Setelah Tiga Hari Pernikahan

Setelah Tiga Hari Pernikahan
.....


__ADS_3

Maaf, baru muncul setelah puluhan purnama. Kita lanjut ya...


.


.


.


"Robian, Robian Robian!" mama Lisa tak berhenti mondar mandir di depan pintu kamar yang baru saja tertutup.


"Anak itu mulai membuatku stress!" mama Lisa terus menggerutu, sambil mengacak rambut pendeknya yang tertata sedemikian rupa, yang kemudian ia rapikan kembali.


Sementara di kamar, Robian berusaha mengenakan pakaian lengkap sesegera mungkin. "Kei, sorry. Mamaku menemukan kita. Aku tidak pernah merencanakan suasana ini."


"Tak apa Bian, ayo jelaskan ke mama kamu. Dia pasti akan mengerti kita."


Robian menghampiri Kei. "Kei, apapun yang akan dikatakan mamaku, anggap itu sebagai angin lalu ya, asal Kau tahu, nada bicara dan perlakuan mamaku agak kasar." bian tampaknya sangat kuatir pada nasib Kei.


"Tenang saja, asal kamu di pihakku, aku akan baik-baik saja."


Bian menggenggam tangan Kei, keluar bersama.


Pintu terbuka. Mama Lisa berbalik. Muncul putra tunggalnya, dengan tangan menempel bagai perangko pada jemari gadis di sisinya. Lisa membuang pandangan ke samping. "Robian, mama tidak melahirkanmu untuk menjadi seorang pria bodoh."


"Apa masalahnya, Ma? Dimana letak kebodohanku?"


"Kau bodoh karena cinta. Mama sudah tahu Kau mengejar perempuan ini sejak lama dan dia tidak pernah menganggapmu!" ungkap  Lisa, dingin, tanpa basa-basi.


"Ma! Dia punya nama." Bian tidak suka mendengar ibunya menyebut Kei dengan kata 'perempuan', terdengar seperti merendahkan.


Lisa melirik Kei sekilas. "Jawab aku, Keisya, apa yang Kau inginkan dari putraku?"


"Ma, jangan bertanya seperti itu. Kami berdua sama-sama saling suka satu sama lain." sela Robian.


"Mama tanya dia. Bukan kamu!"


"Saya, ... ingin hidup bersama Robian, Tante." Kei memeluk lengan Bian. itu berhasil meningkatkan kekesalan di wajah Lisa.


"Setelah putus asa dan tidak punya pilihan lain? Atau karena Robian sudah menyelamatkan rumahmu ini?"


"Maafkan saya, Tante," Kei menunduk, tidak berani membalas tatapan mamanya Bian.


"Ma, sudahlah. Jangan menyudutkan Kei."


"Ha, kau begitu melindunginya, seolah mama ingin memakannya." Lisa tak tau lagi harus ngomong apa. Ternyata benar, Robian memang cinta setengah mati pada gadis ini.

__ADS_1


"Baiklah, kalau Kau memang memilih dia, mama bisa apa, tapi ingat, penyesalan kau tanggung sendiri."


"Tante, aku pastikan Bian tidak akan menyesal bersamaku. Tante, aku mohon, biarkan Bian tinggal denganku."


Lisa kembali melirik tajam. "Robian, ayo pergi. Apa Kau lupa kita hampir telat?"


Lisa mengingatkan putranya tentang janji temu dengan rekan bisnis hari ini.


"Kei, aku harus pergi untuk urusan pekerjaan. Lain kali aku akan mengajakmu. Kau tidak apa-apa ditinggal sendirian, kan?"


Kei tidak langsung menjawab. Sesungguhnya ia ingin menahan keduanya untuk menikmati sarapan bersama, tapi kelihatannya urusan mereka sangat penting dan Kei mengangguk pasrah.


"Kei, tunggu aku, oke? Aku akan hubungi seseorang untuk menemanimu." Robian mengeratkan pelukannya, lalu mendaratkan kecupan di pipi Kei.


Robian pergi bersama mama Lisa. terlihat jelas senyum bahagia terpancar di mukanya. Lisa menyadari itu dan kembali mengelus dada.


Robian menjalankan mobil perlahan meninggakan pekarangan rumah Kei. Bayangan adegan manis yang tercipta barusan masih melayang-layang disekelilingnya.


"Kau bahagia sekali setelah melahap gadis itu?"


"Maksud mama?"


"Jawab mama dengan jujur, apa dia menggodamu duluan?


"Cih, dasar laki-laki brengsek. Kamu itu sudah dari kecil mama didik untuk menghormati wanita, tapi apa yang kamu lakukan? Meniduri Keisya tanpa ikatan apapun."


Robian mendelik seraya menoleh ke samping. "Mama keterlaluan."


"Oh, mama lupa, ini mungkin bukan malam pertama kalian. Waktu itu kalian berdua pulang pagi dari club malam, ya kan?"


Bian melihat dengan jelas, senyum misteri terbaca dari bibir ibunya.


