Setelah Tiga Hari Pernikahan

Setelah Tiga Hari Pernikahan
Kei Berduka


__ADS_3

Sementara ibunya sedang bicara melalui telepon, David kini berdua saja dengan Livy. Ini saat yang tepat untuk melancarkan pendekatannya tapi David tidak bisa berpikir bagaimana caranya. Tak sadar tatapannya terus mengamati gadis cantik dihadapannya ini.


Livy tahu bahwa dirinya terus diamati oleh David.


"Si 'pelanggan bunga' ini ... apa dia benar-benar mengingat aku tentang kejadian waktu itu? Saat dia datang ke toko bunga sepertinya dia biasa-biasa saja. Tapi kenapa kali ini tatapannya berubah tajam?" Livy mulai menebak beberapa kemungkinan. Pasalnya, Livy masih ingat jelas, pria ini adalah pemilik mobil yang pernah tak sengaja ia serempet. "Apa mungkin ... dia mulai mengingatku?"


"Sepertinya ... aku pernah melihatmu," David membuka suara setelah puas mengintimi Livy dengan sorot matanya. Entah kenapa malah kalimat satu ini yang ia keluarkan untuk membuka pembicaraan.


"Oh, em ... ya, anda pernah beberapa kali... Kalau tidak salah anda pernah membeli bunga di toko saya." terang Livy apa adanya. Dalam hati ia memohon, jangan sampai David mengingatnya sebagai pemilik motor yang pernah menyerempet mobilnya dan tidak bertanggugjawab.


"Apa hanya itu? Bukankah ada sesuatu yang kau lewatkan? Aku rasa ..." David sengaja menggantungkan kalimatnya membuat Livy terlihat gugup.


"Em... waktu itu ... aku sedang buru - buru, jadi -"


"Bagus, jadi rupanya kau ingat." David kemudian mengeluarkan dompet dari saku celananya, mengeluarkan selembar kertas dari sana. "Ini tagihan perbaikan mobilku." menyodorkannya pada Livy.


"Tuh kan, benarlah kalau aku pasti berhutang padanya. Tapi kenapa begitu banyak?" 


"Sepertinya Kamu sadar dan tidak terkejut. Jadi kapan Kau akan membayar hutangmu?" lanjut David, yang sampai detik ini masih menyayangkan belasan juta miliknya yang menghilang gara-gara perbaikan mobilnya.


"Em... tolong kasi aku waktu. Aku sedang kehabisan uang sekarang."


"Atau bagaimana kalau begini, sebagai gantinya, semua hutangmu kuanggap lunas kalau kamu jadi kekasihku." suara tenangnya terdengar sedikit mengerikan bagi Livy.


"Apa maksudmu?" Livy memberanikan diri membalas tatapan David. Ia masih tak percaya dengan kegilaan yang baru ia dengar.


"tenang saja, hanya kekasih pura-pura." untuk menjaga image-nya, David terpaksa mengatakan bahwa dia hanya butuh kekasih pura-pura.


Livy menolak dengan halus, ia bertanya adakah pekerjaan lain seperti menjadi alaramnya setiap pagi, namun dengan tegas ditolak oleh David. Ya, tentu saja david yang terbiasa disiplin tidak membutuhkan alarm untuk membangunkannya.


Livy terdiam sambil berpikir keras. Ia sadar bahwa dirinya memang perlu bertanggung jawab atas masalah yang ia sebabkan, tapi untuk saat ini keuangannya memang sedang kacau.


David kemudian menlanjutkan penjelasan dan mengutarakan maksudnya, ia terpaksa membuat alasan palsu tentang desakan pernikahan dan perjodohan yang diatur orang tua untuknya. Mumpung si bunda sedang menerima telepon di luar ruangan ini, David memanfaatkan waktu dengan menciptakan kebohongan kecil ini.


