Setelah Tiga Hari Pernikahan

Setelah Tiga Hari Pernikahan
Dikuasai Kemarahan


__ADS_3

"Ayo keluar," Bian mengetuk kaca mobil yang dikendarai Rana, setelah keduanya tiba di salah satu Restaurant untuk makan siang. Namun, bukannya membuka pintu, Rana hanya menurunkan kaca mobil.


"Bian, Kau yakin kita makan di sini?" Rana menatap ragu. Bukan tanpa sebab, tapi tempat ini merupakan salah satu restoran elit yang tentunya memiliki tagihan tak main-main.


"hah?" Bian nampak sedikit tak percaya dengan reaksi Rana. "Memangnya kenapa? Apa aku terlihat bercanda? tenang saja, aku yang akan membayar bill-nya.


Rana kemudian turun. "baiklah," keduanya pun masuk beriringan.


"Apa Erick begitu kikir sehingga Rana tidak terbiasa lagi dengan kehidupan glamornya?" Bian membatin. Ia merasa jika Rana yang sedang bersamanya bukan lagi Rana yang dulu.


Tidak banyak waktu menunggu, beberapa menu telah siap.


Bian terus menyelidiki wajah Rana yang berada di depannya. Menurutnya, Rana memang berbeda, seperti cerita yang sempat beredar di keluarga. Penampilan sepupu perempuannya ini tidak lagi seperti dulu. Dari riasan wajahnya, pakaian yang dikenakan, semua tampak berubah.


"Hei... Apa selama ini kak Erick memintamu untuk hidup hemat?" akhirnya sebuah pertanyaan mengalir dari mulutnya, membuat Rana hampir saja tersedak.


Sebagai saudara sepupu yang memang tidak terlalu dekat dan tidak saling peduli kecuali ada motiv tertentu, Bian memang tidak tahu menahu dengan jelas apa yang selama ini yang terjadi antara Eeick dan Rana. terlebih lagi Rana tidak terbiasa mengumumkan apa yang sedang ia alami.


"Kalau sudah menikah Kau akan mengerti bagaimana seharusnya sebuah keluarga mengatur keuangan." terang Rana, tak peduli bian mengerti atau tidak. Ia hanya sekedar menjawab.


Terlihat Bian mengangguk-agguk dengan bibir atas yang sengaja dimiringkan. "Cih, kedengarannya benar. Kau pasti nyesal kan dinikahi kak Erick?"


"Kenapa? Apa sekarang aku terlihat jelek?"  Rana, dengan nada setengah tegas. Biar bagaimanapun ia tidak setuju bila suaminya direndahkan oleh orang lain.


"Oh tidak!" Bian menampilkan senyum manisnya. "Kau tetap satu-satunya yang tercantik di lingkaran persepupuan keluarga kita." masih dengan senyum mengembang, Robian mengedip kedipkan mata seraya mengingat-ingat sesuatu. "Oho, ya, aku hampir lupa, ada satu lagi, Baby M juga imut." entah itu penting atau tidak, tapi rupanya mampu memancing senyum Rana mekar keluar.


"jadi kenapa kau mengajakku makan siang?" Rana yakin, Bian punya hal penting yang ingin ditanyakan.


"Sebenarnya tidak ada, oh ya ... sejak kapan kau akrab dengan Kei?'


"Cissh! Kau butuh info tentang Kei rupanya? Dasar cinta buta."


Bukan dibalas dengan jawaban yang ia perlukan, Bian malah mendapatkan ejekan. Terasa menyebalkan bagi Bian.


"Aku sudah move on dari orang itu. Dan asal Kau tahu, beberapa hari yang lalu Kei mendatangiku dan dengan lantang mengajakku berkencan. Kurasa dia agak aneh. Kenapa dia tiba-tiba mengemis cinta dariku? Memangny aku ini tempat pelarian?" Bian menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia salah tingkah saat menjelaskannya pada Terana.


"Kau bukan type-nya. Jangan berharap." singkat Rana. Yang ia tahu, Bian memang sangat memggilai Kei sejak dulu, tapi sayangnya Kei tak pernah menanggapi sinyal dari Bian.

__ADS_1


"Hah, dia pun bukan typeku lagi. Aku sudah punya gebetan baru." sombong Bian.


"Oh ya? Siapa dia? Bian, apa kau akan segera menikah?" Rana terlihat berusaha seantusias mungkin.


"Menikah? Ah, kurasa ... tidak."


