Si Pengecut Yuria

Si Pengecut Yuria
Bab 11 Musim Semi di Kepala


__ADS_3

Mengayuh sepedanya di pagi buta, bahkan saat matahari belum menampakkan sinarnya ia telah berkeringat. Angin menyapu rambut panjangnya hingga senyum di wajah itu terlihat jelas, degup jantungnya begitu kencang terpacu.


Dalam benaknya saat ini hanya ada satu kalimat 'aku ingin pergi sekolah', setelah Imel dan lainnya menjenguk ia sadar hidupnya sudah berubah.


Memiliki teman meski cukup melelahkan ternyata sangat menyenangkan, kali ini ia ingin mempertahankan hubungan itu lebih lama lagi.


Sampai di sekolah karena masih pagi belum banyak murid yang datang, Yuri segera memarkir sepedanya.


"Yuri.... " seru seseorang.


Ia menoleh dan seketika jantungnya berhenti berdetak, Rapka melambaikan satu tangan sambil terus mengayuh sepedanya.


"Kau sudah baikan?" tanya Rapka memarkir sepedanya tepat di samping sepeda Yuri.


Yuri mengangguk, diam-diam mengepalkan tangannya dengan erat agar jantungnya bisa berdetak dengan normal. Kali ini ia ingin bicara, mengobrol seperti manusia normal lainnya.


"Syukurlah, ayo masuk!" ajak Rapka.


Lagi Yuri mengangguk, berjalan tepat di samping Rapka dengan kepala menunduk.


"Ah iya, kau sudah dua hari tidak masuk! apa kau mau meminjam catatanku? tulisan tangan ku tidak bagus tapi jika kau mau akan ku pinjamkan," tawar Rapka.


Sejenak Yuri diam-diam melirik Rapka dari sudut matanya, dalam hati ia berseru mengatakan segala hal tapi kenyataannya mulutnya diam.


Rapka menunggu dengan sabar, tak begitu berharap juga Yuri akan langsung menjawab. Sampai mereka tiba di pintu kelas tiba-tiba Yuri berhenti.


"Ada apa?" tanya Rapka.


"Aku... mau... " sahut Yuri pelan.


Ada keheningan sejenak diantara mereka, membuat Yuri benar-benar tidak nyaman hingga merasa ia salah bicara.


"Akan aku bawa besok," ujar Rapka sambil tersenyum.


Untuk pertama kalinya Yuri mengangkat wajah, menatap senyum bersahabat yang begitu tulus untuknya.


Ini sudah masuk musim hujan tapi kepala Yuri di penuhi dengan bunga musim semi, baginya yang sudah terbiasa untuk melakukan segala hal untuk orang lain ini adalah kali pertama ada seseorang yang tak hanya menjenguk saat dia sakit tapi juga perhatian hingga mau meminjamkan catatan.


Seakan ada tali yang menarik bibirnya Yuri tak bisa berhenti tersenyum, bahkan senyum itu bertahan hingga ia mengikuti kegiatan club.


Hanya saja ia terlalu larut dalam kebahagiaannya sendiri hingga tak memperhatikan sekitar.


"Awaaasss..... " teriak seseorang.

__ADS_1


Buk


Satu bola yang entah datang dari mana memukul Yuri sampai ia kembali pada kenyataannya, meringis sambil memegang bahunya yang terkena bola saat mencoba bangkit ia di kagetkan dengan wajah teman-teman satu clubnya yang terlalu dekat.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Imel cemas.


"Hehehehe maaf, aku melamun," sahut Yuri sambil tersenyum.


"Se-sepertinya kita harus membawanya ke ruang kesehatan," ujar Nora cemas.


Yang lain mengangguk setuju sebab khawatir pada Yuri yang tidak biasa, mengingat sifatnya harusnya ia menundukkan wajah sambil menjawab dengan pelan bukan sambil tersenyum.


Bahkan Imel sendiri tertegun sebab ini adalah kali pertama ia melihat Yuri tersenyum, namun saat sadar itu adalah senyum bahagia hatinya bersyukur.


Sepanjang latihan Yuri tampil dengan prima, wajahnya berseri penuh semangat sampai latihan akhirnya selesai. Kali ini ia dengan santai mengganti pakaian, menurut ramalan cuaca hari ini cerah jadi ia bisa pulang dengan santai.


"Oh kau juga baru pulang latihan?" tanya Rapka.


Yuri menengok, menatap Rapka yang masih mengenakan baju olahraga berjalan bersama Noah. Ia pun mengangguk sebagai jawaban.


"Kami juga baru selesai latihan," ujarnya.


Rapka mengambil sepedanya yang terparkir lalu memapahnya bersama dengan Yuri, seperti biasa ia ceria dengan banyak bercerita.


