Setelah Tiga Hari Pernikahan

Setelah Tiga Hari Pernikahan
Jaga Dirimu, Kei


__ADS_3

Kei menegaskan bahwa ia tidak sedang menjual kisahnya agar mendapatkan belas kasihan Bian, ia hanya ingin Bian tahu dan tidak mempertanyakan ini dan itu lagi tentang hubungan yang ia jalani dengan sang mama tiri.


"Kau ingat waktu kita tak sengaja tidur bersama? Malam itu papa masih sekarat dan kondisi kami sudah jatuh. Waktu itulah mama memulai aksinya. Tapi aku beruntung, malam itu aku bertemu kamu dan rencana mama gagal."


Kei mengecilkan api saat beras mulai berubah menjadi nasi.


Robian sibuk berperang dengan pikirannya sendiri. Satu kata darinya pun belum terdengar merespon Keisya. Ya, biarkan saja Kei bicara sepuasnya.


"Robian, aku bahkan belum sempat meminta maaf dengan benar, saat aku tidak sopan mendatangimu, mengajakmu berkencan bahkan menyebut pernikahan tanpa rasa malu. Aku sangat malu padamu kalau mengingat waktu itu." Kei mematikan kompor, membiarkan uap nasi berterbangan. Sedangkan Bian, masih dengan diamnya menikmati wajah Keisya yang tak jauh darinya, gadis yang pernah dia cari-cari keberadaannya.


"Aku tahu kamu pernah menyukai aku dan aku rasa aku harus memanfaatkan itu. Aku mulai merasa senang memikirkan tentangmu saat itu. Hal itu yang membangun rasa percaya diriku untuk mendekatimu. Apa lagi kondisi keluargaku sudah tidak tertolong, aku ingin memegangmu erat supaya aku bisa bertahan dan terbebas dari mama tiriku. Tapi rupanya ... aku sudah terlambat. Malam itu aku langsung tersadar kalau ternyata ... aku sedang menggoda kekasih orang lain. Aku merasa malu dan sangat bersalah pada Vana, pacarmu. Selama ini aku berharap kalau bisa, aku tidak ingin lagi dipertemukan denganmu ataupun David. Tapi rupanya ... kota ini terlalu sempit."


"Kei,"


"Hmmm?" Kei menoleh.


"Kau tidak perlu minta maaf."


Kei mengangguk, seraya memindahkan nasi yang baru saja matang ke dalam piring makan. "Ya, aku tahu, Kau pasti sudah memaafkanku, Bian." Kei beranjak mendekati sebuah kantong plastik yang menggantung di dinding.


Bian hanya memperhatikan sambil bertanya-tanya dalam hati, apa itu? Terlihat gadis itu mengendus beberapa kali sebelum mengeluarkan isinya. Ternyata, sesuatu yang ia ambil dari kantong plastik itu adalah lauk. Kei mengendus untuk memastikan apakah makanannya masih layak dikonsumsi ataukah sudah basi.


Kei menuang sisa lauk sarapannya tadi pagi ke atas nasi yang sudah siap di piring makannya. Ia pun memgambil posisi duduk bersandar ke dinding, tidak jauh dari Bian yang masih duduk berhadapan dengan kompor.


.


.


Di tempat lain. Sepasang anak muda sedang duduk berhadapan, menikmati makanan yang terhidang dihadapan mereka. Keduanya tak lain dari pasangan pura-pura, David dan Livy.


"David,"


"Hmmm!"


"Bu Megan akan mengenalkanmu kepada seorang gadis."


Uhuk!


Yang baru saja didengar, membuat David tersedak.


"Bersiaplah mengakhiri kencan pura-pura ini, karena mama-mu itu sangat berharap, Kau akan cocok dengannya. Dan aku lihat sendiri gadis itu, sepertinya dia adalah seleramu."

__ADS_1


"Aku? Hendak dijodohkan?" David bercak kesal. "Kau tenang saja. Mereka memang gencar membuatku menikah dengan alasan aku terlalu pasif, takut kalau aku akan menua tanpa teman hidup. Hah, itu hanya alasan. Sebenarnya yang mereka inginkan adalah aku berhenti untuk terbang. Aku heran, bunda terlalu khawatir dengan nyawaku. Seolah pekerjaan sebagai pilot adalah hal yang paling beresiko di muka bumi ini. Memang, aku pernah bilang ke mereka kalau aku akan berhenti terbang saat aku sudah memiliki pasangan." jelas David, panjang lebar.


Terlihat Livy mengangguk beberapa kali. Ya, Selama ini, Livy telah membuat keputusan besar untuk berhenti dari karirnya sebagai pramugari. Dan selama beberapa bulan belakangan ini, ia bekerja untuk Megan Berlian, bergabung di perusahaan Industri Batu Bara peninggalan orang tua Megan. Di sana, Livy menjadi salah satu kepercayaan Megan dengan bayaran yang tentu menjanjikan. Bisa dibilang, Megan mempercayakan banyak urusan kepada Livy, sementara dirinya mengurus perusahaan yang berada di Jerman, bersama Morgan, tentunya.


