Setelah Tiga Hari Pernikahan

Setelah Tiga Hari Pernikahan
Menangis bersama..


__ADS_3

Niat hati, bisa rajin up kek othor lain, tapi malah terjebak maraton nonton drama Turki. Dasar aku!


Yuk ah, semangat buat pembaca sekalian🄰


**********


Saat Rana masih duduk termenung setelah mencurahkan isi hati untuk di dengar oleh sosok dalam kukisan yang ia anggap sebagai anaknya yang telah tiada, penglihatannya teralihkan ke sebuah benda asing yang tentu bukan dirinya yang meletakkannya disana.


Sepasang sepatu kecil milik bayi. Tampaknya sangat menggemaskan dan sengaja diletakkan dibawah potret bayi lucu itu. Rana pun mengambilnya.


"Kamu disini sayang?" Rana menoleh ke arah datangnya suara lembut yang menyapanya.


Bunda Megan datang dan menghampiri Rana, duduk di sebelahnya.


"Suami kamu yang memesan sepatu itu dan letakkan di sana, tadi siang saat kamu belum pulang." mendengar penjelasan bunda Megan, Rana kembali menoleh ke arah gambar wajah bayi hasil karya tangannya itu.


"Jadi benar dia adalah calon penerus keluarga ini yang masih malu-malu untuk hadir? Senyumannya begitu menggemaskan." bunda Megan memuji kehebatan menantunya dalam menuangkan sebuah hasil imajinasi menjadi sebuah karya luar biasa.


"Sayang, bunda yakin, dia sedang tersenyum dari surga. Dia memiliki sepasang orangtua yang cantik dan tampan seperti kalian berdua." Megan berusaha menggerakkan hati Terana yang ia tahu masih meredup, tak lagi berapi-api seperti beberapa bulan lalu.


"Bunda, apa dia tahu kalau papa mamanya tidak bahagia bersama?" Megan sempat bingung mendengar pertanyaan ini, tapi ia mencoba menelusuri maksud Terana.


"Tidak hanya bersedih, hatinya akan sangat hancur. Semua anak menginginkan kedua orangtuanya hidup bersama dengan bahagia. Seperti Erick Erlangga, saat papa mama kandungnya bercerai, dia dan David sangat hancur. Bunda harap, kejadian yang sama tidak berlaku bagi hubungan kalian berdua. Sayang, percayalah bahwa takdir kamu adalah menjadi milik Erick. Begitu pula sebaliknya. Tak peduli jauhnya Panama dan Jerman, kalian berdua tetap bersatu pada akhirnya. Itu adalah kekuatan cinta kalian sayang."


Teringat kembali, saat Megan mengirim Rana dan Erick ke dua negara berbeda itu, yang nyatanya tidak mampu membuat keduanya saling melupakan tapi malah menggila saat kembali bertemu setelah sebelas tahun.


Saat ini Rana kembali membelah jalan. Setelah kembali berpikir tentang suaminya, Rana memutuskan untuk mendatangi kediaman lama keluarga Erlangga itu, dimana suaminya berada saat ini.


Diatas semua kenangan manis yang sempat tercipta, tak bisa dipungkiri bahwa masih terselip keraguan untuk melangkah. Namun, panggilan hati menuntunnya untuk menemui Erick, setelah mendapat masukan dari sang ibu mertua beberapa saat lalu.


Rana melakukan panggilan telepon, menghubungi Gea.


Panggilan berlangsung ...


["Ya honey,] sapa mama Gea dari kejauhan.


"Mama," tak langsung mengatakan maksudnya, Rana terdengar sedikit bergetar.


["Lagi dimana Nak? Bagaiaman kabarmu? Apa semuanya lancar? Kau tidak lupa menemui dokter kan?"] tak lagi menanyakan tentang kondisi rumah tangga putrinya, Gea memilih peduli terhadap kesehatan mental Rana.


"Mama, aku di perjalanan untuk bertemu Erick di rumah masa kecilnya. Ma, menurut mama, apakah ... Erick dan aku akan bahagia bersama?"


