
Selama tiga hari lamanya Imel terus membuat cemilan untuk Daniel, setiap cemilan yang ia berikan selalu diterima dengan baik sehingga hari itu ia memutuskan untuk menulis sebuah surat.
Tepat saat jam istirahat ia menyerahkan surat itu yang tentu membuat Daniel cukup kaget menerimanya, mencoba terlihat tenang ia menantikan kedatangan Daniel pulang sekolah nanti.
Setelah jam istirahat berakhir Imel sama sekali tak bisa fokus pada pelajaran yang tentu saja membuat Yuri heran, bahkan Yuri sudah sadar kalau beberapa hari ini sikap Imel cukup aneh.
Khawatir pada sahabatnya itu Yuri mengajak Imel untuk pulang bersama setidaknya sampai gerbang.
"Maaf, ada hal yang harus aku kerjakan dulu," sahut Imel tak lupa tersenyum.
"Imel... apa kau baik-baik saja?" tanya Yuri akhirnya.
"Eh kenapa?" balas Imel bingung mendapat pertanyaan itu.
"Beberapa hari ini kau terlihat aneh, kau selalu mengantuk di jam pelajaran dan terlambat datang ke kantin. Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" tanya Yuri mengungkap kecemasannya.
Imel terdiam sejenak, tak mengira Yuri akan begitu perhatian padanya.
"Yuri, jika hari ini bukan hari keberuntungan ku bisakah kau memelukku?" tanya Imel tiba-tiba khawatir menghadapi masa depan.
"Apa maksud mu? jangan membuatku takut!" omel Yuri yang tiba-tiba merasa tak nyaman.
"Mm, tidak ada. Hanya saja apa kau mau menemani ku? ada hal yang harus aku lakukan dulu," ujarnya sambil tersenyum.
Meski sedikit bingung tapi Yuri mengangguk, membiarkan Imel menggandeng tangannya. Mereka berjalan keluar kelas dan saat tiba di taman entah mengapa Imel menyuruh Yuri bersembunyi di belakang pohon.
Yuri hanya mengangguk dengan keheranan, beberapa menit kemudian barulah ia mengerti saat Daniel datang memenuhi janji.
"Sebelumnya terimakasih telah mau datang dan maaf karena aku sudah merepotkan!" seru Imel sambil menundukkan kepalanya.
"Eh tidak apa-apa," sahut Daniel merasa tak nyaman akan permintaan maaf itu.
"Um... seharusnya aku yang meminta maaf," lanjutnya sambil membuang muka.
__ADS_1
Membuat jantung Imel berdegup kencang dengan benak yang mencoba menerka apa kalimat selanjutnya yang akan Daniel katakan.
"Setiap kau memberi ku sesuatu aku merasa senang, kau adalah gadis pertama yang membuatkan ku berbagai cemilan tanpa memuji kelebihan ku. Itu membuatku merasa normal seperti yang lain, tapi.... maaf karena aku hanya menganggapmu sebagai adik saja. Aku tidak memiliki perasaan lebih," ujar Daniel dengan tegas.
"Begitu ya.. " gumam Imel.
"Maafkan aku!" seru Daniel yang merasa bersalah sebab wajah Imel jelas mengekspresikan patah hati.
"Eh tidak apa-apa, sebenarnya aku sudah memperkirakan hal ini. Aku tahu tidak mungkin kak Daniel menyukaiku tapi tetap saja aku keras kepala," balas Imel memaksakan tersenyum agar Daniel berhenti meminta maaf.
Sebab semakin Daniel meminta maaf dan merasa bersalah hatinya akan semakin sakit.
"Kalau begitu kita bisa berteman saja," ujarnya lagi.
"Ya.. terimakasih kau sudah mau pengertian, kalau begitu aku pergi duluan," sahut Daniel.
Imel mengangguk dan mempertahankan senyumnya sampai Daniel benar-benar hilang dari matanya.