"Ma, aku tahu mama tidak suka Kei. Aku tahu mama berpikir buruk tentang dia. Tapi Ma, dia adalah gadis yang aku mau. Mama tidak harus menyukainya jika tidak mau. Aku bisa mengurus kebahagiaanku sendiri tanpa bantuan mama."


"Kalau kamu serius dengan Kei, bawa dia ke rumah kita. Kenalkan baik-baik ke orang tua. Lamar dia dengan layak, menikah secara terhormat. itu prosedur yang harus kamu lakukan. Tidak boleh langsung tidur bersama."


Mungkin angin baik sedang bertiup membawa malaikat suci dan merasuki sosok Lisa. Robian menekan pedal rem. Kata-kata mama barusan benar-benar ingin ia dengar lagi. "Mama bilang apa barusan?"


Lisa membalas tatapan putranya sambil mengukir senyum manis. "Mama akan terima siapapun pilihanmu."


Sumpah demi apapun, Robian sangat senang mendengar ini. sejak kapan wanita yang telah melahirkannya ini berubah layaknya ibu penyayang yang sesungguhnya, pikir Bian.


"Trima kasih, Ma. Aku janji, Kei adalah menantu yang akan mama sayangi. Kami berdua akan memberimu banyak cucu yang imut." Bian kembali menjalankan mobil dengan perasaan bahagia.


"Cucu?" Sepertinya kata itu mampu menghipnotis mama Lisa, wanita itu tampak sumringah, membayangkan akan segera memiliki cucu. "Berarti sebentar lagi mama papa akan jadi nenek dan Kakek. Ah, Bian, mama sangat senang."

__ADS_1


.


.


Terlihat Rana keluar dari mobil yang baru saja mengantarnya. Ya, Terana baru saja tiba di pekarangan istana milik Keisya, setelah Robian merengek padanya agar Rana bersedia menemani Kei ataupun pergi mengajaknya jalan-jalan. Karena hanya Rana yang bisa dipercaya untuk dekat dengan Kei, tidak mungkin mempercayakan Kei pada David, meskipun Bian tahu David dan Kei adalah dua sahabat baik.


Melihat pintu yang tidak tertutup rapat, Rana lantas melangkah masuk.


"Keisya," panggilnya.


Beberapa kali Rana memanggil. Tidak ada sahutan sama sekali. Hanya terdengar suara langkah kakinya sendiri. Kei memutuskan langsung mencari Kei di lantai atas. Saat hendak menaiki tangga, Kei menyadari sesuatu jika netranya baru saja menangkap sosok Kei.


Rana bergegas berlari ke arah Keisya yang terbujur kaku di lantai.


"Kei!"


Rana begitu terkejut melihat kondisi Kei. Mulutnya mengeluarkan busa yang begitu banyak. Rana mengedarkan pandangan. Tidak ada siapapun. hanya ada dirinya dan Keisya.


Rana menjerit kencang. Ia ketakutan. Yang bisa ia pikirkan saat ini adalah Kei harus segera mendapatkan pertolongan. Rana menghubungi ambulance.


Di rumah sakit. Tim medis sedang bertindak untuk menolong Kei. Rana menunggu dengan hati gelisah. Seorang perawat baru saja mengabarinya bahwa keadaan Kei sangat memprihatinkan, bahkan kemungkinan terburuk sedang ada di depan mata. Keisya benar-benar berada di ambang kematiannya.


Tim medis mengkonfirmasi bahwa Kei telah mengonsumsi makanan bercampur racun. hal itu membuat Rana terkejut sampai Rana tidak bisa berkata apa-apa. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Hanya ada kalimat itu di pikirannya.


.


.


Sementara si posisi lain. David Erlangga, dari raut wajahnya pria itu tampaknya sedang sibuk dengan pikirannya. Memikirkan apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Livy, semalam.


"SETAN!" geramnya. David tidak menyangka dirinya akan semudah itu terpengaruh oleh iblis yang berhasil membuatnya merenggut malam pertama gadis itu. Hal itu terus menuduhnya dan memberinya rasa bersalah terhadap Livy.


Dalam keadaan status pacar sandiwara, tidak dalam keadaan mabuk atau apapun, hanya gara-gara kehabisan bahan bakar saat menempuh perjalanan kencan, ditambah hujan deras yang membuat keduanya terjebak sangat lama berduaan saja di dalam mobil, godaan itu pun datang.


"MEMALUKAN!" David terus mengutuk dirinya sendiri. "Aku tidak menyangka malam pertamaku harus kulakukan semudah itu dalam status tidak jelas." ia terus menggerutu seorang diri.


"Bagaimana kalau sampai bunda tahu hal ini? Ah, aku akan habis. Bunda akan membenciku. Bagaimana kalau bunda marah dan akhirnya membuangku ke gua singa?" keluhnya lagi. Kepalanya terasa akan meledak memikirkan kegalauannya saat ini.


"Tidak. Bukankah aku adalah lelaki dewasa? Seharusnya bunda atau ayah tidak perlu ikut campur privasiku." ia meraih ponselnya. "Aku harus segera melamar Livy. Suka atau tidak, dia harus menikah denganku."


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2