Si Pengecut Yuria

Si Pengecut Yuria
Bab 29 Berhenti Menjadi Pengecut


__ADS_3

Ada sedikit kekhawatiran saat ia memasuki ruang kelas, setelah apa yang terjadi kemarin ada rasa canggung saat bertatap muka dengan Rapka.


Tapi untungnya Rapka bersikap seperti biasanya, seolah tak terjadi apa-apa kemarin yang membuatnya bernafas lega.


Tapi apa yang kemudian terjadi di jam olahraga membuatnya akan murung seumur hidup, tiga teman kelasnya menghampiri dan mengajak bicara empat mata.


"Aku melihatmu kemarin di kafe dengan Rapka," ujar salah satu diantara mereka yang tentu mengejutkan Yuri.


"Aku benar-benar tak percaya kau melakukannya, Yuri kau adalah ular! berani sekali kau jalan berdua dengan Rapka bahkan sampai mesra. Padahal kau tahu kan Rapka itu pacar Imel?" tukasnya.


Yuri terbelalak, ia telah lupa akan hal itu.


"Kejam, aku tidak mengira dia berani berbuat jahat seperti itu kepada Imel," gumam yang lain saling berbisik.


"Selama ini Imel sudah baik kepadamu tapi malah kau mengkhianatinya, bukankah kau sudah jadian dengan Noah ya?" tanyanya.


"T-tidak itu... " Yuri hendak membela diri tapi ia tak menemukan kata yang tepat.


Semakin ia mencoba mencari pembelaan semakin ia menyadari kesalahannya, mereka benar. Ia seharusnya menolak ajakan Rapka waktu itu, harusnya ia menjaga jarak.


Perlahan Yuri menatap ketiga orang itu, tapi yang ia temukan adalah tatapan jijik yang penuh penghinaan.


Karena Yuri tak merespon akhirnya mereka pergi meninggalkan Yuri begitu saja, sementara air mata penyesalan membasahi baju olahraga Yuri.


......................


Jam olahraga sudah akan habis tapi Noah tidak menemukan Yuri sejak tadi, ini tentu sangat aneh sebab ia melihat Yuri sudah berganti pakaian saat jam olahraga di mulai tapi sampai saat ini tiba-tiba dia menghilang.


Merasa cemas Noah mencoba mencari ke tempat-tempat yang kemungkinan di datangi Yuri, ia mulai dari toilet hingga ke kantin.


Sampai akhirnya ia pun pergi ke atap, ternyata Yuri benar ada di sana. Berdiri menatap ke bawah dari kawat yang menjadi pagar penghalang.


"Rupanya kau di sini, apa yang kau lakukan?" tanya Noah menghampiri.


"Yuri... " panggil Noah sambil menepuk pundaknya.

__ADS_1


Alangkah terkejutnya Noah saat melihat basah mata Yuri hingga hidungnya memerah, sudah bisa di pastikan ia menangis sejak tadi.


"Apa yang terjadi?" tanya Noah panik.


"Aku... aku orang yang paling jahat di dunia ini... " ujar Yuri dalam isak tangisnya yang semakin menjadi.


"Kau ini bicara apa?" tanya Noah tak mengerti.


"Benar kata mereka... aku tidak punya malu, padahal.. Imel sudah sangat baik padaku.. tapi.. tapi... aku... " Yuri tak bisa melanjutkan ucapannya namun Noah segera mengerti maksudnya.


"Kau menyukai Rapka," ujar Noah menegaskan hati Yuri.


Ucapan itu tentu menghentikan tangis Yuri, menatap Noah ia melihat tatapan serius yang teramat tajam.


"Kau menyukai Rapka bukan? sudah sejak lama kau memperhatikannya," tanya Noah.


Perlahan kemudian Yuri mengangguk, ia tak mau berpura-pura lagi.


"Mm, kalau begitu kenapa kau menangis?" tanya Noah dengan sebuah senyum yang sarat akan makna.


Noah sama sekali tak terkejut dengan isi kepala Yuri, ia sebenarnya sudah tahu bahwa Rapka dan Yuri diam-diam saling menyukai. Hanya saja Yuri terlalu pengecut bahkan untuk mengakui perasaannya, sementara Rapka salah paham pada kedekatan Yuri dengan Noah sehingga tak pernah mau menyatakannya.


Kini Noah berada di tengah cinta yang tak terucap, dengan tangannya ia bisa mengendalikan kedua hati itu entah menyatukannya atau sebaliknya.


"Imel dan Rapka tidak pernah memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman," ujar Noah memutuskan kendalinya.


"Apa?" tanya Yuri hampir tak percaya.


"Sama seperti kita, orang-orang salah paham karena kita selalu jalan bersama hingga makan bersama. Jadi tidak ada yang perlu kau khawatirkan," jelas Noah.


"Sungguh?" tanya Yuri menemukan harapan.


Noah mengangguk, tersenyum untuk memberi keyakinan penuh hingga Yuri menghapus air matanya.


"Sekalipun mereka memiliki hubungan tak ada yang perlu kau sesali, perasaan suka itu bukan kita yang kendalikan. Menyukai seseorang yang bukan milik kita itu bukanlah dosa, kau berhak untuk menyimpannya bahkan mengungkapkannya."

__ADS_1


Nasihat Noah tak hanya membuat Yuri merasa lebih baik lagi, tapi menyadarkannya untuk mencoba lebih berani lagi jika ia ingin mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Yuri... berhentilah menjadi seorang pengecut," ujar Noah.


Yuri tertegun, entah mengapa ungkapan itu terasa menusuk hatinya bagai jarum tipis yang tak terlihat.


"Aku... akan berusaha," sahutnya pelan.


"Aku akan mendukungmu," tegas Noah siap berdiri tepat di belakang.


......................


Bertemu di tempat parkir seperti biasa Rapka berjalan bersama Noah sambil mengobrol, saat mereka menatap Yuri meski sudah bertemu di kelas tapi tetap mereka menyapa kembali dengan basa basi.


"Ah catatan ku ketinggalan di kelas, kalian duluan saja," ujar Noah membalikkan badan.


"Oh baiklah," sahut Rapka.


Yuri dan Rapka pun berjalan bersama ke arah gerbang sambil menuntun sepeda mereka, tak ada kata yang terucap membuat canggung diantara mereka.


"Anu... "


"Eh!" Rapka dan Yuri saling menatap kaget sebab mereka dua kali mengucapkan kata yang sama.


"A-ada apa? " tanya Yuri sambil menundukkan wajah karena malu.


"Tidak, bukan hal yang penting. Kau ingin bicara apa tadi?" sahut Rapka.


"Bukan apa-apa," balas Yuri yang sebenarnya tidak tahu juga harus bicara apa.


Ia hanya tidak suka akan kecanggungan itu dan berusaha untuk melepaskan diri darinya, akhirnya mereka benar-benar membisu sampai berpisah di gerbang sekolah.


Yuri naik ke atas sepedanya dan mulai mengayuh, dalam hati ia mengutuk dirinya yang masih saja menjadi seorang pengecut.


Padahal Noah sudah mendukungnya dan ia memiliki kesempatan banyak, tapi semua kesempatan itu terlewat begitu saja.

__ADS_1


Menatap langit yang masih cerah dalam hati ia bertekad esok harus menjadi awal yang baru meninggalkan Yuri yang lama.


__ADS_2