Si Pengecut Yuria

Si Pengecut Yuria
Bab 23 Pertandingan Voli


__ADS_3

Pertandingan voli akhirnya tiba juga, semua anggota club berkumpul setelah latihan untuk rapat mengenai pertandingan yang akan mereka ikuti besok.


Pelatih banyak memberi nasihat tentang apa yang harus mereka lakukan saat berada di lapangan, duduk mengelilingi pelatih Yuri dapat melihat banyak wajah gugup dari teman satu clubnya.


Hanya Imel dan Nora yang memberi ekspresi tak sabar hingga senyum mengembang di wajah mereka, akhirnya rapat pun selesai dan mereka di ijinkan pulang untuk istirahat.


Besok pagi mereka harus berkumpul di lapangan untuk rapat dan pergi menuju stadion bersama-sama, ini akan menjadi kali pertama bagi Yuri tidak masuk kelas karena kegiatan club.


Nenek yang sudah di beritahu pagi sekali sudah menyiapkan sarapan dengan gizi seimbang untuk mendukung performa Yuri.


"Aku hanya anggota cadangan, belum tentu akan ikut bermain," ujar Yuri mengingatkan bahwa nenek tidak perlu berbuat sejauh itu.


"Meski hanya pemain cadangan tapi kau harus tetap mendapat gizi yang seimbang," sahut nenek yang bersikukuh.


Selesai sarapan Yuri berpamitan dan mengayuh sepedanya menuju sekolah, setelah memarkir sepedanya ia langsung pergi ke lapangan dimana Imel dan Nora rupanya sudah datang dari tadi dan sedang melakukan pemanasan.


Mereka saling menyapa, mengajak Yuri melakukan sedikit latihan untuk menghilangkan rasa gugup.


"Hhhhhh... tanganku berkeringat," ujar Imel melap tangannya menggunakan handuk kecil.


"Apakah semuanya sudah datang?" seru Pelatih sambil memasuki lapangan.


Semua anggota yang sudah hadir segera berkumpul, mendengarkan sekali lagi ucapan pelatih yang lebih banyak memberi nasihat. Setelahnya barulah mereka pergi bersama menggunkan mobil yang telah di sewa, selama perjalanan Yuri bisa melihat kegugupan di wajah semua teman satu clubnya.

__ADS_1


Anehnya ia sama sekali tidak merasa gugup, ia bahkan tidak merasakan apa pun baik senang atau antusias.


Ia seolah sedang menjalani rutinitasnya seperti biasa, namun ketika mereka sampai barulah Yuri merasa mulas yang luar biasa ketika melihat banyak orang, apalagi saat ia mengetahui lawan timnya memiliki tubuh tinggi yang atletis.


Ia sudah berfikir mereka akan kalah di babak awal tanpa bisa mencetak angka satu pun, saat peluit berbunyi tanda permainan di mulai di bangku pemain cadangan ia melihat pertandingan sebagai penonton.


Seruan demi seruan terdengar bersahutan di antara pemain, saling berkomunikasi untuk mencetak angka.


Yuri masih duduk di bangku cadangan namun kaki dan telapak tangannya ikut basah, entah sudah berapa menit berlalu namun babak pertama akan segera selesai saat tim lawan berhasil mencetak dua angka dengan kemenangan di pihak mereka.


Tentu Yuri bisa merasakan semangat berkobar di antara teman-temannya, sekuat tenaga mereka mencoba memenangkan babak pertama meski sepertinya itu adalah hal yang mustahil sebab mereka ketinggalan lima poin.


Tak tega melihat perjuangan teman-temannya yang hampir mencapai batas Yuri memalingkan wajah, sementara dalam hati ia berharap adanya keajaiban.


Yuri mengangkat wajah, menatap pelatihnya yang dengan ekspresi serius mengamati pertandingan.


"Sekilas mereka baik-baik saja tapi tekanan yang mereka terima terlalu kuat hingga membuat hampir putus asa, jika aku memasukkan mu ke lapangan apa kau bisa memberi mereka semangat?" tanyanya.


"Tidak mungkin!" sahut Yuri tak mampu menerima tanggungjawab sebesar itu.


Pelatih menatapnya dengan tatapan penuh makna, membuat Yuri beringsut sebab merasa gugup.


"Aku sudah memperhatikan mu selama ini, permainan mu tidaklah buruk. Kau cocok menjadi seorang pengumpan," ujar pelatih.

__ADS_1


Yuri menemukan satu kepercayaan di mata pelatihnya yang entah datang dari mana, bagai obat penenang yang kemudian menghilangkan kegugupannya.


Di waktu yang masih tinggal beberapa menit lagi peluit berbunyi membuat semua perhatian tertuju pada Yuri yang memegang papan nomor punggung salah satu pemain.


Tentu semua terkejut karena meski tertinggal permainan mereka cukup bagus, banyak yang menerka pergantian pemain itu untuk merebut poin kembali.


Tapi saat Yuri memasuki lapangan ia segera membuat kesalahan dengan service yang bahkan tidak berhasil melewati net, hal itu membuat lawan tersenyum penuh kemenangan.


Kembali duduk di bangku di kursi cadangan tiba-tiba pelatih menepuk pundaknya untuk melihat apa yang tengah ia lihat.


Imel, Nora dan semua temannya tersenyum bahagia. Pertandingan ini bukanlah soal kalah atau menang saja, tapi setelah banyak waktu yang mereka habiskan bersama ada banyak kenangan yang telah menciptakan persatuan.


Tak apa jika dalam pertandingan yang sangat mereka nantikan ini kalah, sebab mereka telah mengerahkan seluruh kemampuan dan bekerja dengan sangat keras.


Setidaknya mereka sudah berjuang dan menikmati waktu bersama.


Prriiiiiitttt...


Pertandingan telah selesai, babak pertama tim Yuri kalah namun ini membuat mereka semakin bersemangat.


"Kita akan dapatkan babak kedua!" seru pelatih yakin.


Yaaaaaa....

__ADS_1


Seruan itu begitu kompak dan penuh energi, membuat Yuri ikut mendidih dalam kobaran yang semakin besar. Dalam babak kedua ini ia memang tak mengatakan apa pun, tapi pelatih tahu Yuri ingin masuk sekali lagi ke dalam arena yang sama dengan teman-temannya.


__ADS_2