Si Pengecut Yuria

Si Pengecut Yuria
Bab 12 Buku Edisi Khusus Gyou


__ADS_3

Senja baru Yuri pulang, mengayuh sepeda dalam keadaan lelah setelah berkeliling membuat kakinya terasa nyeri. Tapi ia cukup senang walaupun selama itu ia hanya mendengarkan celotehan Rapka, ia pikir jika ada Imel pasti akan lebih seru.


Merebahkan tubuh diatas ranjang sejenak ia terpejam, tapi suara nenek yang memanggilnya untuk makan malam segera membuatnya bangkit seketika.


"Apa tugas mu sudah selesai?" tanya nenek di sela makan malam.


Yuri mengangguk sebagai jawaban.


"Kau belum membuka paket dari ibumu," ujar nenek seakan mengingatkan.


"Akan aku lihat nanti," sahut Yuri.


Selesai makan Yuri kembali masuk ke kamarnya, melihat paket yang ditaruh diatas meja belajarnya ia pun bangkit dan melihat.


Saat mengetahui isinya adalah buku edisi khusus dari Gyou tentu Yuri tersentak kaget, senyum mengembang dari wajahnya yang tadi lesu. Tapi kemudian senyum itu berubah menjadi lamunan, ia teringat pada Rapka yang juga menginginkan buku itu.


beralih pada buku catatan Rapka sebuah ide muncul di kepalanya, mungkin ia bisa memulai percakapan dengan satu alasan ini. Benaknya pun mulai banyak menyusun kata demi kata, memilahnya hingga tersusun sebuah kalimat yang pantas.


Namun di senin pagi saat kembali ia bertemu dengan Rapka di parkiran sepeda malah tak ada satu pun kata yang sanggup ia ucapkan, saat Rapka menyapanya ia hanya mengangguk dan tersenyum di balik rambutnya yang terurai panjang.


Nyali yang ia kumpulkan sejak semalam ciut seketika, susunan kata yang telah rapi di benaknya berhamburan entah kemana. Yang tersisa hanya tinggal sebuah keinginan saja, membuat matanya lekat memandang Rapka di sepanjang pelajaran hingga jam istirahat.


"Yuri!" panggil Imel untuk yang ketiga kalinya.


"Kau belum memakan bekalmu," ujarnya membuat Yuri menatap kotak bekalnya yang masih utuh.


"Kau kenapa?" tanyanya cukup penasaran dan khawatir.


Yuri hanya menggeleng, tak bisa menceritakan kegalauannya hanya karena ingin menyapa dan mengobrol dengan Rapka.


"Apa kau sakit?" tanya Imel lagi.


"Aku baik-baik saja," sahut Yuri agar Imel berhenti bertanya.

__ADS_1


Ia mulai memakan bekalnya, sementara Imel meski masih penasaran tapi tak mencoba bertanya lagi. Ia sudah paham sifat Yuri dan mengerti jika Yuri memang tak ingin menjawab artinya ia tak ingin diganggu.


Jam istirahat berlalu dengan cepat, kali ini Yuri menyisakan bekalnya yang membuat Imel tak bisa melepas pandangan darinya. Ia benar-benar penasaran apa yang tengah terjadi pada Yuri hingga membuatnya tak bersemangat, memang setiap hari ia kelihatan lesu tapi ini berbeda dari biasanya.


Masih diam-diam memandang Rapka, masih mencoba mengumpulkan keberanian pada akhirnya hingga pulang sekolah Yuri bahkan tak berani menegur.


Semangatnya yang turun membuat performanya juga menurun, selama latihan Yuri banyak melakukan kesalahan seperti ia baru bergabung.


Selesai kegiatan club saat mengganti pakaian Imel mencoba bertanya lagi hanya untuk memastikan keadaannya, tapi Yuri masih bungkam mulut dan menggeleng seperti biasa.


Berjalan malas ke arah parkiran sepeda Yuri berhenti saat melihat Rapka tengah berbincang dengan Noah sambil mengambil sepedanya, ia terdiam memperhatikan Rapka yang menuntun sepedanya.


Berjalan di samping Noah sampai akhirnya pergi keluar gerbang dan hilang di belokan, membuat satu luka yang Yuri ciptakan sendiri akibat sifatnya yang pengecut.


