Si Pengecut Yuria

Si Pengecut Yuria
Bab 30 Cookies


__ADS_3

Ujian semester sebentar lagi akan di mulai, tentu semua siswa akan belajar lebih giat lagi demi mendapatkan nilai yang bagus di ujian nanti.


Tapi dalam benak Imel justru terfokus pada hal lain, lebih tepatnya pada seseorang. Menatap kalender ia sadar tak memiliki waktu yang banyak, waktu yang ia miliki hanya tinggal beberapa minggu saja sebelum ujian semester dan libur panjang.


Saat kembali masuk sekolah ia menghadapi semester kedua dan lebih sibuk lagi menghadapi ujian kenaikan kelas, jika ia masih diam sampai ujian semester maka tak akan ada kesempatan lain lagi.


Mengambil buku resep dari rak dapur ia melihat-lihat resep makanan yang mudah di buat namun dengan rasa yang enak, semakin ia melihat justru hatinya semakin bimbang hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuat cake.


Waktu menunjukkan pukul delapan malam dan ia masih memiliki waktu yang cukup untuk membuat cake, mengikat rambut dan menggunakan celemek ia siap untuk terjun ke medan.


Tapi rupanya memasak hanya mudah di katakan saja, kenyataannya Imel gagal dua kali yang membuatnya memakan waktu banyak hanya untuk membuat cookies.


Saat akhirnya ia selesai waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, ternyata waktu berjalan begitu cepat tanpa ia sadari.


"Gawat! kalau aku tidak cepat tidur bisa-bisa nanti aku kesiangan," gumamnya cemas.


Bergegas membereskan dapur setelah mencuci tangan dan kaki ia pun pergi ke kamarnya untuk tidur, tapi yang terjadi justru ia terjaga sepanjang malam.


Sedikit pun tak ada rasa kantuk, mungkin karena ia tak sabar menunggu matahari terbit untuk kemudian pergi ke sekolah.


Hingga akhirnya pagi tiba semua orang dapat melihat mata pandanya yang jelas terlihat, bahkan Yuri yang melihat nampak khawatir pada kesehatannya yang mungkin saja terganggu.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Yuri.


"Ya... hanya sedikit ngantuk ahahah.. " sahut Imel.


"Bagaimana kalau kita ke UKS saja?" tawar Yuri.


"Tidak perlu, aku baik-baik saja."


Tapi kenyataannya saat pelajaran dimulai Imel justru ketiduran, bahkan guru tak dapat membangunkannya yang begitu nyenyak.


"Mmmm..." puas tidur Imel mengerang.


Dengan mata yang masih merah ia menatap sekeliling dimana kelas begitu sepi, tersentak kaget ia berfikir telah ketiduran sampai sekolah usai.


"Sial! gawat... " gerutunya sambil bergegas lari keluar kelas.

__ADS_1


Bruk


"Aw!" teriaknya tanpa sengaja menabrak seseorang.


"Maafkan aku, apa kau baik-baik saja?" tanya orang yang masih berdiri tegak meski Imel menabraknya dengan cukup keras.


"Tidak.. um.. maksudku maafkan aku, aku yang telah menabrakmu."


Sambil meringis Imel mengusap pinggulnya yang nyeri.


"Mari kubantu," ucapnya mengulurkan tangan.


Imel menatap orang itu, seorang siswa kelas tiga yang ia kenal. Wajahnya sering wara wiri di sosial medianya, namanya pun tercantum jelas di mading sebagai siswa teladan yang meraih juara kedua dalam lomba catur untuk pelajar.


"Terimakasih... kak Daniel," ujarnya pelan sambil meraih tangan itu.


"Imel!" teriak Yuri dari belakang.


Genggaman tangan mereka segera terlepas, Imel menoleh dan melihat Yuri beserta temannya yang lain berjalan ke arahnya.


"Kalau begitu sampai jumpa," ujar Daniel seraya tersenyum.


Yuri sempat melirik Daniel dan melempar senyum sebab Daniel pun tersenyum padanya, berlari kecil menuju Imel begitu sampai ia segera memberitahu bahwa Imel melewatkan dua mata pelajaran dan sebentar lagi jam istirahat akan tiba.


"Astaga... aku ketiduran lama sekali.. " gumamnya,


"Kau pasti bergadang semalaman," ujar Noah.


"Aahh... itu... hehe," Imel tak dapat mengelak.


"Apa kau mengalami insomnia? aku punya obat untuk itu jika kau mau," tawar Yuri.


"Kau mengalami insomnia?" tanya Noah yang membuat Yuri teringat penyakit yang sempat ia idap dulu.


Itu adalah saat kedua orangtuanya meninggal, sepanjang hari ia mengurung diri di kamar dan memejamkan mata tapi tak pernah tidur.


Ia selalu mendengar semua perkataan nenek bahkan Imel saat menjenguknya, tapi ia memilih untuk tidak merespon apa pun sebab hatinya memang tidak ingin merespon.

__ADS_1


"Tidak perlu, lagi pula aku kan sudah tidur tadi. Semalam aku hanya mengerjakan sesuatu sampai begadang bukan insomnia," sahut Imel yang dapat membaca ekspresi Yuri yang tak nyaman.


Teng Teng Teng


Seperti yang Yuri katakan akhirnya bel tanda istirahat pun berbunyi, Yuri dan Noah pergi ke kantin duluan bersama Rapka sementara Imel memilih ke toilet dulu.


Sebenarnya ia tak benar-benar ke toilet, melainkan pergi ke lokernya untuk mengambil kue yang semalaman ia buat.


Hhhhhhh


Menghembuskan nafas panjang ia tak menyangka akan merasa sangat gugup, bahkan tangannya berkeringat seakan akan mengikuti ujian.


"Ayolah Imel... kendalikan dirimu.. " gumamnya pada diri sendiri.


Menghitung setiap tarikan nafas akhirnya dalam hitungan ketiga ia mengambil langkah, dengan bungkusan di tangan kakinya berjalan menyusuri lorong sampai tiba di kelas tiga.


Kepada senior yang kebetulan keluar kelas ia meminta untuk di panggilkan orang yang tadi sempat ia temui, tanpa rasa penasaran senior itu segera meneriakan namanya yang membuat jantung Imel berdetak sangat cepat.


"Oh Imel... kau mencariku?" tanya Daniel begitu keluar kelas.


"Itu... aku ingin memberimu ini," ujar Imel cepat sebelum keberaniannya habis.


Daniel sedikit kaget mendapat sodoran sebuah bungkusan, tapi ia menerimanya juga.


"Boleh aku membukanya?" tanya Daniel.


Imel mengangguk dengan cukup keras, saat Daniel membuka kotak itu ia tercengang akan betapa lucunya cookies itu hingga membuatnya enggan untuk memakannya.


"Apa ini buatanmu?" tanya Daniel.


"Mm, aku.. membuatnya terlalu banyak. Jadi aku pikir untuk membaginya dengan kak Daniel," jawab Imel berbohong sambil menutupi rasa malu.


"Mm... rasanya pas, tidak terlalu manis. Aku menyukainya," ujar Daniel sambil mengunyah.


"Syukurlah..." gumam Imel merasa lega.


Karena misinya telah selesai maka ia pun berpamitan, berlari menuju kantin dimana teman-temannya sudah menunggu sejak tadi.

__ADS_1


Pulang sekolah kini Imel sudah bersiap dengan resep baru, ia akan mencoba membuat roti melon atau sejenisnya dengan harapan Daniel akan menyukainya lagi.


__ADS_2