["Sayang, ikuti kata hatimu. Apa yang kau rasakan saat ini? Apa di hatimu masih ada dia?"] Gea memastikan keadaan hati putranya.


"Ma, aku tidak tahu apa itu. Tapi, saat ini, ketika bersama dia, saat memikirkan dia aku merasa nyaman dan aman. Ketakutanku, menghilang begitu saja ketika aku memikirkan dia. Apa menurut mama, aku bisa berjalan dengannya lagi?"


["Kamu bisa sayang..."]


"Baiklah ma, aku akan melakukannya."


Benar, pasca persoalan yang terjadi di hidupnya baru-baru ini, Rana kerap merasakan ketakutan. Akan tetapi, ketika Erick di dekatnya, Rana merasa seakan memiliki pelindung, meski tak yakin bahwa Erick bisa melindunginya jika bahaya datang.


"Kedua orang tua kita tidak bisa mempertahankan rumah tangga. Kita berdua tidak harus sama seperti mereka." air mata Rana keluar tanpa diminta.

__ADS_1


"Aku tidak akan berharap banyak. Aku juga tidak tahu apakah cinta itu masih sama. Tapi, hatiku menginginkanmu."


Rana kembali fokus ke jalanan.


Tak terasa, mobil mengantarnya tiba di pekarangan rumah itu lagi.


Tidak lupa Rana mengetuk sebelum memutar handle pintu.


Ceklek.


Erick tidak terlihat.


"Kemana dia?" Rana mengedarkan pandangan.


Melihat pintu kamar yang sedikut terbuka, Rana berjalan kesana. Berharap, Erick akan ada di dalam.


Sesuai dugaan, Erick berada disana dalam posisi kedua tangannya terkepal sempurna, berdiri berhadapan dengan cermin.


Kamar ini tampak sedikit berantakan.


Erick belum menyadari kedatangan Terana.


Bugh!


Sebuah tinju menghantam cermin, disusul bunyi kaca berjatuhan ke dasar. Sangat tiba-tiba.


Betapa terkejutnya Rana dan spontan saja ia berlari menghampiri Erick.


"Erick, ada apa?" Rana mendorong tubuh suaminya itu saat tangan yang satu siap menghantam bagian kaca yang masih tersisa, seolah pria ini sedang menatap wajahnya sendiri dengan penuh kebencian "Ada apa denganmu?" tanya Rana, dengan raut panik.


"Tanganmu berdarah. Ayo kita obati." Rana mengalihkan pembicaraan.


"tidak perlu diobati. Nanti juga sembuh." menepis tangan Rana yang tentu membuat Rana terdiam sejenak tanpa kata. Namun, melihat suaminya dalam kondisi setengah kacau, mau tidak mau Rana harus menyikapinya.


"Aku tanya kamu kenapa? Apa yang membuatmu marah seperti orang frustasi?" Rana meninggikan nada dengan suara tegas.


"Kamu! Kamu yang membuat aku marah! Harga diriku terluka karena tidak bisa melindungimu. Aku adalah lelaki bodoh dan tidak bisa kamu andalkan, suami lemah yang tidak bisa kamu percayai!" mulai dari suara yang tagas, sampai akhirnya perlahan bergetar menahan sesaknya dada.


Erick sedang mengutarakan perasaan kecewanya. Kecewa pada semua yang sudah terjadi, tapi Rana sama sekali tidak butuh memberitahunya, sampai ia sendiri harus tahu dari orang-orang suruhannya.


"Aku memang bukan suami yang baik. Tapi setidaknya kau ceritakan padaku, membagikan kesulitan yang Kau hadapi. Aku ini suamimu, Rana." Erick masih menyimpan amarah kepada pria yang sudah ia tinju habis-habisan karena telah mengganggu kehidupan Rana. Mengingat fakta bahwa tubuh istrinya telah dilihat oleh pria lain membuat murkanya sulit untuk padam, meskipun hanya melalui rekaman kamera pengintai.


