
Panama.
Ya, tidak terasa sudah dua pekan lamanya Terana berada di Kota Panama, negara yang terletak di Amerika tengah itu, mendampingi ibunya yang sedang dalam kondisi tidak sehat.
Selama Terana berjauhan dari suaminya, pria itu tidak pernah melewatkan waktu lima jam sekali untuk menghubunginya. Hal itu. Membuat Rana merasa senang, karena sejujurnya, Terana juga begitu merindukan suaminya itu, meskipun tidak mengatakannya.
Lewat obrolan jarak jauh, Rana dan Erick berhasil memupuk komunikasi yang lancar dan perasaan canggung antara mereka kian menipis. Apa lagi, Erick tidak pernah bosan dan selalu aktif membangun kembali komunikasi untuk mendapatkan kembali kepercayaan Terana.
Selama ini Terana menjalani terapi mental secara serius dari dokter psikiater. Beberapa hal yang menganggunya belakangan ini, yakni perasaan terganggu saat terjadi kontak fisik dengan lawan jenis, rasa gugup berlebihan yang tiba-tiba muncul tanpa alasan dan yang paling penting adalah masalah ranjang yang tidak bisa ia lakukaak peduli seberapa keraspun hatinya menginginkan sentuhan itu, tubuhnya tidak bisa diajak kerja sama.
"Rana, kau kembalilah Nak, kamu pasti ditunggu Erick." Gea merasa tidak enak hati pada putrinya, yang repa berjauhan dari suami demi menjaga dirinya yang sedang sakit.
"Mama, apa tidak sebaiknya kita pulang saja? Tinggalkan saja pekerjaan Mama. Aku akan bicara ke bunda Megan kalau mama harus istirahat."
"Tidak, sayang ... mama tetap disini. Bagi mama, bekerja lebih baik daripada diam menunggu."
Percuma Terana memaksanya, Gea adalah ibu yang keras kepala. Tapi semalam, Terana mengetahui satu hal. Ibunya diam-diam menangis sambil memandang foto anaknya yang lain, yakni saudara kembar Terana.
Mungkinkah Gea selama ini sangat merindukan putranya yang entah ada dimana sekarang?
"Maa, maaf ya, aku mau tanya ..."
"Iya sayang?"
Terana mengambil posisi disebelah mamanya. Ia menyentuh jemari wanita itu.
"Untuk apa mama mengumpulkan uang begitu banyak? Untuk siapa mama bekerja begitu keras?"
Terdengar tarikan napas panjang ibunya itu. "Tentu saja untuk anak cucu mama." Jawab Gea, pelan.
"Untukku? Ma, tidak perlu bekerja terlalu keras demi aku. Aku juga bisa menghasilkan uang sendiri. Mama juga kenal suamiku kan? Dia sangat baik dan murah hati. Aku tidak akan berkekurangan, Ma..." Rana sengaja mengatakan itu untuk melihat reaksi ibunya.
"Mama tahu itu. Tapi mama takut dia kembali membuangmu suatu hari nanti." sunngguh bukan ini yang ingin Gea katakan. Ia merasa kesal dengan mulutnya sendiri. Tentu saja hal itu tidak akan terjadi lagi, karena ia sangat yakin dengan keaungguhan menantunya kali ini.
"Atau mama sedang melakukan semuanya untuk saudaraku? Siapa namanya? Ransen bukan, Ma?"
Mendengar nama itu, Gea tak kuasa membendung perasaannya. Ia kembali menangis.
"Aku tidak bermaksud membuat mama sedih mengingat dia. Maafkan aku, Ma ..." Rana memeluk bahu ibunya dengam sayang. "Mama adalah ibu yang hebat. Aku sudah menebaknya, Mama sedang mempersiapkan sesuatu yang besar untuk Ransen."
"Kamu benar, sayang ... mama sangat merindukan dia. Kalau mama punya kesempatan, mama ingin merebutnya kembali. Mama ingin dia menjadi pria yang hebat. Mama akan buat dia melebihi Robian, Erick, David." Rana mungkin sedikit merinding mendengar ini dari mama Gea. Tapi tak apa, selagi hanya dirinya sendiri yang mendengarnya.
"Jadi suamiku belum maksimal menurut mama? Banggalah sedikit pada kemampuan suamiku, Ma."
__ADS_1
Gea diam-diam merasa lega, putrinya kini mulai menghangat lagi seperti dulu. Lihatlah, dia bahkan mulai membanggakan suaminya lagi.
Gea menghapus sisa-sisa airmatanya. Kali ini ia harus memakai situasi untuk menggoda Terana. Ia tidak ingin Rana merasakan kesedihannya sebagai seorang ibu yang gagal dan hanya bisa menatap foto putra kecilnya saja tanpa tahu akan mencarinya kemana. "Rana, apa hebatnya suami kamu? Sampai detik ini dia belum mampu mengembalikan perasaan cintamu, kan? Menurut mama, itu adalah kegagalan."
"Ma! Kata siapa aku tidak punya perasaan cinta untuknya? Aku tidak ingin kehilangan dia." Tegas Rana, sedikit salah tingkah.
"Tapi kenapa kamu masih menahan diri? Sudah lebih dari dua bulan, kenapa kalian tidak bisa melakukan kewajiban suami istri? Itu masalah besar Terana."