Tanpa keduanya sadari, bunda Megan mendengar semua lelucon manis ini dari arah pintu. Megan kemudian pergi dan mengirim pesan kepada David.


Bib..


Pesan yang baru saja masuk ke ponselnya dengan cepat dibaca oleh David.


[Sayang, tolong kamu antar Livy ke rumahnya, karena bunda mau langsung jemput ayah.]


David lalu memperlihatkan pesan yang dikirim ibunya itu kepada Livy. "Bunda minta aku buat ngantar kamu." jelasnya.


Livy berdiri. "Aku akan pulang. Kamu tidak perlu mengantarku."


"Tidak bisa. Aku yang akan mengantarmu. Lagipula aku butuh jawabanmu malam ini juga. Kau bisa berpikir dalam perjalanan." David berjalan menyesuaikan langkah Livy. rasanya ingin memegang tangan gadis ini, tapi ia sadar ini belum saatnya.

__ADS_1


.


.


Sementara di tempat lain, Rumah Sakit.


Seorang pria paruh baya yang bebrapa waktu ini hanya terbaring di ranjang pasien, sedang ditangani secara serius oleh tim medis. Pria ini tak lain adalah ayah dari Keisya. Suasana dalam ruang rawat ini berubah tegang saat beberapa menit lalu sang pasien mengalami sesak napas.


Keisya dan mama tirinya menunggu dengan raut wajah tegang. keduanya tidak saling bicara, hanya sibuk dengan hati dan pikiran masing-masing.


(Pah, please bertahanlah setidaknya demi aku) tulis Keisya pada story whatsapp-nya yang diakhiri dengan emot menanis.


Melihat pintu ruangan itu terbuka, Kei segera menghampiri.


"Kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi pasien tidak tertolong. Kami turut berduka." belum sempat Kei bertanya tentang kondisi ayahnya, Dokter lebih dulu memberi penjelasan mengejutkan yang tentu saja membuat Kei tak bisa berkata apa-apa.


Kei dan ibunya memasuki ruangan dan dimana pria yang mereka cintai itu terbaring kaku.


Kei menangis pilu sambil memeluk ayahnya sementara sang mama hanya terpaku dalam diam.


.


.


Pagi-pagi sekali, Bian terbangun saat terganggu oleh bunyi panggilan pada ponselnya.


[Ya,] sapanya, singkat.


[Aku tidak tahu Kau peduli atau tidak, sekarang aku dalam perjalanan ke rumah sakit. Om Surya papanya Kei, meninggal dunia.] Suara David, dari kejauhan yang sontak saja membuat Bian bangkit dari duduknya.


[Katakan di rumah sakit mana itu.] tak pakai lama, Bian keluar dengan tergesa setelah mengenakan jaket hangat.


"Bian, kemana pagi-pagi, sayang? Sini sarapan dulu," memang biasanya keluarga kecil ini selalu menikmati sarapan bersama. Tapi pagi ini Bian terlihat buru-buru untuk keluar. Selain itu, tampaknya dia belum mandi.


.


.


.


David baru saja tiba di depan kediaman keluarga Livy, setelah berhasil memaksa Livy untuk keluar dengannya. Ia akan ajak gadis ini bersamanya untuk mendampingi Kei yang kini sedang berduka.


Memang, Kei tidak mengabarinya langsung bahwa ayahnya telah tiada, tapi David menemukan berita itu pada story WA Kei, yang mengucapkan kalimat perpisahan singkat untuk ayahnya.


(Akan selalu merindukanmu, papa) begitulah isi dari story yang Kei tuliskan. David juga tidak begitu bodoh mengartikannya, sebab ia tahu bahwa Papanya Kei sedang sakit akhir-akhir ini.


"Maaf, Livy, aku memaksamu untuk ikut denganku. Kau tidak keberatan, kan?" David merasa tidak enak pada Livy karena sudah memaksa Livy menuruti kemauannya..

__ADS_1


"tak apa," sahut Livy, singkat.


