Si Pengecut Yuria

Si Pengecut Yuria
Bab 10 Demam Tinggi


__ADS_3

Bel tanda pelajaran akan di mulai sudah berbunyi, namun kursi Yuri masih kosong. Itu membuat Rapka bertanya-tanya mengapa Yuri tidak masuk kelas, saat ia teringat Yuri yang tiba-tiba pergi menerjang hujan kemarin membuatnya berfikir mungkin dia terserang demam.


Tiba jam istirahat seperti biasa ia dan Noah pergi ke kantin, tapi saat melewati ruang guru mereka berpapasan dengan Imel.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Rapka.


"Oh aku habis bertanya tentang Yuri, katanya dia tidak masuk sekolah karena sakit. Hhhhhh apa kemarin ia memaksa pulang?" jawab Imel sambil bertanya sendiri.


Rupanya apa yang di khawatirkan Rapka benar terjadi, ini membuatnya kembali merasa bersalah.


"Pulang sekolah nanti aku mau menjenguknya, apa kalian mau ikut?" tanya Imel.


"Baiklah, kita pergi bersama," sahut Rapka ingin memeriksa separah apa sakitnya, sementara Noah tak mengatakan apa pun tapi ia tetap ikut juga.


Dengan menggunakan sepeda mereka semua pergi bersama, Imel yang sudah pernah bertamu memimpin mereka mengetuk pintu.


"Iya... " sahut nenek seraya membukanya.


"Oh Imel!" seru nenek senang melihat kedatangannya lagi.


"Siang nek, aku mendengar Yuri sakit. Apa sekarang ia sudah baikan?" tanyanya.


"Pagi tadi masih panas, entah sekarang sebab dia masih tidur di kamarnya. Ayo masuk!" ajak nenek.


Mereka pun mengikuti nenek masuk ke dalam, nenek mempersilahkan mereka duduk sementara ia akan memeriksa keadaan Yuri terlebih dahulu.

__ADS_1


"Tubuhnya masih panas tapi dia sudah bisa bangun, silahkan masuk saja ke kamarnya. Nenek akan buatkan teh untuk kalian," ujar nenek yang kembali tak lama kemudian.


"Maaf merepotkan," sahut Imel.


"Hanya teh saja," kata nenek yang justru senang akan kehadiran tamu di rumahnya.


"Pokoknya kita harus ke dokter!" seru Imel yang suaranya sampai terdengar ke dapur.


Saat nenek kembali untuk memberi teh ia melihat Imel benar-benar cemas pada keadaan Yuri, itu membuatnya senang dan memutuskan untuk tidak mengganggu.


"T-tidak perlu, nanti juga panasnya turun," tolak Yuri.


"Tidak boleh begitu... kau adalah anggota club voli putri yang berharga!" ujar Imel tegas.


Membuat Yuri tak bisa bicara, dalam benaknya berputar kata berharga hingga ia tak mendengar apa lagi yang Imel katakan. Tahu-tahu Imel pergi keluar bersama Noah, kini tinggalah ia berdua saja dengan Rapka.


"Maafkan aku!" seru Rapka tiba-tiba.


Ia menundukkan wajah, tak berani menatap Yuri karena terlalu menyesal.


"Karena aku..." kata selanjutnya yang ingin Rapka ucapkan tak bisa keluar dari mulutnya.


"Sampai Imel kembali bersama dokter sebaiknya kau istirahat," akhirnya Rapka memilih untuk menelan semua kata-kata itu.


Ia berjalan keluar, membiarkan Yuri beristirahat sementara ia akan menunggu Imel dan dan yang lain di luar.

__ADS_1


"Lho! kenapa kau di sini?" tanya nenek yang baru kembali dengan sekeranjang ubi.


"Oh, Yuri harus banyak istirahat jadi aku tidak ingin menganggunya. Sampai dokter datang sebaiknya aku di sini saja," sahut Rapka.


Nenek tersenyum kemudian ikut duduk di samping Rapka, menatap langit cerah ia berkata "Yuri pasti sembuh".


"Aku harap juga demikian," sahut Rapka.


"Kali ini ia pasti ingin terus masuk sekolah, meski tak banyak bicara tapi sebenarnya dia senang bertemu teman-temannya. Saat ibunya menelpon ia banyak menceritakan teman-temannya dan latihan voli, dia bahkan sampai minta di belikan sepatu voli baru dan sepeda agar bisa pulang dengan santai," ujar nenek bercerita.


"Yuri itu anak yang pendiam dan penakut, tapi dia tidak pernah mengeluh dan sangat penurut. Maaf jika nenek merepotkan mu, tapi bisakah kau berteman dengan Yuri?" tanya nenek.


Tentu Rapka kaget mendengar permintaan nenek, seolah Yuri tidak pernah memiliki teman.


"Yuri... dia selalu dikucilkan, itu membuatnya murung dan tidak mau terbuka. Dia hanya pemalu tapi orang-orang bertindak seolah dia aneh," jelas nenek dengan raut wajah sedih.


Rapka termangu, baru menyadari bahwa sikap Yuri memang sedikit aneh. Ia selalu menyembunyikan wajahnya di balik rambut panjang, bicara dengan pelan dan nampak selalu gugup.


Rupanya itu memang bagian dari sifat Yuri yang harus di mengerti, dengan serius ia berjanji kepada nenek untuk menjadi teman Yuri.


Dokter kemudian datang bersama Noah dan Imel, rupanya kepergian Imel adalah untuk mencari dokter terdekat sebab Yuri tidak mau pergi berobat.


Setelah memeriksa dokter memberi resep obat dan mengharuskan Yuri istirahat setidaknya satu hari lagi, ini karena demam Yuri yang cukup parah.


Mengetahui Yuri menerjang hujan setelah berolahraga Dokter sendiri sampai kaget, itu tindakan yang sangat berbahaya dan mengancam nyawa jadi pantas Yuri demam tinggi sampai berhari-hari.

__ADS_1


Puas menjenguk Imel dan yang lain pun pamit pergi, nenek mengantar sampai pintu sementara Yuri diam-diam mengintip dari kaca jendela.


Padahal ia sudah memiliki kesempatan untuk bicara dengan Rapka, tapi lagi-lagi ia melewatkan kesempatan itu dengan bodohnya.


__ADS_2