Setelah Tiga Hari Pernikahan

Setelah Tiga Hari Pernikahan
Tidak harus percaya


__ADS_3

Bian meminta baik Keisya maupun mama tirinya itu untuk masuk ke dalam mobil miliknya. Menurut Bian, kedua wanita beda usia itu memiliki persoaalan yang tidak sederhana, keduanya harus menyelesaikannya dengan baik.


Mamanya Kei yang tadinya sempat berpikir, akhirnya mengangguk juga. Ia pun meminta izin untuk bicara empat mata dengan Kei, putrinya. Ah, tentu saja wanita itu harus mencegah agar Bian tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.


Keduanya kini berada di dalam mobil yang bahkan bukan milik mereka itu. Bian, Vena serta David dan kekasihnya berdiri menunggu di luar.


"Sayang sekali, Kei ... dua pria yang kau sukai itu sudah punya kekasih. Tapi Kau masih beruntung, baik David ataupun Bian, mereka berdua masih peduli padamu." Kei sedikit tak menyangka ibunya membuka obrolan yang mengandung ejekan untuknya.


"Aku tidak pedulikan orang lain saat ini. Yang aku pedulikan hanyalah diriku sendiri. Dimana surat-surat berharga milikku? Apa mama menyimpannya? Berikan itu padaku karena aku sangat membutuhkannya." tentu yang dimaksudkan Kei adalah dokumen pribadi miliknya seperti tanda kependudukan, Ijazah, buku tabungan dan dokumen penting lainnya. Tidak penting lagi bagi Kei untuk meributkan tentang kejahatan yang telah ibu tirinya lakukan padanya.


"Hei! Siapa suruh Kau menghilang? Mama tidak menyimpan apa yang tidak penting bagi mama. Oia, dengar-dengar rumah itu sudah di lelang dan pasti sudah memiliki pemilik baru. Sayang sekali Key, sampah-sampah yang kau tinggalkan di kamarmu mungkin sudah lenyap dibuang ke dalam api. Silakan urus semuanya sendiri."


"Ma! Setidaknya Mama punya sedikit rasa kasihan padaku! Dalam kondisi seperti sekarang, bagaimana aku bisa mengurus semuanya?" dalam keadaan tidak ada uang seperti saat ini, Kei tidak mampu mengurus itu semua.


Lihatlah, mama tirinya hanya menggidik bahu tanpa rasa prihatin. Kei kesal. Dengan muka marah Kei keluar dari mobil itu dan menutupnya dengan kasar.


Tanpa pamit, Kei melangkah pergi begitu saja.


Bian tentu tak tinggal diam. "Kau antar tante ke apartemen ya Ven, aku akan susul Kei." Bian meninggalkan Ketiga orang itu, David, Livy serta Vena, setelah berpesan pada Vena untuk mengantar ibunya Kei pulang.


Bian menyusul Kei. Kei berjalan sangat cepat lalu memasuki mobil angkot yang berhenti di depannya. Bian tak ingin tinggal, ikut masuk pula.


Situasi dan kondisi yang tidak mendukung karena keberadaan penumpang lain di dalam angkot, terpaksa Kei dan Bian saling membisu dalam posisi duduk yang berhadapan.


Padahal, Kei sangat ingin bertanya mengapa Robian mengikutinya.


Belum jauh perjalanan ditempuh, "Kiri, bang ..." Kei memberhentikan angkot. Ia pun turun dari sana setelah membayar tarif angkot dengan uang pas.


"Kei, tunggu aku." Bian lantas menyusul.


"Mas, Mas! Belum bayar Mas!" langkah Bian terhenti oleh suara pria yang meneriakinya.


Tidak hanya Bian, Kei pun ikut berhenti lalu berbalik.


"Tunggu ya, Kei." sambil merogoh kantong celananya, Bian memohon agar Kei tidak pergi.


"Kembaliannya simpan saja, bang." Bian lalu menghampiri Keisya.

__ADS_1


"Kenapa mengikutiku?" tanya Kei, dengan sikap biasa saja.


"Aku mau mengantarmu pulang."


Kei berdecih pelan, tapi masih bisa terdengar. "Lelaki macam apa yang meninggalkan kekasihnya untuk menyusul perempuan lain?" Kei mendumel sambil terus melangkah.


Bian tak peduli, ia terus mengikuti langkah Kei masuk ke dalam gang sempit.


"Mamaku mungkin merepotkanmu selama ini. Maaf, Bian. Setelah ini, tidak perlu mengurusnya lagi."


"Kei, aku tidak tahu ada apa antara kamu dan mamamu sampai kamu pergi meninggalkan dia. Tapi bisakah kamu pikirkan kembali tindakanmu ini? Lebih baik kalian tinggal bersama dan saling peduli satu sama lain. Apa lagi kondisi keluargamu baru saja ambruk dan kalian berdua berduka kehilangan orang yang dicintai."