Andai waktu bisa di ulang ia akan memilih untuk tidak mengikuti Imel, tapi saat teringat akan permintaan Imel yang belum lama ini ia ucapkan tanpa menunggu lagi Yuri bergegas keluar dari persembunyian dan memeluk Imel dari belakang.
"Ah.. Yuri... " panggil Imel sedikit kaget.
"Tidak apa-apa, ada aku di sini," ujar Yuri pelan.
Berharap ia bisa membuat Imel merasa sedikit lebih baik, tapi begitu Imel berbalik ia justru kaget melihat senyum Imel.
"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir," ucapnya.
Yuri tak mengerti mengapa Imel masih bisa kuat di saat seperti ini, bahkan ia mengoceh seperti biasanya saat mereka berjalan pulang.
Tapi semakin lama Yuri memperhatikan ia akhirnya menjadi sadar bahwa Imel hanya mencoba terlihat tegar, semua ocehan itu semakin terdengar nada riang yang di paksakan.
"Eh, Yuri?" panggil Imel saat Yuri berhenti berjalan tiba-tiba.
__ADS_1
"Kenapa kau seperti ini? apa karena ingin dianggap keren?" tanya Yuri pelan namun tegas dengan mata yang tajam menatap.
"A-apa maksud mu?" balas Imel merasa tak nyaman.
"Kalau sakit menangislah! aku akan memelukmu sampai kau puas! jadi... jadi jangan bersikap tegar, setidaknya jangan di hadapanku. Aku juga ingin menjadi dirimu yang selalu ada untuk ku, selalu membuatku merasa lebih baik dan penuh syukur memiliki sahabat."
Ada air mata mengalir di pipi Yuri setelah hardikan itu, membuat Imel akhirnya luluh dan memeluk Yuri dengan isak tangis yang keras.
"Tidak apa-apa, keluarkan semuanya," ujar Yuri sambil mengusap rambut Imel.
Awalnya Imel hanya mencoba melapangkan hati karena itu ia bersikap tegar, tapi patah hati memang terlalu sakit hingga satu-satunya jalan adalah meluapkannya dengan menangis.
Entah berapa lama mereka saling berpelukan, yang jelas cukup lama sampai matahari siap untuk tenggelam.
Imel masih ingin berada di dekat Yuri sehingga ia memutuskan untuk menginap di rumah Yuri, tentu dengan senang hati Yuri menyetujuinya.
Sampai di rumah setelah makan malam mereka menghabiskan waktu di kamar, Imel bercerita banyak tentang Daniel. Senior yang sebenarnya sudah ia kagumi sejak ia pertama masuk ke sekolah, saat itu ia masih kelas satu dan Daniel kelas dua.
Lama kelamaan rasa kagum itu berubah jadi rasa suka hingga akhirnya cinta, beberapa kali mereka bertemu dan mengobrol. Kadang di perpustakaan, kadang di kantin, bahkan di luar sekolah pun mereka pernah berpapasan hingga akhirnya mengobrol.
Yuri cukup kaget mendengar cerita itu, ia tak menyangka Imel dapat memendam perasaan itu setahun lamanya.
"Aku baru sadar saat sebentar lagi kita akan menghadapi ujian semester, setelah ujian itu anak kelas tiga tidak akan memiliki waktu banyak karena sibuk mempersiapkan SBMPTN. Maka aku juga tidak memiliki waktu banyak untuk melihatnya lagi, karena itu sebelum dia pergi aku ingin dia tahu bagaimana perasaan ku terhadapnya meski pada akhirnya itu tidak terbalas."
Alasan yang masuk akal meski tidak berakhir baik, setidaknya Imel tidak hidup dalam tanda tanya.
"Kau juga," ujar Imel tiba-tiba.
"Apa?" balas Yuri bertanya.
"Jika ada seseorang yang kau suka jangan menundanya, katakan bahwa kau sangat bersyukur bisa bertemu dengannya dan menghabiskan waktu bersamanya."
Yuri tak menjawab, tapi ia tersenyum seakan nasihat itu sudah tak penting lagi.
__ADS_1