"Oia Livy, nanti malam ayo temani aku ke tempat Kei."


"Kau masih ingin mematahkan hatinya bahkan setelah dia tampak terpuruk?" ya, Livy masih ingat cerita David bahwa Keisya adalah sahabat baik David yang juga menaruh hati pada pria ini. Livy pun masih ingat, David pernah mengenalkan dirinya pada Kei sebagai pasangan kencan. Hal itu dilakukan David agar Kei berhenti dari perasaan cintanya.


"Bukan begitu, aki hanya mengkhawatirkannya. Biar bagaimanapun, aku harus menawarkan bantuan padanya, sebagai sahabat yang baik." jujur David.


"Niat yang sangat mulia. Semoga dia menyambut tawaran darimu dengan senang hati." Livy terdengar sedang mengejek.


"Kau marah Livy? Jangan cemburu. Kami hanya sahabat."


"Untuk apa aku cemburu? Makanlah! Jangan banyak bicara!"


.


.


Kembali ke ruangan kecil, tempat tinggal Kei.


Asik melahap makanannya, Kei kemudian tersadar, Bian sedang fokus menatapnya. "Kenapa Bian?" pertanyaan Kei memecah lamunan Robian, yang mana sejak tadi rupanya terus memandang Kei.


"Kau belum mau pulang? Bukankah tinggal menghubungi supir untuk menjemputmu? Jangan lupa memintanya membawakanmu payung." ucap Kei, kemudian lanjut makan.


"Jangan khawatirkan aku, Kei. Aku bukan anak kecil yang dicari ibunya saat berada diluar rumah ketika hujan."


Kembali Kei mengangguk, lalu fokus pada mkanannya yang hampir habis.


Tok tok tok.


Kei terkesiap mendengar ketukan pintu. Dalam benaknya, orang yang sedang mengetuk pastilah ibu pemilik kost. "Bian, sembunyi." paniknya, sampai menyeret Robian ke arah kamar mandi yang juga WC.


"Kau di sini dulu. Bahaya kalau pemilik Kost sampai tahu aku membawa laki-laki ke kamar ini!"


"Memangnya kenapa? Aku tidak mau sendirian di dalam sana." Robian menolak keras untuk bersembunyi di kamar mandi, takut.


Tok tok tok.


Kembali terdengar suara ketukan.

__ADS_1


"Ya, sebentar!" seru Kei, menyeret Bian ke arah pintu, tapi jelas bukan untuk ditampakkan. Melainkan, mengarahkan pria itu untuk bersembunyi dibalik pintu keluar yang akan ia buka.


Ceklek,


"Ups!" Bian mengangkat dua tangannya, sangat kaget dengan apa yang tanpa sengaja diperlakukan oleh tangan Kei.


Saking terburu serta panik, Keisya mendorong tubuh Bian untuk bersembunyi di balik pintu, menahannya dengan satu tangan, tak sadar sama sekali jika tangannya menyentuh bagian keramat milik pria itu.


"Tidak sopan!" teriak Robian, dalam hati. Dengan napas menggebu, ia menurunkan pandangan ke bawah dimana tangan gadis masih lancang menekannya.


"Ve...na?"


Bukan pemilik kost, melainkan kekasih Robian yang muncul di hadapan Kei.


"Kenapa kamu ... bisa ke sini?" tanya Kei, membuat Vena salah tingkah.


"Em... Robian ada di dalam kan?" tanya Vena, tanpa menjawab pertanyaan Kei.


"Oh, em... ada," Kei nampak berpikir sejenak. "Robian, keluarlah," Tangan Kei memberi kode kepada Bian untuk keluar dari persembunyian.


Kei berbalik, tanpa mempersilakan Vena masuk. Robian dan Vena berbicara di luar, Kei juga tak peduli dengan urusan mereka. Kei membereskan makan siangnya yang belum benar-benar habis.


Wajah Bian terlihat menyimpan rasa bersalah saat kembali masuk. "Kei, apa Kau mau ikut dengan kami?"


Sontak saja Kei menggeleng. Dia tidak punya alasan untuk berpergian dengan pasangan itu.


Sekali lagi Robian mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. Rasanya tidak tega meninggalkan Kei sendirian di tempat ini. "Kalau begitu aku pergi dulu, ya, Kei."


"Oh, tentu saja, Bian, ini bukan rumahmu jadi Kau harus pergi."


"Jaga dirimu, Kei."


.


.


Thanksss


Oia, selamat hari raya idul Fitri ya bagi pembaca yang merayakan.


Mohon maaf lahir dan batin.

__ADS_1


__ADS_2