
"Tante, makanlah saja. Jangan menatapku begitu." sebagai manusia biasa, Robian pastilah salah tingkah mendapat tatapan tak biasa dari seseorang.
"Baik Bian, ayo kita habiskan makanan ini." berhenti menggoda Bian, mamanya Kei pun fokus pada makanannya.
Mamanya Kei menyelesaikan makannya lebih dulu. Buru-buru wanita itu menyingkir entah mau apa. Yang jelas ia melesat masuk ke dalam kamar.
Bian beranjak dari kursi makan setelah makannya selesai.
Wanita itu keluar dari kamar, membawa semacam botol di tangannya.
"Tante, saya permisi pulang ya, terima kasih makanannya Tante." ucap Bian, sopan.
"Bian jangan buru-buru. Kamu harus coba ini dulu." mamanya Kei menawarkan pijatan untuk Bian, pijatan dengan aroma terapi yang mampu menyegarkan tubuh.
"Tidak perlu repot-repot Tante, saya tidak butuh pijatan." Bian akhirnya benar-benar pergi setelah berhasil menolak.
"Mamanya Kei sungguh perhatian. Padahal aku bukan anaknya. Tapi kenapa Kei sampai hati pergi darinya."
.
.
"Rana, aku akan menjemputmu." tulis Erick pada pesan yang ia kirimkan ke kontak istrinya.
Demi kemajuan dalam hubungan mereka, Erick akan bertindak lebih banyak.
Tidak mendapatkan informasi apa-apa dari Robian tentang hal yang disukai istrinya itu, Erick akhirnya memutuskan untuk mengajak sang istri ke tempat yang ia yakin istrinya akan suka. Ya, sejauh ini, hal yang Erick ketahui tentang istrinya adalah shopping dan melukis.
Hal pertama yang pria itu putuskan untuk ia lakukan bersama istrinya adalah memasuki pusat perbelanjaan yang pernah mereka jambangi sebelum menikah beberapa bulan lalu. Demi menyenangkan hati istrinya, Erick rela bersiap diri menghabiskan banyak rupiah kali ini.
"Ran, Kau ingat kita pernah kesini, kan?" Erick memberi senyum terbaiknya, sedangkan Rana terlihat tidak berekspresi sama sekali. Ia hanya mengangguk kecil.
Dengan rasa was-was, Erick meraih tangan istrinya, "Rana, ambillah apapun yang Kau inginkan. Semua yang Kau inginkan." ujar Erick, meyakinkan Rana.
Terlihat senyum kecil tersungging dibibir Terana. Perlahan pula ia menarik tangannya dari genggaman suaminya. "Kau ingin membeli perasaanku dengan semua ini?" Entah mengapa, Rana merasa bahwa Erick sedang menguji dirinya.
__ADS_1
"Ran, maksudku adalah-"
"Kau mungkin mengira bahwa semua ini adalah kebahagiaanku. Ya, dulu aku sangat mencintai semua barang mahal. Tapi itu sudah berubah menjadi trauma bagiku." Rana tiba-tiba berbalik dan melangkah pergi. Dengan cepat Erick menyusulnya.
Tanpa menunggu Erick, Terana buru-buru memanggil taxi. Tapi Erick tidak kalah cepat, ia menutup pintu taxi saat Rana hendak masuk.
Tanpa suara, Erick menyeret Rana masuk ke mobil mereka.
Rana menahan emosinya dengan cara memejamkan mata seraya menarik napas dalam. Erick melajukan mobil tanpa suara.
Tiba di jalan sepi, Erick menghentikan mobil. Rana belum juga membuka matanya. Tapi Erick yakin bahwa istrinya tidak sedang tidur.
Setelah membiarkan hening menguasai, "Ran, aku tidak bermaksud untuk membeli perasaanmu. Aku hanya melakukan apapun yang bisa aku lakukan untuk menyenangkan hatimu. Aku tidak tahan membiarkan situasi canggung ini berlama-lama menguasai kita."
Erick mulai mengeluarkan unek-uneknya. Ya, meskipun Rana bilang bahwa mereka sedang memulai semuanya lagi, tapi sudah berhari-hari tidak ada perubahan. Ini menyiksa bagi Erick.