Menghembuskan nafas panjang, perjalanan pulang dengan menggunakan sepeda terasa lebih melelahkan dari biasanya. Sampai di rumah pun rasa lelah itu membuat Yuri langsung merebahkan diri diatas ranjang, matanya terasa berat dan siap untuk terpejam tapi bahkan hingga malam menjadi larut ia tak bisa tidur.


Tiba-tiba sebuah air mengalir dari sudut matanya, Yuri mencoba menahannya tapi ia tak mampu.


Saat sadar matahari sudah timbul, ia bangun dan mendapati matanya sembab karena menangis semalaman.


Bersiap berangkat sekolah dilihatnya buku catatan Rapka, menghela nafas ia memutuskan tak akan menyiksa diri dengan berjuang. Ia hanya akan mengembalikan buku catatan saja dan berterimakasih, sementara buku edisi khusus Gyou akan tetap di dalam rak lemarinya.


Tiba di sekolah kali ini sudah banyak murid yang datang, saat masuk ke kelas pun Noah dan Imel juga sudah datang.


"Yuri! aku pikir kau tidak akan masuk," sapa Rapka.


"Ini... catatan mu, terimakasih," ujarnya menyerahkan buku itu.


"Oh kau sudah selesai rupanya," sahut Rapka menerima buku itu.


Yuri hanya tersenyum kecil kemudian duduk di kursinya, kali ini ia kembali menjadi Yuri yang biasa meski sesekali ia masih mencuri pandang pada Rapka.


"Besok ada turnamen futsal, kau mau ikut nonton?" tanya Imel di sela makan siang mereka.

__ADS_1


"Entahlah," sahut Yuri yang merasa malas.


"Aku ingin memberi dukungan pada tim sekolah kita, khususnya pada Reid. Meski beda kelas tapi dia satu-satunya anak kelas dua yang menjadi pemain inti, seharusnya sih Rapka juga ikut turnamen itu," ujar Imel yang kini menarik perhatian Yuri.


"Maksudmu?" tanyanya.


"Dari kelas dua Reid dan Rapka adalah pemain inti club futsal sekolah kita, permainan mereka sangat bagus terlebih Rapka. Saat kelas satu dia yang paling banyak mencetak gol, sayangnya beberapa waktu yang lalu dia mengalami kecelakaan dan dokter tidak mengijinkannya ikut dalam pertandingan."


Kini tahulah Yuri alasan di balik wajah sedih Rapka yang sering ia lihat saat Rapka sendirian, ini membuatnya merasa kasihan.


"Saat ini dia pasti sangat sedih, meski pelatih masih mengijinkannya masuk ke club tapi ia sudah tidak diijinkan bergabung dalam tim saat pertandingan. Aku mengerti perasaannya," ujar Imel seakan merasa dirinyalah yang tidak beruntung itu.


Yuri mengangguk dan tak banyak bicara lagi, benaknya segera berfikir tentang kemalangan Rapka.


Kembali keinginan yang telah ia kubur muncul ke permukaan, untaian kata yang telah berhamburan pun satu persatu ia pungut untuk dijadikan satu kalimat yang utuh sambil menatap buku edisi khusus Gyou.


"Aku harus bisa!" tegasnya bicara sendiri di malam yang sudah larut.


Tekadnya telah di bulatkan, pagi hari dengan membawa buku edisi khusus Gyou ia menghirup udara dengan serakah kemudian menghembuskannya perlahan.


Memacu sepedanya pada kecepatan tinggi ia pikir semuanya akan mudah jika dilakukan dengan cepat, maka meluncurlah ia. Tiba di sekolah rupanya Rapka belum datang, maka terpaksa ia menunggu di sana sambil terus mengumpulkan keberanian.


"Yuri apa yang kau lakukan?" tanya Rapka yang entah datang kapan.


Terkejut Yuri membatu, benaknya yang sudah di penuhi dengan rangkaian kata kosong seketika.


"Ada apa?" tanya Rapka sebab Yuri kelihatan syok.


Menggelengkan kepala Yuri segera mengeluarkan buku itu dan menyodorkannya kepada Rapka, tentu itu membuat Rapka kaget.


"Ini untuk mu!" seru Yuri sambil memaksa Rapka untuk menerima buku itu sebab Rapka hanya terpaku.


Tanpa menunggu Rapka bicara ia segera berlari pergi, membuat Rapka semakin bingung. Tapi setelah ia melihat buku itu merupakan buku yang selama ini ia inginkan Rapka tersenyum senang dan berjanji akan membalas kebaikan Yuri di lain waktu.

__ADS_1


__ADS_2