.


.


Sementara di kediaman keluarga Erick.


Rana sedang menikmati sarapan bersama kedua mertuanya juga sang adik ipar. jangan tanyakan dimana Erick, suaminya Rana itu sudah sarapan lebih dulu di kamarnya, mengingat kakinya yang belum begitu pulih membuatnya sedikit manja.


"Ran, keberangkatan kami bertiga ke Jerman akan kita tunda tiga hari, karena beberapa hal yang harus diurus. Apa mungkin hari ini kau ada waktu shopping dengan bunda?" tanya Megan.


"Em... maaf, Bunda, hari ini ... aku tidak bisa." jawab Rana, kaku.


"Urusan? Padahal aku sedang ingin mengajaknya bersenang-senang melakukan hal yang dia sukai. Rasanya sangat aneh Terana menolak hal ini." Megan berpikir bahwa dengan menikmati waktu bersama Rana bisa memupuk hubungannya dengan keponakan sekaligus menantunya ini, layaknya ibu mertua yang baik. Namun sayangnya, Rana masih terlihat menjaga jarak bahkan terhadap Erick sekali pun.


"Hari ini, aku ... akan menghadiri pemakaman papanya Kei. Aku dan Kei baru-baru ini berteman." jelas Rana, memberi alasan mengapa dia  menolak ajakan Megan.


Ya, Rana kembali bertemu dengan Kei saat tak sengaja bertemu di rumah sakit. meskipun dulunya tidak berteman akrab, tapi sepertinya Kei begitu membutuhkan seseorang untuk berbagi kisah. Berbeda dengan Rana yang kini berubah tertutup.


"Oh, Pak Surya, iya, Bunda juga mendengar beritanya. Bunda turut berduka."


"Apa ayah - bunda tidak berencana ikut di penguburannya?" Rana berbasa-basi.


"Tidak perlu, Biar David yang mewakili. Diakan berteman dengan Kei." yang Rana lihat, ibu mertuanya sama sekali tidak menaruh simpati atas meninggalnya pak Surya. Diam-diam Rana membatin, berpikir negatif terhadap Megan.


"Dulu sewaktu bunda masih sangat muda, papanya Kei dengan gilanya mendekati bunda membawa gombalan murah, sementara istrinya sedang sakit-sakitan. Bukannya merawat Kei dan mamahnya, pak Surya malah mencari kesenangan lain. "Megan tersenyum kecut mengingat tempo dulu. "Perusahaannya itu juga hasil dari menipu saudara jauhnya. Jadi tidak heran kalau dia bangkrut semudah ini." Megan mengakhiri kata-katanya dengan meneguk segelas air.


Morgan menatap dengan alis bertaut. Baru kali ini ia mendengar potongan kisah ini. Kemudian ia tersadar dan mengakui dalam hati, bahwa istrinya ini memang memiliki pesona yang luar biasa bahkan sampai detik ini.


Sarapan selesai, Rana kembali ke kamar. Binar wajah Erick menyambut kedatangannya.


"Ran, aku ingin berkeliling. Bisakah temani aku?"


"Maaf, temanku sedang berduka. Aku harus hadir ke pemakaman ayahnya."


"Oh, ya ya..." Erick mengangguk-angguk.


Erick meraba nakas di sebelahnya dan mengambil sesuatu dari sana. "Ini kunci mobil, kau bawa saja mobilku." Rana menerima itu tanpa kata dan langsung berbalik untuk pergi. Namun apa yang terjadi, Erick menahan jemarinya. Terpaksa Rana berbalik dengan sorot mata penuh tanya. "Sayang, berhati-hati dijalan, ya,"


Rana mengangguk dengan tenang, tapi tangannya tidak juga dilepas. Dan tanpa permisi, Erick mendaratkan kecupannya di balik punggung tangan Rana. lancang sekali bukan?


.


.


.

__ADS_1


Abisssss.


__ADS_2