Berbicara tentang fakta bahwa mereka adalah suami istri, sampai sejauh ini tidak ada keintiman yang terjadi. Mereka seperti dua insan yang tidak memiliki hasrat biologis yang harus terpenuhi. Sumpah, seingat Erick, baru satu kali mereka melakukan hubungan layaknya suami istri, kala baru saja menikah.
Oke, untuk hal satu itu masih bisa ditolerir. Tapi hanya sekedar berpegang tangan, bermesraan sambil melempar senyum hangat pun tidak. Boro-boro bersentuhan, Terana seperti sangat tidak nyaman dikala mereka sedang berdekatan.
Masih menaruh kepalanya di sandaran kursi, Rana membuka mata perlahan. "Apa yang Kau ingin bahas? Katakan saja." Rana menoleh ke Erick, dengan tatapan sendu.
"Aku ingin hubungan kita mengalami kemajuan. Aku ingin lebih banyak interaksi antara kita. Walaupun Kau tidak suka, setidaknya jangan mengabaikan keinginanku sebagai suami." Erick mengutarakan isi hatinya secara acak, tanpa berani menatap langsung istrinya. Ia hanya memandang lurus ke depan. Jujur, dirinya sendiri merasa begitu gugup mengungkapkannya.
"Lakukan saja apa yang Kau inginkan."
Lakukan apa saja? Erick mengulang kalimat itu dalam hatinya, seraya menoleh kesamping. Tatapannya lurus memandangi wajah datar yang memiliki tatapan sendu itu.
"Baik, akan aku lakukan. Terima kasih." Erick kembali menjalankan mobil dengan perasaan cukup lega.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" Erick terus menghidupkan suasana. Ia tidak membiarkan suasana hening kembali menguasai.
"Semuanya lancar. Bagaimana denganmu?" tanya Rana, setengah niat. Meski begitu, tampak sangat berarti bagi suaminya.
Apa? Rana sedang bertanya? Ini tidak salah, kan? Erick melompat kegirangan dalam hati. "Pekerjaanku lancar juga."
__ADS_1
Drrrt drrrt drrrt...
Baru juga memulai terasa akrab, dering ponsel mengganggu.
Erick menjawabnya meski hanya sebuah panggilan dari nomor asing.
[Halo, mas Erick,]
"Siapa ini?" tanya Erick, ia tidak mengingat suara wanita ini. Saat melirik Terana, rupanya istrinya itu sudah membuka mata, meski kepala dan punggungnya masih bersender manis.
["Aku ayu, mas... dari 'starnight'] jawab wanita itu, menjelaskan bahwa ia adalah pelayan di club malam yang pernah Erick datangi bersama dua temannya.
[Kapan main kesini lagi, mas? Kita kangen loh.] sumpah kesambar gledek, Erick tak pernah berharap mendengar gombalan receh ini. Gawatnya lagi, kuping Rana mendengar jelas. Erick tak tahu lagi bagaimana reaksi yang akan ditunjukkan Rana. Istrinya itu memang terlihat acuh dari luar. Tapi mana tahu perasaannya sedang terluka?
"Maaf ya, aku tidak sempat lagi keluar." jawab Erick seadanya.
[Yakin, mas? Disini ada temen-temenmu loh.]
"Silakan layani teman-temanku. Aku tutup ya," tanpa menunggu persetujuan, Erick menutup telepon. Sungguh sulit rasanya bernapas saat ini, seolah udara tidak sedang bersahabat lagi dengan alat pernapasannya.
Suasana kembali hening. Rana kembali memejamkan mata, menikmati perjalanan tanpa banyak bicara.
Baik, dalam situasi ini Erick hanya mampu menikmati keheningan sambil memikirkan bagaimana ia harus menjelaskan masalah yang bahkan seperti tidak dianggap oleh istrinya.
Sampailah keduanya di sebuah rumah makan. "Ayo Rana, kita turun." Erick memecah keheningan. Dengan santai ia menunggu Rana keluar dengan sendirinya. Tidak seperti kebanyakan pria yang sigap membukakan pintu untuk istri tercinta.
Begitu Terana keluar, Erick memberi lengannya untuk diraih oleh istrinya. Namun sayangnya, hal itu tidak terjadi karena ketidakpekaan istrinya.
.
.
Satu lagi...
Scrol aja...
__ADS_1