"Mama keterlaluan. Apa Erick mengadu hal itu ke Mama? Bisa-bisanya dia-"
"Dia tidak mengadu. Mama mendapatkan informasi itu dari dokter yang selalu kamu temui. Mama juga ingin mengetahui kondisimu Rana." Gea harus tegas dan serius. "Ran, mama merasa bersalah kalau kamu seperti ini terus. Menantu mama tidak mendapatkan haknya sebagai suami. Kamu pikir itu normal? Hubungan seperti itu tidak normal, sayang ..."
"Aku tahu, Ma. Aku paham."
"Ran, banyak perselingkuhan terjadi karena pasangan tidak mendapatkan pelayanan ranjang. Apa kamu mau suamimu dilayani oleh wanita lain?"
"Mama!" sontak saja Rana membentak.
"Apa? Kamu lupa mama sedang sakit? Ingat ya Rana, suamimu itu terlalu tampan dan mapan. Wanita mana yang akan menolaknya walaupun hanya satu malam?"
Panas hati, Terana tidak suka mendengar ini. "Aku rasa mama sudah lebih sehat. Baik aku akan pulang." Rana beranjak dan membula kopernya, segera memasukkan pakaian kedalamnya. Ia diam dengan raut wajah yang tidak baik-baik saja.
Gea tentu saja merasa terganggu. "Maaf kalau mama terlalu kasar dan menyinggungmu, Nak."
"Ma, jangan banyak pikiran. Urus saja kesehatan mama sendiri. Aku rasa ... Aku sudah baik-baik saja, ma. Terima kasih mama selalu mensuportku. Mama yang terbaik." Rana memeluk ibunya, memberi dan menerima kehangatan. Rana bersyukur memiliki Gea sebagai ibunya.
"Baik-baiklah ya Nak, keluarga kecilmu harus bahagia." Gea kembali mengatakan hal itu tanpa bosan.
"Aku dan kak Erick akan baik-baik saja Ma."
.
Rana kembali ke Tanah Air. Ia juga tidak memberitahukan pada suaminya itu bahwa dirinya pulang.
Rana tiba pada pukul tiga menjelang sore keesokan harinya. Tidak langsung ke rumah, Rana akan menemui suaminya di kantor.
Ya, ini adalah pertama kali bagi Terana mampir ke perusahaan suaminya. "selamat sore, bu!" Terana disapa lebih dulu oleh petugas lobi, tanpa Rana harus memyapa lebih dulu.
"Saya mau bertemu pak Erick. Apa beliau ada?" tanya Terana, ramah.
"Silakan, bu. Bapak baru saja menyelesaikan rapat. Bapak pernah berpesan, kalau kapan-kapan ibu kemari, boleh langsung saja." tukas sang petugas. Sangat ramah.
"Oh, sepertinya dia sudah memperkenalkan aku pada mereka." Rana merasa tersipu dengan perasaannya sendiri.
__ADS_1
Keluar dari pintu lif, langsung tertangkap oleh netranya pintu kebesaran milik suaminya. Fokusnya teralihkan pada seorang perempuan yang sedang duduk santai sambil menscrol layar ponsel tanpa menyadari kedatanganya.
Semakin ia mendekat, semakin jelas apa yang sedang perempuan ini tatap dengan serius pada layar jernih ponselnya itu, yang berhasil membuat Rana syok terapi.
Di setiap usapan layar ponsel itu, wajah Erick terpampang jelas disana. "Sial" batinnya.
"Permisi,"
Sapaan Terana sontak membuat perempuan yang duduk di kursi sekertaris itu terlonjak kaget. "Se-selamat sore, bu." ia berdiri dan setengah mati menahan rasa gugupnya, ia seperti sangat takut.
"Wanita tidak akan menolak suamimu walau hanya satu malam" kalimat pernyataan yang diucapkan mama Gea kembali terlintas di ingatan Rana. Ia merasa marah seketika.
"Ibu mau bertemu pak Erick? Mari Bu,"
"Tidak perlu. Saya saja."
Rana meneruskan langkah. Ia membuka pintu itu perlahan setelah memgetuk.
"Ra-Rana?" wajah Erick tampak terkejut. Rana tidak bisa mengartikan ekspresi ini. Ia merasa tak suka.
"Maaf, aku datang tanpa memgabarimu."
Erick tidak menyahut. Ia melangkah mendekat, menarik Rana masuk ke pelukannya. Tapi sayang, ia mendapat tepisan. Rana menjauh.
Oke, mereka belum sedekat itu untuk saling berpelukan. Tapi Erick terlalu senang bertemu lagi dengan terana, penguasa hatinya. Bukankah ini kebaikan Tuhan? Sejak kemarin Erick tidak berhasil menghubungi Rana maupun mama Gea tapi tidak berhasil. Rana tiba-tiba saja muncul di depannya dan sudah pasti ini membahagiakan dari apapun.
"Siapa wanita di luar? Wanitamu? Teman kencanmu? Selingkuhan?"
.
.
Ayo siapa dia?.....
.
THORR! PENGENNYA KEI TAPI KOK TERANA SIH YANG MUNCUL?
.
😜😜😜
Bentar.. ðŸ¤
__ADS_1