras hati. Hah, sabar Erick, mari kita menikmati permainan tarik ulur dengannya.


Mobil yang dikemudikan oleh mama Gea tiba di sebuah rumah sakit.


Erick kembali meringis kesakitan untuk menyita perhatian Terana. Padahal terlihat jelas bahwa Rana sedang tidak fokus.


Tim medis membawa Erick memasuki ruang pemeriksaan.


"Rana, ada apa denganmu Nak? Ayolah ceritakan ke mama." akhirnya Gea memiliki waktu untuk bertanya, setelah menahan rasa penasarannya sejak tadi.


Gea menatapnya lekat. Saling menatap, pandangan mata Rana kembali dihiasi cairan bening. Seolah mengerti bahwa putrinya sedang tidak baik-baik saja, Gea mendekap Rana ke dalam pelukan hangatnya. Pelukan yang kemudian membuat tangisan Rana terdengar.


"Ma, orang jahat menggangguku."


.

__ADS_1


.


Abis dulu ya...


__ADS_2