
Nunggu lama ya? Sorry, othor lagi sibuk jualan panciπ
π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°πππππππ
Erick dan Rana baru saja mengantarkan keberangkatan bunda Megan, Papa Morgan dan Mervi. Ketiga orang itu akan melanjutkan hidup di kota Berlin, Jerman.
Rumah megah nan luas yang mereka tempati ini terasa begitu sepi seiring berkurangnya penghuni. Hanya Erick dan Rana beserta dua orang ART yang tersisa. ART selebihnya ikut diboyong ke negeri penghasil Bir terbesar di seluruh dunia itu.
Karena lukanya mulai sembuh, Erick kini sibuk bersiap diri untuk memulai aktivitas di dunia kerja.
"Rana,"
"Ya..." istrinya yang baru keluar dari kamar mandi, duduk di hadapan cermin.
"Rana, aku akan ke kantorku. Apa Kau mau ikut?"
"Pergilah, lain kali saja."
Mendengar jawaban istrinya, Erick setidaknya merasa lega bahwa Rana masih mau merespon dirinya.
Ya, memang hubungan mereka berdua telah mengalami kemajuan. Hanya saja, kedekatan keduanya belum sempurna. Keduanya masih pada tahap memperbaiki kesalahan masing-masing.
Erick tiba di kantornya dengan perasaan senang. Saat ini adalah kali ke tiga dirinya menginjakkan kaki di gedung bertingkat 5 miliknya ini.
Banyak mata memandangnya dengan ramah. Semua mengucapkan selamat pagi dan perasaan suka menyambut kembalinya dirinya yang dikabarkan akan fokus bekerja di kantor ini
Tiba di salam ruangannya, "Hai Kak, bagaimana kabarmu?" rupanya seseorang sudah menunggunya. Orang itu duduk di sofa yang memang diperuntukkan bagi tamu. Ia duduk manis sambil membolak-balikkan majalah yang isinya penuh dengan gambar dan model ****** ***** pria. Ya, perusahaan pertama yang dibangun Erick memang memproduksi CD untuk kaum Adam.#
"Seperti yang kau lihat." Erick merasa aneh, ketika Robian yang sama sekali tidak begitu dekat dengannya, sudah menunggunya di ruang kerjanya sepagi ini dan dengan akrab menyapanya dengan embel-embel 'kak Erick'.
"Kak Erick, kau pasti bingung kenapa aku ada di sini." tebak Bian. Ia pun memperbaiki cara duduknya dan melepaskan majalah itu dari tangannya.
"Ya ... kenapa Kau bisa tahu mencariku kemari? Aku tidak ingat pernah memberitahumu." melihat dinginnya abang sepupunya ini, Bian terasa menciut. Akan tetapi, ia datang dengan sebuah tekad yang kuat.
"Iya, kakak memang tidak memberitahuku. Tapi ... aku ... diberitahu oleh tante Megan."
"Oh,"
Tidak pandai berbasa-basi, "Begini Kak, aku ... punya seorang teman." Bian memulai inti dari maksud kedatangannya. Erick terlihat meyorotnya dengan alis berkerut namun tatapannya sungguh tajam.
"Temanku ini, dia tiba-tiba menghilang. Aku sangat putus asa, jadi aku ingin meminta tolong padamu, kak." Muka Bian terlihat sungguh memprihatinkan. Tapi memangnya Erick bisa apa? Erick tak habis pikir bisa-bisanya bian menghampirinya sepagi ini dan mengeluarkan keluh kesahnya tentang kehilangan seorang teman.
"Jadi Kau ingin aku pergi mencarinya? Kau pikir aku ini dukun atau semacamnya?"
"Iya. Eh, bukan Kau Kak, tap-tapi ... aku tahu Kau memiliki orang-orang yang bisa diandalkan." Yang dimaksud oleh Bian adalah orang-orang yang tentu bekerja untuk adik sepupu mamanya, yakni Megan Berlian. Tapi Bian tidak memiliki keberanian untuk meminta hal itu secara langsung pada tantenya, itu sebabnya ia memakai cara smart, yaitu mengandalkan sepupu tirinya, untuk meminta hal itu kepada bunda Megan. Bian hapal betul, tantenya itu sangat mempercayai putra sulung kesayangannya ini, siapa lagi kalau bukan Erick Erlangga.
"Bian, apa Kau mengenal istriku dengan baik?" Bukannya menanggapi keluhan Bian, Erick malah menanyakan hal lain.
__ADS_1
"Si Terana?" Tanya Bian, dengan perasaan sedikit kesal.
"Tentu saja, siapa lagi istriku kalau bukan dia?" Jawab Erick dengan nada sedikit kecang pula.
"Tentu aku mengenalnya, Kak. Kita sudah kenal sejak lahir. Tapi masalahnya, aku sedang membahas orang lain Kak. Bukan si Rana."
"Apa yang paling dia sukai?"
Hening sejenak. Robian sedang mengamuk dalam hati. "Aku tidak tahu apa yang paling disukai istrimu, Kak. Tanya saja sendiri apa susahnya?"
"Makanan? Makanan apa yang sangat dia sukai?"
"Aku tidak tahu, Kak."
"Minuman?" Erick melanjutkan pertanyaan tentang minuman apa yang paling didukai istrinya.
Jawaban Bian masih sama, "tidak tahu!"