Obrolan receh ala keduanya berlangsung selagi menikmati makan siang.


Drrrt drrrt drrrrt...


Sebuah panggilan masuk membuat ponsel Rana berdering. Ia segera menjawab saat matanya membaca nama si penelepon.


Menjawab telepon...


"Ya Ezra, bagaimana?"


"Sudah kudapatkan tempat tinggal orang itu. Polisi sedang menuju ke sana, ayo kita susul." Ezralia terdengar begitu berapi-api saat menghubungi sahabatnya, Terana.


Tanpa sadar Terana berdiri dari duduknya. "Kau jemput aku di Sky Resto" lanjut Rana, kemudian sambungan telepon berakhir begitu saja.


Bian ikut berdiri. "Rana, ada apa? Kau harus pergi buru-buru?"


Bian menahan tangan Rana. "Apa kau baik-baik saja? Apa butuh bantuanku?" Bian turut merasa cemas ketika ia menyadari bahwa Terana mungkin sedang tak baik-baik saja. Nampak dari raut wajah Rana yang berubah pucat.


"Temanku akan menjempitku. Jangan khawatir." pungkas Rana, tersenyum kecil sambil berlalu, sementara Bian harus membayar tagihan pada kasir.


Benar-benar tepat waktu, Ezra tiba di depan SKY Resto tepat saat Rana keluar dari sana. Untuk memudahkan perjalanan, keduanya pergi dengan mobil yang sama. Rana harus meninggalkan mobil suaminya di halaman restoran.


"Kau yakin di sini tempatnya?" tanya Rana saat Ezra berhenti di halaman sebuah rumah susun.


"Iya aku yakin. Ayo kita tangkap dia." Ezra terlihat begitu berani. Dari pancaran matanya sudah terbaca jika ia sedang menahan amarah.


"Tapi Ezra, polisi belum tiba." Rana menahan tangan Ezra. Ezra dapat merasakan ketakutan Rana, yang terasa dari dinginnya tangan sahabatnya ini.


"Sebelum polisi membawanya, aku akan menghajarnya lebih dulu dengan tanganku. Kau jangan takut, ayo turun." Ezra keluar. Mau tak mau Rana menyusulnya.


Ya, keduanya sedang mendatangi penjahat yang sudah berani mengganggu Rana. Tentu saja hal itu membuat Ezra meradang.

__ADS_1


Penjahat berkedok teknisi itu tak bisa di diamkan terlalu lama berkeliaran bebas. Maka Ezra yakin bahwa lelaki itu akan pindah dari 'rumah susun' ini ke 'penjara' hanya dalam hitungan menit ke depan.


Keduanya menaiki tangga darurat menuju lantai 2.


Baik Ezra maupun Rana, sama - sama menarik napas panjang dan menghempasnya dengan kasar dalam sekali hentakan, begitu tiba di depan pintu yang mereka yakini sebagai tempat tinggal pria itu.


Bruak!


Baru saja Ezra hendak mendobrak pintu, keduanya sama-sama dikejutkan dengan suara gebrakan yang terdengar berasal dari dalam. Sempat keduanya saling pandang dalam beberapa saat.


Glek...


Pintu terbuka, yang rupanya tidak terkunci. Namun, langkah keduanya tercekat di muka pintu tatkala menyaksikan sendiri seseorang tengah menghujam target mereka.


Bugh bugh bugh bugh....


"Erick!" pekik Rana, begitu mengenali sosok yang sedang menghujani tinjunya pada pria yang sepertinya sudah tak berdaya itu.


Bruk...


Pria itu jatuh tak sadarkan diri setelah Erick melepaskan cengkramannya.


Ezra yang kemudia menyadari Erick adalah suami Rana, hanya mampu mengumpat dalam hati karena tidak sempat mendapat bagian menghajar pria brengsek itu. "Sial, Erick lebih dulu menghabisinya."


Rana, tanpa sadar ia menghampiri Erick yang terpaku ditempatnya berdiri.


"Ke-kenapa Kau bisa ada di sini?" Rana mencermati detile pria ini, sambil bertanya dalam hati, apa benar orang ini adalah suaminya, rasanya sulit mempercayai bahwa Erick mampu memukuli orang secara brutal seperti tadi.


"Kau masih bertanya kenapa aku disini? Kau benar tidak tahu alasan kenapa aku menghajar orang ini?"


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


makasih bestie...


__ADS_2