Tiba di gerbang mereka pun berpisah, Rapka melambaikan tangannya dan segera berbelok masih dengan memapah sepedanya sebab Noah tak membawa sepeda.


Hari berikutnya cuaca kembali cerah, bagai tali takdir yang saling terikat Yuri bertemu dengan Rapka saat ia memarkir sepedanya.


Rapka yang sudah janji akan meminjamkan catatan segera menyerahkan bukunya, dengan senang hati Yuri menerimanya dan mengucapkan terimakasih. Setelah pulang latihan pun mereka bertemu lagi saat mengambil sepeda yang membuat mereka kembali berjalan bersama.


Ini membuat Yuri mengingat sebuah cerita di komik yang pernah ia baca, dimana si pemeran gadis dengan prianya selalu bertemu hingga timbul cinta diantara mereka.


"Tidak!" ujar Yuri tegas sambil menggelengkan kepalanya.


Ia menatap tulisan dalam buku Rapka, setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian ia segera duduk di meja belajarnya dan menyalin catatan.


Tapi yang terjadi ia malah melamunkan Rapka, diam-diam membayangkan dirinya yang mampu bicara dan bersikap ceria disetiap pertemuan mereka.


Tiba di akhir pekan lagi-lagi orangtua Yuri tak bisa datang menjenguk, sebagai gantinya mereka mengirimkan satu buku edisi khusus dari Gyou yang sudah lama Yuri incar.


Saat buku itu tiba sayangnya Yuri tak ada waktu untuk melihat sebab ia sudah ada janji dengan Noah, mereka belum menyelesaikan tugas dan sudah membuat janji di akhir pekan.


Mengayuh sepedanya sepanjang jalan ia melihat orang-orang dewasa yang sudah sibuk bekerja di sawah, pemandangan yang tidak biasa baginya.

__ADS_1


Tiba di rumah Noah ia disambut oleh ibunya dan segera di persilahkan masuk, Noah sendiri rupanya sudah berkutat dengan buku dikamranya.


"Maaf aku terlambat," ujar Yuri merasa bersalah sabab Noah sudah mulai tanpanya.


"Tidak," sahut Noah pelan tanpa memalingkan matanya dari buku.


Yuri segera duduk, mengambil satu buku dan mulai mengerjakan tugas mereka. Keheningan merajuk diantara mereka dengan cepat, hening yang membuat Yuri nyaman sebab membuatnya bisa menjadi diri sendiri.


Setelah memakan waktu beberapa jam akhirnya tugas mereka pun selesai, Noah yang pegal karena terus menunduk untuk membaca merentangkan tangannya.


"Noah...ayo kita pergi!" teriak suara Rapka dari luar.


Ceklek


Pintu terbuka dan saat melihat ada Yuri disana Rapka segera tertegun, merasa malu karena sudah bersikap tak sopan.


"Ayo pergi," sahut Noah sambil bangkit.


"Mm, Yuri mau ikut?" tanya Rapka tiba-tiba yang membuat Yuri tak tahan akan degupan jantungnya.


"T-tidak, aku mau pulang saja," sahutnya pelan.


"Kenapa? apa kau sedang buru-buru?" tanya Rapka.


Yuri diam, melihat Rapka yang dengan sabar menunggu jawabannya.


"Tidak," sahutnya akhirnya pelan.


"Kalau begitu sebaiknya kau ikut! kami akan pergi ke toko buku, mungkin akan sedikit membosankan tapi karena kau baru di kota ini jadi pasti ada hal yang seru juga kan?" ujar Rapka.


Yuri tak memiliki kekuatan untuk menolak, apalagi itu adalah ajakan dari Rapka. Akhirnya mereka pun pergi bertiga, bersama mengayuh sepedanya sampai tiba di toko buku.


Rapka yang lebih dulu memarkir sepedanya dengan cepat berlari kedalam, meninggalkan Noah dan Yuri yang keheranan.


Saat mereka masuk yang mereka temukan adalah wajah merengek Rapka yang justru terlihat lucu bagi Yuri, wajah menggemaskan yang membuat musim semi di kepala Yuri timbul.


"Noah... bukunya sudah habis... " rengeknya dengan wajah murung.


Yuri menatap heran, tapi ketika ia melihat meja dengan tulisan 'soldout' di atas meja sementara tulisan 'edisi khusus dari Gyou' terlampir di bawahnya bagai spanduk kecil mengertilah ia.


Satu hal yang membuatnya terkejut adalah ternyata di desa itu juga ada banyak penggemar Gyou termasuk Rapka, membuatnya senang mengetahui ia dan Rapka satu idola.


Akhirnya mereka pun memutuskan untuk berjalan-jalan, memperkenalkan setiap tempat terkenal kepada Yuri hingga senja.

__ADS_1


__ADS_2