"Aku sudah sampai. Kamu bisa pergi." ujar Kei, tepat di hadapan sebuah rumah bangsal tua yang terlihat jauh dari kata layak.


"Kei, Kau tinggal di sini?"


Tanpa menjawab, Kei melangkah pergi dan benar saja, ia mengayun langkahnya ke dalam bangunan yang tampak gelap meski hari masih siang itu.


Bian penasaran, tempat seperti apa yang kini menjadi tempat berlindung seorang Keisya, yang sebelumnya tinggal di istana megah.


"Bian, pulanglah. Aku serius"


"Jangan bercanda, Bian. Aku tidak punya air minum untuk diberikan padamu."


Druuuuuhhhhhh..


Suara guntur disertai kilat bergemuruh, tiba-tiba saja cuaca berubah mendung.


"Kau lihat? Bahkan alam ini tidak mengizinkan aku pergi." Bian dengan santai ikut masuk saat Kei membuka pintu.


Terserah Robian, Kei malas berdebat.


Ruangan berukuran kecil yang tampak gelap meski Kei telah menyalakan lampu. Cahaya lampu yang begitu redup, membuat Robian merasakan kengerian. Apa lagi dinding ruangan ini dipenuhi dengan coretan dan gambar-gambar tak jelas.


Bian terpaku sejenak. Satu kata untuk menyimpulkan keadaan kamar ini, 'HOROR'.


Segera Keisya menggantung tas selempangnya, lalu masuk ke kamar kecil.

__ADS_1


Di luar, hujan lebat sudah mengguyur. Robian mendekat pintu kamar kecil itu. "Kei, sedang apa Kau di dalam sana? Buka pintunya, aku mau ikut masuk." Bian tidak peduli lagi dengan harga dirinya sebagai seorang pria. Entah kenapa kali ini Ia merasa ngeri.


"Aku sudah bilang, pulanglah. Tempat seperti ini tidak cocok denganmu." Kei keluar dari sana dengan pakaian berbeda, sedikit lebih lusuh dari pada yang ia kenakan sebelumnya.


"Aku tidak mau pergi sebelum hujan reda. Kau tahu kan, tadi kita naik angkot dan mobilku dibawa Vena untuk mengantar mamamu pulang."


Tik tik tik tik...


Tetesan air hujan masuk melalui atap bocor. Kei mengambil ember di kamar mandi untuk menampung tetesan air itu, supaya tidak memenuhi lantai.


Bian hanya bisa menggeleng heran. Tempat ini benar-benar tidak layak, pikirnya.


Kei menghampiri kompor sumbu dan menyalakannya. Sepertinya gadis itu hendak memasak. Bian hanya diam di tempatnya berdiri, memperhatikan Keisya yang begitu mandiri melakukan semua hal.


"Duduklah, jangan berdiri saja." Robian tak bergeming.


Keisya tahu, Robian tidak tahu harus duduk di mana.


Kei memasukkan beras setengah takaran ke dalam panci, beras yang ia ambil dari kantong hitam kecil. "Maaf, aku memasak nasi untukku saja, karena aku belum makan. Kau sudah makan, kan?"


"Iya Kei, silakan." Bian mendekat dan duduk di dekat Kei, berhadapan dengan kompor yang memang hanya menggeletak di lantai itu.


Sesekali Kei mengaduk isi panci kecilnya agar nasi tidak gosong.


Tidak membiarkan keheningan menguasai, "Kei, Kau benar-benar sesuatu. Aku tidak pernah membayangkan kalau Kau hidup di ruangan kecil ini sendirian. Kau sangat berani."


Setelah diam memikirkan jawabannya, "Aku baru tiga hari tinggal di sini." sahut Kei. "Sebelumnya, aku tinggal di tempat yang lebih mengerikan dari ini."


Bian terdiam. Ia ingin bertanya lebih banyak lagi. Bian sangat ingin tahu bagaimana kehidupan Kei selama ini.


"Hari itu, saat pulang dari pemakaman papa, aku dan mama berdebat dan wanita itu menurunkan aku di jalan yang cukup sepi. Tak lama, aku didatangi beberapa orang dan mereka memaksa akan membawaku. Aku lari ketakutan ke dalam hutan. Ponselku terjatuh tapi aku berhasil sembunyi. Mungkin setelah itu aku kehilangan kesadaran, begitu aku bangun, aku berada di tempat asing. Sebuah rumah beratap terpal, hanya berdinding kardus dan pliwot bekas."


Kei menjeda kalimatnya. Bian menatapnya tak percaya.


Masih dengan suara tenang, "Kau pasti tidak percaya kan, Bian, aku rasa Kau harus berhenti menuduhku pergi meninggalkan wanita itu. Dialah yang mau berpisah dariku. Kau tidak harus percaya ceritaku ini, tapi mama sudah dua kali mencoba ingin menjual tubuhku kepada pria hidung belang. Itulah yang kualami." sambil mengaduk masakkan yang mulai mendidih.


.

__ADS_1


.


Thanks...


__ADS_2