"Apa hobinya?" Erick ingin tahu segalanya. Tapi, lagi-lagi Robian memberinya jawaban 'tidak rahu.'
"Katamu kalian saling mengenal sejak lahir! Saudara macam apa Kau ini?"
"Kami memang keluarga, Kak. Tapi kita tidak sedekat itu. Setahuku, hal yang dia sukai hanya 'Erick Erlangga!' itu saja." tandas Bian, berapi-apa. Ya, Bian tahu persis jika sepupu perempuannya itu begitu tergila-gila pada Erick Erlangga sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Bahkan, Bian tidak pernah lupa saat itu, pertama kali mereka dipeehadapkan dengan Erick di ruang panas ANTAMI. Terana jatuh hati pada pandangan pertama pada sosok sepupu tirinya yang bahkan hanya duduk di kursi roda kala itu.
Mendengar pernyataan ini dari Robian, Erick tersenyum puas. Meski mungkin hal itu tak berlaku lagi sekarang, tapi Erick sungguh bahagia jika mengingat dirinya pernah menjadi pemilik hati Terana.
"Riko sudah meninggal." jawab Erick, singkat.
"Apa?" Robian sangat kaget. Ia terdiam sejenak.
Erick tiba-tiba mendapat panggilan dari sekertarisnya, mengingatkan waktu rapat.
"Bian, aku akan rapat. Apa kau mau bergabung?" Erick memberi kode bahwa Bian harus pergi dari duangannya. Bian bangkit menyusul Erick dari belakang.
"Tapi Kak, aku sangat butuh bantuan. Kau harus menolongku. Entahlah siapapun itu, Kau pasti mengenal orang-orang yang memiliki kemampuan mencari keberadaan temanku." Bian tak putus asa.
"Temanmu sudah menghilang 2 kali duapuluh empat jam? Silakan lapor polisi." Erick menepuk punggung Bian sebelum akhirnya masuk ke ruabg rapatnya, meninggalkan Bian yang putus asa.
Drrrrt drrrt drrrt!
Bian menjawab dering ponselnya.
"Iya tante?" sahutnya dengan sopan.
"Bian, bisakah kamu ketemu tante nanti malam? Tante rindu Keisya dan tante terkurung di apartemen dan tidak tahu mencari anak tente kemana. Tante kesepian."
"Baik tante, aku akan datang nanti malam. Tante jangan terlalu banyak pikir ya, tante bisa sakit."
__ADS_1
Beralih ke mamanya Keisya.
Mendengar persetujuan Bian untuk datang, wanita berusia 45 tahun itu menyunggingkan senyum puasnya. Ia pun berlarian ke kamarnya untuk memilih salah satu dari pakaian yang akan ia kenakan malam ini.
.
Di posisi lain.
Keisya. Ia sama sekali tidak menyangka akan berakhir di dalam tebda yang dijadikan rumah tinggal oleh keluarga kecil yang telah menolongnya ini.
Yang mencengangkan tidak hanya itu. Rupanya tempat ini dikelilingi oleh sampah yang menggunung. Keluarga ini berprofesi sebagai pemulung. Akan tetapi, ketiga anak dari pasangan ini memiliki semangat tinggi untuk belajar. Saat pagi mereka pergi ke sekolah, setelah pulang mereka pun membantu ayah ibunya memilah sampah.
Tidak banyak bicara, Keisya cukup bertindak. Ia ikut memilah sampah, seperti yang dilakukan oleh keluarga ini.
Dalam hati Keisya bertekad, akan keluar dari tempat ini jika sudah mengumpulkan modal yang cukup.
.
.
Malam harinya.
Bian bertandang ke apartemen dimana ia sembunyikan mamanya Kei. Selagi di dalam lift menuju lantai 7, "Dimana kamu Kei? Kita bukan siapa-siapa tapi aku begitu kesusahan mencarimu." gumamnya, yang hanya didengar oleh dirinya sendiri.
Nit nit nit...
Sebagai pemiliknya, Bian tidak kesusahan membuka pintu, sebab ia sendiri hapal dengan kode kuncinya.
Begitu pintu terbuka...
Mencengangkan. Bian disambut dengan penampilan tak terduga. Mamanya Kei hanya mengenakan pakaian tidur yang tipisnya bukan main. Wanita itu tersenyum pula. "Silakan masuk, Robian."
"I-iya, tante." tentu saja Bian gugup. Pasalnya tidak pantas rasanya berhadapan dengan wanita.
Mamanya Kei menuntun Bian menuju meja makan. Dengan sengaja ia membuat lengan Bian menyentuh dua gunung keramatnya yang hampir terlihat. Menu sederhana tersedia rapi disana. "Sialakan duduk Robian, kita makan dulu."
Sungguh jelas terlihat tegang, Bian bahkan sulit rasanya menghirup udara.
Keduanya duduk berhadapan.
"Santai saja Bian." dengan lincah wanita yabg ia panggil 'tante' itu mengambilkan tiap menu untuk Bian. "Tante tahu, kamu pasti lelah bekerja seharian. Jadi tante berpikir untuk memberimu nutrisi lengkap malam ini." tak lupa wanita itu memberi senyum menggoda sambil mengelus ujung jemari Robian.
"Terima kasih tante." ucap Bian, dengan muka polosnya.
.
.
__ADS_1