"Ya ya! Aku tahu, kamu suamiku! Karena itu tidak ingin berbagi luka-ku denganmu. Aku tidak mau membawa banyak kesulitan untukmu. Terlebih kita baru bersama setelah terpisah. Kamu harus tahu, aku sedang belajar keras membawa hatiku menerima hubungan ini kembali. Aku terus ragu untuk melangkah kearahmu karena begitu hinanya aku ini."


Erick terbungkam. Sungguh ia telah melupakan satu hal, bahwa keadaan rumah rangganya memang belum pulih benar.


Keduanya tak lagi mengatakan apapun setelah saling berteriak satu sama lain dan kini terjebak dalam keadaan saling menatap. Tatapan penuh luka dan kesedihan.


Tidak tahan dengan semua ini, Erick berjalan mendekat dan tanpa aba-aba ia menarik istrinya itu kedalam dekapannya.


Keduanya saling menangis haru, menumpahkan semua rasa bersalah, kecewa, sedih tak terbendung, lewat air mata yang mengalir membasahi pipih.


Setelah lama dalam posisi itu, Erick mengendurkan perlahan lingkar kedua tangannya, keduanya kembali saling tatap, menatap sayu wajah yang sama-sama dibasahi air mata.

__ADS_1


Sepertinya Erick tak ingin melepaskan pelukannya. Ia terus melakukannya meskipun tak seerat sebelumnya dan tidak mendapat balasan. Tapi tak apa, mungkin Terana belum bersedia memberinya pelukan. Erick memaklumi itu.


.


Masih diwarnai keheningan, Rana baru saja merawat beberapa irisan luka pada tangan Erick.


Malam sudah sangat larut. Erick menawarkan kepada Rana untuk kembali ke kediaman utama, tapi Rana menolak.


Rana mengerti bahwa suaminya ingin bermalam di rumahnya ini.


Keduanya masih kaku dan terlihat grogi, bahkan tadi sudah sempat menempel. Dasar kalian ya...


"Tidak apa - apa, kita disini saja untuk malam ini. Kita pulang besok saja."


"Kalau begitu kita pesan makanan saja." Erick meraih ponselnya untuk berselancar memilih menu go food.


"Kau mau makan apa?" Erick sudah selesai dengan menu yang ia inginkan.


"Bolehkah aku memesan yang sama denganmu?"


Menunggu kurang dari satu jam, pesanan akhirnya datang juga.


"Biar aku saja." Rana beranjak untuk berjalan ke arah pintu yang sedang di ketuk oleh sang kurir.


Dengan pengalaman semasa ia hidup sendiri, Rana kini bisa menata makanan di meja makan. Ia menyiapkan beberapa piring, mangkuk dan sendok untuk peralatan makan malam mereka berdua.


"Ran,"


"Hmmm?"


"Apa benar kamu menyanggupi permintaan bunda?"


"Ya, akan aku lakukan,"


Bunda Megan, telah melimpahkan MEGAN JEWELRY untuk dipimpin oleh Rana untuk sementara, selagi Megan berada di Jerman.


Rana menyetujui permohonan ibu mertuanya dengan syarat, Rana bebas menjalankan usaha lukisnya. Megan pun rak mempermasalahkan persyaratan dari Rana. Ia malah memberi dukungan penuh pada menantu yang kini disayanginya itu.


.


.


Di suatu tempat, tepatnya dibawah sebuah tenda plastik yang hanya beralaskan tanah. Terdapat sepasang suami isteri beserta tiga orang lainnya, kemungkinan adalah anak dari pasangan ini.


Kelima orang ini duduk mengelilingi seseorang yang sedang terbaring tak sadarkan diri, namun masih bernapas. Seorang gadis dewasa yang memiliki kulit bersih dan wajah cantik yang begitu mulus.


.


.


Bersambung...


Yg nungguin Kei, up selanjutnya ditunggu ya...

__ADS_1


Otw...


__ADS_2